Sedihnya Saya…

Sedihnya saya,
adalah ketika ada banyak ide yang belum bisa direalisasikan cepat.

Sangat banyak.
Jangan-jangan karena saking banyaknya.

Huff!
Termasuk ide menulis.

Setiap hari saya ada banyak cerita,
ada sangat banyak hal yang ingin saya bagi.

Entahlah…
Menulis ternyata sebuah perjuangan.

Advertisements

Bergerak Secepat 4G

Tahun ini usiaku 30 tahun; sekitar 2 bulan lagi lah tepatnya…. Ehm! Sedikit cemas, bercampur perasaan yang ga jelas di dalam diriku. Jika aku hidup hanya sampai 60 tahun, itu artinya aku sudah menjalani setengah dari hidupku. Aku ngapain saja ya selama 30 tahun ini? 😀

Terkadang nasib kuliah S2 4 tahun masih menghantui diriku. Disisi lain aku malah mensyukurinya. Hari-hari selama 4 tahun di Jogja yang tak mungkin akan kuulangi lagi. Pertemuan dan berguru dengan orang-orang yang sangat menginspirasiku. Lagipula aku selalu yakin kehidupanku di Jogja yang seperti itulah yang mendorongku dan membuatku bertahan hidup di Jakarta sejak pertengahan tahun 2014.

Bila kuumpamakan kehidupan di Jogja seperti handphone lemot dengan jaringan 3G nya, kehidupan awal-awal di Jakarta sebagai 3.5G, maka sekarang di tahun ini aku harus bergerak lebih cepat secepat jaringan 4G LTE. Lima kali lipat dibandingkan kecepatan 3G.

3g-vs-4g-internet-speed-comparison

5g-speedometer-logo

Aku tak bermaksud membuat ulasan perbedaan 3G dan 4G di sini, hanya mengambil perumpamaan sederhana saja. Salah satu cara mencapai kecepatan 4G ini adalah dengan tetap menulis. Tidak tau apa hubungannya, namun dengan menulis seperti saat ini aku merasa lepas. Bebanku berkurang. Mungkin ada baiknya jika tiap hari aku melepaskan beban dengan menulis, menulis, dan menulis. Harusnya jika beban harian dilepaskan setiap hari, esok pagi hari berikutnya kita bisa berlari dengan lebih kencang.

AndroMax M25

Tulisanku ini sama ga jelasnya dengan diriku yang sekarang. Ehm! Tahun ini harus menjadi tahun menulis buatku! Menulis jurnal apalagi! Ngomong-ngomong tentang 4G ini, aku berniat mengganti kartu simpatiku ke 4G juga, selain tadi baru kubeli MiFi Andromax M25 dari sepupuku yang membuka toko handphone di PTC Palembang. Ini modem yang harganya pas dikantongku. Bold kemahalan, lagian di Palembang Bold belum masuk.

Aku akan bekerja lebih giat lagi jika sudah ditunjang oleh bentukan fisik MiFi 4G LTE seperti ini. Ngomong-ngomong, di awal bulan ini aku baru menerima project pertama setelah sekian tahun ga ngapa-ngapain: sebuah website company profile. Ganbatte, Maya!

Belajar, Berlatih dan Berjuang

Beberapa hari terakhir ini, otak memang penuh. Ada kekhawatiran sedikit juga, mungkin semacam kegalauan. Alangkah banyaknya yang harus dikerjakan, tapi jangan mengeluh, Maya ^^ Jangan berpikir banyak, melangkahlah terus…

Hingga awal Mei ada 3 agenda:

  • belajar (untuk UTS 3 mata kuliah dan sidang akhir tesis) (UGM),
  • berlatih (lari 2,4 km dalam 12 menit, renang 25 meter, push up, sit up, pull up, dll…)(Wanadri, YABI)
  • berjuang (untuk persiapan bunkasai)(Soka Gakkai Indonesia).

Tiga hal itu adalah tiga hal yang sangat penting dalam hidupku. Ketika belajar, aku ingin mengasah otakku untuk bisa berpikir, beranalogi, berlogika, mengasah semua hal yang berkaitan dengan IQ. Orang-orang bilang antara IQ, EQ, dan SQ haruslah seimbang. Poin kedua untuk mengasah EQ. Kugunakan medan alam sebagai pusat latihan. Melatih mental, fisik, mengasah empati, solider, tanggung jawab. Terakhir adalah yang terpenting di atas segalanya karena itu yang merupakan fondasi dan pusat hidupku. Itu kunamakan filosofi hidup – Buddhisme yang dikemas dalam sebuah komunitas para boddhisatva muncul dari bumi bernama Soka Gakkai.

CIMG6774

Berjuanglah terus, Maya! Bergeraklah sebelum membatu. Lakukan apa yang harus dilakukan dan tuntaskan tanggung jawabmu dalam kehidupan kali ini. Nammyohorengekyo.

WANADRI

Dua tahun belakangan sejak mengetahui informasi PDW (Pendidikan Dasar Wanadri) 2012, pikiran tentang WANADRI ini tak bisa lepas dari otakku. Sangat mengesalkan memang. Tahun 2012 lalu aku ingin ikut, tapi aku benar-benar tak tau harus mulai dari mana. Aku tak tau apa-apa soal WANADRI, dan sekarang, berkat kang Non** yang rajin posting di grup facebook WANADRI sejak tahun lalu, juga foto-fotonya kang Ke**, ditambah lagi aku pernah mengikuti pendidikan YABI yang ternyata isinya banyak orang WANADRI juga, pikiranku semakin menggila. Menggila karena aku mendapatkan apa yang kucari. Eureka!

200px-WanadriWANADRI

Apakah ini yang dinamakan passion? Apakah passionku terhadap gunung dan pendidikan alam bebas begitu besar? Apakah aku punya harapan besar terhadap WANADRI? Aku tak tau, aku hanya tau bahwa pikiran tentang WANADRI sedikit banyak telah membuatku kurang fokus terhadap tesis. Aku hanya berpikir WANADRI sejalan dengan prinsip dan gaya hidupku. WANADRI sesuai dengan semangat Gakkai. Itu hanya sejauh yang kuketahui. Bisa saja aku salah. WANADRI bukan kambing hitamku. Aku hanya mengekspresikan ketertarikanku yang sangat besar terhadap WANADRI, dan aku tak bisa menghilangkan rasa itu hingga sekarang.
WANADRI…OH…WANADRI!!!

Matinya Ibu Si Roy

tak sengaja aku mampir ke salah satu tulisan blog tentang kematian ayah si penulis blog.

aku membaca judulnya saja, tak ada keinginan untuk lanjut menuntaskan.

entahlah, kadang mendengar kata kematian, aku selalu mengait-ngaitkannya dengan perasaanku sendiri.

mungkin rasa kehilangan, rasa kangen pada banyak almarhum…

ahhh… entahlah, tapi ingin kupastikan bahwa itu bukan rasa penyesalan.

rasa mati abadi bagiku adalah kematian ibunya Roy dalam Balada si Roy.

ah, jangan sampai itu terjadi padaku.

amit-amit tjabang bayi!

Kesetaraan

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah buku yang mengisahkan profil Nelson Mandela, Rosa Parks, Gandhi, dan para tokoh pejuang hak asasi manusia lainnya. Mereka adalah orang-orang yang sadar lebih dahulu tentang arti sesungguhnya menjadi manusia dan mengerti bagaimana seharusnya antar-manusia tersebut hidup berdampingan. Lebih jauh, mereka berani memperjuangkan prinsip tersebut hingga batas maksimal seperti yang bisa kita tuai hasilnya saat ini.

Berbicara tentang kesetaraan, berkaca dari perjuangan “apartheid” orang-orang besar tersebut, hal sederhana yang bisa kita terapkan saat ini sebagai individu dan yang terpikirkan oleh saya adalah prinsip berteman dengan siapa saja.

“Berteman dengan siapa saja” artinya kita menerobos semua perbedaan dan melihat hati dari manusia itu sendiri, toh lebih penting apa yang kita lakukan sesudah kita lahir daripada mengkhawatirkan label kelahiran kita pada kubu apa, bukan?

Kekosongan. Malam. Sakit.

Tentu saja aku hendak berhenti menarikan jariku di atas tuts keyboard ini,

berhenti memutar kata di otakku,

atau juga asinnya air yang sudah muncul di ujung mataku.

Kadang-kadang bahkan hampir selalu, aku membenci diriku ketika sakit,

karena aku tau bahwa sakit bersinergi dengan perenungan,

yang ujung-ujungnya membawaku pada sebuah kesadaran baru.

.

.

Ah, sebenarnya ini bukan berawal dari sakit.

Ini berawal dari tidur menjelang subuh.

Malam, sama seperti sakit.

Kuberpikir bahwa malam dan sakit adalah pasangan serasi,

pasangan yang, sekali lagi, bersinergi dengan perenungan,

yang ujung-ujungnya membawaku pada sebuah kesadaran baru.

.

.

Ah tidak juga.

Bukan hanya malam dan sakit.

Mungkin kekosongan.

Kosonglah yang membuatku berpikir macam-macam,

yang membuatku tidak bisa tidur,

dan akhirnya membuatku sakit.

Sakit seperti ini adalah sakit yang dibuat-buat.

Sakit yang seharusnya tidak perlu dialami.

Sakit yang sebenarnya bisa dicegah.

.

.

Masalah di hilir sebaiknya diselesaikan dari hulu.

Kekosongan, malam dan sakit.

Mengobati kekosongan adalah dengan tindakan,

dan tindakan baru terwujud jika ada pemicu.

Pemicunya apa?

.

.

Oh ya, aku pernah dengar orang mengatakan bahwa,

dengan tindakan, semuanya akan menjadi hidup.

Orang yang bertekad tau bahwa tekad semakin lama akan memudar,

makanya perlu diperbarui selalu.

Kekosongan ini adalah tanda penyegaran,

bahwa sudah saatnya aku mengisinya dengan sesuatu yang baru.

Entahlah, kadang-kadang aku tidak bisa berpikir.

Aku juga tidak tau apa lagi yang hendak kutuliskan setelah kata ke-240 ini.

.

.

Sssstttt. Kau diam saja.

Aku tau bahwa aku bisa menyelesaikan permasalahan ini.

Tak perlu mengkhawatirkan aku.

Aku tau pemicu apa yang bisa mengarahkanku pada tindakan,

dan setelah bertindak,

tanpa perlu kukirim merpati putih,

kabar pasti sudah tersiar di tempatmu.