Menjaga Hati

Sebaiknya kita memang pandai menjaga hati. Bukan demi orang lain, tapi demi kebaikan diri sendiri. Secara tak sadar kita saling terhubung. Kita terhubung dengan orang lain, hewan di sekitar kita, bahkan partikel-partikel kecil di seluruh penjuru alam semesta. Oleh karenanya, menguntungkan bila kita menjaga hati. Hati yang dijaga dengan baik pasti tak ingin menyakiti orang lain, termasuk orang-orang yang berbeda pandangan hidup, juga politik.

IMG_8163

Sore tadi saya tak tahan untuk berkomentar disalah satu grup yang saya ikuti. Bukan untuk apa-apa, melainkan menjaga keharmonisan diantara anggota grup saja. Kita melindungi suara-suara diam yang sebenarnya merasa tersakiti dengan meme ejekan lawan politik yang berbeda kubu. Ketika kita membaca berita negatif atau mengeluarkan emosi negatif, jiwa kita pasti terpengaruh. Makanya kita mudah merasa lelah dan tidak bahagia. So, mari menjaga hati kita! Demi kebahagiaan kita semua.

Advertisements

Sedihnya Saya…

Sedihnya saya,
adalah ketika ada banyak ide yang belum bisa direalisasikan cepat.

Sangat banyak.
Jangan-jangan karena saking banyaknya.

Huff!
Termasuk ide menulis.

Setiap hari saya ada banyak cerita,
ada sangat banyak hal yang ingin saya bagi.

Entahlah…
Menulis ternyata sebuah perjuangan.

Bergerak Secepat 4G

Tahun ini usiaku 30 tahun; sekitar 2 bulan lagi lah tepatnya…. Ehm! Sedikit cemas, bercampur perasaan yang ga jelas di dalam diriku. Jika aku hidup hanya sampai 60 tahun, itu artinya aku sudah menjalani setengah dari hidupku. Aku ngapain saja ya selama 30 tahun ini? 😀

Terkadang nasib kuliah S2 4 tahun masih menghantui diriku. Disisi lain aku malah mensyukurinya. Hari-hari selama 4 tahun di Jogja yang tak mungkin akan kuulangi lagi. Pertemuan dan berguru dengan orang-orang yang sangat menginspirasiku. Lagipula aku selalu yakin kehidupanku di Jogja yang seperti itulah yang mendorongku dan membuatku bertahan hidup di Jakarta sejak pertengahan tahun 2014.

Bila kuumpamakan kehidupan di Jogja seperti handphone lemot dengan jaringan 3G nya, kehidupan awal-awal di Jakarta sebagai 3.5G, maka sekarang di tahun ini aku harus bergerak lebih cepat secepat jaringan 4G LTE. Lima kali lipat dibandingkan kecepatan 3G.

3g-vs-4g-internet-speed-comparison

5g-speedometer-logo

Aku tak bermaksud membuat ulasan perbedaan 3G dan 4G di sini, hanya mengambil perumpamaan sederhana saja. Salah satu cara mencapai kecepatan 4G ini adalah dengan tetap menulis. Tidak tau apa hubungannya, namun dengan menulis seperti saat ini aku merasa lepas. Bebanku berkurang. Mungkin ada baiknya jika tiap hari aku melepaskan beban dengan menulis, menulis, dan menulis. Harusnya jika beban harian dilepaskan setiap hari, esok pagi hari berikutnya kita bisa berlari dengan lebih kencang.

AndroMax M25

Tulisanku ini sama ga jelasnya dengan diriku yang sekarang. Ehm! Tahun ini harus menjadi tahun menulis buatku! Menulis jurnal apalagi! Ngomong-ngomong tentang 4G ini, aku berniat mengganti kartu simpatiku ke 4G juga, selain tadi baru kubeli MiFi Andromax M25 dari sepupuku yang membuka toko handphone di PTC Palembang. Ini modem yang harganya pas dikantongku. Bold kemahalan, lagian di Palembang Bold belum masuk.

Aku akan bekerja lebih giat lagi jika sudah ditunjang oleh bentukan fisik MiFi 4G LTE seperti ini. Ngomong-ngomong, di awal bulan ini aku baru menerima project pertama setelah sekian tahun ga ngapa-ngapain: sebuah website company profile. Ganbatte, Maya!

Belajar, Berlatih dan Berjuang

Beberapa hari terakhir ini, otak memang penuh. Ada kekhawatiran sedikit juga, mungkin semacam kegalauan. Alangkah banyaknya yang harus dikerjakan, tapi jangan mengeluh, Maya ^^ Jangan berpikir banyak, melangkahlah terus…

Hingga awal Mei ada 3 agenda:

  • belajar (untuk UTS 3 mata kuliah dan sidang akhir tesis) (UGM),
  • berlatih (lari 2,4 km dalam 12 menit, renang 25 meter, push up, sit up, pull up, dll…)(Wanadri, YABI)
  • berjuang (untuk persiapan bunkasai)(Soka Gakkai Indonesia).

Tiga hal itu adalah tiga hal yang sangat penting dalam hidupku. Ketika belajar, aku ingin mengasah otakku untuk bisa berpikir, beranalogi, berlogika, mengasah semua hal yang berkaitan dengan IQ. Orang-orang bilang antara IQ, EQ, dan SQ haruslah seimbang. Poin kedua untuk mengasah EQ. Kugunakan medan alam sebagai pusat latihan. Melatih mental, fisik, mengasah empati, solider, tanggung jawab. Terakhir adalah yang terpenting di atas segalanya karena itu yang merupakan fondasi dan pusat hidupku. Itu kunamakan filosofi hidup – Buddhisme yang dikemas dalam sebuah komunitas para boddhisatva muncul dari bumi bernama Soka Gakkai.

CIMG6774

Berjuanglah terus, Maya! Bergeraklah sebelum membatu. Lakukan apa yang harus dilakukan dan tuntaskan tanggung jawabmu dalam kehidupan kali ini. Nammyohorengekyo.

WANADRI

Dua tahun belakangan sejak mengetahui informasi PDW (Pendidikan Dasar Wanadri) 2012, pikiran tentang WANADRI ini tak bisa lepas dari otakku. Sangat mengesalkan memang. Tahun 2012 lalu aku ingin ikut, tapi aku benar-benar tak tau harus mulai dari mana. Aku tak tau apa-apa soal WANADRI, dan sekarang, berkat kang Non** yang rajin posting di grup facebook WANADRI sejak tahun lalu, juga foto-fotonya kang Ke**, ditambah lagi aku pernah mengikuti pendidikan YABI yang ternyata isinya banyak orang WANADRI juga, pikiranku semakin menggila. Menggila karena aku mendapatkan apa yang kucari. Eureka!

200px-WanadriWANADRI

Apakah ini yang dinamakan passion? Apakah passionku terhadap gunung dan pendidikan alam bebas begitu besar? Apakah aku punya harapan besar terhadap WANADRI? Aku tak tau, aku hanya tau bahwa pikiran tentang WANADRI sedikit banyak telah membuatku kurang fokus terhadap tesis. Aku hanya berpikir WANADRI sejalan dengan prinsip dan gaya hidupku. WANADRI sesuai dengan semangat Gakkai. Itu hanya sejauh yang kuketahui. Bisa saja aku salah. WANADRI bukan kambing hitamku. Aku hanya mengekspresikan ketertarikanku yang sangat besar terhadap WANADRI, dan aku tak bisa menghilangkan rasa itu hingga sekarang.
WANADRI…OH…WANADRI!!!

Matinya Ibu Si Roy

tak sengaja aku mampir ke salah satu tulisan blog tentang kematian ayah si penulis blog.

aku membaca judulnya saja, tak ada keinginan untuk lanjut menuntaskan.

entahlah, kadang mendengar kata kematian, aku selalu mengait-ngaitkannya dengan perasaanku sendiri.

mungkin rasa kehilangan, rasa kangen pada banyak almarhum…

ahhh… entahlah, tapi ingin kupastikan bahwa itu bukan rasa penyesalan.

rasa mati abadi bagiku adalah kematian ibunya Roy dalam Balada si Roy.

ah, jangan sampai itu terjadi padaku.

amit-amit tjabang bayi!

Kesetaraan

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah buku yang mengisahkan profil Nelson Mandela, Rosa Parks, Gandhi, dan para tokoh pejuang hak asasi manusia lainnya. Mereka adalah orang-orang yang sadar lebih dahulu tentang arti sesungguhnya menjadi manusia dan mengerti bagaimana seharusnya antar-manusia tersebut hidup berdampingan. Lebih jauh, mereka berani memperjuangkan prinsip tersebut hingga batas maksimal seperti yang bisa kita tuai hasilnya saat ini.

Berbicara tentang kesetaraan, berkaca dari perjuangan “apartheid” orang-orang besar tersebut, hal sederhana yang bisa kita terapkan saat ini sebagai individu dan yang terpikirkan oleh saya adalah prinsip berteman dengan siapa saja.

“Berteman dengan siapa saja” artinya kita menerobos semua perbedaan dan melihat hati dari manusia itu sendiri, toh lebih penting apa yang kita lakukan sesudah kita lahir daripada mengkhawatirkan label kelahiran kita pada kubu apa, bukan?