The New Human Revolution Volume 25 [1]

IMG_5047

Ini adalah buku Revolusi Manusia Baru (NHR) versi bahasa inggris pertama yang saya miliki. Pemberian dari Kaven. Thanks, Kaven! Awalnya saya mengenal Kaven adalah ketika saya mengikuti English Meeting di rumahnya Ms. Seema. Ketika mendengar cerita pengalamannya pertama kali, juga ketika Ia memimpin jalannya pertemuan, saya langsung merasa Wow! Saya merasa bahwa saat itu adalah waktu yang tepat bagi saya untuk memperbarui tekad saya di Gakkai. Saya berterima kasih datang ke pertemuan itu. Salah satu pertemuan yang merubah hidup saya ^_^

Orang yang pernah bertekad, pasti pernah merasa bahwa semakin lama tekadnya akan memudar. Oleh karena itu tekad harus selalu diperbarui. Ada 4 chapter dalam NHR Volume 25 ini.

  • Chapter 1: Light of Happiness
  • Chapter 2: Shared Struggle
  • Chapter 3: Gentle Breeze
  • Chapter 4: Bastion of Capable People.

Saya baru membaca Chapter 1 dari halaman 1 hingga 19. Awal ceritanya sedikit membosankan bagi saya yang tidak bisa menghapal sejarah, karena menceritakan krisis pangan yang dialami pada tahun 1976 di Fukushima. Ikeda Sensei tiba di Fukushima pada bulan Maret 1977 dan mengingat-ingat kondisi yang terjadi di sana pada tahun sebelumnya. Orang yang paling menderita adalah orang yang paling berhak bahagia. Mengenai ini Ikeda Sensei benar-benar memikirkan anggota yang ada di sana, terutama Tohoku yang baru saja gagal panen karena dampak dari musim dingin yang parah (mencapai 5° Celcius).

Tohoku has had to deal with the cold weather, drought, and the effects of the 1960- Chilean Earthquake and Tsunami. That’s why I want Tohoku to transform its karma and flourish, and be happier than any other place. I’m going to make my visit to Tohoku to proclaim this new dawn.

Pusat Kebudayaan Fukushima yang akan dikunjungi oleh Ikeda Sensei terletak di area Aizubandai, baratnya Stasiun Koriyama, dengan pemandangan Gunung Adatara di sebelah utara. Tinggi gunung ini adalah 1718 mdpl. Saya googling 😀

Sesampainya di sana, Ikeda Sensei memberikan dorongan semangat kepada Pimpinan dan anggota yang hadir. Ada beberapa poin yang saya renungi, antara lain:

Kunci untuk Memajukan Kosenrufu

Pimpinan Prefektur Fukushima adalah Norio Shiba dari Prefektur Miyagi.  Dia dulunya adalah wakil pimpinan generasi muda nasional. Umurnya 35 tahun, dan merupakan tipe orang yang memiliki inisiatif dan inovasi. Ikeda sensei berbicara kepada dia tentang kunci untuk memajukan kosenrufu:

Mr. Shiba, to construct a new era for our Soka movement in Fukushima, it won’t be enough to focus just on short-term, ad hoc plans and new guidelines for activities. A firm foundation is created through the transformation of all members’ attitudes, to enable them to refresh their lives. It is vital that you foster true champions who have pride in where they come from and are dedicated to kosenrufu.

The Soka Gakkai has grown in Fukushima to the point that it has because the pioneer members struggled with all their might. It is crucial to never forget how those members wholeheartedly dedicated themselves to kosenrufu, with utter devotion, never retreating a single step no matter how they were reviled or persecuted.

Continue reading

Advertisements

200DC-2 D5 | Berdoa Hingga Tuntas

Hari ini bimbingan harian Ikeda Sensei yang dibundel dalam “Mentari Hati” berbunyi:

Ada banyak elemen yang terlibat hingga sebuah doa bisa terkabul, namun yang penting adalah teruslah berdoa sampai doa Anda terkabul. Dengan terus berdoa, Anda akan memancarkan kejujuran yang gigih dari diri sendiri, dan mulai menggerakkan hidup ke arah yang positif dengan usaha yang sungguh-sungguh dan terus-menerus. Bahkan jika doa Anda tidak segera menghasilkan hasil yang konkrit sekalipun, pada suatu saat doa Anda yang terus-menerus akan terwujud dalam bentuk yang lebih hebat daripada yang pernah Anda harapkan.

Kutipan tersebut hari ini saya baca di group BBM Shibu Jogja, dan tadi malam ketika pertemuan daimoku GM Shibu Kebun Jeruk kembali saya bacakan. Seorang pemudi berbagi pengalamannya tentang hal ini, dan satu per satu generasi muda pasti pernah merasakan hal yang sama.

Saya juga memiliki satu doa tentang pekerjaan saya. Saya ingin setiap mahasiswa angkatan pertama di Universitas Trilogi bangga pada kampusnya, karena tadi siang saya baru saja mendengar cerita dari seorang mahasiswa.

Mahasiswa jurusan X ini sedang galau karena label angkatan pertama yang ada pada dirinya. Saya juga pernah berada di posisi yang sama dengannya. Sekarang saya bisa tersenyum bangga pada almamater saya yang sudah menjadi Universitas. Dulunya masih bernama Sekolah Tinggi Teknik Musi; sekarang menjadi Universitas Katolik Musi Charitas. Saya juga tersenyum bangga karena sekarang jurusan saya akan segera menerima mahasiswa angkatan ke-11.

Semuanya selalu dimulai dari SATU. Tidak boleh NOL, karena apapun yang dikalikan dengan NOL hasilnya akan tetap NOL. Harus ada yang pertama, baru yang kedua, ketiga, dst akan mengikuti. SATU adalah ibu dari sepuluh ribu.

TrilogiGedung Rektorat Universitas Trilogi

Dua-duanya – almamater dan kampus tempat saya bekerja adalah hasil dari doa saya. Doa-doa saya yang mempertemukan saya dengan kedua kampus tersebut. Maka, sekarang adalah saatnya menuntaskan doa saya, yaitu dengan berjuang total di tempat saya bekerja – memikirkan bagaimana kampus ini menjadi layak dibanggakan oleh para mahasiswa angkatan pertama. Bravo!

200DC-2 D4 | Lagu yang Kutulis

Ikeda Sensei QuotesQuotes Ikeda Sensei yang berbunyi “With love and patience, nothing is impossible” dalam sekuntum bunga kertas ini adalah kenang-kenangan dari Pertemuan Generasi Muda SGI Indonesia yang dilaksanakan pagi ini. Tema pertemuan tersebut adalah “Hopeless is Hope“. Beragam acara yang disajikan sangat menarik. Terima kasih banyak dan salut dari saya untuk semua panitia yang terlibat langsung, maupun yang berada di balik tirai 😀 Hayooo, tirai sama layar bedanya apa?

Pertemuan kali ini saya berpartisipasi dalam SGI Choir. Saya selalu suka menyanyi dan bermain alat musik, terutama harmonica dan gitar. Jangan ditanya hancurnya seperti apa 😀

….tapi saya suka. Kata si Rene Suhardono, “Passion is (not) what you’re good at. It is what you enjoy the most!”

Maka, bernyanyilah saya hari ini. Sebesar apapun usaha saya untuk menyanyi, sekecil itu pula kemajuan saya…. Namun, kembali lagi ke quotes dari Ikeda Sensei dan Abang Rene, bahwa yang mesti saya lakukan adalah memberikan yang terbaik dari apa yang saya bisa, dan tentu saja – dari apa yang paling saya sukai.

Nah inilah wajah-wajah partner-in-crime saya dalam SGI Choir:

Trilogi Choir……….agar isi postingan kali ini sesuai dengan judul yang tadi sudah saya tetapkan terlebih dulu, maka saya akan mulai dongengkan lagu yang baru-baru ini saya tulis. Lagu ini adalah lagu ke-2 saya untuk Guru Kehidupan saya – Ikeda Sensei. Lagu pertama ditulis ketika saya di Jogja. Kapan-kapan saya dongengkan juga…

Lagu kedua ini belum ada judul pasti; ditulis di akhir tahun 2014; di daerah perbatasan Malang-Blitar yang bernama Sumber Pucung. Ketika itu saya baru bangun dari tidur pagi yang sangat nyenyak di rumah orangtua Erik. Erik itu siapa – akan saya bahas kemudian di postingan berbeda. Foto wajahnya ada di gambar atas – berkaos putih dengan tangan yang disilangkan di depan dadanya sendiri. Continue reading

Belajar, Berlatih dan Berjuang

Beberapa hari terakhir ini, otak memang penuh. Ada kekhawatiran sedikit juga, mungkin semacam kegalauan. Alangkah banyaknya yang harus dikerjakan, tapi jangan mengeluh, Maya ^^ Jangan berpikir banyak, melangkahlah terus…

Hingga awal Mei ada 3 agenda:

  • belajar (untuk UTS 3 mata kuliah dan sidang akhir tesis) (UGM),
  • berlatih (lari 2,4 km dalam 12 menit, renang 25 meter, push up, sit up, pull up, dll…)(Wanadri, YABI)
  • berjuang (untuk persiapan bunkasai)(Soka Gakkai Indonesia).

Tiga hal itu adalah tiga hal yang sangat penting dalam hidupku. Ketika belajar, aku ingin mengasah otakku untuk bisa berpikir, beranalogi, berlogika, mengasah semua hal yang berkaitan dengan IQ. Orang-orang bilang antara IQ, EQ, dan SQ haruslah seimbang. Poin kedua untuk mengasah EQ. Kugunakan medan alam sebagai pusat latihan. Melatih mental, fisik, mengasah empati, solider, tanggung jawab. Terakhir adalah yang terpenting di atas segalanya karena itu yang merupakan fondasi dan pusat hidupku. Itu kunamakan filosofi hidup – Buddhisme yang dikemas dalam sebuah komunitas para boddhisatva muncul dari bumi bernama Soka Gakkai.

CIMG6774

Berjuanglah terus, Maya! Bergeraklah sebelum membatu. Lakukan apa yang harus dilakukan dan tuntaskan tanggung jawabmu dalam kehidupan kali ini. Nammyohorengekyo.

Festival Kebudayaan SGI untuk Perdamaian

bunkasai_sgi
Sepuluh hari menuju……..

BATAM, 24 AGUSTUS 2013
Pukul: 19.30 – 21.30 WIB
Di: Grand Ballroom Swiss-belHotel Harbour Bay

Soka Gakkai Indonesia, organisasi kemanusiaan yang bergerak di bidang Pendidikan, Perdamaian dan Kebudayaan berlandaskan filosofi humanistis Buddhisme Nichiren Daishonin, sekali lagi mempersembahkan sebuah Festival Kebudayaan Perdamaian Internasional.

Empat belas kota dan tiga negara mengambil bagian. Salah satunya adalah para pemuda Indonesia dengan semangat satu hati yang akan menampilkan kumitaiso. Tentu saja penampilan mereka akan lebih heboh daripada Festival Kebudayaan tahun lalu, seperti video berikut:

Mau intip-intip penampilan lain yang juga istimewa? Silahkan menyaksikan video persiapan berdurasi 6 menit di sini.

Festival Kebudayaan dengan semangat “BINEKA untuk maju bersama” ini merupakan jawaban untuk kita, INDONESIA, bahwa di panggung bernama kebudayaan, semua perbedaan dipersatukan, seperti yang dipahami juga oleh Dr. Daisaku Ikeda:

“Kebudayaan adalah ungkapan agung dari suara batin yang telah didengar oleh berbagai orang yang berbeda – beda di bumi, di relung jiwa mereka, suara yang menyampaikan welas asih penuh tenaga dan kearifan dari jiwa alam semesta. Interaksi berbagai budaya yang berbeda – beda dapat memperkaya jiwa setiap orang dan membina mereka untuk saling memahami.” (sumber)

Veni Vidi Vici! Cukup siapkan waktu saja karena undangan FREE dapat Anda minta kepada panitia yang menyambut telepon bernomor (0778) 455429.

Teman, selamat bergabung dengan lebih dari 1.500 penonton!

Informasi Festival:

  1. Bineka Untuk Maju Bersama, dan
  2. http://binekauntukmajubersama.blogspot.com/

Informasi tentang SGI:

  1. https://www.facebook.com/sgi.info, dan
  2. http://www.sgi.org/

Weekend Bersama Kayokai-sisters :D

Hahaha apapun tujuannya ke Jakarta, kudu disempat-sempatin mampir ke Honbu (SGI Headquarter). Honbu adalah seperti tempat saya untuk me-recharge energi 😀

Begitu pun ketika mendengar bahwa saya harus mewakilkan orang tua saya dalam acara Tridharma untuk menerima penghargaan engkong saya, saya langsung membuat jadwal “main” ke Honbu dan hari itu bertepatan dengan ujian Buddhisme. Saya mengikuti ujian pemula ujicoba. Penting sekali meskipun kita sudah lulus ujian tetap mengulang jika ada kesempatan karena belajar Buddhisme bertujuan untuk memperkuat hati kepercayaan kita, seperti bimbingan Ikeda sensei:

BUDDHIST study is not the mere memorization of theory. Your determination to study is an important aspect of your attitude in faith. You must understand that we study to deepen our faith, to promote kosen-rufu and to progress towards our attainment of Buddhahood. (Daisaku Ikeda)

Kedatangan kali ini saya memanfaatkan kereta api Krakatau yang baru saja beroperasi selama tiga hari sejak Rabu, 24 Juli 2013. Dengan membayar tiket seharga seratus ribu, saya mendapatkan kereta api yang sangat bersih, berpendingin udara, on-time, dan yang paling saya sukai adalah jadwal keberangkatannya tengah hari.

Lalu, demi mengejar waktu, saya pulang pada hari minggu (28 Juli 2013) dengan Lion Air. Tiket pulang dengan KA Krakatau yang seharusnya hari Senin pun saya batalkan. Cara pembatalan tiket sangat mudah dan bisa kita baca di website kereta api yang keberadaannya saat ini sangat membantu kita, terutama fasilitas booking H-90 😀

270720131731Susasana dalam KA Krakatau

Saya menikmati saat-saat yang sangat menyenangkan bersama kayokai-sisters saya, apalagi hari itu adalah hari ulang tahun Yuvi. Kami mengobrol, berkumpul, makan, ketawa-ketawa dan berbagi semangat 😉

Beberapa moment sempat diabadikan dengan kameranya Ci Dessy hahaha

IMG-20130729-WA0001Ci Dessy, Saya dan Linda

IMG-20130729-WA0002Ci Dessy dan saya

IMG-20130729-WA0004Ci Dessy, Linda, Yuvi, Saya dan Novita (dari Batam)

Setelah saya merepotkan Yuvi dan mamanya yang menampung saya selama satu malam dan Ci Mina yang juga berbaik hati mengantarkan saya dari Honbu ke tempat acara Tridharma di Tangerang, saya pulang dengan senyum-senyum sendiri dengan membawa titipan Septa kepada Apri, yaitu cover kyobon (buku doa) yang akan dibagi-bagi oleh Apri kepada teman-teman pemudi Jogja 😀

280720131734Cover Kyobon dari Apri

Hal lain yang membahagiakan adalah ketika Urara san mengirimkan foto ujian teman-teman Jogja 😀

Ujian budhismeUjian Buddhisme di Jogja

Selama perjalanan ini, meskipun bukan Kayokai-sisters saya, saya juga berterima kasih banyak kepada Puput yang menjemput saya dari St. Pasar Senen dan mengantarkan saya ke rumah Yuvi di malam hari 😀

Thank you semuanya! Weekend kemarin saya lewati dengan sangat bahagia hahahaha ……dan ssttt wawancara beasiswa tesis LPDP di Senin pagi harinya pun sudah saya lewati dengan maksimal dan tanpa penyesalan. Diterima tidaknya beasiswa tersebut saya serahkan pada doa dan rejeki saja 😀

Terima kasih, kayokai-sisters. Love u 😉

200DC | Hari ke-42 s/d 62

Sudah dua puluh hari saya tidak menulis. Ehm, begitu cepatnya waktu berlalu! Banyaknya hal yang sudah dilakukan, semoga menjadi bernilai dan ada hikmahnya di masa mendatang 🙂

Tesis

Apa kabar tesis?

Melos

Tidak terasa beberapa hari lagi, tepat dua bulan saya tinggal bersama Melos. Minggu lalu, dia 2x muntah di atas tempat tidur saya. Satu kalinya dia pup dan pipis. Saya benar-benar butuh kesabaran. Baru kali itu saja dia bertingkah tidak sopan. Saya sangat menyayangi Melos, tetapi saya juga harus realistis bahwa memelihara seekor kucing di kamar kos adalah hal yang sulit dan tidak semua orang bisa melakukannya. Saya merasa tidak sanggup lagi. Jodoh kita hanya sampai di sini sajakah, Melos?

Nalurinya sebagai kucing yang suka berkeliaran, kotor-kotoran dan makan sembarangan sisa anak-anak kos lalu “mencret dan muntah” tidak bisa saya cegah. Lagipula, saya ini siapa yang harus memaksakan kehendak saya kepadanya? Dia adalah makhluk bebas dan sudah saatnya orang lain yang lebih baik mengadopsinya. Orang tersebut adalah teman kampus saya dan dia memiliki anak-anak kecil. Wah, Melos pasti banyak teman bermain nantinya 🙂

Terkadang, mencintai memang harus berani melepaskan…

Saya sangat-sangat sayang Melos, tapi ya sudahlah… Biar Melos tetap menjadi kenangan indah saya saja. *bercucuran air mata*

MelosMelos dan tanaman kesayangannya

Tak berapa lama saya menuliskan ini, teman saya mengabarkan bahwa ia akan adopsi Melos hanya ketika saya sudah tidak di Jogja lagi. Ehm. Baiklah. Jodoh kita masih berlanjut ya, Melos.

Ini titik klimaks saya ketika saya sedang sakit, capek, banyak kerjaan dan banyak yang dipikirkan, Melos jadi bandel. Orang kebanyakan akan memelihara binatang sebagai teman di masa pensiun mereka, lah saya yang masih usia produktif malah sibuk bermain-main dan merawat seekor kucing. Oh, berhargakah semua ini?

Stop mengeluh, Maya. Sesuatu yang dinamakan cinta hanya mengenal kata memberi saja. Tak perlulah kau berharap banyak!

Satu hal yang membuat saya benar-benar drop adalah ketika kemarin saya mendengar saudara Melos yang dipelihara oleh x meninggal. Dia meninggal begitu saja. X tidak mau berusaha mengobatinya dengan membawa dia ke dokter. Oh! X juga menyarankan saya untuk membawa Melos ke Pasar Ngasem biar orang pasar bisa menjualnya. Semakin lama saya semakin heran dengan hidup ini, jangan-jangan saya memang orang yang paling “nyeleneh” sendiri -_-

Sesungguhnya ini bukan juga soal cinta-mencinta, tapi soal tanggung jawab. Saya hanya berusaha memenuhi tanggung jawab saya sebagai seorang manusia yang tidak memandang rendah terhadap binatang. Saya hanya melakukan apa yang saya bisa saja…

Oh Melos,… Mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya pada kita…

Saya harus mendoakan Melos agar kami bisa hidup dengan harmonis dan seirama!

A Youthful Diary – Daisaku Ikeda

Tadi saya mengatakan bahwa saya sedang sangat capek dan masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Salah satu cara meningkatkan kembali motivasi saya adalah dengan membaca bimbingan Ikeda Sensei. Ketika membaca, mengetahui hati sensei dan melihat bagaimana sensei selalu mendorong dirinya hingga ke batas maksimal, saya akan malu sendiri dan menyadari bahwa apa yang saya lakukan bukanlah apa-apa. Jadi, saya tidak boleh sama sekali mengeluh, apalagi menyerah.

Bulan Juli tahun 1954, beberapa kutipan yang mendorong semangat saya, antara lain:

  • Talked quietly with my wife until late at night. Hope she will never become old. Want her to be eternally youthful. (1)
  • Must not be lazy. Whoever fails to study deeply will regret it for a lifetime. (2)
  • Each year, must use this training course as a stepping-stone to train myself to my fullest ability. (3)
  • Must visit this ‘Eagle Peak’ once each month. (4)
  • The Gakkai’s spirit and ideals should be put into practice more deeply, more powerfully, more fairly and more rapidly. (5)
  • If we forget the debt of gratitude we owe our mentor, from then on we will be lower than animals. Those who devote their entire lives to the mentor – these are true disciples. (7)
  • Returning home, thought of how sorry I will feel for the members who come to my lectures if I do not grow more. (8)
  • The staff members, all excellent individuals, will become the center of the Gakkai and of Japanese society, ten or twenty years from now. (11)
  • To campaign, they must have bodies like iron. (11)
  • I wonder what dire circumstances my life would be in by now if I did not have faith or a mentor in life. (13)
  • Must always arrange things in my mind, then put them into practice. (14)
  • I am twenty-six. I have awakened to the determination to be ready to give my life at any time for Buddhism. I have been fighting to my heart’s content. If I think about it deeply, however, haven’t all my actions been carried out under President Toda’s warm protection? (15)
  • As society grows more complex each year, clothing styles will become more practical. (16)
  • My oldest son, Hiromasa, is becoming quite a raucous child. What destiny awaits him? Can only pray he becomes a healthy, upstanding individual, a man of pure faith, a believer in the Daishonin’s Buddhism. (16)
  • Politicians! Leaders! I want to cry out – do your best! Discard your hunger for fame and wealth and donate your lives for the suffering people! (17)
  • Highly value my great teacher, excellent seniors, fine friends and good neighbors! Must care for and respect them. (19)
  • After Sensei dies, I must act in a pivotal role, taking on heavy responsibilities. (20)
  • Seniors! Lead your juniors by example, through your own growth. Juniors! Continue to follow your seniors and advance! (20)
  • Each time I lecture, I think that I must make courageous progress; must continue to study. (21)
  • Want only to purify my faith, step by step. Deeply ashamed of my lack of ability, my tendency to rely on shallow understanding. (22)
  • Keenly feel that the fundamental power behind every campaign is one’s life-force. (23)
  • Taiko Hideyoshi saying, “People are at once the greatest and the smallest thing in the world.” (24)
  • Exhausted, returned home just after 8:00. Bored. Must take care of my health. Sat quietly at my desk, scribbling notes in my notebook. (30)

Daimoku Bersama

Saya tidak bisa mendorong diri saya untuk bangun jam 05.40 pagi lagi. Saya merasa begitu lelah ketika terbangun hanya untuk mematikan alarm saja dan mendapati diri saya melanjutkan tidur. Berita baiknya, dari daimoku pagi bersama Julie, saya merasakan banyak sekali manfaat. Ce Julie, tunggu saya ya! Saya tetap berusaha bangun pagi lagi!

Itu tadi cerita daimoku pagi bersama Julie, sedangkan untuk daimoku malam, mulai dari minggu lalu, setelah Yasuko san dan Jessy memakai whatsapp juga, bersama dengan Dessy, kita membuat group pemudi Jogja yang dinamakan oleh Dessy: Putri Berejeki ^^

Dalam group tersebut, setiap malam kita berdaimoku malam bersama.

belajar gosho Abutsu-boSemua orang memiliki kesulitannya masing-masing, namun kita akan selalu berjuang bersama dan jangan pernah merasa sendiri, my lovely kayokai-sisters. Sama seperti catatan harian Ikeda Sensei, saya juga mau terus berjuang dan bertumbuh lagi. Demi diri sendiri, demi hukum, dan demi masyarakat!

———————————–

…….tesisnya piye, May? 😀