Menulis kepada Ibu

Ketika mengingat "ibu", hanya ada rasa sempurna saja di hatiku. Tiada kata-kata yang bisa mewakili sosok "ibu". Ia adalah roh di setiap aktivitasku, awal dan akhir dari mimpi-mimpiku. Selamat hari ibu, ma.... Terima kasih, mama 🙂 Tahun ini aku ucapkan hanya lewat sms saja. Hatiku belum 100% untuk mengucapkan kata-kata tersebut di telepon karena kupikir… Continue reading Menulis kepada Ibu

Memasak Tesis

Mengerjakan tugas akhir (baca: tesis) ibarat memasak. Memutuskan mau masak apa kita hari ini? Bahan utamanya apa? Boleh juga ditambah bahan lain agar rasanya lebih lezat. Tentu saja bahan-bahan tersebut harus saling melengkapi bukan? Jangan lupa loh dengan bumbunya. Sudah siap? Mari kita memasak. Nyalakan api dan sreng...sreng...sreng.... HARUM 🙂 Oops. Terdengar ketukan pintu. Kawan… Continue reading Memasak Tesis

Belajar dari Gunung

Seringkali gunung tergambar dalam bentuk segitiga, artinya lebar di bawah dan mengerucut ke atas. Level Top Management pun berada di tingkat teratas. Posisi teratas sebanding dengan tuntutan kemampuan lebih yang tidak hanya pakar dalam hal teknis dan konsep, namun harus jeli menganalisis permasalahan sebagai dasar penentuan kebijakan. Piramida rantai makanan juga demikian. Posisi teratas menunjukkan… Continue reading Belajar dari Gunung

Untuk Kita. Cheers ^_^

.A.K.U. Terdiam tak bisa berkata-kata. Aku bahkan tak mengerti apa yang bisa kutuliskan di blog ini untuk mewakili emosiku. Sembilan tahun aku menantikan pendakian sempurna ini. Mahameru kembali menyambutku dengan penuh kelembutan. Namun, hari ini berbeda. Aku mencumbui udara paginya bersama kawan-kawan terbaik yang kumiliki. Hari ini, ritual syukur setiap kali tiba di puncak tak kulakukan seorang… Continue reading Untuk Kita. Cheers ^_^

Ketekunan

Tanggal delapan Juni sudah lama berlalu sejak dinyatakan lulus sidang proposal tesis, namun hampir empat bulan kutinggalkan revisi, membiarkannya tergeletak berdebu, kubawa-bawa sewaktu pulang kampung dan tetap tak tersentuh juga. Empat bulan, banyak hal yang terjadi selain pikiran yang dipenuhi oleh tesis, tesis dan tesis. Kegagalan dan keberhasilan. Namun satu hal yang pasti, aku belajar… Continue reading Ketekunan

Kembali

Satu bulan usai kembali ke alam, kini kembali ke orang-orang, kembali ke buku-buku, kembali ke benda-benda, kembali melihat ke dalam diri. Berkelana dalam semesta, dalam dimensi yang berbeda, dengan esensi yang tetap sama, yakni berjalan dan mengembara, mengambil dan memberi, bergembira bersama.      

Pikiran

Kabut berbisik,Dingin membekap udara,Di kejauhan, samar-samar ilusi liar bermain,nakal dan tak tertahankan,mata melihat,hati menggeliat,namun pikiran memporak-porandakan semuanya.Salahkah pikiran yang berilusi,mengadu pada malam yang pekatnya hitam,naluri liarnya sepekat darah?Semua berkecamuk dalam dada.Hanya ia yang tau,Ia yang sedang mengkristalkan pikiran selagi dedaunan meneteskan embun,setetes demi setetes,berirama sempurna.

Kesadaran

Sssttt.... Kubisikkan satu rahasia di telinga kananmu, teman. Saat itu ketika aku menyadari satu hal mengapa aku menjadi seorang Buddhis, alasanku adalah ketiadaan alasan, bahwa aku tak mempertanyakan kehidupan lagi. Pikiran kita berbatas pada satu waktu, tiada batasan hanya terlampaui seiring proses berpikir saja, teman. Lalu, jawaban-jawaban akan menghampirimu dalam sekejap, begitu tiba-tiba dan klik!… Continue reading Kesadaran

Cahaya

Aku meraba-raba dalam kegelapan sempurna, dalam sebuah goa tiada cahaya. Gelap. Lembab. Dingin. Gemericik air terdengar berirama. Sang pikiran menerobos akal, mencari cara untuk segera keluar menyambut cahaya. Sang hati menduga-duga, apakah kehidupan berarti cahaya?