Peduli

Tadi sore sekitar pukul 6 di dalam KRL aku merasa sangat malu, lantaran malas berdiri hanya untuk memberikan tempat duduk kepada Ibu separuh baya. Perempuan muda yang duduk tak jauh dariku justru yang berdiri dan mempersilahkan Ibu itu untuk duduk, namun ditolak oleh Sang Ibu dengan halus, padahal ketika aku sampai di stasiun perhentianku, Ibu itu masih saja berdiri. Sungguh yang tadinya aku lupa untuk malu, menjadi malu dan semakin malu. Perjuangan adalah setiap detik, setiap moment, ketika lengah maka akan dikalahkan oleh iblis di dalam diri kita. Rasa peduli-ku hari ini hilang, menyadari ini membuat penyesalanku lebih mendalam.

Peduli-lah yang membuat kita mampu menghormati orang lain, lebih jauh… peduli adalah tenaga pendorong untuk berbuat kebaikan pada sesama.

Terlambat (ramai-ramai)

img_8283

Agak mengesalkan kalau terlambat padahal hari-hari sebelumnya kita tepat waktu. Sejak tanggal 7 Desember 2018 lalu, saya sampai kampus sebelum 7.30 pagi, kecuali 2 kali terlambat 4 menit, dan hari ini – terlambat 20 menit karena hujan. Rasanya sangat menyesal karena kalah di pagi hari. Kereta yang saya naiki juga kosong, biasanya ramai. Jangan-jangan memang banyak yang terlambat hari ini?

Kalau di kampus, jawabannya iya. Agak sepi tak seperti biasanya. Terlambat ramai-ramai.

Ketika umur sudah berkepala 3 seperti ini, saya teringat bahwa dulu tak pernah satu kali-pun saya terlambat semasa SD hingga SMA, dan seingat saya hanya sekali-dua kali ketika S1. Berarti lebih kurang saya tak pernah terlambat selama 16 tahun berturut-turut. Riwayat terlambat saya dimulai di tahun-tahun menjelang lulus kuliah S2, lalu berlanjut hingga kerja di Jakarta. Kebiasaan yang sangat buruk.

Tepat waktu adalah tidak terlambat dan tidak kecepatan. Ini saya pelajari betul ketika mengikuti pendidikan navigasi darat di YABI (Yayasan Alam Bebas Indonesia). Maklum, kalau tidak betul-betul, sarapan paginya push-up :p

Sekalinya bertekad tidak mau terlambat lagi, memang butuh perjuangan. Kemenangan satu hari dimulai dari pagi hari. Besok berjuang lagi!

Oh ya, salah satu pemicu agar semangat bangun pagi adalah mencintai pekerjaan kita, seperti yang dikatakan oleh Vincent van Gogh:

I put my heart and my soul into my work, and have lost my mind in the process.

Aktivitas Penggunaan HP Saya

Ceritanya, seminggu terakhir ini saya aktifkan fitur baru di HP saya, yaitu untuk merekam aktivitas penggunaan aplikasi, mulai dari jumlah notifikasi yang saya terima setiap harinya, lama penggunaan masing-masing aplikasi, juga yang paling menarik adalah aplikasi apa yang langsung saya buka sesudah aktifkan layar HP ūüėÄ

Aktivitas Selama 7 Hari Terakhir

Aktivitas Hari Ini

Jadi, dapat saya simpulkan bahwa WhatsApp adalah satu-satunya media sosial saya yang paling aktif. Rata-rata saya mendapatkan 151 notifikasi WhatsApp setiap harinya…. dan tentu saja, saya jarang buka pesan WA kecuali yang urgent….¬†diikuti oleh browser Safari yang saya gunakan untuk mengecek email¬†dan¬†facebook, lalu Grab lebih sering saya gunakan daripada Gojek. Selain itu, aplikasi favorit saya adalah Clock untuk bangunin saya tidur, karena jika tidur kurang dari 6 jam, saya jarang bisa bangun sendiri.

Hal menarik kedua adalah aplikasi yang menjadi pemicu saya untuk aktifkan layar HP, yaitu: WhatsApp, Safari, Grab, dan Camera. Bisa jadi, memang inilah aplikasi favorit saya. Spotify tidak masuk 4 besar, karena bukan prioritas.  Ketika bangun tidur, biasanya juga saya akan buka 4 aplikasi tersebut, terutama WhatsApp untuk cek apakah ada pesan masuk, dan cek email melalui browser Safari.  Katanya tidak baik membuka media sosial sebelum dan sesudah tidur, apalagi buka email kantor ketika sedang beristirahat di rumah. Harus dikurangi.

Ya, kira-kira begitulah aktivitas penggunaan HP saya. Saya sudah mengantuk sekarang. Selamat tidur.

Menjadi ayam…

Pagi-pagi aku berangkat ke kantor,
Ayam-ayam ini juga berangkat… tapi berangkat menuju kematian,
dan kuburannya adalah perut kita.

img_8249

Dulu saya pernah menonton film yang sangat menginsipirasi berjudul Temple Grandin. Saya kutip hasil inovasinya terhadap proses penyembelihan ternak yang lebih manusiawi:

Temple mulai merancang apa yang sudah ia lihat dalam benaknya, yaitu cara yang lebih baik menyalurkan ternak melalui tong disinfektan dan vaksinasi tanpa membuat ternak menjadi khawatir atau takut.

Selanjutnya, dia mengalihkan perhatiannya ke rumah pemotongan hewan, merancang sistem penyembelihan ternak yang lebih manusiawi. Luar biasanya, kini lebih dari setengah ternak di AS dan Kanada ditangani dengan fasilitas yang dirancang oleh Temple. Ia juga bekerja sebagai konsultan bagi McDonald, perancangan dan pelaksanaan program-program kesejahteraan hewan.

Anak autis ini mampu mengubah industri peternakan Amerika, menjadi juru bicara autisme dan mengajar mahasiswa PhD di Colorado State University. Dr Temple Grandin juga menulis sepuluh buku, tentang hewan dan perilaku manusia.

Sudah adakah di Indonesia yang sistemnya semacam ini? Semoga.

Menyerah

Malam ini saya membuat sebuah keputusan menyerah terhadap sesuatu. Saya menyerah bekerja dengan orang-orang yang bertipe ini:

It’s time to give up. I am done being strong.¬†Kini saya memilih untuk memfokuskan diri untuk mengerjakan hal-hal yang lebih bernilai, tidak abstrak alias punya¬†outcome¬†yang jelas. Jika hal-hal tak menyenangkan seperti ini terjadi pada saya lima tahun yang lalu, mungkin saya akan tetap bertahan dan optimis, namun jarang saya temui¬†ending¬†yang baik. Maka saya belajar, belajar untuk hidup menerima kenyataan dan mengatakan tidak. Mari hargai hidup dan waktu kita sendiri untuk lebih banyak menciptakan nilai kehidupan yang lebih bermanfaat, dan beranilah untuk mengatakan tidak!

Mungkin setelah ini saya akan baca buku “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” :p

KRL dan OjOl

Total dua kali saya menulis tema transportasi favorit saya di kota ini РJakarta. Tulisan pertama di tahun 2015, lalu tulisan kedua di tahun 2016, lalu sekarang Рhampir tiga tahun kemudian, saya akan update moda transportasi saya.

Pertama-tama saya sudah tidak punya motor lagi, dan saya merasa lebih happy, tidak begitu capek karena berkelahi dengan jalanan, tapi juga tidak praktis. Nah, tidak praktis ini yang menjadi masalah, dan saya belum menemukan solusinya. Saya kira dengan naik sepeda ke-mana-mana di kota ini, hidup bisa lebih praktis, nyatanya tidak, maka kesimpulan pertama saya adalah: sepeda bagi saya hanya cocok untuk olahraga saja.

Tadinya cita-cita saya mulia seperti kebanyakan pesepeda lainnya, yaitu naik sepeda ke stasiun dekat rumah, lalu naik KRL sampai stasiun tujuan, dan nyambung bersepeda di bawah pohon rindang di antara perumahan DPR sampai ke parkiran kampus. Nyatanya ini tidak praktis sama sekali. Alasannya beragam, mulai dari rempongnya buka-tutup sepeda lipat untuk masukkan dalam gerbong kereta, angkat-mengangkat sepedanya, baju yang dibasahi keringat, bangun yang kudu lebih pagi sampai risiko di-coel-coel orang iseng di jalanan. Atas dasar itu, sepeda dicoret.

Kini saya memilih KRL dan Ojek-online (OjOl): GrabBike[car] atau Gojek[car] sebagai prioritas transportasi saya di Jakarta.

Kombinasi OjOl dan KRL sebagai pilihan transportasi rumah-kampus selain tidak membuat kulit dan hati panas di jalanan, juga cukup efisien. Rata-rata waktu yang saya habiskan setiap harinya dengan abang OjOl Grab adalah 39 menit. Jika saya  hitung secara keseluruhan, maka waktu yang saya habiskan untuk pergi-pulang rumah-kampus dalam setahun adalah 22 hari dari 260 hari kerja efektif atau sebesar 9%. Angka itu adalah angka dari kebanyakan warga Jakarta berada di jalanan macet yang katanya juga mencapai 22 hari dalam setahun.

Ini adalah rekaman yang masuk akal buat saya, karena tiap ngampus saya memang menghabiskan waktu 1 jam pergi dan 1 jam pulang, dengan pembagian 20 menit di OjOl dan 30 menit di KRL setiap perjalanannya.

Waktu sangatlah berharga, makanya di KRL saya juga sudah punya rutinitas yang berpatokan pada stasiun perhentian. Aktivitas saya dibagi dua, yaitu membaca buku dan mendengar lagu gitar klasik dari Mangga Besar hingga Manggarai, lalu dengar lagu yang ada kata-katanya hingga sampai ruang dosen kampus, namun di stasiun Cawang saya sudah bersiap-siap memesan GrabBike atau Gojek. Kalau ini tentu saja tergantung harga yang lebih murah, dan…. Voila! GrabBike juaranya! ¬†Tahun 2018 saya naik GrabBike[car] tiga kali lipat dibandingkan Gojek[car].

Gojek: 257 kali, 1.111,3 km
Grab: 880 kali, 3.493 km, selama 225 jam atau 9 hari berturut-turut.

TOTAL: 1.137 kali, sejauh 4.604 km

Artinya, selama Tahun 2018, Jarak yang saya tempuh kira-kira 3x pulang-pergi Jakarta-Surabaya via Tol Salatiga.

 

 

Di Otakku

Yang sedang ada di “otak”ku:

ITB; Toefl; GBPP dan SAP Pemrograman Basis Web Lanjut (PHP, MySql), Algoritma Pemrograman II, Aplikom II; G. Pangrango; 23-28 Feb; rapikan file di harddisk eksternal; home visiting; daimoku; kaikan; rapikan kamar; diktat praktikum; penelitian; UAS di STBA; ngisi Borang Akreditasi SI; kunjungan ke SMA2; Lab. 4; flu;……….