Target

Ehm, kira-kira begini target saya hingga akhir tahun:

  • Menyelesaikan penelitian Simlitabmas sampai akhir Agustus
  • Kompetisi gitar klasik tingkat intermediate (D’bianco Gitar Kompetisi IV) di akhir Juli
  • Mengajukan Lektor 300 di bulan Oktober
  • Fokus pake banget untuk bidang komputasi linguistik — kudu move on dari data mining ke topik penelitian yang lebih “sesuai”.
  • ….terakhir maunya persiapan kuliah Ph.D, tapi kursus gitarnya baru sebentar hehehe <– mungkin yang ini tahun 2020 atau 2021

Nah sekarang bicara persoalan komputasi linguistik.

Saya selalu mencari apa yang benar-benar saya inginkan untuk dikerjakan seumur hidup. Misalnya yang sudah ketemu adalah: Gunung dan Gitar.

Saya mencoba berbagai olahraga luar ruangan, seperti climbing, arung jeram, caving, snorkeling, dan lain-lain, tetapi pada akhirnya saya menemukan bahwa saya cinta mati sama trekking di gunung (forest-mountaineering).

Lalu, gitar. Dua puluh tahun lalu, ketika saya memulai kursus gitar ketika berumur 11 atau 12 tahun dan menyelesaikannya hingga tuntas, saya tinggalkan itu gitar. Alasannya sederhana: saya merasa tidak ada kemajuan, tidak punya teman berlatih, dan sekeliling saya asing dengan yang namanya gitar klasik. Saya jadi seperti orang aneh. Saya punya band ketika SMP, tapi tidak diteruskan lagi. Saya tidak cocok jadi anak band sepertinya. Dulu pikir bermain band untuk menghibur orang lain, tetapi sekarang sadar bahwa terpenting adalah diri sendiri bisa enjoy. Pertanyaan yang relevan buat saya untuk semua kegiatan saya adalah, “Apakah ini adalah hal yang benar-benar saya inginkan?” Sekarang, saya memulai belajar gitar klasik lagi, nyaris dari nol, tetapi saya happy bangetHappy karena saya ternyata memang cinta mati juga dengan yang namanya gitar klasik.

Selanjutnya, komputer. Saya masih galau untuk yang satu ini. Saya kadang merasa tidak cocok menjadi dosen karena merasa bahwa saya adalah seorang pekerja, bukan guru yang baik. Saya mengenal komputer ketika di kelas 4 atau 5 SD karena pekerjaan papa saya yang berkaitan dengan Pagemaker – membuat rancangan buku, logo, dan lain-lain terkait dengan usaha percetakannya. Saya ingat betul betapa saya gila dengan mesin ketik listriknya, lalu beralih ke komputer dan surprise dengan Ms. Word, Excel, ketika biasanya hanya bermain dengan Wordstar dan Lotus. Ada banyak kenangan tentang sejarah saya mengenal komputer, membuka rental, usaha sampingan troubleshooting komputer, ikut proyek membangun warnet dan sebagainya. Semuanya dilakukan ketika bersekolah – dan kadang terbersit di pikiran saya, mengapa saya bahkan hingga saat ini belum menemukan fokus saya. Semuanya dipelajari sehingga belum ada satu yang klik. Namun dari dulu saya selalu bermimpi tentang bahasa, lebih tepatnya teks (Bahasa tertulis). Ketika kuliah Sastra (yang akhirnya tidak saya selesaikan), saya sadar telah  jatuh cinta pada mata kuliah Introduction to Linguistics. Sejak itu saya berpikir bagaimana mempelajari (menggabungkan) dua rumpun ilmu yang berbeda itu: Bahasa dan Komputer (Komputasi). Sekarang ketika semua perangkat keras mampu mengerjakan tugas komputasi yang berat dan berkembangnya keilmuan di bidang text mining, maka ini menjadi semakin nyata.

Saya menantikan tenggelamnya diri saya pada bidang ini – satu hal terakhir yang mau saya kerjakan dalam hidup saya, setelah gunung dan gitar klasik.

Nampaknya saya memang tergila-gila dengan hal yang njelimet dan presisi 😀

Wish me luck! Tidak akan mudah, tapi saya berjuang.

Peduli

Tadi sore sekitar pukul 6 di dalam KRL aku merasa sangat malu, lantaran malas berdiri hanya untuk memberikan tempat duduk kepada Ibu separuh baya. Perempuan muda yang duduk tak jauh dariku justru yang berdiri dan mempersilahkan Ibu itu untuk duduk, namun ditolak oleh Sang Ibu dengan halus, padahal ketika aku sampai di stasiun perhentianku, Ibu itu masih saja berdiri. Sungguh yang tadinya aku lupa untuk malu, menjadi malu dan semakin malu. Perjuangan adalah setiap detik, setiap moment, ketika lengah maka akan dikalahkan oleh iblis di dalam diri kita. Rasa peduli-ku hari ini hilang, menyadari ini membuat penyesalanku lebih mendalam.

Peduli-lah yang membuat kita mampu menghormati orang lain, lebih jauh… peduli adalah tenaga pendorong untuk berbuat kebaikan pada sesama.

Terlambat (ramai-ramai)

img_8283

Agak mengesalkan kalau terlambat padahal hari-hari sebelumnya kita tepat waktu. Sejak tanggal 7 Desember 2018 lalu, saya sampai kampus sebelum 7.30 pagi, kecuali 2 kali terlambat 4 menit, dan hari ini – terlambat 20 menit karena hujan. Rasanya sangat menyesal karena kalah di pagi hari. Kereta yang saya naiki juga kosong, biasanya ramai. Jangan-jangan memang banyak yang terlambat hari ini?

Kalau di kampus, jawabannya iya. Agak sepi tak seperti biasanya. Terlambat ramai-ramai.

Ketika umur sudah berkepala 3 seperti ini, saya teringat bahwa dulu tak pernah satu kali-pun saya terlambat semasa SD hingga SMA, dan seingat saya hanya sekali-dua kali ketika S1. Berarti lebih kurang saya tak pernah terlambat selama 16 tahun berturut-turut. Riwayat terlambat saya dimulai di tahun-tahun menjelang lulus kuliah S2, lalu berlanjut hingga kerja di Jakarta. Kebiasaan yang sangat buruk.

Tepat waktu adalah tidak terlambat dan tidak kecepatan. Ini saya pelajari betul ketika mengikuti pendidikan navigasi darat di YABI (Yayasan Alam Bebas Indonesia). Maklum, kalau tidak betul-betul, sarapan paginya push-up :p

Sekalinya bertekad tidak mau terlambat lagi, memang butuh perjuangan. Kemenangan satu hari dimulai dari pagi hari. Besok berjuang lagi!

Oh ya, salah satu pemicu agar semangat bangun pagi adalah mencintai pekerjaan kita, seperti yang dikatakan oleh Vincent van Gogh:

I put my heart and my soul into my work, and have lost my mind in the process.

Aktivitas Penggunaan HP Saya

Ceritanya, seminggu terakhir ini saya aktifkan fitur baru di HP saya, yaitu untuk merekam aktivitas penggunaan aplikasi, mulai dari jumlah notifikasi yang saya terima setiap harinya, lama penggunaan masing-masing aplikasi, juga yang paling menarik adalah aplikasi apa yang langsung saya buka sesudah aktifkan layar HP 😀

Aktivitas Selama 7 Hari Terakhir

Aktivitas Hari Ini

Jadi, dapat saya simpulkan bahwa WhatsApp adalah satu-satunya media sosial saya yang paling aktif. Rata-rata saya mendapatkan 151 notifikasi WhatsApp setiap harinya…. dan tentu saja, saya jarang buka pesan WA kecuali yang urgent…. diikuti oleh browser Safari yang saya gunakan untuk mengecek email dan facebook, lalu Grab lebih sering saya gunakan daripada Gojek. Selain itu, aplikasi favorit saya adalah Clock untuk bangunin saya tidur, karena jika tidur kurang dari 6 jam, saya jarang bisa bangun sendiri.

Hal menarik kedua adalah aplikasi yang menjadi pemicu saya untuk aktifkan layar HP, yaitu: WhatsApp, Safari, Grab, dan Camera. Bisa jadi, memang inilah aplikasi favorit saya. Spotify tidak masuk 4 besar, karena bukan prioritas.  Ketika bangun tidur, biasanya juga saya akan buka 4 aplikasi tersebut, terutama WhatsApp untuk cek apakah ada pesan masuk, dan cek email melalui browser Safari.  Katanya tidak baik membuka media sosial sebelum dan sesudah tidur, apalagi buka email kantor ketika sedang beristirahat di rumah. Harus dikurangi.

Ya, kira-kira begitulah aktivitas penggunaan HP saya. Saya sudah mengantuk sekarang. Selamat tidur.

Menjadi ayam…

Pagi-pagi aku berangkat ke kantor,
Ayam-ayam ini juga berangkat… tapi berangkat menuju kematian,
dan kuburannya adalah perut kita.

img_8249

Dulu saya pernah menonton film yang sangat menginsipirasi berjudul Temple Grandin. Saya kutip hasil inovasinya terhadap proses penyembelihan ternak yang lebih manusiawi:

Temple mulai merancang apa yang sudah ia lihat dalam benaknya, yaitu cara yang lebih baik menyalurkan ternak melalui tong disinfektan dan vaksinasi tanpa membuat ternak menjadi khawatir atau takut.

Selanjutnya, dia mengalihkan perhatiannya ke rumah pemotongan hewan, merancang sistem penyembelihan ternak yang lebih manusiawi. Luar biasanya, kini lebih dari setengah ternak di AS dan Kanada ditangani dengan fasilitas yang dirancang oleh Temple. Ia juga bekerja sebagai konsultan bagi McDonald, perancangan dan pelaksanaan program-program kesejahteraan hewan.

Anak autis ini mampu mengubah industri peternakan Amerika, menjadi juru bicara autisme dan mengajar mahasiswa PhD di Colorado State University. Dr Temple Grandin juga menulis sepuluh buku, tentang hewan dan perilaku manusia.

Sudah adakah di Indonesia yang sistemnya semacam ini? Semoga.

Sarabande (Robert De Visee)

Hari ini lumayan padat aktivitas saya: pergi beribadah, yang dilanjutkan dengan sesi belajar Saddharma Pundarika Sutra bersama Pak Rasin Gurid alias Pak Peter, lalu pergi berkunjung ke rumah salah satu pemudi saya yang baru usai dirawat di rumah sakit. Waktu menunjukkan pukul 5 sore ketika saya tiba lagi di rumah. Tadinya saya mau makan, tapi terlanjur berlatih gitar sampai sekarang, pukul 10.30 malam.

Agak menyesal juga karena tidak bisa menahan diri sebentar untuk pergi makan. Kalau sudah seperti ini, pilihan saya hanya satu: makan granola sama susu atau goreng kentang, atau tidur dan besok bangun pagi-pagi untuk sarapan lebih pagi 😀

Satu kekalahan hari ini adalah tidak menyiapkan baju pundarika untuk tugas, akhirnya saya batal tugas. Lain waktu berjuang lagi.

Malam ini saya mau berbagi satu video rekaman saya bermain gitar lagu Sarabande-nya Robert De Viseee (1686-1750). Tadi saya sempat googling tentang musik yang termasuk dalam periode barok ini. Seharusnya saya bermain lebih lambat lagi, seperti pesan guru saya dua hari lalu. Ini link hasil latihan saya:

Menyerah

Malam ini saya membuat sebuah keputusan menyerah terhadap sesuatu. Saya menyerah bekerja dengan orang-orang yang bertipe ini:

It’s time to give up. I am done being strong. Kini saya memilih untuk memfokuskan diri untuk mengerjakan hal-hal yang lebih bernilai, tidak abstrak alias punya outcome yang jelas. Jika hal-hal tak menyenangkan seperti ini terjadi pada saya lima tahun yang lalu, mungkin saya akan tetap bertahan dan optimis, namun jarang saya temui ending yang baik. Maka saya belajar, belajar untuk hidup menerima kenyataan dan mengatakan tidak. Mari hargai hidup dan waktu kita sendiri untuk lebih banyak menciptakan nilai kehidupan yang lebih bermanfaat, dan beranilah untuk mengatakan tidak!

Mungkin setelah ini saya akan baca buku “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” :p