Kekuatan Jodoh

Jodoh yang saya maksudkan di sini bukanlah dalam artian sempit yang terbatas pada persoalan cinta seperti “pacar” atau “pasangan hidup” saja. Namun jauh lebih mendalam. Saya mau berbagi pengalaman “aneh” saya terkait ini. Mengapa “aneh” dengan tanda petik? Karena bagi saya aneh. Bagi semesta, tidak. Ini adalah hukum kewajaran.

  • Pertama, selama 7 tahun (2003-2010) sejak terkena sindrom sleep paralysis, saya tidak pernah mencari tau sama sekali di google. Padahal jika terkena gejala penyakit tersebut dan langsung googling, mungkin saya langsung tau nama penyakit tersebut. Tujuh tahun mencari nama penyakit ini adalah waktu yang lama dan berbelit-belit, padahal jawabannya ada di depan mata. Ini bertolak-belakang dengan pengalaman sakit bell’s palsy saya, yang sebelum 24 jam, saya bisa tergerak untuk googling dan tau dengan sendirinya.
  • Kedua, ini lebih di depan mata lagi. Namun lagi-lagi tak terlihat oleh saya. Di awal-awal kehidupan sebagai mahasiswa di Jogja, saya mencari tempat kursus gitar, dan terus mencari sampai lulus, dan tidak ketemu. Di ISI akhir-akhir ini saya mendapati banyak punggawa gitar, tapi ketika dulu hampir tiap bulan ke ISI, bahkan ada satu waktu seminggu 3x di ISI, saya tidak pernah tau hal ini. Begitu juga saya baru tau ada guru-guru hebat dan beragam event terkait gitar di Jogja ketika saya sudah di Jakarta, padahal saya sering googling. Amazingly, di Jakarta, tanpa usaha apapun, saya mendapati Sekolah Gitar Jakarta di depan mata, dan untungnya saya pernah membaca sekilas informasi sekolah tersebut di google ketika di Jogja, sehingga pas ketemu pertama kali, saya langsung “merasa cocok”. Trust your guts 😀
  • Ketiga, engkong saya menulis 2 buku terkait Tao dan Meditasi hampir 20 tahun lalu, dan… saya bahkan tak pernah tertarik membaca sampulnya, apalagi membuka halamannya. Malam ini, saya baca judulnya, buka lembaran pertama dan baca hingga halaman terakhir, dan… WOW! Satu kutipan yang engkong saya tulis sebagai pesan guru spiritualnya dulu adalah, “Orang yang tak punya, tak kan pernah merasa kehilangan. Orang yang tak pernah kehilangan, hidupnya akan damai”. Waktunya mungkin sudah tiba.

Itulah tiga contoh pengalaman saya. Saya bertanya-tanya mengapa saya tidak bisa melihat hal-hal yang ingin saya lihat, mengetahui apa yang saya cari, mendapatkan hasil dari apa yang saya fokuskan. Saya diberikan alternatif yang sama sekali tidak saya pikirkan, dan untungnya saya menjalani semuanya.

  • Pertama, jika saya langsung tau nama penyakit saya adalah Bell’s palsy, mungkin saya tidak akan pernah menjadi seorang Buddhist. Tujuh tahun baru mengetahui nama penyakit tersebut, memberi saya waktu untuk belajar dan mendalami Buddhisme secara kukuh.
  • Kedua, jika di Jogja saya langsung bertemu guru gitar ataupun kursus gitar, mungkin saya tidak akan pernah belajar menyintai alam melalui pendakian-pendakian gunung, karena sulit mempertahankan “keindahan kuku gitaris” di gunung. Gitar muncul di saat yang tepat, ketika saya tidak bisa lagi membendung keinginan bergitar. Sementara itu, pengalaman pendakian gunung selama masa-masa di Jogja dulu telah membantu dan mempermudah saya dalam pendakian saat ini. See? Ini hanyalah persoalan waktu yang tepat, hati yang siap, jodoh yang dekat (pertemuan dengan guru gitar dan teman-teman gunung)
  • Ketiga, jika dulu saya membaca bukunya, apakah saya akan percaya pada apa yang ditulis oleh engkong saya? Tentu tidak percaya. Sekarang? Cukup aneh isinya, tapi saya percaya. Lagi-lagi waktu yang tepat ketika selama 20 tahun saya diminta berkelana dulu, baru dianggap siap membacanya.

Ya, begitulah kira-kira. Saya tidak tahan jika tidak menuliskan oretan yang belum dirapikan ini. Publish saja, tutup mata.

KEPOMPONG yang sekarang telah menjadi ULAT

Aku membagi proses kehidupanku dalam beberapa tahapan.
Di masa kecil, waktu lagi imut-imutnya,…. wekz…. hingga masa SMA kelas 2,
adalah masa-masa bermain, memuaskan diri terhadap masa kecil yang sangat bahagia. Prilaku nakal namun tetap sopan, rasa ingin tau dan kebebasan yang sebebas-bebasnya selama kurun waktu 17 tahun.
Ada beberapa hal yang selalu kuingat.
Pertama, papaku selalu berkata, “Wajar saja kalau anak kecil itu nakal, asal tidak kurang ajar. Artinya, dia tidak idiot!”
Wah aku suka sekali dengan kalimat tersebut. Setidaknya, aku ada kalimat pemungkas untuk pembelaan diri hahahahaha….
Kedua, karena aku terlalu nakal dan ‘tak bisa diam’, maka penyesalan terbesarku adalah mendapati diriku tidak pernah serius belajar. Makanya, di tahap kedua kehidupanku, aku mulai merombak total diriku. Melakukan revolusi manusia.

Tahap kedua, dimulai dari kesadaran akan makna dan misi kehidupan pribadiku.
Oleh karena itu, dengan memegang prinsip bahwa “Belajar adalah sebuah proses terus-menerus hingga akhir hayat”, maka aku pun mulai serius belajar.
Tahap kedua, dimulai dari tahun 2004 hingga 2008.
Sangat singkat, ya memang sangat singkat.
Namun jangan hanya melihat waktu, tapi lihatlah kualitas hidupnya,
terutama di tahun 2008.
Di rentang waktu tersebut, aku benar-benar mulai belajar bagaimana cara hidup yang benar dan menyadari bahwa hidup haruslah bernilai.

Saat ini adalah tahap ketiga, yaitu peristiwa ketika aku sudah mulai memasuki masa kerja, proses pendewasaan diri di umurku yang ke-23. Lagi-lagi aku mengikuti suara hatiku.
“Anak muda tak boleh tidak sabar”, Ikeda sensei berkata.
Maka, sembari berdoa, aku menjalani hidupku setahap demi setahap dengan memulai karir menjadi seorang dosen.
Cita-cita masa kecilku tercapai.

Dahulu,
setelah lulus dari SMP, aku ingin menjadi guru SMP.
Lulus dari SMA, ingin menjadi guru SMA,
sampai-sampai ingin kuliah FKIP jurusan Bahasa Indonesia,
karena itu adalah pelajaran kesukaanku.

Namun,
nasib berkata lain.
Aku kuliah jurusan Teknik Informatika yang benar-benar di luar dugaanku,
dan aku pun ingin menjadi seorang Dosen.
Tak bisa hanya berteori,
kita harus terjun ke lapangan jika ingin mengubah sesuatu.
Bergaul dengan para mahasiswa sangat menyenangkan.

Kutipan yang sangat bagus kudapatkan sewaktu acara seminar Jurnalistik oleh Media Indonesia bekerja sama dengan STT Musi: “Journalism is not a job, it is a way of life”
Guru pun begitu.

“Be a teacher is not a job, it is a way of life”.

Aku bertekad bahwa di tahap ketiga kehidupanku,
aku harus mengerucutkan, mengkristalkan strategi yang akan kucapai untuk menggapai misi hidupku, yaitu melalui strategi sutra bunga teratai.

Inti dari strategi sutra bunga teratai adalah DAIMOKU. Menyebut “Nam-myoho-renge-kyo”.
Setidaknya, itulah yang kuyakini.

Untuk tahapan selanjutnya, belum kupikirkan.
Yang pasti, akan ada waktu untuk menikah, mengurus anak dan suami, pensiun dini, bla..bla..bla…
Aku lebih suka memikirkan misi atau garis besarnya saja, lalu merancang strategi setahap demi setahap, sembari melihat peluang kiri dan kanan. Kesempatan tidak akan datang dua kali.

Beda pilihan beda masa depan.
Ayo, jangan salah memilih!

Kesulitan yang memperkuat hati kepercayaan

Salah satu cara kita mendalami budhisme,
adalah ketika budhisme itu sendiri menyatu dalam kehidupan pribadi kita.
Oleh karenanya,
semakin banyak kesulitan,
kita bisa lebih memahami cara kerja budhisme dalam mengatasi kesulitan kita,
dan pada akhirnya,
akan memperkuat hati kepercayaan kita sendiri.

Cinta

Sebuah artikel tentang makna Cinta yang dikirimkan oleh salah seorang temanku. Bagiku, artikel ini memiliki makna tersendiri dan aku menjadi lebih kuat setelah membacanya. Aku benar – benar suka membaca artikel ini dan aku pun sering membacanya berulang – ulang. Entah siapa yang telah menulisnya, tetapi yang pasti, aku bersyukur telah mendapatkannya melalui tangan kasih temanku.

Pacaran itu suatu hal yang mengesankan dan harus dipertahankan jika memang sudah sepadan. Seperti kata – kata berikut, cinta tak pernah akan begitu indah, jika tanpa persahabatan. Yang satu selalu menjadi penyebab yang lain dan prosesnya adalah irreversible. Seorang pecinta yang terbaik adalah sahabat yang terhebat. Jika kamu mencintai seseorang, jangan berharap bahwa seseorang itu akan mencintai kamu persis sebaliknya dalam kapasitas yang sama. Satu diantara kalian akan memberikan lebih, yang lain akan dirasa kurang. Begitu juga dalam kasus, kamu yang mencari, dan yang lain akan menanti.

Jangan pernah takut untuk jatuh cinta. Mungkin akan begitu menyakitkan, dan mungkin akan menyebabkan kamu sakit dan menderita, tapi jika kamu tidak mengikuti kata hati, pada akhirnya kamu akan menangis. Jauh lebih pedih karena saat itu menyadari bahwa kamu tidak pernah memberi cinta. Itu sebuah jalan. Cinta bukan sekedar perasaan, tapi sebuah komitmen. Perasaan bisa datang dan pergi begitu saja. Cinta tak harus berakhir bahagia, karena cinta tidak harus berakhir. Cinta sejati mendengar apa yang tidak dikatakan, dan mengerti apa yang tidak dijelaskan, sebab cinta tidak datang dari bibir dan lidah atau pikiran, melainkan dari HATI.

Ketika kamu mencintai, jangan mengharapkan apapun sebagai imbalan, karena jika kamu demikian, kamu bukan mencintai, melainkan investasi. Jika kamu mencintai, kamu harus siap untuk menerima penderitaan. Karena jika kamu mengharap kebahagiaan, kamu bukan mencintai, melainkan memanfaatkan. Lebih baik kehilangan harga diri dan egomu bersama seseorang yang kamu cintai daripada kehilangan seseorang yang kamu cintai, karena egomu yang tak berguna itu. Bagaimana aku akan berkata “selamat tinggal” kepada seseorang yang tidak pernah aku miliki? Kenapa tetes air mata jatuh demi seseorang yang tidak pernah menjadi kepunyaanku? Kenapa aku merindukan seseorang yang tidak pernah bersamaku dan aku bertanya, kenapa aku mencintai seseorang yang cintanya tidak pernah untukku?

Sangat sulit bagi dua orang yang mencintai satu sama lain ketika mereka tinggal dalam dua dunia yang berbeda. Tapi ketika kedua dunia ini melebur dan menjadi satu, itulah yang disebut “Keajaiban!” Jangan mencintai seseorang seperti bunga, karena bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, sebab sungai mengalir selamanya. Cinta mungkin akan meninggalkan hatimu bagaikan kepingan-kepingan kaca, tapi tancapkan dalam pikiranmu, bahwa ada seseorang yang akan bersedia untuk menambal lukamu dengan mengumpulkan kembali pecahan-pecahan kaca itu, sehingga kamu akan menjadi utuh.

Beda Tipe Orang Barat dan Asia

Tanggal 22 Mei yang lalu, temanku mengirimkan e-mail ini.
Bagus juga buat refleksi kita, orang Indonesia… dan Indonesia banget….

Blue –> Westerner
Red –> Asian

OPINION

B: langsung to the point.
R: blunder muter-muter dulu, apalagi kalo opininya berbeda paham.

WAY OF LIFE

B: individualis, mikirin kehidupannya sendiri.
R: demen kumpul2 sama saudara, ngurusin problem family.

PUNCTUALITY

B: on time.
R: in time.

CONTACS

B: contact to related person only.
R: semua temen, semua sodara, relasi luas, bisnis lancar.

ANGER

B: marah ya marah.
R: marah tapi ramah.

QUEUE WHEN WAITING

B: biasa antri teratur.
R: rebutan dong, siapa cepat dapat lah.

SUNDAYS ON THE ROAD

B: menikmati weekend with his own way.
R: doyan ke tempat2 keramaian, mal, dll.

PARTY

B: bebas-bebas aja berkelompok dengan groupnya sendiri.
R: semua fokus ke satu acara party yang diarrange EO.

IN THE RESTAURANT

B: ngobrol pelan-pelan di resto.
R: ribut ngobrol keras-keras and ketawa-tiwi, ga peduli meja sebelah.

TRAVELLING

B: demen sightseeing, yang penting menikmati pemandangannya.
R: yang penting foto-foto untuk memory, pemandangan cuma jadi background.

HANDLING OF PROBLEMS

B: tabrak aje, yang penting solve the problem.
R: sebisa mungkin menghindari masalah, or jangan sampe ninggalin jejak.

THREE MEALS A DAY

B: makan kenyang 1 kali sehari.
R: 3 x makan, ya kudu 3 x kenyang.

TRANSPORTATION

B: dulu pake mobil, sekarang udah care sama environment & health yang ga polusi.
R: dulu sengsara pake sepeda, sekarang gengsi dong kalo ga pake mobil.

ELDERLY IN DAY TO DAY LIFE

B: udah tua lonely, paling ditemani Snoopy.
R: masa tua ga bakal kesepian, asal bantu ngemong cucu ya.

MOODS AND WEATHER

B: logikanya, hujan ya bikin repot.
R: banyak hujan, banyak hoki ya.

THE BOSS

B: boss juga member of team.
R: boss is dewa yang ditakuti.

WHAT’S TRENDY

B: makanan Asia yang healthy.
R: makanan Barat yang bergengsi.

THE CHILD

B: its ok punya anak, ntar dia harus berjuang untuk hidup like us.
R: kerja jatuh bangun, segala-galanya demi anak, sang penerus generasi