200DC-2 D4 | Lagu yang Kutulis

Ikeda Sensei QuotesQuotes Ikeda Sensei yang berbunyi “With love and patience, nothing is impossible” dalam sekuntum bunga kertas ini adalah kenang-kenangan dari Pertemuan Generasi Muda SGI Indonesia yang dilaksanakan pagi ini. Tema pertemuan tersebut adalah “Hopeless is Hope“. Beragam acara yang disajikan sangat menarik. Terima kasih banyak dan salut dari saya untuk semua panitia yang terlibat langsung, maupun yang berada di balik tirai 😀 Hayooo, tirai sama layar bedanya apa?

Pertemuan kali ini saya berpartisipasi dalam SGI Choir. Saya selalu suka menyanyi dan bermain alat musik, terutama harmonica dan gitar. Jangan ditanya hancurnya seperti apa 😀

….tapi saya suka. Kata si Rene Suhardono, “Passion is (not) what you’re good at. It is what you enjoy the most!”

Maka, bernyanyilah saya hari ini. Sebesar apapun usaha saya untuk menyanyi, sekecil itu pula kemajuan saya…. Namun, kembali lagi ke quotes dari Ikeda Sensei dan Abang Rene, bahwa yang mesti saya lakukan adalah memberikan yang terbaik dari apa yang saya bisa, dan tentu saja – dari apa yang paling saya sukai.

Nah inilah wajah-wajah partner-in-crime saya dalam SGI Choir:

Trilogi Choir……….agar isi postingan kali ini sesuai dengan judul yang tadi sudah saya tetapkan terlebih dulu, maka saya akan mulai dongengkan lagu yang baru-baru ini saya tulis. Lagu ini adalah lagu ke-2 saya untuk Guru Kehidupan saya – Ikeda Sensei. Lagu pertama ditulis ketika saya di Jogja. Kapan-kapan saya dongengkan juga…

Lagu kedua ini belum ada judul pasti; ditulis di akhir tahun 2014; di daerah perbatasan Malang-Blitar yang bernama Sumber Pucung. Ketika itu saya baru bangun dari tidur pagi yang sangat nyenyak di rumah orangtua Erik. Erik itu siapa – akan saya bahas kemudian di postingan berbeda. Foto wajahnya ada di gambar atas – berkaos putih dengan tangan yang disilangkan di depan dadanya sendiri. Continue reading “200DC-2 D4 | Lagu yang Kutulis”

Perbedaan

Soe Hok Gie bilang, “Kita berbeda dalam segala hal kecuali tentang cinta”.
……………….. ya begitulah.
Memang ada sih,
seperti kisah si Romi dan si Juli, si Sampek dan si Engtay,
tapi hanya di film.
Namanya berbeda ya berbeda.
Itu saja sudah.

Film itu pun tidak happy ending.
Ada sih yang happy ending, tapi mungkin bukan perbedaan hal-hal krusial,
seperti si Cinderella dan Pangeran Berkuda Putih nya.

Tidak tau apa yang sedang kutulis ini.
Aku hanya merasa bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa diubah di dunia ini.

Tadi kami sempat berbicara bahwa kami adalah pasangan serasi,
kubayangkan seperti dua angsa di atas kue pengantin yang berhadap-hadapan dan ups…
Namun, ia juga sadar bahwa ada tembok besar yang menghadang,
seperti tembok berlin.
Untuk merobohkannya, ia katakan lagi,
harus dari dua pihak.
Kutambahkan, iya. Dari Timur dan Barat.

Aahhh banyak percakapan berdua yang kita lewati,
pada akhirnya apakah itu hanya akan menjadi angan-angan kita saja?
Entahlah, lebih baik tak kupikirkan sekarang.

Pantai Keabadian

01052013841

Saya lupa kapan saya membeli buku ini. Mungkin beberapa tahun lalu. Beberapa hari ini saya iseng ingin membaca puisi-puisi Tagore, jadi saya membukanya kembali. Saya suka sekali kumpulan puisi “Pantai Keabadian” yang menceritakan tentang kematian ini. Saya ingin berbagi apa yang ditulis oleh Deepak Chopra dalam kata pengantar yaitu, “Tagore memberikan kesempatan kepada kita untuk mendekati kematian bukan dengan kata-kata berdebu, melainkan dengan keheningan yang membasuh jiwa.”

Di bawah ini beberapa puisi pendek saya tuliskan ulang agar kita bersama-sama menikmati kematian dalam keindahan…

.

.

Keindahan

Biarlah hidup menjadi indah

seperti bunga-bunga musim panas

Dan maut menjadi indah

seperti dedaunan musim gugur.

.

.

Kebangkitan

Jika engkau meneteskan airmata

karena matahari telah tenggelam

Maka airmatamu itu akan membutakan

matamu dari bintang-bintang.

.

.

Heran

Hidup adalah sebuah rasa heran tanpa henti

bahwa ternyata aku ini memang ada.

.

.

Ilusi

Mengapa aku mati dan mati lagi?

Untuk membuktikan bahwa hidup

memang tiada habisnya.

.

.

Keabadian

Bintang-bintang pun tidak takut

untuk berkedip dan padam seperti ngengat.

Bagaimana dengan dirimu?

.

.

Memberi

Kehidupan diberikan kepada kita

Dan kita pantas mendapatkannya

dengan memberikannya kembali.

.

. Continue reading “Pantai Keabadian”

Kekosongan. Malam. Sakit.

Tentu saja aku hendak berhenti menarikan jariku di atas tuts keyboard ini,

berhenti memutar kata di otakku,

atau juga asinnya air yang sudah muncul di ujung mataku.

Kadang-kadang bahkan hampir selalu, aku membenci diriku ketika sakit,

karena aku tau bahwa sakit bersinergi dengan perenungan,

yang ujung-ujungnya membawaku pada sebuah kesadaran baru.

.

.

Ah, sebenarnya ini bukan berawal dari sakit.

Ini berawal dari tidur menjelang subuh.

Malam, sama seperti sakit.

Kuberpikir bahwa malam dan sakit adalah pasangan serasi,

pasangan yang, sekali lagi, bersinergi dengan perenungan,

yang ujung-ujungnya membawaku pada sebuah kesadaran baru.

.

.

Ah tidak juga.

Bukan hanya malam dan sakit.

Mungkin kekosongan.

Kosonglah yang membuatku berpikir macam-macam,

yang membuatku tidak bisa tidur,

dan akhirnya membuatku sakit.

Sakit seperti ini adalah sakit yang dibuat-buat.

Sakit yang seharusnya tidak perlu dialami.

Sakit yang sebenarnya bisa dicegah.

.

.

Masalah di hilir sebaiknya diselesaikan dari hulu.

Kekosongan, malam dan sakit.

Mengobati kekosongan adalah dengan tindakan,

dan tindakan baru terwujud jika ada pemicu.

Pemicunya apa?

.

.

Oh ya, aku pernah dengar orang mengatakan bahwa,

dengan tindakan, semuanya akan menjadi hidup.

Orang yang bertekad tau bahwa tekad semakin lama akan memudar,

makanya perlu diperbarui selalu.

Kekosongan ini adalah tanda penyegaran,

bahwa sudah saatnya aku mengisinya dengan sesuatu yang baru.

Entahlah, kadang-kadang aku tidak bisa berpikir.

Aku juga tidak tau apa lagi yang hendak kutuliskan setelah kata ke-240 ini.

.

.

Sssstttt. Kau diam saja.

Aku tau bahwa aku bisa menyelesaikan permasalahan ini.

Tak perlu mengkhawatirkan aku.

Aku tau pemicu apa yang bisa mengarahkanku pada tindakan,

dan setelah bertindak,

tanpa perlu kukirim merpati putih,

kabar pasti sudah tersiar di tempatmu.

Berhenti.

Berbincang dengan sosok imajiner,

mengaburkan fakta dan fiktif,

jangan-jangan ini semua hanyalah praduga saja?

Kau percaya tidak, bahwa aku bisa melukiskanmu dalam jutaan kata,

merangkaikannya dengan semua yang melekat pada sosok lelaki,

karena memang begitulah kau dalam anganku,

dalam pribadimu yang tidak umum.

Perempuan susah ditebak, apa lelaki sepertimu lebih mudah?

Seperti bawang bombay, ujar temanku.

Mengupasmu sulit dan penuh dengan kepedihan.

Hingga selesai, kusadari, ternyata tidak kudapati apa-apa setelahnya.

Jika aku berhenti di titik ini, tidak akan menjadi masalah bukan?

Syair Cinta

Aku membaca syair-syair indah tentang cinta,

Trying Not To Love You – Mindi Waite,

Love – Sara Brouwer,

Waiting – Stephanie Hashway.

Aku menikmati untaian kata sebagai sebuah keindahan,

membawaku pada ketenangan semu,

yang sebenarnya justru membuatku semakin bergejolak.

Namun, tenang saja,

aku pandai bersandiwara menjadi orang yang tenang dan sabar,

aku percaya bahwa hati adalah urusan pribadi,

yang tak perlu diketahui bahkan oleh dinding di sampingku.

Terikat

Hey!

Kau tiba-tiba datang, tapi kau bukan lelaki yang ada dalam mimpi-mimpi malamku.

Kau bukan lelaki yang pernah tergambar dalam percintaan ketidaksadaranku.

Tidak. Sama sekali bukan kau.

Kau juga bukan dia yang kutunggu.

Ketika enyah kau dalam pikiranku, ada tali yang masih menggantung di sini,

yang membuatku seolah-olah terikat padamu.

Kaukah itu yang memang akan menyatu padaku nantinya?

Jika iya, apa lagi yang kau tunggu, hey lelaki?