Member’s pic in Honbu (RFA)


Foto ini dikirimkan oleh seorang teman saya, dari Pematang Siantar.
Sebuah hasil jepretan dari Rony Zakaria.
Foto ini diambil pada tanggal 12 Juli 2008,
sehari sebelum acara “Religious Art Festival for Peace“,
saat semua anggota mengatakan… “SENSEI”…..
sebuah ungkapan mendalam dari hubungan Guru dan Murid.

Kliping berita tertinggal "Religious Art Festival for Peace"

Masih banyak kliping berita “Religious Art Festival for Peace” yang telah dilaksanakan oleh Soka Gakkai Indonesia bekerja sama dengan PBDNU dan KNPI, pada tanggal 13 Juli silam.
Inilah diantaranya berita-berita yang bisa mewakili acara dengan tujuan merajut perdamaian melalui kebudayaan tersebut:

  • Indonesian Organizations Recognize Daisaku Ikeda for Lifetime Contributions to Peace, Culture and Education [link]
  • Budaya Merajut Kebinekaan [link]

A perfect day


Banzai!!! Banzai!!!!!!!!!!! Banzai!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kemarin adalah hari yang paling sempurna sepanjang tahun ini.
Habis gelap terbitlah terang!
Musim dingin berganti musim semi!
Terima kasih, Gohonzon.
Aku akan menang bersama Guru!
dan Hidup bersama Myoho!

This moment is my new fresh start to make a new determination!
Ganbatte kudosaiiiii!!!!!!

Esok yg membingungkan, Guru dan Murid

Seharusnya, besok adalah hari yang menyenangkan. Namun, ada 2 kegiatan yang jadwalnya bersamaan, sehingga kemungkinan besar aku hanya dapat memilih salah satu diantaranya. Pertama, aku sangat berterima kasih sekali dengan Ibu Rossa, dekan fmipa-unpar yang sedang berada di Palembang sehingga aku pun berkesempatan untuk bimbingan skripsi dengan beliau. Mungkin orang beranggapan bahwa hal ini terjadi hanya karena ‘kebetulan’. Tak ada istilah kebetulan dalam kamusku! Benar-benar terima kasih dan aku sangat menghargainya. Aku benar-benar terharu karena Ibu Vero, pembimbingku yang beneran masih mengingat diriku. Aku tak tau dan tak mau tau tanggapan beliau terhadap diriku. Aku merasa malu dan tidak layak mendapatkan pembimbing yang hebat, karena aku bukan mahasiswa yang pandai dan rajin. Aku bukanlah apa-apa, hanya seorang mahasiswa angkatan pertama di perguruan tinggi biasa saja, tapi merupakan kampus tercintaku, kawah candradimuka, tempatku belajar. Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa aku akan memberikan yang terbaik dan tak akan mengecewakan beliau. Memang banyak godaan. Tapi aku akan berusaha. Aku selalu berpikir satu hal sejak dulu:

Orang yang telah berusaha total, maksimal dan 100% meskipun tak menang, bukan berarti dia kalah!

Btw, kalimat total, maksimal dan 100% adalah semacam tekad sewaktu aku masih sering terlibat dalam outbound tim Komkep KAPal. Kalimat yang seringkali didengung-dengungkan kepada para peserta, dan sepengetahuanku, Rm. Avien lah yang sering mengucapkan kalimat tersebut. Aku benar-benar bahagia bisa mengenal beliau. Aku sangat merindukan saat-saat menjadi fasilitator bersama teman-teman seperjuanganku di Komkep. Telah hampir 1 tahun, aku tak bertemu, ‘nongkrong-nongkrong’ dan bercengkrama akrab dengan mereka sembari minum kopi panas ataupun makan burung di jalan Radial, sejak aku bertekad untuk tak menginjakkan kaki di dua perahu lagi, Katolik dan Budhisme. Aku tulus membantu sebatas kegiatan, teman. Namun, aku tak pernah lagi mengikuti Misa ataupun liturgi lainnya, sudah 5 tahun. Mereka adalah orang-orang terbaik yang banyak mempengaruhi kepribadianku sejak kelas 3 SD. Sulit melepaskan masa-masa 10 tahun bersama, namun aku harus berani menjalankan pilihan hidupku. Awalnya, aku memilih hanya karena “demi… demi….  dan demi…. [segelintir orang]”. Namun, sekarang bukan demi siapa-siapa lagi. Budhisme adalah pilihan dan jalan hidup yang kupilih. Maka, semua yang terjadi selama 17 tahun, hanyalah tinggal kenangan saja. Satu hal yang masih belum terjadi adalah, sahabat-sahabat terbaikku yang benar-benar nyata mengelilingiku tak ada yang Budhis. Pak Ali, dosen mata kuliah ‘Reading Comp.’ ku mengatakan:

Tak peduli kita lahir sabagai apa, yang penting adalah apa yang akan kita lakukan sesudahnya.

Baiklah, kembali ke topik.

Yang kedua, adalah: Mr. Loh (pimpinan dari SSA), Pak Peter, dan Sdr. Heryanto akan berkunjung ke Palembang dan mengadakan pertemuan pimpinan pada waktu yang sama dengan bimbingan skripsiku. Aku masih tetap berharap mengikuti keduanya. Namun, kalaupun harus memilih, maka aku memilih untuk bimbingan skripsi dahulu. Apakah benar ini yang dinamakan bahwa “Hati kepercayaan adalah kehidupan?” [shinjin shoku se katsu] ha3 tak tau tulisannya benar atau salah.

Agama ada untuk manusia.
Bukan manusia untuk agama.

Maka, yang dikatakan bahwa agama adalah candu, menurut Karl Max sama sekali tak berlaku bagi pelaksana Saddharma Pundarika Sutra.

Aku juga ingin berbagi kutipan dari Novel Perombakan Sifat Jiwa yang ditulis di Majalah Bulanan Soka Gakkai Indonesia, Soka Spirit, halaman 56:

11 April. Aku belum menemukan guruku Terlebih lagi, aku belum menemukan filosofi yang dapat kuandalkan. Aku tahu dalam hati bahwa aku harus menemukan seorang guru, tiada yang dapat kulakukan selain mencari seorang guru. Apa gunanya universitas maupun sekolah tinggi? Hanya ketika orang tahu di dalam hatinya apa yang akan dia cari barulah dirinya dapat bekerja untuk masyarakat.

Orang hanya perlu meningkatkan diri dari hari-hari, dengan senyum dalam hatinya. Apa perlunya mendengarkan kata-kata orang bodoh? Hati manusia sulit dipercaya. Jadilah mandiri dan memiliki rasa hormat terhadap diri sendiri. Jika orang tidak mengukir nasibnya sendiri, tiada seorang pun yang akan membawakan kunci untuk membukakan nasib itu untuknya.
Lihatlah hal-hal secara luas mengenai situasi umum dan perjuanganmu sendiri. Meski anda ditertawakan ataupun dikritik orang, hal itu tidak ada artinya jika kamu menyayangi sesuatu yang Anda percayai.Tapi tenang saja, aku tak akan Drop-out 🙂 karena aku sudah menemukan guruku 🙂

Sekarang, aku ingin berbagi tentang pemikiranku.

Mengerjakan tugas akhir – urusan sepele – saja membutuhkan seorang guru, mentor yang harus membimbing dan menunjukkan jalan yang benar yang harus diikuti sang murid apabila menginginkan nilai A dan mampu mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya. Dalam proses tersebut, sang murid benar-benar dituntut untuk mengikuti ajaran atau pun saran sang guru.

Apalagi dalam kehidupan, mengarungi samudra luas, menggapai puncak tertinggi sebagai seorang manusia seutuhnya, tentu saja kita membutuhkan guru. Guru yang benar-benar dapat kita ikuti. Hati guru seperti apa, maka hati murid juga harus seperti sang Guru. Inilah yang dinamakan kesatuan hati Guru dan Murid.Maka, kesimpulannya, carilah Guru kehidupan sejatimu, tempat kita bernaung dan tujuan hidup kita.

Tidak tau apakah teman-teman berani mengambil jalan Guru dan Murid seperti itu dan menjadikannya sebagai tujuan hidup kita. Namun, kebahagiaan terbesarku adalah aku memiliki seorang guru yang telah menjadi inspirator dalam segala hal dalam 5 tahun terakhir hidupku dan tahun-tahun yang akan datang.

Inilah Budhisme, mengajarkan kesatuan Guru dan Murid.

Pada hal. 32 dari buku yang sama, tertulis:

Pada Pertemuan Umum Soka Gakkai Kyushu ke-2 di bulan Juni 1956, Nichijun Shonin berkata: “Ketika kita menanyakan apa yang membentuk fondasi kokoh hati kepercayaan dalam Soka Gakkai, saya pikir kita akan menemukan bahwa satu faktor tunggal yang paling pentin adalah – DALAM HAL HUBUNGAN GURU DAN MURID – pengukuhan yang jelas akan hubungan ini dan hati kepercayaan yang semakin mendalam yang dihasilkan darinya. Hati kepercayaan yang kuat dari anggota Soka Gakkai sekarang ini berasal sepenuhnya dari hal ini. Saya percaya hal ini menjadi landasan dari apa yang diajarkan Presiden Toda. Para murid mempercayai guru mereka; sang guru membimbing muridnya – jika orang dengan tegas menegakkan hubungan ini, ia pasti akan menguasai ajaran Budhisme.”

Hmmm, rasanya puas setelah menuliskan kalimat demi kalimat di atas. Terima kasih atas kesabaran dalam membacanya 🙂

Religious Art Festival for Peace (sumber: NU Online)

Guna mendorong terciptanya perdamaian di dunia, Lembaga Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi NU) bekerjasama dengan Soka Gakkai Indonesia, dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) menggelar Religious Art Festival for Peace pada Minggu (13/7) malam di Jitec Mangga Dua.Berbagai jenis karya seni ditampilkan dalam pagelaran itu seperti tarian Mambri dari Papua yang menggambarkan keperkasaan prajurit Papua dan menari sebagai rasa kebersamaan, drama musikal Annie tentang perjuangan dan semangat anak yatim, taiko komposisi musik antara kekuatan fisik dan kelembutan, angklung, musik tradisional Jawa Barat, tari Betawi, tari Soreng dan lainnya, serta penampilan sejumlah artis, yaitu Cici Paramida, Iwan Fals, Dharma Oratmangun, Senno Haryo dan para pemenang Indonesian Idol. Soka Gakkai adalah sebuah lembaga yang berakar pada filsafat Budhisme Nichiren Daishonin yang menekankan pada hubungan yang dalam antara kebahagiaan diri sendiri dengan kebahagiaan orang lain.

Foto-foto:

Seni pertunjukan koreografi kolosal
yang memadukan semangat,
kekuatan dan kesatuan hati
dalam mencapai sebuah tujuah



Sebuah tarian Betawi yang
menggambarkan kebersamaan,
keceriaan serta kecantikan untuk
menyambut tamu dengan sebuah
tari kolaborasi gitek balen dan nyai kembang




Para ibu-ibu memainkan angklung
yang merupakan alat musik tradisional
dari Jawa Barat dengan
lagu Bengawan Solo yang sangat terkenal


Taiko, sebuah komposisi yang menjadi
lambang dari Edo Sukeroku Daiko
yang membutuhkan tenaga fisik
tetapi juga harus ditampilkan dengan lembut dan halus


Tari Soreng yang menggambarkan kepiawaian
dan kekompakan pasukan Aria Penangsang
yang dikenal berwatak keras
tetapi bertanggung jawab.
Dalam tarian ini, tersirat bahwa solidaritas
sesama pasukan melalui gerakan yang
kompak untuk mewujudkan perdamaian


KH Abdurrahman Wahid menyampaiikan
pesan-pesan perdamaian kepada para hadirin
yang sebagian besar berasal dari etnis China



Iwan Fals menyanyikan sebuah lagu
dengan tema perdamaian melalui
karakter suaranya yang khas dan masih prima



Cici Paramida menyanyikan sebuah lagu Arab
yang dipopulerkan oleh Umi Kulsum
dengan iringan musik Ki Ageng Ganjur

 

 

Gagal Sidang Draft dan ke G. Kaba

ehm,
semua rencana berantakan.
Sepertinya,
tahun ini memang benar-benar tahun yang paling apes,
sial melulu rasanya 😦

—kaba—
Harusnya sekarang,
aku sedang menikmati pemandangan dari puncak Kaba.
Eh, batal berangkat.
Padahal,
sudah packing, semua sudah siap.
2 temanku tiba-tiba gak jadi pergi.
Lantas, tak mungkin kami berdua saja yang berkemah.
Alangkah mengerikannya,
hanya berdua di puncak Gunung.
Mana banyak penampakan dan pendengaran aneh-aneh pula di sana.
Ekspedisi Mahadewi, BATAL.

Yang sudah pasti saja bisa dibatalkan.
Apalagi yang belum direncanakan sama sekali.
Kita hidup di dunia yang penuh dengan ketidakpastian.
Bagi kita, manusia biasa memang tak ada yang pasti.
Namun, bagi para Buddha, Dewa-dewi yang telah sadar akan hakikat alam semesta ini,
semuanya adalah pasti.
Maka, tak ada yang namanya kebetulan.

Banyak orang sangsi dalam mengklasifikasikan KABA,
bukit atau gunung?
Tak terlalu tinggi, sekitar 1000mdpl,
namun memiliki kawah.
Tak mungkin bukit berkawah, bukan?
Ada 2 jalur untuk menuju ke sana.
Pertama, jalur yang bisa dilalui oleh kendaraan,
dan kedua, jalur rimba,
yang memang diperuntukkan bagi yang gemar hiking.
Nanti, akan kutulis catatan perjalananku di blog ini,
kapan-kapan ya 🙂

—tugas akhir—
Akhirnya, gagal sidang draft.
Terpaksa tahun depan baru wisuda.
Ya, kemungkinan besar.
Tetapi, aku sama sekali tak menyesalinya.
Hanya sedikit stress saja hahahaha…

Dalam segala hal yang kukerjakan,
aku menginginkan hasil terbaik!
Kalau memang kemampuanku belum layak untuk lulus,
maka aku tak akan memaksakan diri.

Mungkin, banyak orang berpikir:
“Alangkah bodohnya dia, memilih dosen pembimbing jauh-jauh,
gelar doktor, kuliah 9 semester dan kemungkinan besar
tak dapat lulus dengan predicate cum-laude. Sayang sekali…”

Ahhh, peduli amat….
Aku masih bisa hidup tanpa embel-embel itu.
Dunia membutuhkan orang yang berkemampuan, bukan orang yang bergelar tok.
Mencari ilmu, gelar pasti kau dapatkan.
Mencari gelar, belum tentu ilmu kau peroleh.

cuit..cuit… ngomong sih mudah. Tinggal pelaksanaannya saja 🙂
Kadang kala, aku sibuk mengurusi pikiran orang terhadap diriku.
Tapi, sekarang, aku sudah belajar untuk lebih mengikuti kata hatiku.
Tak perlu malu.
Jangan sampai aku mati karena malu!

Semester 8 sudah selesai dan belum ada progress real tentang skripsi,
padahal mata kuliah yang kuambil hanya: “Tugas Akhir”.
Aku berpikir untuk menyelesaikannya 1 semester lagi.
Angka 9, angka yang bagus.
Ya, aku akan berjuang lagi dari NOL.

Benar yang dikatakan oleh Pak Kristo,
rasa malas menghantui kita tatkala waktu hanya dihabiskan untuk menyelesaikan skripsi, tanpa ada kuliah lain.

Godaan terbesarku, adalah rasa malas…malas dan malas lagi.
Maka, sekarang harus lebih rajin lagi.
Semangat May!!!
Keep your spirit, okey?

Aku merasa tulisanku hari ini,
cukup tak enak dirasakan.
Di sana, terkandung emosi, kesombongan dan kemarahan terhadap diri sendiri,
terutama marah terhadap kemalasanku!!!!!!!

Menantang Diri Sendiri terhadap Kegagalan

Tidak ada yang tidak dapat diperbaiki pada masa muda. Namun, kesalahan paling buruk yang Anda lakukan pada masa muda adalah menyerah dan tidak menantang diri sendiri terhadap perasaan takut gagal. Masa lalu adalah masa lalu. Masa depan adalah masa depan. Kamu harus tetap melangkah maju dengan tatapan yang mantap pada masa depan. Katakan pada diri sendiri: “Saya akan memulainya lagi, sekarang, saat ini juga!” Inilah inti sari Sebab Pokok Budhisme Nichiren Daishonin, semangat untuk memulai saat ini juga.
– Daisaku Ikeda –