Fokus

Semakin banyak sumber daya (resources) seharusnya samakin memudahkan kita dalam memahami suatu hal. Sulitnya justru karena hasil yang tercapai adalah memahami banyak hal, namun hanya sepotong saja. Apa yang kita pahami sebagai holistik atau utuh bukanlah perkara mudah karena pertama-tama yang harus kita lakukan adalah fokus pada suatu hal. Satu hal demi satu hal. Fokus seperti luv yang menghasilkan titik api jika dikenai cahaya mentari dalam waktu tertentu yang konstan. Sepuluh ribu jam – itu yang diyakini secara internasional, yaitu banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang profesional. Fokus mengerjakan sesuatu seolah-olah kita tidak dapat melanjutkan hidup jika belum tercapai.

Fokus hingga akhir tahunku setelah beruntung lulus sidang proposal dengan revisi sana-sini adalah menyelesaikan kuliah. Jika fokus tersebut lebih difokuskan lagi atau lebih tepat dinamakan plans untuk mencapai goal, maka terdapat lima hal yang harus dituntaskan. Pertama adalah menguatkan konsep tentang apa yang akan dibuat secara rinci dan mempelajari tools yang akan digunakan. Misalnya java, jadex, xml, prometheus dan k-means clustering. Kedua hingga kelima adalah menyelesaikan tahap analisis, rancangan, implementasi dan berakhir dengan pengujian.

Semua hal harus direncanakan. Spontanitas sesungguhnya adalah rencana-rencana matang yang berbuah kebiasaan sehingga spontanitas hanya mengeluarkan saja apa yang sebenarnya sudah melekat dalam diri kita. Gagal merencanakan sama saja dengan merencanakan untuk gagal. Setidak-tidaknya itu yang dikatakan oleh seorang tokoh yang namanya terlupakan olehku.

Hari ke-3: Packing

pulang-tidak-pulang-tidak. Kuputuskan untuk pulang bertemu papa, mama, satu-satunya adik lelakiku dan handai taulan. Tradisi makan malam dan kumpul bersama di malam Imlek sangat melekat di keluarga kami. Menyenangkan sekali. Packing kulakukan seusai ujian akhir semester tiga. Riwayat tiga mata kuliah yang kuambil: satu tidak mengikuti UAS, satu terlambat hadir 1 jam saat UAS, satu lagi hanya bisa mengerjakan 50% soal UAS. Sangat memalukan mengenaskan. Tanggal 24 Mei 2010 pukul 11.01 PM kubaca sms yang sekarang kubaca dalam buku harianku: “Ok May, perkuat jiwamu sehingga kamu selalu bisa mengubah racun menjadi obat. Selamat berjuang.”