Sidang Pra-Tesis

Akhirnya, saya sidang pra-tesis juga. Akhir Februari lalu, saya sempat ngobrol perihal nasib tesis saya ini kepada Hendy. Satu hal yang dikatakan Hendy kepada saya adalah, “Hanya ada 2 pilihan. Benar-benar ditinggalkan atau benar-benar diselesaikan”. Saya memilih untuk benar-benar menyelesaikannya. Saya sangat sadar bahwa terjadinya sidang pra hari Selasa lalu (8 April 2014) semata-mata karena dorongan semangat dan doa dari orang tua dan teman-teman baik yang selalu mengelilingi saya….. teman-teman kampus, teman-teman gunung, teman-teman di Palembang, di Jogja, di Jakarta, teman-teman Gakkai… semuanya! Nantilah akan saya rincikan dan sebutkan satu per satu nama-nama teman baik saya itu 😀

Terima kasih banyak 🙂

Berikut adalah foto-foto terkait sidang dan hari-hari menjelang sidang… Foto-foto ditampilkan secara kronologis mundur.

Suasana sidang pra-tesis

Terima kasih teman-teman yang sudah datang, Awink, mas Riki, mbak Erma, bung Adi, dan notulensi sukarelawan saya, mbak Nova haha dan terima kasih juga buat Awink dan mbak Erma yang sudah foto ini ^^

IMG-20140408-WA0001

10154267_10203462340430155_4857176624815228893_n

1797507_10203462165865791_8882282521851946901_n

Usai Sidang Pra-Tesis

…usai sidang pra, mbak Nova mengeluarkan sekuntum mawar merah jambu dari tas ranselnya. So sweet 😉
Bunga mawar ini, katanya, sebagai ucapan selamat ulang tahun dan selamat atas sidang pra saya. Terima kasih, mbak Nova ^^

CIMG6795

CIMG6796

Sebelum pulang ke rumah masing-masing, kami akhiri obrolan di kantin MIPA, salah satu tempat nongkrong bersama zaman dulu…

1932460_10203462548315352_8748501203491534199_n

Malam-malam menjelang sidang

Kalau ada 1 nama yang bisa kusebutkan sebagai orang yang paling berperan dalam sidang pra-tesisku, bahkan jauh sebelum itu, mungkin itu adalah  si beib – bung Adi ^^

Terima kasih sudah mewarnai hidupku di sini 😉
Kalimat sisanya biar diucapkan di darat saja, beib 😉

CIMG6749

 

CIMG6780

CIMG6754CIMG6777  Next harus berjuang lebih giat lagi menuju sidang tesis. Perbaiki berdasarkan masukan para dosen penguji. Tidak boleh mengecewakan dosen pembimbingku yang sudah sangat baik mengarahkan dan membimbingku tanpa lelah. Go..go….go…..!

Topik Tesis

………………….ingin rasanya menguraikan secara detail apa yang kukerjakan di sini, tapi nanti sajalah usai tesis tersebut berbentuk buku dan diberi nomor arsip perpustakaan 🙂

Selesai? Tentu belum. Perjalanan masih sangat panjang.

Topik tesisku adalah Agent Oriented Software Engineering, sesuai dengan interestku di bidang ilmu komputer ini, yaitu Rekayasa Perangkat Lunak (software engineering). Object Oriented Paradigm dulunya kupikir adalah yang terbaru, namun aku salah. Agent lah yang terbaru meskipun di Indonesia sendiri penelitian ini belum terlalu banyak. Lah wong pengertian agent sendiri saja belum dibakukan koq hihihi

Nantilah baru mengarang indah tentang hal-hal yang indah ini.

Rutinitas

buku headfirstBuku Head First lain yang hampir selesai saya baca adalah buku Head First Java. Buku edisi Head First ini, ujar teman saya si Zain, lebih manusiawi hahaha mungkin maksudnya, user-oriented. Ya, buku ini sangat menarik dan tidak membosankan, tapi kalau sudah masuk ke materi yang berat… ya tetap saja sulit hahaha

Kalau saya bepikir tentang progress dan target penyelesaian tesis, saya akan stress sendiri. Beneran deh. Jadinya, sekarang saya membagi-bagi target besar tersebut menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, yaitu kegiatan harian. Kesannya sangat lambat, tapi saya memang harus melalui tahapan ini, yaitu belajar Java. Ah, semester 6 yang akan mulai di awal Februari ini harus menjadi semester akhir bagi kuliah saya.

Sudah tiga bulan lebih saya tidak pergi ke gunung. Otak saya sudah hampir sepenuhnya di tesis dan itulah hal yang saya tunggu-tunggu. Beberapa waktu lalu saya ingat satu hal penting sewaktu menyelesaikan Skripsi S1, yaitu: tak pernah satu hari pun saya tidak memikirkan skripsi. Maka, sekarang pun harus seperti itu. Itulah yang mungkin dinamakan sebagai FOKUS dan KONSENTRASI.

Kemarin saya juga sudah menyelesaikan satu bab lagi dari buku The Geography of Bliss. Ada satu hal yang belum saya mengerti yaitu tentang “pertumbuhan berpangkat”. Kutipan lengkapnya seperti ini:

Tanamlah bibit-bibit kebahagiaan dan pada akhirnya hukum pertumbuhan berpangkat dicapai, maka saya yakin kebahagiaan akan menyebar bagaikan kebakaran padang rumput di California.

Saya juga ingin menuliskan kelanjutan kalimatnya yang menarik meskipun tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan berpangkat:

Lantas untuk sementara waktu, apa yang harus dikerjakan? Saya kira kita terus menyemaikan benih. Toh sebenarnya yang penting itu menanamnya bukan memanennya. Seperti dikatakan banyak filsuf, kebahagiaan itu adalah hasil sampingan. Sebagaimana pengamatan Nathaniel Hawthorne, kebahagiaan adalah kupu-kupu yang bertengger di bahu kita tanpa disuruh.

Jadi , alih-alih berusaha secara aktif membuat tempat atau orang lebih bahagia, mungkin lebih baik kita menerima saran penulis Kanada Robertson Davies: “Jika Anda tidak bahagia, sebaiknya Anda berhenti mengkhawatirkan ketidakbahagiaan dan melihat perbendaharaan apa yang Anda miliki dari ketidakbahagiaan Anda.”

Saya sudah tidak pernah membaca buku sampai pagi lagi sekarang dan hanya membacanya di saat-saat luang saja, seperti moment ketika menunggu. Saya juga memberanikan diri untuk menunda semua bacaan yang bukan prioritas, maksudnya bacaan yang tidak ada hubungannya dengan topik tesis. Pada awalnya memang berat, tapi kebiasaan tersebut akan membuatnya menjadi ringan seiring dengan waktu. Continue reading “Rutinitas”

……masih terus berjuang!

Hari ini, aku ingin menuliskan dua kalimat dari Ikeda Sensei:

Betapa pun mengantuk dan capeknya Anda, hanya ketika Anda menang atas diri sendiri, Anda akan memiliki hari kemenangan.

dan

Orang kelas satu tidak memandang usia atau kedudukan, tidak pernah berhenti belajar dengan rajin dan mau mendisiplinkan diri mereka sendiri.

Selanjutnya, aku ingin mengeluhkan menceritakan tentang kesehatanku. Entah apa penyebabnya, akhir-akhir ini kepala di bagian belakang dekat tengkuk leher rasanya sering sakit pada saat bangun tidur maupun dalam kesehariannya. Kolestrol? Tidak juga, karena aku sudah tak makan daging lagi dalam seminggu ini. Rasanya memang sedikit berat melewati hari dengan sakit seperti ini. Kadang, telinga bagian belakang juga nyeri. Mataku tiba-tiba suka tidak bersahabat jika terlalu lama di depan komputer. Namun, hal ini bukanlah masalah besar sekarang. Aku bersyukur bahwa tubuhku masih dapat memberikan respon seperti ini. Masalah besar justru terjadi jika hal ini berlarut-larut tak kuatasi.

Aku akan mulai mengubah pola makanku dengan makanan yang lebih bergizi, higienis dan berserat. Plototin komputer tidak akan terus-terusan, namun memberikan jeda agar mata dan tulang belakang bisa beristirahat dengan baik. Aku juga akan mengubah pola tidurku dengan tidur sebelum pukul 1 malam dan bangun sebelum pukul 7 pagi. Aku akan rutin jogging 2x seminggu pada hari Selasa dan Jumat untuk meningkatkan daya tahan tubuhku, untuk melatih lutut dan pergelangan kakiku yang bermasalah. Aku akan tetap membiasakan diri untuk menegakkan tulang belakangku dalam menulis, membaca, berjalan, berdoa, termasuk ketika beraktivitas di kamar mandi hahaha

Dalam proses kembali ke ritme makan seperti biasa, aku membeli beberapa makanan favoritku lagi. Sejak pertengahan tahun lalu, aku cukup mengencangkan ikat pinggang dalam soal makan karena harus mengatur uang dengan keperluan travellingku. Sekarang, di saat aku tidak akan ke mana-mana, aku akan kembali mengalokasikan uangku untuk keperluan peningkatan gizi. Setidaknya, nanti jika wisuda, wajahku sedikit chubby hahaha seperti kata papaku setiap kali bertemu, pasti beliau akan mengatakan, “Maya, gemukkanlah sedikit badanmu itu supaya bagus, apalagi pipimu, terlihat seperti orang yang kekurangan makan saja”.

Aku jadi ingat satu cerita di bulan September lalu sewaktu mau kembali ke Jogja dari Palembang. Papaku bahkan membelikanku susu kental manis cap bendera untuk kubawa ke Jogja agar bisa kuminum bersama susu Milo. Ya ampun! Seperti di Jogja tidak ada orang yang menjual susu saja hahaha aku selalu merasa terharu dengan bekal yang dibelikan papaku ketika hendak kembali ke tanah rantau ini. Pernah juga sekali waktu, beliau membekaliku dengan minyak angin aroma terapi yang katanya sangat bagus buatku. Bahkan, minyak angin itu pun sebenarnya banyak dijual di Jogja. Hidupku di Jogja, yang pasti, cukup jauh dari bayangannya 🙂

Ritz yang hanya dijual di Carefour Jl. Adi Sucipto Continue reading “……masih terus berjuang!”

Fokus

Semakin banyak sumber daya (resources) seharusnya samakin memudahkan kita dalam memahami suatu hal. Sulitnya justru karena hasil yang tercapai adalah memahami banyak hal, namun hanya sepotong saja. Apa yang kita pahami sebagai holistik atau utuh bukanlah perkara mudah karena pertama-tama yang harus kita lakukan adalah fokus pada suatu hal. Satu hal demi satu hal. Fokus seperti luv yang menghasilkan titik api jika dikenai cahaya mentari dalam waktu tertentu yang konstan. Sepuluh ribu jam – itu yang diyakini secara internasional, yaitu banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang profesional. Fokus mengerjakan sesuatu seolah-olah kita tidak dapat melanjutkan hidup jika belum tercapai.

Fokus hingga akhir tahunku setelah beruntung lulus sidang proposal dengan revisi sana-sini adalah menyelesaikan kuliah. Jika fokus tersebut lebih difokuskan lagi atau lebih tepat dinamakan plans untuk mencapai goal, maka terdapat lima hal yang harus dituntaskan. Pertama adalah menguatkan konsep tentang apa yang akan dibuat secara rinci dan mempelajari tools yang akan digunakan. Misalnya java, jadex, xml, prometheus dan k-means clustering. Kedua hingga kelima adalah menyelesaikan tahap analisis, rancangan, implementasi dan berakhir dengan pengujian.

Semua hal harus direncanakan. Spontanitas sesungguhnya adalah rencana-rencana matang yang berbuah kebiasaan sehingga spontanitas hanya mengeluarkan saja apa yang sebenarnya sudah melekat dalam diri kita. Gagal merencanakan sama saja dengan merencanakan untuk gagal. Setidak-tidaknya itu yang dikatakan oleh seorang tokoh yang namanya terlupakan olehku.

Mengejar dosen pembimbing

Kamis, 31 Mei 2012. Perasaanku sedikit kacau. Malam sebelumnya, aku tak tidur menyelesaikan tulisan proposal penelitian S2. Malam itu tiba-tiba saja aku seperti mendapat ilham untuk segera menuntaskan apa yang sudah kumulai tiga bulan lalu. Tulisan tersebut selesai lalu kukirim melalui email ke dosen pembimbing diikuti sms konfirmasi. Aku tidur. Siangnya ketika terbangun, aku kembali mengirimkan sms untuk dapat waktu bimbingan. Tanpa menunggu jawaban, aku berniat untuk mencari dosenku di kampus utara dan kampus selatan lalu kembali ke kampus utara. Kulakukan panggilan telepon ke dosenku. Lalu di-reject. Sms masuk, “Msh rapat.” Ku-reply dengan pertanyaan apakah memungkinkan jika bimbingan pada hari itu. Tak ada jawaban lagi. Aku pulang kembali ke kos.

Hari mulai sore saat itu, mungkin sekitar pukul 3pm. Di lampu merah Kaliurang, sempat kuabadikan moment yang ada di foto. Lampu merah itu memang terlihat sangat besar, sama persis yang dirasakan oleh Ci Lenny, myoho-sister ku yang datang di akhir Desember tahun lalu. Beliau begitu terkesima melihat lampu merah di Jogja. Ci Vivi yang pernah mendengarkan hal tersebut dari Ci Lenny pun akhirnya membuktikan kebenaran yang sulit dipercaya itu ketika berkunjung ke Jogja. Akhirnya, kesimpulan kami pun sama: Di Jogja, terdapat beberapa lampu merah yang memang lebih besar daripada ukuran mayoritas. Lampu merah Jogja ini biasa juga dikenal akrab sebagai “Bang Jo”, yaitu “abang ijo” yang artinya lampu merah hijau. Bang Jo ini memang mempunyai dua arti khusus. Selain lampu merah, Bang Jo juga dikenal sebagai kedai penjual minuman seperti juice dan milkshake. Pintar-pintarlah kita membedakannya ya, jangan terkecoh hahaha 😀

Kembali lagi ke obrolan mengejar dosen…….

Aku berada di kos. Aku lupa aktivitas apa yang kulakukan sesampainya di sana. Seperti membuka laptop lalu… aku tak ingat. Hal yang kuingat adalah aku baru mulai berdaimoku – baru menyebut beberapa kali nam-myoho-renge-kyo ketika Hpku berbunyi. Dosenku me-reply smsku. Hal di luar dugaanku. Beliau menyuruhku datang ke ruangannya. Secepat kilat aku menuju ke sana.

Aku menunggu kembalinya dosenku dari rapat di fakultas dengan duduk-duduk di kursi panjang depan ruangannya. Ada seorang lagi yang juga akan bimbingan – Mahasiswa S3 yang sempat kudengar pembicaraannya akan melakukan penelitian yang berkaitan dengan masalah banjir. Dia akan membuat aplikasi untuk pendeteksian dini terhadap banjir dengan menganalisis data-data yang diperoleh pada tahun sebelumnya. Penelitiannya sangat menarik. Aku kagum dalam hati.

Menunggu dia selama tiga puluh menit lebih, akhirnya tiba juga giliranku. Dosenku membaca tulisanku lalu corat-coret di beberapa bagian yang salah seperti penulisan daftar pustaka dan landasan teori yang terlalu panjang. Beliau mengatakan bahwa aku boleh mengikuti sidang Proposal pada bulan ini – bulan Juni. Ahhh, leganya. Aku pulang sambil senyum-senyum sendiri. Lima belas menit menuju pukul 7pm aku tiba di kos. Mandi dan seusainya juga secepat kilat aku langsung menuju rumah Shibucho untuk sodaikai dengan dihadiri oleh fujinbucho Bogor yang sedang mengunjungi Jogja karena akan menghadiri pernikahan saudaranya. Malam itu, aku senyum tiada henti 🙂

Survei: Perlukah media online bagi pendaki untuk mendapatkan informasi kelompok pendakian secara otomatis?

Great friends, great adventure ^_^

Teman-teman yang sengaja ataupun tak sengaja terdampar di halaman blog ini, perkenankan diriku meminta tolong kepada Anda semua untuk mengisi survei yang kubuat. Survei ini dibuat untuk mengetahui perlu/tidaknya aplikasi pengelompokan para pendaki secara online yang akan kubangun sebagai studi kasus penelitian S2 jurusan Ilmu Komputer UGM. Batas akhir pengisian tanggal 10 Mei 2012. Terima kasih banyak ^_^

********************************************* Continue reading “Survei: Perlukah media online bagi pendaki untuk mendapatkan informasi kelompok pendakian secara otomatis?”