Fisioterapi: Arus Paradik dan SWD

swd
sedang di-swd

“Stress is a reaction, not situation… so you can choose not to react”. Saya selalu mengingat kata-kata tersebut. Maka, saya memilih untuk menghadapi semua yang terjadi dengan gembira seperti sebuah petualangan yang menantang 🙂

Saya tidak mau menganggap bahwa sakit membuat saya menderita karena masih banyak orang lain yang “lebih layak menderita” dibandingkan saya. Sakit membuat saya lebih mensyukuri hidup dan membuat semakin sadar bahwa saya adalah orang yang sangat beruntung dikelilingi oleh teman-teman baik dan orang tua yang selalu sabar 🙂

Hari ke-6 ini, dokter mengatakan bahwa kondisi saya cepat pulih. Senyum saya tidak terlalu miring lagi, ujarnya. Kegembiraan lain saya rasakan ketika dokter mengatakan bahwa dosis obat akan dikurangi dan saya bisa mulai fisioterapi.

Saya mengatakan pada dokter bahwa saya sangat jarang mandi malam, terkena kipas angin langsung apalagi AC dan juga hampir selalu memakai helm full face, namun… saya bilang ke dokter bahwa saya suka mendaki gunung dan menyukai dinginnya angin di alam bebas, terutama daerah pegunungan.

Gubrakkk hahahaha dokter bilang dia mau mendaki Gn. Rinjani, kemungkinan besar itulah penyebabnya. Gangguan di syaraf 7 ini bisa jadi karena sewaktu angin yang masuk melalui telinga menuju syaraf 7 terjepit, makanya mengakibatkan gangguan fungsi wajah terutama tersenyum. Beneran loh, syaraf 7 itu hubungannya dengan senyum. Ada banyak sekali referensi di Internet tentang 12 syaraf wajah dan bell’s palsy. Monggo di-searching saja. Continue reading “Fisioterapi: Arus Paradik dan SWD”

Advertisements

Berteman Akrab dengan Ms. Bell’s Palsy…

Masih ingat bukan perkenalan saya dengan Ms. Bell’s Palsy? Jika belum, monggo dilihat di sini dulu, temans 🙂

Menurut catatan resmi rekam medis saya di RS Bethesda, saya sudah tersedot masuk ke dalam dunianya Ms. Bell’s Palsy ini sejak empat hari yang lalu. Di dunianya Ms. Bell’s Palsy, empat hari sama dengan empat tahun.  Jadi, empat tahun adalah waktu yang cukup lama untuk merasakan suka dukanya hidup bersama Ms. Bell’s Palsy. Empat tahun membuat saya mengerti bagaimana penderitaan yang dirasakan oleh Ms. Bell’s Palsy ketika melakukan aktivitas mengotak-atik wajah sisi kanannya, juga ikut bergembira ketika Ms. Bell’s Palsy perlahan menyadari beberapa masalah mulai hilang, termasuk hilangnya rasa kebas di lidahnya. Ia mulai bisa melahap semua makanan dengan kenikmatan yang lebih sempurna dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Ngomong punya ngomong, ada juga kisah Abu Nawas dari Negeri 1001 Malam tentang sudut pandang kesempurnaan. Saya ceritakan sedikit seingat-ingatnya saya ya…

Dulu, hiduplah seseorang di Negeri 1001 Malam yang mengeluhkan rumahnya yang sempit kepada Abu Nawas. Abu Nawas memberikan ide agar setiap hari orang tersebut membeli berbagai macam perabotan untuk dimuat ke dalam rumahnya hingga tidak ada ruang kosong lagi. Setelah sesak begitu, Abu Nawas meminta ia untuk menjualnya kembali satu per satu. Lantas, orang tersebut mulai merasa senang karena rumahnya perlahan mulai “nampak” lebar dan lebih luas daripada biasanya 🙂

Ya begitulah. Sama saja dengan rasa sempurna yang dikecap oleh Ms. Bell’s Palsy tersebut: sebuah cita rasa yang berbeda.

Ok, cukup basa-basinya hahaha

Mari mulai…….

X-Ray Foto – Mastoid

merapiLaboratorium Klinik Pramita yang saya kunjungi untuk memotret isi telinga kiri-kanan saya ini terletak di selatan gedung Grha Sabha Pramana – UGM. Senang sekali rasanya menikmati cerahnya Merapi di hari yang sudah tidak pagi lagi itu. Saya sempatkan mengabadikan moment tersebut sepulang dari Pramita untuk menghibur hati saya 🙂 Continue reading “Berteman Akrab dengan Ms. Bell’s Palsy…”

Berkenalan dengan Ms. Bells Palsy

Semalam, ketika sedang daimoku, entah mengapa tiba-tiba saya teringat beberapa gejala tak biasa yang telah terjadi dalam beberapa hari ini. Seketika saya searching di Google dengan kata kunci “muka kebas” dan terkejutlah saya menemukan satu artikel yang membahas tentang penyakit “Bell’s Palsy (BP)” yang sering dikait-kaitkan dengan stroke ringan padahal bukan sama sekali.

Kontradiksi dari rasa terkejut saya adalah rasa sangat bersyukur karena saya menyadari penyakit ini ketika masih dalam tahap awal. Tiga atau empat hari lalu, belakang telinga kanan saya nyeri ketika dipegang dan saya memeriksakannya ke dokter gigi seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Ternyata, itu bukan masalah gigi, tapi gejala pendahulu dari penyakit BP. Saya merasa mata sebelah kanan saya berbayang ketika membaca teks di buku dan layar TV. Lidah sisi kanan saya juga tidak dapat mengecap dengan baik. Puncak kekhawatiran saya adalah ketika sedang berkumur dan airnya tumpah sendiri melalui bibir sisi kanan saya. Ketika membasuh muka pun, saya kesulitan menutup rapat mata kanan saya sehingga kemasukan air.

Sembari daimoku dan membaca artikel “Bell’s Palsy”, saya mempraktekkan semua gejalanya, termasuk bersiul dan betapa terkejutnya ketika saya tidak bisa melakukan hal tersebut. Sesaat saya menghentikan daimoku dan segera berkaca. Saya coba tersenyum dan BLANK! Senyum saya tidak simetris. Saya membuka mulut lebar-lebar (baca: mangap), pun sama saja. Bibir saya miring ke kiri. Saya coba mainkan hidung saya dan saya tak bisa merasakan hidung sisi kanan bila digerakkan. Saya mulai menekan semua bagian wajah kanan saya dan terasa nyeri di beberapa tempat, terutama tulang pipi dan alis mata. Dari semua bacaan dan uji coba yang saya lakukan, saya membuat asumsi bahwa saya terkena penyakit “Bell’s Palsy’ pada wajah sebelah kanan.

Akhirnya tadi pagi saya ke dokter syaraf di RS Bethesda dan dokter mengatakan bahwa saya “dianggap” penderita BP. Mengapa dianggap? Karena saya juga harus memeriksakan diri ke dokter THT untuk melihat apakah sakit di belakang telinga kanan justru adalah penyebab semuanya. Saya belum tau harus bagaimana kecuali minum obat dan berdoa lebih banyak daripada biasanya. Lima hari yang akan datang saya akan mulai terapi karena untuk saat ini, dalam kondisi yang masih radang, dokter belum mengizinkannya 🙂 Continue reading “Berkenalan dengan Ms. Bells Palsy”

Cabut Gigi

foto dental

Me: Terima kasih banyak, dok. Berapa?

Drg. Budiono: Gratis. Buat mbak Maya kali ini bonus saja.

Me: Wow 🙂 #mulai_senyum_senyum_ga_jelas

Drg. Budiono: Uangnya buat nonton di XXI + popcorn. Cukup kan?

Me: Hahahaha iya dokter bisa aja 😀

Begitulah percakapan yang menutup perbincangan saya dengan Drg. Budiono kemarin malam di ruang prakteknya, samping Apotek Waringin.

Drg. Budiono ini adalah dokter yang sudah menyembuhkan penyakit saya 2 tahun lalu ketika saya sudah berobat ke mana-mana dan tidak menemukan jalan keluar. Pada 2011 lalu tepat di hari Imlek ketika bangun tidur, rahang saya hanya bisa terbuka kira-kira 1-2 cm saja dan semakin memburuk pada hari-hari berikutnya, yaitu dengan disertai nyeri di bagian pipi, belakang telinga, dll. Saya tidak dapat mengobati rahang saya di Palembang karena hanya memiliki cuti beberapa hari saja dan harus segera kembali ke Jogja. Sebelumnya saya tidak mengetahui bahwa akar masalah saya terletak pada gigi. Alhasil, saya pergi ke physiotherapist di EastWest, ke dokter ahli bedah tulang dan ahli bedah mulut di RS Panti Rapih, juga melakukan beberapa rontgen. Malahan, saya sempat menelepon tabib alternatif yang direkomendasikan oleh teman saya yang menganjurkan saya untuk minum madu 2 sendok setiap malam, dll….

Saat itu saya kembali ke daimoku dan berdoa dengan tekad bahwa penyakit ini harus sembuh sebelum hari ulang tahun saya, yaitu di awal bulan April. Continue reading “Cabut Gigi”