Ketika sedih itu datang…

If you want to be strong learn how to fight alone.

Sekarang saya berada di ruangan saya; dan menatap kosong ke layar komputer saya. Lagu “The Song of Trailblazers” menemani saya. Sebelum itu, lagu “Count on Me”. Saya menggunakan earphone. Tidak mau terkontaminasi dengan suara-suara tidak penting di sekitarku. Menambah kepusingan saja nantinya. Sepulang dari Korea minggu lalu, rasanya berat untuk memulai apapun, terutama hidup di Jakarta yang tanpa kucing dan sahabat baik. Mau meneruskan tulisan ini, tapi rasanya air mataku sudah tidak bisa dibendung lagi. Dua kali saya menangis di kampus tahun ini. Pertama karena kucing mati, dan kedua sahabat saya pindah ke kota lain. Huff!

Advertisements

Pulau Bira

img_7823

img_7842

Your friends should motivate and inspire you. Your circle should be well rounded and supportive. Keep it tight. Quality over quantity, always. -Idil Ahmed

Kawan, terima kasih! Tanpa kalian mungkin aku masih akan trauma dengan yang namanya laut. Tanpa kalian, mungkin aku juga tak akan berani berenang bebas dan santai, menikmati keindahan bawah laut. Ternyata itulah gunanya kita berkawan. Kawan membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin, menghalau ketakutan dan memunculkan keberanian.

Tanggal 14 Agustus 2016, aku, Anabel dan Linda tiba-tiba merencanakan sebuah perjalanan. Ya sebuah perjalanan bersama yang sudah sangat lama dinanti-nantikan. Piknik! Pergi ke sebuah pulau. Hari itu juga ketika sedang makan siang bersama di Kamakura daerah PIK, Linda menawarkan sebuah ide ke Pulau Bira berikut dengan contact person guide-nya. Temannya Linda sudah pernah menggunakan jasa guide Pak Man ini, dan kami semua langsung setuju. Linda dan Anabel menelepon Pak Man yang menawarkan 2 alternatif menuju ke sana, yaitu via Ancol dan Muara Angke. Kami memilih Muara Angke. Total biaya Rp. 500.000,- include all. Kami hanya tinggal bawa diri saja.

Waktu yang kami sepakati adalah weekend pertama di bulan September, tanggal 3-4, dan setelah rayu sana rayu sini, yang tidak mau berangkat adalah Marissa. Ketakutan Marissa ternyata benar! Muara Angke memang horor! Sandal jepitku copot karena menginjak tanah yang sangat benyek dan bau. Sekarang aku mengerti, kawan-kawanku juga mengerti, mengapa Ahok ingin merelokasi wilayah pesisir laut utara Jakarta ini. Ada kesedihan ketika melewati Muara Angke. Anabel rasanya pun sangat bersedih karena melihat masyarakat yang berdesak-desakan masuk ke dalam sebuah kapal besar berkapasitas ratusan orang. Ada yang tujuannya pergi piknik seperti kami, namun juga banyak yang pulang ke rumahnya – ke Pulau Pramuka ataupun Pulau Harapan. Continue reading

Thanks, Comrade!

Saya ingin membicarakan seseorang, bukan tentang sahabat kos yang selalu ada untuk saya, yang hampir selalu menghabiskan waktu liburan dan jam pulang kantornya ber-haha-hihi bersama saya, juga bukan sahabat saya di Palembang, sahabat-sahabat naik gunung, dsb. Singkat cerita, ini tentang sahabat baru saya. Tiga bulan terakhir ini, di saat zat melankolis saya sedang tinggi-tingginya… lebih tepatnya adalah zat mengasihani-diri saya sedang merajalela, saya bertemu dengan Julie. Thanks! Saya tidak pernah tau bagaimana mengungkapkan rasa terima kasih saya selain menuliskan perasaan saya yang pasti sekali akan dan mungkin sedang dibaca oleh orangnya ini 🙂

Saya menulis ini sambil berpikir, “Ya ampun, Maya! Mengapa kau tuliskan dalam blog persoalan ini? Dibaca oleh semua orang toh jadinya?”. Memang rada lebay. Tak perlu dberitahu pun, saya sudah menyadarinya. Namun, siapa yang bisa menghentikan jari-jari ini untuk menuliskan kalimat yang mengalir begitu saja sekarang? Saya sendirian dan hanya sedang sms-an dengan ex-bf saya yang sangat baik, tapi itu pun bukan membicarakan persoalan mengungkapkan-rasa-terima-kasih-pada-sahabat. Cukup dan saya masih ingin melanjutkannya……

Seseorang yang menemani saya berdaimoku 1 jam setiap pagi sangatlah berarti bagi saya. Bangun pagi adalah hal yang mudah dilakukan dulunya, tapi sekarang menjadi hal yang sangat-sangat sulit, padahal saya “tau” dengan jelas bahwa kemenangan satu hari dimulai dari kemenangan pagi hari! Saya sedang berjalan menuju ke arah itu meskipun jatuh-bangun juga dalam prosesnya. Lebih tepatnya antara bangun dan menekan tombol snooze berkali-kali…

Tingkat mengasihani-diri saya ini bisa semakin parah jika tidak diimbangi dengan doa, dan memulai doa meskipun kita tau bahwa doa adalah satu-satunya strategi yang harus didahulukan sebelum lainnya, tetap saja sulit. Maka, keberadaan seorang teman seperjuangan sangatlah penting. Saya merasa menjadi seekor hewan-apapun yang terperangkap dalam lobang sangat dalam dan seorang-manusia sedang melemparkan tanah ke dalamnya untuk digunakan sebagai pijakan agar saya bisa keluar dari lobang secepatnya. Jika sudah begini, saya selalu merasa menjadi orang yang paling beruntung sedunia 😀

Kata “saling” sangatlah hebat. Jika sekarang saya menerima kebaikan dari seorang sahabat, maka tekad saya untuk selalu ada bagi orang lain pun semakin kuat. Patutlah hidup dengan seimbang, antara menerima dan memberi, memaafkan dan dimaafkan!

Thank you so much, comrade! Thank you! Love and hug – Maya.