Sunday Morning Sports

Kemarin, pagi-pagi sekali Ko Paul sudah menjemput saya dan Mari di kos saya dan menaikkan 2 sepeda pinjaman kami ke Mobil Pick-Up Ferarri-nya hahaha sebutan untuk pick-up merahnya, lalu bersama-sama dengan Kevin B. dan Rio yang mengalah duduk di belakang bersama sepeda-sepeda, kami menuju ke rumah Pak Yanto. Sebelum bercerita, saya kudu berterima kasih dahulu dengan Tangguh dan Damai atas pinjaman sepedanya. Thanks, temans!

Sesampainya di sana, Pak Aruji sudah menunggu sendirian dan tak berapa lama, Pak Yanto, Kevin, Derry dan Lio pun datang. Semua sepeda dinaikkan ke pick-up dan kami memulai perjalanan menuju ke tempat yang tidak saya duga sebelumnya, yaitu kompleks Gn. Nglanggeran di Patuk. Kami memang tidak tau hendak bersepeda ke mana dan tidak berniat tau juga hingga hari-H karena terlalu excited dengan ide tersebut hahahaha 😀

Kali ini adalah pertama kalinya saya bersepeda di wilayah pegunungan. Perjalanan ke sana pun baru kali ini saya lalui pada pagi hari sekitar jam 6 ketika kabut memenuhi daerah Wonosari. Saya memandang Jogja yang sangat indah di jalan sekitar bukit bintang, namun tidak bisa mengambil foto pada saat itu. Gunung Merapi dan Merbabu tampak samar tertutup kabut di kejauhan dan misty-scene pun tampak sangat indah.

nglanggeran_gakkai (2)

nglanggeran_gakkai (3)

Pada pukul 6.45 menit, kami memulai perjalanan dari pos polisi Patuk ke arah desa Ngoro-oro. Desa wisata yang kami lewati tersebut sangat asri dan belum terlalu banyak kendaraan bermotor. Jelajah alam dengan track naik-turun pada awalnya sempat membuat lutut saya lemas hahaha karena tidak ada olahraga dan pemanasan sebelumnya 🙂

Sesekali kami mendorong sepeda kami ketika jalan menandjak.

nglanggeran_gakkai (4) nglanggeran_gakkai (5)

nglanggeran_gakkai (6)

nglanggeran_gakkai (8)

Dalam perjalanan, pak Yanto sering mengambil potret dengan lihainya sambil bersepeda dan foto-foto yang dihasilkan olehnya pasti sangat bagus. Beberapa di antara kami tertinggal di belakang karena kecapekan dan saling mengobrol sepanjang perjalanan sambil melontarkan beberapa lelucon hahaha 😀

Continue reading

Advertisements

Nglanggeran after mid-term test

Nama tambahan dari gunung ini adalah “purba” sehingga lebih dikenal oleh banyak orang sebagai Gunung Api Purba Nglanggeran.

Konon beritanya, gunung ini telah ada sejak 60 juta tahun lampau sejak gunung Merapi pun belum terbentuk. Sejarah yang menakjubkan bukan? Cerita ini akan kumulai dari rute perjalanan. Dari Jogja, tidak ada kendaraan umum yang langsung menuju ke kaki gunung yang berada tepat di Desa Nglanggeran, Patuk, Kabupaten Gunung Kidul. Jadi, kita bisa naik kendaraan pribadi atau menyewa mobil. Sewa mobil 12 jam di Jogja untuk tipe city car, lebih kurang Rp. 250.000,- saja ditambah ongkos sopir Rp. 100.000,- sebagai pilihan atau sewa motor seharga Rp. 50.000,-.

Waktu tempuh dari titik pusat kota Jogja ke basecamp sekitar satu jam setengah. Umumnya rute awal akan melewati ringroad barat lalu berbelok ke arah Wonosari. Jalanan menanjak akan kita temui terus-menerus dimulai dari jalanan menuju ke Bukit Bintang. Boleh saja berhenti sejenak di Bukit Bintang untuk menikmati kilau lampu-lampu jalanan Jogja di keempat sisi ringroad pada malam hari yang terbentuk jelas. Beda halnya dengan panorama malam di puncak Nglanggeran yang menyajikan view Jogja secara keseluruhan. Ini fotonya:

View Jogja dari Nglanggeran

Ketika tiba di puncak bukit Patuk yang jalannya lebih luas, kita mengambil jalan ke kiri untuk masuk ke desa Ngoro-ngoro. Tanda lain belokan tersebut adalah adanya Pos Polisi dan Radio GCD FM. Kita juga akan menemukan banyaknya pemancar televisi di kiri kanan jalan, seperti Indosiar, TVRI dan SCTV. Setelah hampir tiba, kita akan disuguhi pemandangan tebing-tebing tinggi dengan persawahan yang sangat indah di sepanjang perjalanan. Itulah Nglanggeran. Posisi basecamp ada di sebelah kiri jalan dengan pahatan tulisan Selamat Datang yang cukup besar.

Pahatan berucap “Selamat Datang”

Perjalanan dimulai di titik ini. Kala itu, kami awali perjalanan dengan berfoto bersama di lima belas menit sebelum pukul 17.00 WIB. Terlambat satu jam setengah dari target awal. Perjalanan kali ini tepat di hari Kartini dan tujuh di antara kami berasal dari komunitas yang sama, yaitu komunitas belajar Ilmu Komputer di UGM.

Berdelapan di basecamp

Perjalanan menuju puncak dengan kecepatan santai sambil berhenti di beberapa lokasi yang bisa melihat pemandangan indah membutuhkan waktu satu jam setengah. Gunung api purba Nglanggeran menawarkan jalur yang bervariasi, mulai dari track tanah hingga jalur bebatuan dan tebing-tebing pendek yang bisa didaki tanpa alat. Kita tidak akan menemukan bonus jalan datar di hutan tertutup yang memperdengarkan kicauan burung di sepanjang jalan ini 🙂

Kemasan track di gunung pun sangat cocok untuk pendaki yang baru pertama kali naik gunung ataupun wisatawan non pendaki karena sulit nyasar di track yang sudah dibuat rapi dan bersih dengan beberapa alat bantu seperti tangga dan tali. Udara di sini pun tidak sedingin gunung-gunung lain, mungkin karena ketinggiannya yang hanya 700mdpl. Namun bila tiba di puncak dan angin berhembus kencang, jangan coba-coba tidak memakai jaket kecuali jika ingin melatih ketahanan tubuh.

Salah satu ciri khas yang menarik adalah jalur sempit yang diapit tebing tinggi, juga view tebing lumut di lokasi pandang pertama yang bisa kita temui. Biasanya, terdapat papan informasi untuk beberapa lokasi pandang yang bagus.

Celah sempit di antara tebing

Tebing keemasan karena diterpa sinar mentari

Lokasi perhentian kedua kami tepat di saat mentari hendak terbenam. Beruntung sekali sore itu cuaca cerah sehingga mentari terlihat bulat utuh bercahaya. Lokasi pengambilan foto di sini pun sangat strategis, yaitu di tanah datar tempatku berpijak mengabadikan moment dan tebing pendek tempat objekku mengambil foto.

Tebing didaki demi perolehan foto terbaik

Persawahan hijau diterpa mentari senja

Mentari perlahan meredupkan cahyanya

Continue reading