Menanglah dalam upaya-upayamu!

Saya merasa beberapa hari ini tidak tenang. Pasalnya, sore di Sabtu lalu saya membonceng teman saya, dan saya ditabrak oleh motor yang barang bawaannya berlebih, melebar di kiri-kanannya. Motor itu menabrak dari sisi kanan saya. Alhasil saya berusaha mengendalikan motor sehingga saya dan motor tidak jatuh, namun teman yang saya bonceng jatuh terguling. Kepalanya ada terbentur di aspal. Terbentur sedikit katanya. Ketika terbentur, dia sempat pusing lalu pusingnya hilang sampai pagi tadi. Siang ini lantas dia ke dokter, dan tidak bisa rontgen karena alat rontgennya rusak. Ya begitulah…

Penabrak nasibnya bagaimana? Dia hanya duduk di atas motornya, melihat ke belakang, melihat saya, motor dan teman saya, tanpa turun dari motornya. Lagaknya seperti sedang menunggu temannya datang dari belakang. Saya bilang ke dia silahkan pergi, tanpa meminta apapun. Ahhhh baiknya saya, atau gobl*k? Entahlah, kejadian itu berlangsung sekejap. Semoga teman saya tidak apa-apa. Hanya itu saja yang ada dalam benak saya. Ga. Sebenarnya ga itu saja. Saya khawatir minta ampun sampai berpikir yang tidak-tidak -_- husss…pergilah jauh-jauh pikiran jelek ini. Saya merasa sangat-sangat bersalah. Jika waktu bisa diputar, saya mau menggantikan dia dalam sakitnya.

Saya juga sedang backpain. Saya tidak tau penyebabnya apa, karena saya merasa tidak terkena apapun ketika insiden motor tersebut. Badan yang sakit hanya di sisi kiri belakang saya. Apa mungkin ini akibat karena saya menahan motor saya ya? Ehm…

Selain persoalan itu, di kantor pekerjaan saya juga sangat menumpuk, harus mengerjakan a, b, c,… Terkadang berpikir juga untuk fokus A saja dan meninggalkan B, C, D,… tapi belum bisa. Sepertinya dari dulu memang ga pernah bisa -_-

Memang selama bulan ini rasanya sudah sangat mengeluarkan energi. Seperti menguras energi habis-habisan…. Namun saya sangat puas dengan hasilnya 🙂

Hidup harus terus berlanjut, dan saya sekali lagi, harus terus menantang diri dengan tidak kalah pada kesulitan. Continue reading

Advertisements

200DC-2 D3 | Transportasi Pilihan Saya

Di Komuter

Ada 3 jenis alat transportasi yang selalu kugunakan di Jakarta sesuai dengan sikon-nya.

Pertama, MOTOR. Motor selalu nyaman digunakan ketika badanku dalam kondisi prima, ketika cuaca mendung tapi tak hujan, serta ketika jalanan Jakarta sedang tidak musim macet.

Kedua, TAKSI. Taksi paling cocok digunakan ketika saya harus pergi jauh di pagi hari. Ketika baru bangun tidur dan sedang mengumpulkan nyawa – disitulah saya akan sangat nyaman menelepon si tukang taksi. Lalu saya gunakan taksi ketika hujan, atau ketika badan saya sedang lelah —- atau juga ketika ini: Saya harus buru-buru sampai di pagi hari sedangkan saya belum mempersiapkan diri untuk bicara di hari itu. Di taksi saya bisa menyusun konsep yang akan saya bicarakan 😀

Ketiga, barulah KOMUTER. Jika saya punya banyak waktu, saya akan memilih jenis transportasi ini. Komuter hampir selalu penuh sesak. Oleh karena itu, gerbong khusus perempuan akan sangat membantu; setidaknya saya tidak perlu mencium beraneka aroma lelaki di gerbong campuran. Saya juga tidak pernah lupa membawa buku ketika berada di komuter.

Dulu-dulunya saya juga membawa buku di komuter, tapi tidak pernah sanggup saya baca karena hampir selalu ketiduran di sana. Mungkin ketika itu saya masih beradaptasi dengan lingkungan Jakarta. Perputaran tenang Jogja yang tiba-tiba harus saya tinggalkan; beralih ke sebuah lingkungan yang serba buru-buru; sampai-sampai banyak orang yang lupa caranya mengantri. Hal ini cukup menguras energi, tapi saya ingin tetap bergerak dengan kecepatan saya sendiri — meningkatkan kecepatan secara bertahap 😀

Pilihan transportasi lainnya, yaitu city-bus, angkot, metro-mini, dll….. Saya tidak pernah suka dengan transportasi selain 3 jenis yang sudah saya sebutkan tadi. Bukan apa-apa, hanya karena saya malas berpindah-pindah dari 1 halte ke halte lainnya. Perjalanan ini adalah milih pribadi, maka pilihlah alat transportasi yang sesuai dengan kenyamanan diri sendiri 🙂

200DC-2 D2 | Pertama Kali Lakukan Ini

Nah, inilah hal yang pertama kali kulakukan dalam hidup: membonceng teman yang belum pernah dibonceng motor sekalipun selama 30 tahun hidupnya. Dia seorang teman baikku yang baru 🙂

Orangnya sangat menyenangkan, dan tambah riang gembiralah dia meski hanya dibonceng dalam jarak sekitar 100 meter. Hatiku pun sama. Riang gembira 🙂

Hari-hari selanjutnya kudu melakukan hal-hal baru lagi. Misalnya: mengikat tali sepatu di tengah jalan raya Jakarta yang padat. Itu hal yang sangat mungkin loh 😀