Belajar dari Gunung

Seringkali gunung tergambar dalam bentuk segitiga, artinya lebar di bawah dan mengerucut ke atas. Level Top Management pun berada di tingkat teratas. Posisi teratas sebanding dengan tuntutan kemampuan lebih yang tidak hanya pakar dalam hal teknis dan konsep, namun harus jeli menganalisis permasalahan sebagai dasar penentuan kebijakan. Piramida rantai makanan juga demikian. Posisi teratas menunjukkan siapa yang lebih kuat, seperti elang -> ular -> tikus. Hirarki kebutuhan manusia yang digambarkan oleh Maslow juga, dan masih banyak lagi contoh dalam kehidupan nyata yang terwakili oleh pola tersebut, bahkan tingkat kesadaran manusia pun diasumsikan seperti gunung es. Para pakar menyebutkan bahwa alam bawah sadar manusia adalah akar dari sebuah piramida dan akar tersebut tak kasat mata. Artinya apa?

Saya ingin mengajak pikiran saya untuk melihat persamaan gunung dan kehidupan nyata.

Alam Bawah Sadar = Persiapan pendakian di desa terakhir/kaki gunung.

Menuju apa yang disebut “Top” pada sebuah gunung seringkali mengharuskan kita melewati beberapa gunung yang lebih rendah terlebih dahulu. Di sisi lain, kita akan selalu menjumpai desa terakhir, yaitu desa tertinggi sebelum menuju titik pendakian. Kadang, desa ini bukan bagian dari sebuah gunung. Saya menganggap desa dan gunung-gunung rendah tersebut sebagai alam bawah sadar kita. Kita berbicara tentang hal mendasar, yaitu posisi akar yang sama-sama “tak terlihat”.

Di sanalah kita akan mempersiapkan diri, baik kebutuhan logistik, porter maupun persiapan fisik dalam wujud aklimatisasi. Aklimatisasi di kaki gunung sangatlah penting karena manfaatnya yang sangat besar untuk menyamakan suhu badan dengan suhu lingkungan, mengatur kadar oksigen maupun ketinggian. Waktu aklimatisasi yang dibutuhkan akan berbeda bergantung pada gunung yang dituju, bisa selama beberapa hari, minggu dan bulan.

Persiapan di kaki gunung inilah yang akan menentukan keberhasilan dari sebuah pendakian. Sama halnya dengan alam bawah sadar yang akan menggerakkan alam sadar kita. Apa yang kita yakini, apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan, dan apa yang akan kita perjuangkan sebagai idealisme kita akan menentukan keberhasilan kita. Bekal yang kita miliki akan menjadi sangat berguna seperti mesiu yang digunakan oleh prajurit perang. Ups salah contoh hahaha kenapa sampai mesiu ya? Maksudnya, kerja apapun yang penting adalah keputusan awal dan state of mind kita.

Lembah = Masalah.

Ada gunung-gunung yang mengharuskan kita berjalan naik-turun untuk sampai ke “Top”. Kondisi harus turun ke lembah untuk naik ke tempat yang lebih tinggi sama saja dengan masalah-masalah yang kita hadapi. Masalah ada untuk meningkatkan kualitas diri kita. Artinya, jika kita dapat mengatasi satu masalah, seharusnya tidak akan menjadi masalah lagi ke depannya. Kita harus selalu bisa belajar dari sebuah masalah. Siapa yang mengatakan tidak ada pemandangan bagus di lembah? Lihatlah edelweiss yang bermekaran di lembah sebelum kita melewati jalur yang hanya dipenuhi oleh batu dan pohon Cantigi.

Jangan terlalu lama di lembah hanya karena terpesona dengan sebuah keindahan dan jangan terlalu lama berkutat dengan masalah yang itu-itu saja. Keluar dari lembah dan lihatlah jalan menuju puncak! Ketika kita berada di tempat yang lebih tinggi dari masalah, kita akan melihat secara holistik dan dari sudut pandang yang berbeda. Kita melihat keseluruhan lembah 🙂 Continue reading “Belajar dari Gunung”

3 Tahun, Terangkum dalam 3 x 30 Menit

Aku mengatakan pada diriku saat ini, “Aku memiliki waktu 30 menit untuk menuliskan apa yang sudah kulakukan di Jogja selama ini secara singkat.”

Aku merasa sangat perlu memikirkan kembali hal ini, lantas akan kulupakan. Menuju ke masa depan, kadang kala masa lalu cukup diambil hikmahnya saja. Tak perlu membayang-bayangi langkah kita. Catatanku tentang apa saja yang kulakukan dan kapan, dengan siapa aku bertemu, apa yang kami bicarakan, sepertinya selalu kusimpan dengan baik. Permasalahannya adalah, data-data tersebut masih berupa puzzle yang belum terangkum. Kurasa, aku belajar mendokumentasikan hidup dari papaku. Beliau orang yang sangat rapi, bahkan melebihiku.

Baiklah, mari mulai mengingat, menulis dan melihat sedikit contekan.

2010

  • 28 Februari, aku mulai menghitung jumlah daimoku secara resmi. Hingga tanggal 16 Maret, ci Rita menemaniku berdaimoku bersama setiap malam. Saat itu, ada 2 doa yang harus tuntas. Pertama, memutuskan apakah aku benar-benar akan mengambil S2 dan membentuk Pundarika di Palembang. Daimoku 1 juta pertama ini dicapai pada tanggal 4 Januari 2011.
  • 28 Februari ini, Tua Ang, teman pemudiku di Palembang berulang tahun. Esok harinya, tanggal 1 Maret, beliau wafat dengan tenang.
  • 15 Mei, aku menghadiri Women Peace Conference yang diselenggarakan oleh Soka Gakkai Indonesia dengan menghadirkan Seko Ong sebagai pembicara seminar yang inspiratif dan membangun. Isi dari seminar ini menguatkan hatiku sewaktu mendengar berita kegagalanku dalam ujian masuk di ITB.
  • 29 Mei, terburu-buru aku berangkat ke Yogyakarta. Saat itu adalah hari Sabtu, sedangkan Senin tanggal 1 Juni, kuliah Pra S2 perdana dimulai di Kampus UGM. Ya, akhirnya aku kembali ke pilihan pertamaku, yaitu UGM. Ternyata, kota yang kuinginkan adalah Yogyakarta, bukan Bandung. Ibu Yani banyak sekali membantuku mengurus kehidupan awal di kota Yogyakarta.
  • 30 Mei, perayaan hari Wanita dilaksanakan di Palembang. Kegiatan pertama yang tidak kuikuti di Palembang dan jumlah peserta tidak mencapai target. Aku tidak berjuang. Saat itu, Ci Rita mengatakan bahwa aku harus membuat evaluasi sehingga kegiatan yang akan datang dapat mencapai target. Aku belajar banyak dari kegagalan itu.
  • 31 Mei, kuliah pra S2 dimulai. Kuliah ini berlangsung hingga pertengahan Agustus. IPK ku memenuhi target. Kurasa, pada saat itu aku adalah orang yang paling bahagia di dunia 😀
  • 6 Juni, pertama kali aku mengikuti Pertemuan Diskusi di Shibu Yogyakarta. Tanggal itu juga, di Jakarta diadakan rapat pimpinan Generasi Muda se-Indonesia dan pertama kalinya sejak tahun 2005, aku tidak menghadiri rapat tersebut. Di Pertemuan Diskusi pertama itulah aku bertemu dengan Apri, Puput dan Keiko san. Tanggal itu adalah tanggal yang sangat bersejarah bagiku.
  • 24 Juli, pertama kalinya aku berangkat ke Jakarta naik travel mengikuti Bunkasai Generasi Muda di Honbu.
  • 17 Agustus, aku melaksanakan kampanye daimoku yang biasa dilaksanakan setiap tahunnya oleh Divisi Pemudi untuk mendoakan kedamaian dan kemakmuran Negara Indonesia.
  • 29 Agustus, aku mengikuti Ujian Buddhisme Tingkat Menengah di Yogyakarta bersama 2 orang lainnya.
  • 31 Agustus, aku pindah ke kosku sendiri, yaitu kos Coklat di Condong Catur, Mancasan Lor. Sebelumnya, aku menempati kos Ibu Yani karena Ibu Yani pulang ke Palembang selama liburan semester.
  • 2 September, kuliah Perdana.
  • 13-15 September, aku bersama Ajhies dan Puput naik Gn. Slamet via Kaliwadas. Ini adalah satu-satunya gunung yang kudaki pada tahun 2010. Saat itu keinginan mendaki sudah tidak terbendung lagi hahaha
  • 16 September pukul 00.35 WIB, ternyata engkongku wafat. Orang tuaku tak memberitahukan padaku. Baru keesokan paginya, aku mendapat kabar. Itu pun dari seorang teman. Mereka benar-benar tidak mau membuatku khawatir. Pada hari itu juga, aku segera naik kereta api ke Jakarta dari Banyumas, lantas naik pesawat ke Palembang yang tiketnya dibelikan dahulu oleh Ilham, teman naik gunungku. Satu-satunya jatah tiket kereta api yang tersisa pada H+3 lebaran tersebut diberikan oleh teman-temanku untukku dan mereka sendiri menunda kepulangannya. Sungguh terharu dan berterima kasih pada mereka.
  • 17 Oktober, aku menerima GOHONZON. Dulu sebelum ke Jogja, ci Evi mengatakan padaku lebih baik menerima Gohonzon di Jogja dan aku merealisasikannya. Seharusnya Gohonzon ini kuterima pada tanggal 19 September, namun saat itu adalah hari penutupan peti jenazah Engkongku.
  • Akhir Oktober ketika sedang UTS di Kampus, Merapi meletus dan aku mendaftarkan diri menjadi relawan di Jalin Merapi. Pengalaman ini berlangsung selama 4 bulan dan tak terlupakan.
  • 20-21 November, Seko Ong kembali datang ke Indonesia untuk memberikan Seminar dan aku menghadirinya. Aku selalu belajar banyak darinya.
  • 5-7 Desember, Rapat Pimpinan Soka Gakkai Indonesia diadakan. Beberapa minggu sebelumnya, Urara san menanyakan padaku apakah bersedia menjadi Ketua Pemudi Shibu Yogyakarta dan aku menjawab iya. Usai rapat, aku baru mengetahuinya bahwa belum ada laporan resmi ke Jakarta dan semua biaya transportasi dan akomodasiku ternyata ditraktir oleh Pimpinan Shibu Jogja hahaha terima kasih 🙂
  • Malam tahun baru kuhabiskan dengan ex-bf ku dengan berkeliling kota Jogja dan tepat tengah malam, aku berdaimoku menyambut tahun baru.

Wow, menulis cerita tahun 2010 saja memerlukan waktu 30 menit haha padahal tak berhenti menulis. Baiklah, itu batas kecepatanku. Satu jam lagi, tulisan ini pasti usai. Continue reading “3 Tahun, Terangkum dalam 3 x 30 Menit”

……masih terus berjuang!

Hari ini, aku ingin menuliskan dua kalimat dari Ikeda Sensei:

Betapa pun mengantuk dan capeknya Anda, hanya ketika Anda menang atas diri sendiri, Anda akan memiliki hari kemenangan.

dan

Orang kelas satu tidak memandang usia atau kedudukan, tidak pernah berhenti belajar dengan rajin dan mau mendisiplinkan diri mereka sendiri.

Selanjutnya, aku ingin mengeluhkan menceritakan tentang kesehatanku. Entah apa penyebabnya, akhir-akhir ini kepala di bagian belakang dekat tengkuk leher rasanya sering sakit pada saat bangun tidur maupun dalam kesehariannya. Kolestrol? Tidak juga, karena aku sudah tak makan daging lagi dalam seminggu ini. Rasanya memang sedikit berat melewati hari dengan sakit seperti ini. Kadang, telinga bagian belakang juga nyeri. Mataku tiba-tiba suka tidak bersahabat jika terlalu lama di depan komputer. Namun, hal ini bukanlah masalah besar sekarang. Aku bersyukur bahwa tubuhku masih dapat memberikan respon seperti ini. Masalah besar justru terjadi jika hal ini berlarut-larut tak kuatasi.

Aku akan mulai mengubah pola makanku dengan makanan yang lebih bergizi, higienis dan berserat. Plototin komputer tidak akan terus-terusan, namun memberikan jeda agar mata dan tulang belakang bisa beristirahat dengan baik. Aku juga akan mengubah pola tidurku dengan tidur sebelum pukul 1 malam dan bangun sebelum pukul 7 pagi. Aku akan rutin jogging 2x seminggu pada hari Selasa dan Jumat untuk meningkatkan daya tahan tubuhku, untuk melatih lutut dan pergelangan kakiku yang bermasalah. Aku akan tetap membiasakan diri untuk menegakkan tulang belakangku dalam menulis, membaca, berjalan, berdoa, termasuk ketika beraktivitas di kamar mandi hahaha

Dalam proses kembali ke ritme makan seperti biasa, aku membeli beberapa makanan favoritku lagi. Sejak pertengahan tahun lalu, aku cukup mengencangkan ikat pinggang dalam soal makan karena harus mengatur uang dengan keperluan travellingku. Sekarang, di saat aku tidak akan ke mana-mana, aku akan kembali mengalokasikan uangku untuk keperluan peningkatan gizi. Setidaknya, nanti jika wisuda, wajahku sedikit chubby hahaha seperti kata papaku setiap kali bertemu, pasti beliau akan mengatakan, “Maya, gemukkanlah sedikit badanmu itu supaya bagus, apalagi pipimu, terlihat seperti orang yang kekurangan makan saja”.

Aku jadi ingat satu cerita di bulan September lalu sewaktu mau kembali ke Jogja dari Palembang. Papaku bahkan membelikanku susu kental manis cap bendera untuk kubawa ke Jogja agar bisa kuminum bersama susu Milo. Ya ampun! Seperti di Jogja tidak ada orang yang menjual susu saja hahaha aku selalu merasa terharu dengan bekal yang dibelikan papaku ketika hendak kembali ke tanah rantau ini. Pernah juga sekali waktu, beliau membekaliku dengan minyak angin aroma terapi yang katanya sangat bagus buatku. Bahkan, minyak angin itu pun sebenarnya banyak dijual di Jogja. Hidupku di Jogja, yang pasti, cukup jauh dari bayangannya 🙂

Ritz yang hanya dijual di Carefour Jl. Adi Sucipto Continue reading “……masih terus berjuang!”

Fokus

Semakin banyak sumber daya (resources) seharusnya samakin memudahkan kita dalam memahami suatu hal. Sulitnya justru karena hasil yang tercapai adalah memahami banyak hal, namun hanya sepotong saja. Apa yang kita pahami sebagai holistik atau utuh bukanlah perkara mudah karena pertama-tama yang harus kita lakukan adalah fokus pada suatu hal. Satu hal demi satu hal. Fokus seperti luv yang menghasilkan titik api jika dikenai cahaya mentari dalam waktu tertentu yang konstan. Sepuluh ribu jam – itu yang diyakini secara internasional, yaitu banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang profesional. Fokus mengerjakan sesuatu seolah-olah kita tidak dapat melanjutkan hidup jika belum tercapai.

Fokus hingga akhir tahunku setelah beruntung lulus sidang proposal dengan revisi sana-sini adalah menyelesaikan kuliah. Jika fokus tersebut lebih difokuskan lagi atau lebih tepat dinamakan plans untuk mencapai goal, maka terdapat lima hal yang harus dituntaskan. Pertama adalah menguatkan konsep tentang apa yang akan dibuat secara rinci dan mempelajari tools yang akan digunakan. Misalnya java, jadex, xml, prometheus dan k-means clustering. Kedua hingga kelima adalah menyelesaikan tahap analisis, rancangan, implementasi dan berakhir dengan pengujian.

Semua hal harus direncanakan. Spontanitas sesungguhnya adalah rencana-rencana matang yang berbuah kebiasaan sehingga spontanitas hanya mengeluarkan saja apa yang sebenarnya sudah melekat dalam diri kita. Gagal merencanakan sama saja dengan merencanakan untuk gagal. Setidak-tidaknya itu yang dikatakan oleh seorang tokoh yang namanya terlupakan olehku.

Kota impianku!

Satu-satunya jalan sembuh dari patah hati adalah dengan daimoku yang tuntas untuk menghapus kesedihan.

Iya, sy akan melakukannya! ^_^

29 Mei 2012 – Kututup dua tahun di Jogja dengan perasaan demikian. Perasaan ini muncul karena memiliki teman-teman terbaik di sampingku, esp teman-teman kos D, kampus A, kerja T dan Gakkai Y. Senang memiliki kalian semua. Aku tidak akan menjalankan masa depanku dengan seseorang yang sebenarnya aku selalu takut dengan apa yang akan kudapatkan ketika bersama dengannya. Mungkin saja itu bukan kebahagiaanku 🙂

“Fokus kuliah, baru urusan cinta”, seorang temanku berkata. Setuju, teman! Fokus menjadi Maya yang bahagia sekarang 🙂

Waktu memang berlalu dengan sangat cepat. Kegembiraan terasa cepat dan penderitaan terasa lama. Kini, dua tahun masih terasa seperti dua jam total penerbangan di hari pertama aku datang – Sabtu tahun 2010 dengan rincian Palembang-Jakarta selama 1 jam dan Jakarta-Yogyakarta selama 1 jam. Sesampainya di Airport Adi Sucipto, aku seperti berada di negeri asing saja dengan rasa takjub yang tak kunjung hilang bahkan sampai hari ini. Kota impianku! Ya, aku telah hidup selama dua tahun di kota impian yang telah kunantikan sejak tahun 2001 dan aku puas! Misi terakhirku adalah mengakhirinya hingga akhir tahun dengan indah.

Tiga bulan selanjutnya hingga bulan Agustus, yang kuingat adalah aku begitu sungguh-sungguh belajar di sini karena hanya ada dua pilihan saja saat itu. Jika lulus program matrikulasi pra-S2, aku akan tinggal selama 2 tahun di Jogja. Jika tidak, aku tidak tau apa yang harus kulakukan karena aku tak membuat plan B untuk gagal. Tiga bulan itu juga aku bangun setiap pukul 5 pagi untuk berdaimoku selama 1 jam. Wow. Tiga bulan itu adalah masa lalu. Sekarang, aku harus menarik kebiasaanku kembali untuk diterapkan pada tiga bulan ke depan di saat sekarang – 2012. Chant more, study more!

Berbicara tentang kesuksesan dan kemenangan, kita bisa berbicara perbedaan antara champion dan winner. Jika aku tak salah menafsirkan perkataan Ms. Seko Ong, champion adalah orang yang selalu menang, bukan kadang menang dan kadang kalah. Teringat juga aku dengan perkataan salah satu pendamping OSISku di zaman SMA bahwa meski kalah dalam peperangan, kita tak boleh kalah dalam pertempuran. Hidup harus terus berlanjut, maka hanya ada satu pilihan yaitu terus maju menuju target selanjutnya! Menang melawan kenegatifan diri sendiri! Fightooo….