Penggalangan Dana untuk Padang

Malam hari ini,
ditemani hujan lebat yang mengguyur kota palembang,
aku memikirkan sesuatu.
Terlalu banyak bencana yang terjadi,
baru-baru ini di ranah minang,
seorang saudaraku pun tak luput ditelan gempa 7.6 SR bersama ribuan korban lainnya.
Bagi kita yang jauh dari malapetaka,
masalah yang dihadapi pun berbeda.
Bukan lagi persoalan dengan alam,
namun kita ribut dengan masalah-masalah pribadi,
keluarga, pekerjaan, hobi, dll…
Aku bersyukur bahwa teman-teman di STBA Methodist,
senin ini akan melakukan donor darah massal,
dan tentu saja penggalangan dana.
Ruang gerak tidak hanya di simpang lampu merah,
namun sudah merambah ke mall-mall, sekolah-sekolah dan tempat umum lainnya.
Teman-teman di STT dan STIE Musi?
Ya, ada juga penggalangan dana.
Di surat kabar,
tak terdengar lagi ada partai-partai yang berpartisipasi mendirikan posko siaga bencana.
Semuanya hilang tak berbekas…
Atau, telingaku yang tak menangkap suara-suara itu?

Karrimor Trail 35L

Seneng banget! Akhirnya kudapatkan juga Daypack di Edelweiss, tempatnya Bang Adi.
Harganya lumayan, mengorbankan gaji 2 minggu ^^
Sejujurnya aku kurang tau mengenai produk dan merk, pilihan hanya mengikuti kebutuhan dan kata hati 😀 Mudah-mudahan kali ini tidak salah pilih.
Spesifikasi dari daypack 35 Liter, kode produk 1SS07R114 dengan berat 1275 gram, yaitu:

  • Superwick back with windtunnel
  • Haul loop
  • Hydration system compatible
  • Women’s Specific Design
  • Raincover
  • One main compartment
  • Removable sitmat
  • Key clip
  • Progress fixed side pockets
  • Pocket in lid
  • Large front pocket
  • Mesh stash pockets
  • Zipped hipbelt pockets
  • Elasticated chest strap
  • Ice axe strap and lash attachment
  • Lid compression bungee cord
  • YKK zips
  • Lifetime Guarantee

Referensi: http://www.sewsoon.co.uk/bmf/karrimor/1SS07R114.htm

Batal ke Kerinci

Kemungkinan besar, aku tak jadi menjelajahi Gunung Kerinci hikz…hikzz…hikzzzz….
Akhirnya, buat rencana baru.
Lebaran nanti, antara tanggal 18-23, aku bersama teman-teman kantor (kalau jadi) akan ke Medan atau Padang. Hanya bisa pilih salah satu. Lagi-lagi rugi deh…. rugi karena liburnya sebentar, so jalan-jalan jadi gak efektif, gak bisa sekalian hukzzzz….

Denger-denger dari teman Bandung,
akhir tahun ada Festival Gunung Puntang.
Pengen ikut………. tp ada Diksar Dempo.

Terus,
sempat dapat info kalau Yayasan Survival Indonesia mengadakan “Kartini Jungle Survival” tiap tahun. Pengen juga ikut….

Wah, banyak kemauan neh.
Harus berjuang mewujudkannya!

Jalan Pagi

Semangat memulai pagi hari dengan olahraga telah kumulai sejak hari ini.
Setiap pukul 05.30 – 06.30 dari hari Senin-Jumat, aku akan lari pagi…. uhui….
Setiap Sabtu, aku akan belajar berenang…

Motivasi awalnya adalah: KERINCI!
Secara tak sengaja, kubaca status facebooknya Thea Arabella, koordinator untuk tim Survival sewaktu acara Jambore Petualang Indonesia 3 di Ranca Upas Kemarin.
Dia menulis: “Kerinci…. Kerinci…. Kerinci……”
Aku langsung terhipnotis untuk ikut merasakan indahnya Kerinci sebagai gunung ke-2 yang akan kudaki…
Aku pasti akan banyak merepotkan mereka bila fisikku lemah dan hal tersebut harus segera diatasi.

Maka, jadilah olahraga sebagai rutinitas baruku.

Sekelumit oleh-oleh dari Jambore Petualang Indonesia III

Sedikit foto untuk mengawali narasiku:


KAWAH PUTIH, CIWIDEI




RANCA UPAS, CIWIDEI


MAPERPA, SUMEDANG

 

Ranca Upas, 8-9 Agustus 2009

Sebulan silam, aku menghadap ke Ketua STT Musi dan berkata bahwa keinginanku untuk mengikuti Jambore Petualang Indonesia sangat besar meskipun kontribusi secara langsung terhadap STT Musi tidak ada. Namun, demi pengembangan diri, aku pun nekat menghadap beliau dengan ichinen positif. Setelah kupikir-pikir, bukan hanya persoalan pengembangan diri, namun getaran, hasrat, keinginanku berpetualanglah yang mendorongku untuk mengikuti acara tersebut.

23 tahun, seringkali aku camping dan travelling ke beberapa kota di Indonesia, namun baru 1 kali “muncak” di Dempo dan 2 kali di Kaba. Makanya, setiap ada kesempatan berpetualang, akan kuambil! Dalam jiwaku, nafsu dan emosi untuk berpetualang sangat besar. Namun, seorang pekerja yang terikat waktu sangatlah sulit membagi waktu.

Kuliah, aku mengikuti banyak kegiatan outbound, aku sempat menjadi tim dan volunteer di beberapa EO dan organisasi semacam itu.
Di semester 7, aku memutuskan untuk mengambil kuliah Sastra Inggris di STBA Methodist.
Dan, tanpa disengaja, doaku terjawab. Aku bisa menjadi anggota MAPALA. Mahasiswa Pecinta Alam.
Bahagianya diriku, meski mengikuti Diksar yang sengsara, pelatihan terberat yang pernah kuterima!

Berawal dari tahun 2007 itulah, nafsu terpendam untuk berpetualang kembali bangkit dan akhirnya mengantarkan kami bertiga, dengan modal nekat, berangkat untuk mengikuti JPI di Ranca Upas, Bandung.

Tanggal 6-7 Agustus 2009,

Terima kasih Kak Budi yang telah rela mengantarkanku ke Stasiun Kertapati untuk berangkat ke Lampung bersama kedua seniorku, Mbak Ayak dan Mbak Wulan dengan Kereta Api kelas ekonomi seharga Rp. 15.000,- saja.
Terima kasih Bang Fuad yang menjadi teman ngobrol sepanjang perjalanan dan mengantarkan kami ke Mobil Travel seharga Rp. 25.000,- untuk perjalanan dari Stasiun Tanjung Karang ke Pelabuhan Bakahuni.
Namun, nasib sial membawa kedua HP seniorku di Musholla Kapal dengan karcis Rp. 10.000,-, hilang begitu saja…
Lihatlah, hanya Rp. 50.000,- yang dihabiskan untuk biaya “ngeteng” dari Palembang ke Pelabuhan Merak.
Dari Merak, kami naik Bus Arimbi VIP seharga Rp. 45.000,- ke Terminal Leuwi Panjang, Bandung.
Dari sana, barulah naik Damri seharga Rp. 5.000,- ke Terminal Ciwidei dan akhirnya, biaya terakhir yang harus dikeluarkan untuk sampai ke Ranca Upas juga sebesar Rp. 5.000,-.
Sangat murah, namun dibutuhkan kehati-hatian dan kewaspadaan!

Ternyata perjalanan panjang selama +/- 25 jam membuahkan hasil yang memuaskan.
Pertama, menambah pengalaman “ngeteng”, kita jadi tau ongkosnya.
Kedua, bertemu dengan beragam macam orang, mengobrol bareng dan mengetahui buah pemikirannya.
Ketiga, banyak tukang ngamen yang “kreatif”, dan masih banyak lagi.

Pemandangan alam di sepanjang perjalanan sangat berbeda dengan kota Palembang yang tak ada gunung.
Sesampainya di Ranca Upas, kami langsung konfirmasi kedatangan dan membangun kemah di Subcamp Air, No. A.4.D. Menjadi peserta pertama yang hadir di kapling air di tengah sengat matahari membuat perkenalan pertama kami dengan Pak Pay menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Selanjutnya, makan siang dengan lauk “ayam goreng, sosis, mi dan nasi”. Meski kemah, makan harus tetap bergizi dunk ^^

Perlahan-lahan Camp Air terisi oleh teman-teman dari Malang, Yogyakarta, Bandung, Makasar, dll. Lantas, tanpa mau membuang waktu, kami bertiga bersama empat teman dari Jogja berekreasi ke Kawah Putih. Ongkos Rp. 1.000,- menghantarkan kami ke pintu gerbang masuk Kawah Putih, bayaran Rp. 10.000,- untuk masuk ditambah Rp. 20.000,- untuk sewa mobil ke Kawah termasuk mahal bila dibandingkan mengendarai kendaraan sendiri. Lagi-lagi, impianku sejak tahun lalu untuk menginjak Kawah Putih tercapai. Bahagianya ^^ Aku harus minta maaf dulu dengan Ci Lenny karena mendahuluinya ke sana, padahal sudah janji mau pergi barengan hehehe…

Sepulang dari sana, lokasi perkemahan yang dibagi menjadi Subcamp Air, Tanah dan Udara sudah nyaris penuh. Namun, acara baru dimulai esok hari. Satu hal lagi yang harus kutambahkan adalah aku begitu terpesona dengan sepeda bongkar-pasang yang dibawa oleh teman dari Bandung yang tendanya tepat di depan tenda kami. Dengar-dengar, sepeda rakitannya seharga Rp. 8 juta. Lumayan juga kan?

Malam hari terasa sangat dingin. Jaketku yang sangat tebal pun tak bisa menahan hawa dingin yang sangat menusuk. Syukurlah, Mbak Wulan miminjamkanku sarung tangan. Ranca Upas dikelilingi oleh 3 gunung dan terletak di lembah, makanya atmosfer tempat itu selalu berkabut dan dingin sekali.

Satu hal yang tak terlupakan adalah perasaan saat itu. Kami benar-benar bersyukur bahwa Srikandi Flam’s-NL bisa sampai di Ranca Upas dengan selamat. Terima kasih Gohonzon, padahal selama kegiatan, tak pernah gongyo!

Keesokan harinya, aku bangun jam 6 pagi. Seharusnya, bisa lebih cepat untuk mengambil foto yang bagus sewaktu sun-rise. Jam 9 pagi, pembukaan dan dilanjutkan dengan mengikuti kegiatan pilihan. Kami mengambil materi Survival. Mengasyikan! Terlalu panjang untuk diceritakan secara detail.
Malam harinya, aku pun menyaksikan hal yang menegangkan. Bertemu dengan Riyanni Djangkaru, mimpi pun tak pernah! Namun, aku benar-benar mengidolakan host legendaries Jejak Petualang TV7 tersebut! Alasan utama adalah: Koq mau-maunya cewek terjun ke dunia yang seperti ini? Yang penuh mara-bahaya dan memacu adreanalin. Dia hebat! Yang lebih hebat lagi adalah Mas Dody, produser Jejak Petualang. Aku baru mengenalnya, namun sudah jatuh hati huehehehehehe…..
Overall, malam itu sangat dingin, namun aku merasa hangat. Hal itu berarti, kita mampu mengontrol rangsangan di luar diri kita seperti rasa dingin, takut, nyeri, dll melalui pikiran! Camkan itu, penting!

Rahasiaku adalah, hingga hari ini, 3 hari sesudah acara, otakku masih penuh keinginan berpetualang dan ingin mengikuti jejak Riyanni! Bukan menjadi dirinya, tapi meniru sikapnya! Wah, alangkah hebatnya dia!
MEREKA, mereka yang hebat, tak hanya dia.
Ada Kang Bongkeng dan Kang Herry Macam, para sesepuh Wanadri. Two thumbs up buat mereka. Bravo! Mas Aji juga, ya, semuanya hebat!
Aku yakin kehebatan itu diperoleh karena mereka tekun dan kerja keras!
Tak ada yang express, semuanya process!

Dua hari berada di sana sudah cukup untuk saling mengenal satu sama lain, bertukar informasi dan menjadi dekat.

Hari Minggu, 9 Agustus 2009 dimulai dengan penanaman pohon Ekaliptus bersama Duta One Man One Tree, Mas Denny. Awalnya, kusangka “bule” hehehehe, ternyata “Indo”. Wah, keren banget dan aku pun sempet foto berdua dengannya (huek narsis mode: on). Liputan keseluruhan acara ini dapat ditoton di stasiun TV Trans 7 jam 16.00 WIB tanggal 17 Agustus 2009 dalam program Jejak Petualang. Ada fun games juga, namun kami tak mengikutnya, malah sibuk berfoto-foto dengan teman-teman di Subcamp Air. At last, acara ditutup dengan pembagian puluhan doorprice. Benar-benar banyak, namun aku tak kebagian hahaha…. Syukurlah kemarin malam, kebagian satu buah kaos dari Indonesia Bertindak…

Sekitar jam 16.00 waktu itu, acara ditutup dan kami bertiga bersama 3 mapala dari GAPURA (Univ. Baturaja) dan seorang dari VIRUS BIRU (Master Komputer) serta beberapa panitia seksi keamanan langsung bertolak ke Sumedang, kampus Winaya Mukti, MAPERPA (Mahasiswa Pertanian Pecinta Alam). Aku sempat menginap 2 malam di sana, sedangkan teman-teman yang lain lebih lama karena mereka akan mendaki Gunung Salak dan Gunung Ciremai. Ingin sekali sebenarnya pergi bersama mereka, namun aku harus bisa menahan diri. Tanggung jawab yang diemban harus dipertanggungjawabkan. Izinku hanya sampai tanggal 12, maka aku pun pulang seorang diri dengan bus Harum Sari di tanggal 11 dengan harga tiket Rp. 230.000,-. Beberapa kali naik Harum Sari, aku menyadari bahwa bus tersebut adalah bus favoritku. Maka, kurekomendasikan buat teman-teman yang akan berpergian untuk naik bus ini saja hahahaha…. (minta bagiannya dunk, om pemilik bus ^^)

Akhirnya, sekarang aku sudah ngantuk dan malas menulis lagi. Maklum, belum istirahat dengan pulas sama sekali sejak tanggal 6 silam.

Target kami, putri sriwijaya adalah: Sebelum lulus kuliah, Rinjani harus digapai!
Oleh karena itu, aku bertekad untuk belajar berenang dan menyelam dalam waktu dekat ini!

Terima kasih untuk ber-Jambore

Aku hanya memindahkan tulisan Mas Aji Rachmat, sang ketua JPI 3 yang telah dikirimkan lewat Facebook via Jejak Petualang Community:

…. persaudaraan 1100 Petualang Indonesia (peserta, panitia, narasumber, tim pendukung dan tamu undangan) kembali rekat saat beraktifitas sambil menikmati dinginnya Ranca Upas di ajang Jambore Petualang Indonesia…

Alhamdulillah acara berlangsung lancar tanpa halangan berarti…
para peserta menikmati kegiatan pilihannya, 1000 pohon telah ditanam, keakraban sangat terasa dalam beragam canda dan tawa dan permainan serta ratusan hadiah dari sponsor pun telah diperebutkan….

Semangat dan antusiasme semua partisipan sangat LUAR BIASA..
tanpa kehadiran teman teman dan keterlibatan total para peserta di acara yang kami gelar, JPI ini bukan berarti apa apa…. diskusi, tanya jawab, kesediaan membawa peralatan, dialog yang tak kunjung habis hingga saling tukar pengalaman diantara partisipan menjadi penyemangat kami sebagai panitia….

Para narasumber, intepreter dan bahkan para tamu undangan pun terlibat aktif mensukseskan acara ini….

Bakosurtanal yang juga memberi kejutan dengan mengirim tim terbangnya memantau JPI, SIOUX yang membawa “anak anak ularnya”, penulis pengelana yang mengajak menulis indahnya alam, mas Roy Genggam dengan Keluarga Cemara yang berbagi tips fotografi di alam, serta Eiger Adventure ServiceTeam yang membangun kawasan survival sebagai tempat berlatih bertahan hidup di alam.

Begitu juga teman teman Tree Climbers Organizations yang menggelar pengetahuan tanaman obat dan tim dari RIMPALA yang menemani peserta untuk intepretasi hutan, tim JP community dengan ramah mengajak para keluarga bermain main dilokasi serta tim B2W dan Polygon yang menelusuri jalur bersepeda ke situ patengang….

semua lengkap hadir dan bersemangat…
Kesempatan untuk berinteraksi tidak dilewatkan begitu saja oleh para peserta dengan narasumber yang profesional ini…

para tamu yang hadir…
Kang Heri Macan Ketua Yayasan Survival Indonesia, Kang Bongkeng – wanadri yang juga sesepuh EAST, host legendaris kita Riyanni Djangkaru, host JP Syifa Kumala serta host petualang liar Ulung Putri serta crew Jejak Petualang Trans7 meliput acara… saksikan liputan jambore petualang ini pada tanggal 17 Agustus 2009 yang akan datang pukul 16.00 di Program Jejak Petualang Trans7.

Terima kasih dan penghormatan yang tulus kami sampaikan kepada para tamu yang hadir… karena hanya itu yang bisa kami berikan…

Gak ketinggalan rombongan keluarga Indonesia Bertindak, teman teman dari WWF,Walhi, Greeners Magazine,Jakarta Green Monster, Green Map serta Greenpeace yang berbagi isu konservasi serta cinta Indonesia nya ke peserta. Kolaborasi Petualang dan kalangan konservatoris harus terus menerus di failitasi ke depan….

Kehadiran dan totalitas semua pihak terlihat akrab di ranca upas…
Kolaborasi kerja, loyalitas dan dedikasi tim panitia sangatlah solid dan tak kenal lelah… Dukungan para narasumber serta tim support sangatlah besar untuk berbagi pengetahuan dengan peserta….

Salam Khusus Kepada para panitia inti JPI…..

Salute buat semua lini panitia…
Teman teman telah bekerja dengan sangat baik….
Meski sibuk bekerja profesional di kantor masing masing,teman teman bisa mengatur irama kerja yang selaras dengan pelaksanaan jambore..

Meski tim panitia ini berasal dari beragam komunitas, satuan dan latar belakang, tapi terlihat tak ada sekat struktur yang tampak.
Semua mengerjakan yang harus dikerjakan dan yang perlu dikerjakan.
Semua mengambil andil untuk berperan maksimal.
Semua menjadi satu demi menyelesaikan yang sudah kita mulai bersama…..

Menjadi panitia adalah proses pembelajaran….
Komunikasi, koordinasi, benturan, beda pendapat bahkan rasa sakit hati, dihargai dan tidak dihargai adalah tahapan yang wajib dilalui…
Terima kasih untuk tetap komit pada tujuan kita….
tetap loyal pada pimpinan dan pada pekerjaan masing masing…

Teman teman panitia…
3 bulan lebih kita berkolaborasi menggelar event ini…
3 bulan lebih kita saling menutup kekurangan dan membangun sistem..
dan terbukti, formasi Panitia JPI ini sangatlah hebat ..
tim eksekutor yang paling solid yang pernah ku ajak kerjasama..

Atas nama diri pribadi selaku ketua panitia, Aji mengucapkan beribu permohonan maaf karena selama persiapan pastilah banyak melakukan kekhilafan, salah kata, salah sikap dan salah perlakuan yang kurang berkenan di hati teman teman…

Terima kasih..
semoga pengalaman ini berguna bagi kita semua dan memberikan bekal berharga untuk menghadapi dunia profesional.. amin.

Kepada para narasumber, intepreter, tamu undangan, Eiger Adventure dan semua sponsor, tim pers dan media, moderator beragam milist, pimpinan LSM dan semua pihak yang tak bisa kami sebutkan satu persatu… Terima Kasih..

Dedikasi dan dukungan semua pihak untuk Jambore kali ini menyuntikkan semangat kerja panitia dan mampu menghadirkan serta memuaskan para peserta. kolaborasi ini mungkin yang pertama kita lkukan, tapi berharap bukan jadi yang terakhir…

Maaf jika ada banyak khilaf..
saran dan masukan selalu kami tunggu dengan hati terbuka… 🙂

Kepada para peserta, para Petualang Indonesia….
Salam Hangat… salam Jambore….

Terima kasih telah memenuhi undangan kami….
Maaf jika kurang dapat memberikan pelayanan yang baik selama JPI, karena kesibukan panitia dalam menyelenggarakan kegiatan jadi kurang dapat meluangkan waktu untuk bercanda tawa di perkemahan kemarin..

Terima Kasih teman…
terima kasih karena telah menjadikan JPI ini pilihan kegiatan teman teman akhir minggu kemarin. Terima kasih telah berbagi dana, menyumbangkan tenaga, menyisihkan waktu dan kreatifitas untuk berkumpul bersama di jambore..

Terima kasih telah menjadi saudara baru kami.. keluarga besar jejak petualang community… kami tak kan lupa… 😉

Alhamdulilllah….
misi umum JPI tercapai…
JPI telah mendatangkan jpers (jejak petualang ers) se Indonesia…
JPI mempertemukan tokoh petualang senior dan petualang muda…
dan JPI telah membangun komitmen untuk berjiwa petualang yang bersemangat konservasi sembari mencintai Indonesia…..

JPI memang sudah berakhir….
tapi perjuangan belum selesai….
belum genap upaya kita untuk menjaga silaturahmi…
belum pupus upaya kita untuk bersemangat dalam berpetualang…

Semoga ini menjadi tolak awal hubungan yang lebih harmonis antar komunitas, kelompok pegiat alam, jajaran lembaga swadaya serta kalangan konservatoris ke depan….

Jika ada kebaikan dalam jambore kemarin, itu hanya karena turunnya Ridho dan Rahmat Allah SWT yang memberikan kemudahan, kelancaran, kelebihan dan kenikmatan yang Wajib kita syukuri… ..

Jika ada kekhilafan, itu adalah kekurangan panitia yang wajib untuk diberi pendapat, ide, saran, kritik dan masukan yang bisa di kirim ke email : jamborepetualang@gmail.com

. kami tunggu dan berharap ini menjadi mesukan agar kegiatan ke depan lebih baik…

Saudaraku….
Sampai kita jumpa lagi di lereng gunung yang anggun….
Sampai kita jumpa di hutan yang perkasa..
sampai jumpa di dasar gua yang indah dan megah..
sampai jumpa lagi di tepi pantai dandasar lautan yang luas
dan sampai jumpa lagi di jambore petualang yang akan datang…

Demi persaudaraan kita dan demi kejayaan Indonesia…
Amin….

Rasa terima kasih tersampaikan dengan haru dari lubuk hati yang paling dalam….

Ketua Panitia

Aji Rachmat
www.ajirachmat.multiply.com