Kucing dan Laki-lakinya

Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, telinga mendengarkan lagu yang entah apa judulnya, dan pikirannya sedang melayang. Matanya nampak hendak teteskan butiran air karena rasa rindu yang mendalam terhadap kucing-kucingnya…

Ia pernah, dan bahkan seringkali bercerita padaku kelucuan-kelucuan 2 kucingnya – si Melos dan si Kunyik – yang ia tinggalkan begitu saja di Jogja – sebuah kota seribu kenangan yang tiap ia ceritakan, aura rasa harunya terasa kuat.

Kini memang ia hidup juga bersama seekor kucing yang mempertemukan dirinya dengan laki-laki kesekian; yang padanya ingin ia berkomitmen.

Pada laki-laki itu, ia rasakan yakin. Ia masih saja percaya bahwa keyakinannya akan menggoncangkan semesta hingga dewa-dewi sepuluh penjuru berpihak padanya – memuluskan jalannya hingga ke pelaminan.

Ahhh itu terlampau cepat baginya…. atau cepat bagi orang-orang di lingkar satunya? Entah – Ia perempuan satu-satunya yang tau hasrat hidupnya sendiri – tentang laki-lakinya sendiri.

 

Advertisements

Berhenti.

Berbincang dengan sosok imajiner,

mengaburkan fakta dan fiktif,

jangan-jangan ini semua hanyalah praduga saja?

Kau percaya tidak, bahwa aku bisa melukiskanmu dalam jutaan kata,

merangkaikannya dengan semua yang melekat pada sosok lelaki,

karena memang begitulah kau dalam anganku,

dalam pribadimu yang tidak umum.

Perempuan susah ditebak, apa lelaki sepertimu lebih mudah?

Seperti bawang bombay, ujar temanku.

Mengupasmu sulit dan penuh dengan kepedihan.

Hingga selesai, kusadari, ternyata tidak kudapati apa-apa setelahnya.

Jika aku berhenti di titik ini, tidak akan menjadi masalah bukan?

Syair Cinta

Aku membaca syair-syair indah tentang cinta,

Trying Not To Love You – Mindi Waite,

Love – Sara Brouwer,

Waiting – Stephanie Hashway.

Aku menikmati untaian kata sebagai sebuah keindahan,

membawaku pada ketenangan semu,

yang sebenarnya justru membuatku semakin bergejolak.

Namun, tenang saja,

aku pandai bersandiwara menjadi orang yang tenang dan sabar,

aku percaya bahwa hati adalah urusan pribadi,

yang tak perlu diketahui bahkan oleh dinding di sampingku.

Terikat

Hey!

Kau tiba-tiba datang, tapi kau bukan lelaki yang ada dalam mimpi-mimpi malamku.

Kau bukan lelaki yang pernah tergambar dalam percintaan ketidaksadaranku.

Tidak. Sama sekali bukan kau.

Kau juga bukan dia yang kutunggu.

Ketika enyah kau dalam pikiranku, ada tali yang masih menggantung di sini,

yang membuatku seolah-olah terikat padamu.

Kaukah itu yang memang akan menyatu padaku nantinya?

Jika iya, apa lagi yang kau tunggu, hey lelaki?

Enam Tahun

enam tahun,

perasaaanku masih sama saja.

tidak.

perasaanku makin mendalam.

.

menunggu.

aku menunggu saja,

menunggu kau menyadari perasaanku.

.

aku akan terus bertumbuh,

terus menjadi dewasa,

hingga ketika aku bertemu dengan kenyataan,

aku sudah siap.

siap kehilanganmu,

atau siap merajut cinta yang lebih lekat denganmu.

selamanya.

.

sayang,

aku rasa,

aku telah lama menyimpanmu di hatiku,

jadi tak masalah,

jika harus menyimpannya lebih lama lagi.

.

terkadang,

aku berpaling pada lelaki lain,

tapi ternyata tak bisa kubagi perasaan ini.

.

aku menyerah pada hatiku,

dan hatiku sudah utuh kembali sekarang.

.

sayang,

denganmu,

atau tidak sama-sekali.

Si Dekill

Purnama hari ini seakan-akan melengkapi kebahagiaanku 🙂

Hari ini adalah hari sempurna untuk sebuah persahabatan. Setelah hampir empat bulan tidak berbincang lama dengan si dekill, akhirnya dua hari lalu, selama sebelas belas jam dari malam hingga pagi, aku memilih untuk bersamanya di Platinum Internet Cafe. Makan – browsing – menulis – belajar bersama. Senangnya 🙂

Entahlah, si dekill ini memang lelaki aneh yang menggemaskan.

Tak ada satu pun variabel yang akan mendekatkan kami lebih dari status sahabat. Kami bersenang-senang layaknya sahabat saja.

——- benar-benar tak ada yang bisa dijelaskan tentang si dekill.

Aku mendoakan si dekill supaya mendapatkan perempuan pendamping hidupnya yang pantas hahaha sehingga mereka bisa bergembira bersama menjalani hidup 😀

Dekill… .dekill….. Mari bersulang!

Dialog Hati

Senang berbincang banyak padamu pada malam itu.

Apa yang hendak kukatakan, sudah kukatakan.

Apa yang hendak kau dengar, pun sudah kau dengar.

Kita sama-sama saling mengerti.

Cinta memang masih ada di antara dua hati kita yang berbeda ini.

Kau masih seperti yang dulu,

tapi aku sudah berubah.

Terima kasih telah mengajarkan cinta padaku, sayangku.

Jika tidak dengan kau, izinkan kubagi cintaku pada orang lain,

layaknya kau yang telah memulainya.