Kucing dan Laki-lakinya

Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, telinga mendengarkan lagu yang entah apa judulnya, dan pikirannya sedang melayang. Matanya nampak hendak teteskan butiran air karena rasa rindu yang mendalam terhadap kucing-kucingnya…

Ia pernah, dan bahkan seringkali bercerita padaku kelucuan-kelucuan 2 kucingnya – si Melos dan si Kunyik – yang ia tinggalkan begitu saja di Jogja – sebuah kota seribu kenangan yang tiap ia ceritakan, aura rasa harunya terasa kuat.

Kini memang ia hidup juga bersama seekor kucing yang mempertemukan dirinya dengan laki-laki kesekian; yang padanya ingin ia berkomitmen.

Pada laki-laki itu, ia rasakan yakin. Ia masih saja percaya bahwa keyakinannya akan menggoncangkan semesta hingga dewa-dewi sepuluh penjuru berpihak padanya – memuluskan jalannya hingga ke pelaminan.

Ahhh itu terlampau cepat baginya…. atau cepat bagi orang-orang di lingkar satunya? Entah – Ia perempuan satu-satunya yang tau hasrat hidupnya sendiri – tentang laki-lakinya sendiri.

 

Abses Melos Akhirnya Sembuh

Melos sembuh

Tanggal 19 Feb, lukanya Melos masih parah namun aku harus segera berangkat ke Tulungagung untuk LLA-LLR XXIV (Lomba Lintas Alam – Lindri Land Rock), maka terpaksa kutitipkan Melos ke Mas Putra. Setiap kali aku berangkat, pastilah Melos kutitipkan ke beliau karena aku tak pernah merasa kecewa dengan perawatan yang diberikan olehnya kepada Melos selama hampir 9 bulan ini.

Tujuh hari kutitipkan, Melos sudah sangat jauh membaik dari kondisi sebelumnya. Terima kasih, Mas Putra 🙂
Sekarang Melos sudah bebas bermain lagi…

Foto Lukanya Melos (15 Feb)

1601430_10202547605825849_2009339527_n

Luka Melos agak memburuk ketika abu kelud melanda Jogja. Bukan karena abunya, tapi kebetulan saja waktunya bertepatan sehingga sedikit banyak berpengaruh pada lambatnya penanganan luka Melos. Melos tidak bisa diperiksa oleh dokter. Itulah masalahnya. Ketika  saya dan mbak Isti membawanya ke Rsh. Soeparwi, rumah sakit yang biasanya buka 24 jam tersebut ikut-ikutan tutup. Drh. Lili juga tutup praktek. Akhirnya, drh. Lili memberikan resep campuran bioplacenton dan garamycin. Selamat tinggal rivanol dan betadine 😀

Dokter mengatakan semoga dengan salep tersebut luka Melos segera menutup, karena jika tidak, terpaksa dijahit segera setelah rumah sakit buka.

Di bawah ini adalah foto-foto luka Melos kemarin (15 Feb):

15 feb 5.21pm

15 feb 5.30pm

15 feb 8.15pm

15 feb 8.56pm  15 feb 11.21pm

15 feb 10.40pm

Collar yang saya pinjam dari mbak Muti tertinggal di taksi. Pet shop juga masih tutup hingga hari ini. Maka, kerja ekstra berupa pengawasan 24 jam terhadap Melos terpaksa saya lakukan, karena jika tidak, Melos akan menggaruk lukanya. Hal itu dapat memperparah dan menjadikan pengobatan selama ini sia-sia. Kemarin malam saya juga sudah mencoba membuat collar sendiri atas saran dari Urara san. Saya sudah coba membuatnya beberapa kali, mulai dari bekas wadah pop-mie, ice-cream, sampai mengikuti saran dari situs ini, namun kurangnya bahan baku dan kesalahan perhitungan membuat saya gagal. Next time saya akan coba lagi!

IMG_0081

Dampak Abu Kelud Terhadap Si Sakit Melos

Tanggal 10 pagi, kudapatkan Melos bengkak di leher kanan tepat bawah mulutnya. Kupikir itu kelenjar tiroid, maka ketika tanggal 11 subuh ia ribut minta keluar kamar, kubiarkan saja. Pagi hari, bulu di sekitar kelenjar perlahan rontok dan siang, kelenjar itu mulai memperlihatkan perubahan warna seperti luka lebam dengan mengeluarkan sedikit darah. Saat itu langsung kupenjarakan Melos di dalam kamar dan ketika malam tiba, kuperiksakan ia ke dokter Lili. Kami pikir, lukanya mungkin disebabkan oleh jamur atau cakaran kucing lain. Penyebabnya tak begitu jelas sampai kemarin malam (12 Feb), kelenjar itu mulai menimbulkan bau dan akhirnya pecah. Jadi kupikir itu  mungkin disebabkan oleh cakaran kucing lain, atau malah bisul. Entahlah…

12022014550

IMG-20140213-WA0001

IMG-20140213-WA0002

13022014565

Tak usah dikatakan lagi betapa baunya nanah yang keluar dari kelenjar itu. Nanah yang kental bercampur darah keluar sebanyak volume kelenjar. Saat-saat seperti itu adalah saat yang berat bagiku. Untungnya, aku selalu dibantu oleh mbak Isti dan mbak Muti, baik dukungan moral maupun pinjaman kandang, keranjang dan colar. Luka Melos kuberikan rivanol yang sebenarnya sudah kadaluarsa tanggal 4 Jan kemarin dan betadine. Rivanol berlaku 3 tahun dan lagi-lagi mengingatkanku bahwa sudah 3 tahun lebih aku berada di Jogja 😀

Luka itu sampai tadi pagi belum juga mengering. Terlihat bonyok. Dokter Lili yang sangat baik mau membalas smsku  dan memberikan arahan bagaimana merawat Melos karena Melos tak mungkin dibawa ke dokter. Taksi banyak yang tidak beroperasi karena hujan abu mengguyur Jogja. Dengan tetap berada di dalam kamar, hari ini Melos banyak menghabiskan waktunya dengan tidur. Kurasa mungkin ini ada hubungannya juga dengan daya tahan tubuh dan kondisi fisik Melos yang masih lemah setelah disteril tanggal 6 kemarin. Cepatlah sembuh, Melos sayang 🙂

200DC | Hari ke-42 s/d 62

Sudah dua puluh hari saya tidak menulis. Ehm, begitu cepatnya waktu berlalu! Banyaknya hal yang sudah dilakukan, semoga menjadi bernilai dan ada hikmahnya di masa mendatang 🙂

Tesis

Apa kabar tesis?

Melos

Tidak terasa beberapa hari lagi, tepat dua bulan saya tinggal bersama Melos. Minggu lalu, dia 2x muntah di atas tempat tidur saya. Satu kalinya dia pup dan pipis. Saya benar-benar butuh kesabaran. Baru kali itu saja dia bertingkah tidak sopan. Saya sangat menyayangi Melos, tetapi saya juga harus realistis bahwa memelihara seekor kucing di kamar kos adalah hal yang sulit dan tidak semua orang bisa melakukannya. Saya merasa tidak sanggup lagi. Jodoh kita hanya sampai di sini sajakah, Melos?

Nalurinya sebagai kucing yang suka berkeliaran, kotor-kotoran dan makan sembarangan sisa anak-anak kos lalu “mencret dan muntah” tidak bisa saya cegah. Lagipula, saya ini siapa yang harus memaksakan kehendak saya kepadanya? Dia adalah makhluk bebas dan sudah saatnya orang lain yang lebih baik mengadopsinya. Orang tersebut adalah teman kampus saya dan dia memiliki anak-anak kecil. Wah, Melos pasti banyak teman bermain nantinya 🙂

Terkadang, mencintai memang harus berani melepaskan…

Saya sangat-sangat sayang Melos, tapi ya sudahlah… Biar Melos tetap menjadi kenangan indah saya saja. *bercucuran air mata*

MelosMelos dan tanaman kesayangannya

Tak berapa lama saya menuliskan ini, teman saya mengabarkan bahwa ia akan adopsi Melos hanya ketika saya sudah tidak di Jogja lagi. Ehm. Baiklah. Jodoh kita masih berlanjut ya, Melos.

Ini titik klimaks saya ketika saya sedang sakit, capek, banyak kerjaan dan banyak yang dipikirkan, Melos jadi bandel. Orang kebanyakan akan memelihara binatang sebagai teman di masa pensiun mereka, lah saya yang masih usia produktif malah sibuk bermain-main dan merawat seekor kucing. Oh, berhargakah semua ini?

Stop mengeluh, Maya. Sesuatu yang dinamakan cinta hanya mengenal kata memberi saja. Tak perlulah kau berharap banyak!

Satu hal yang membuat saya benar-benar drop adalah ketika kemarin saya mendengar saudara Melos yang dipelihara oleh x meninggal. Dia meninggal begitu saja. X tidak mau berusaha mengobatinya dengan membawa dia ke dokter. Oh! X juga menyarankan saya untuk membawa Melos ke Pasar Ngasem biar orang pasar bisa menjualnya. Semakin lama saya semakin heran dengan hidup ini, jangan-jangan saya memang orang yang paling “nyeleneh” sendiri -_-

Sesungguhnya ini bukan juga soal cinta-mencinta, tapi soal tanggung jawab. Saya hanya berusaha memenuhi tanggung jawab saya sebagai seorang manusia yang tidak memandang rendah terhadap binatang. Saya hanya melakukan apa yang saya bisa saja…

Oh Melos,… Mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya pada kita…

Saya harus mendoakan Melos agar kami bisa hidup dengan harmonis dan seirama!

A Youthful Diary – Daisaku Ikeda

Tadi saya mengatakan bahwa saya sedang sangat capek dan masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Salah satu cara meningkatkan kembali motivasi saya adalah dengan membaca bimbingan Ikeda Sensei. Ketika membaca, mengetahui hati sensei dan melihat bagaimana sensei selalu mendorong dirinya hingga ke batas maksimal, saya akan malu sendiri dan menyadari bahwa apa yang saya lakukan bukanlah apa-apa. Jadi, saya tidak boleh sama sekali mengeluh, apalagi menyerah.

Bulan Juli tahun 1954, beberapa kutipan yang mendorong semangat saya, antara lain:

  • Talked quietly with my wife until late at night. Hope she will never become old. Want her to be eternally youthful. (1)
  • Must not be lazy. Whoever fails to study deeply will regret it for a lifetime. (2)
  • Each year, must use this training course as a stepping-stone to train myself to my fullest ability. (3)
  • Must visit this ‘Eagle Peak’ once each month. (4)
  • The Gakkai’s spirit and ideals should be put into practice more deeply, more powerfully, more fairly and more rapidly. (5)
  • If we forget the debt of gratitude we owe our mentor, from then on we will be lower than animals. Those who devote their entire lives to the mentor – these are true disciples. (7)
  • Returning home, thought of how sorry I will feel for the members who come to my lectures if I do not grow more. (8)
  • The staff members, all excellent individuals, will become the center of the Gakkai and of Japanese society, ten or twenty years from now. (11)
  • To campaign, they must have bodies like iron. (11)
  • I wonder what dire circumstances my life would be in by now if I did not have faith or a mentor in life. (13)
  • Must always arrange things in my mind, then put them into practice. (14)
  • I am twenty-six. I have awakened to the determination to be ready to give my life at any time for Buddhism. I have been fighting to my heart’s content. If I think about it deeply, however, haven’t all my actions been carried out under President Toda’s warm protection? (15)
  • As society grows more complex each year, clothing styles will become more practical. (16)
  • My oldest son, Hiromasa, is becoming quite a raucous child. What destiny awaits him? Can only pray he becomes a healthy, upstanding individual, a man of pure faith, a believer in the Daishonin’s Buddhism. (16)
  • Politicians! Leaders! I want to cry out – do your best! Discard your hunger for fame and wealth and donate your lives for the suffering people! (17)
  • Highly value my great teacher, excellent seniors, fine friends and good neighbors! Must care for and respect them. (19)
  • After Sensei dies, I must act in a pivotal role, taking on heavy responsibilities. (20)
  • Seniors! Lead your juniors by example, through your own growth. Juniors! Continue to follow your seniors and advance! (20)
  • Each time I lecture, I think that I must make courageous progress; must continue to study. (21)
  • Want only to purify my faith, step by step. Deeply ashamed of my lack of ability, my tendency to rely on shallow understanding. (22)
  • Keenly feel that the fundamental power behind every campaign is one’s life-force. (23)
  • Taiko Hideyoshi saying, “People are at once the greatest and the smallest thing in the world.” (24)
  • Exhausted, returned home just after 8:00. Bored. Must take care of my health. Sat quietly at my desk, scribbling notes in my notebook. (30)

Daimoku Bersama

Saya tidak bisa mendorong diri saya untuk bangun jam 05.40 pagi lagi. Saya merasa begitu lelah ketika terbangun hanya untuk mematikan alarm saja dan mendapati diri saya melanjutkan tidur. Berita baiknya, dari daimoku pagi bersama Julie, saya merasakan banyak sekali manfaat. Ce Julie, tunggu saya ya! Saya tetap berusaha bangun pagi lagi!

Itu tadi cerita daimoku pagi bersama Julie, sedangkan untuk daimoku malam, mulai dari minggu lalu, setelah Yasuko san dan Jessy memakai whatsapp juga, bersama dengan Dessy, kita membuat group pemudi Jogja yang dinamakan oleh Dessy: Putri Berejeki ^^

Dalam group tersebut, setiap malam kita berdaimoku malam bersama.

belajar gosho Abutsu-boSemua orang memiliki kesulitannya masing-masing, namun kita akan selalu berjuang bersama dan jangan pernah merasa sendiri, my lovely kayokai-sisters. Sama seperti catatan harian Ikeda Sensei, saya juga mau terus berjuang dan bertumbuh lagi. Demi diri sendiri, demi hukum, dan demi masyarakat!

———————————–

…….tesisnya piye, May? 😀

Membaiknya Kondisi Melos :)

11052013920

Postingan sebelumnya sudah bercerita tentang hari pertama Melos di Klinik Hewan Kayu Manis. Sekarang, saya ingin menceritakan dua hari berikutnya, yaitu tanggal 11 dan 12 Mei 2013.

Sabtu, 11 Mei 2013

Saya menjenguk Melos bersama Diana dan Zakiah sekitar pukul 14.00 WIB. Keadaannya benar-benar lemas. Dokter mengatakan bahwa ia tidak mau makan dan terus-terusan tidur dengan menyenderkan badannya di dinding kandang. Dokter juga mengatakan dari hasil rontgen terlihat bahwa paru-paru Melos dipenuhi oleh cairan karena luka tembakan/tusukan tersebut mengenai xxxx (saya lupa nama organ tubuhnya). Saya menunggui ia cukup lama, menyuapi makanan dan menidurkannya. Ia akhirnya mau makan dan tidur nyenyak dengan posisi terlungkup 🙂

11052013912Pukul 14.25 WIB

11052013916Pukul 15.27 WIB

Malam harinya, saya kembali menjenguk Melos. Ia terlihat sangat bersemangat. Kali ini, saya ditemani oleh mbak Isti dan mbak Isti yang menyuapi Melos makanan. Dokter juga terlihat senang dan menyetujui keinginan kami untuk membawa Melos pulang karena hal tersebut akan lebih baik untuk Melos jika ia berada di sisi saya selama masa pemulihannya.

Malam ini saya benar-benar yakin 100% bahwa luka yang dialami Melos akibat ditembak oleh orang. Ahhh! Saya mengutuk orang yang demikian! Saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang tidak memiliki kasih sayang terhadap binatang. Bagi saya, orang yang menghilangkan nyawa binatang memiliki dasar kecenderungan jiwa yang sama, yaitu berada di dunia kebinatangan!

11052013921

Mata yang Bersemangat ^_^

11052013922Luka Tembak di Dada Continue reading “Membaiknya Kondisi Melos :)”

Terlukanya Melos!

Saya tau Melos menunggu saya.

Pukul 10 malam, sepulang dari pertemuan belajar Buddhisme dan makan malam bersama teman-teman Gakkai, saya memarkir motor di depan pagar kos. Hal ini bukan kebiasaan saya karena biasanya saya masukkan motor hingga ke dalam pagar. Lalu, baru saja saya berjalan, Melos duduk di bawah Motor di depan kamar Litha. Tidak seperti biasanya, ia terlihat lemas. Saya panggil beberapa kali dan ia tak merespon. Saya mendekatinya. Ternyata ada darah di kakinya. Saya angkat dia dan tangan saya basah.

Oh, tidak! Ia terluka parah. Saya membawanya ke kamar Diana dan Zakiah. Namun, Diana sudah tidur dan Zakiah belum pulang. Saya langsung membawanya ke kamar saya untuk saya obati sendiri. Ketika saya baru menghidupkan lampu kamar, saya merasa ada yang menetes ke lantai. Jaket kulit dan jeans saya sudah basah oleh darahnya Melos. Ternyata ia pun terluka di bagian punggungnya. Ah!!! Ia semakin lemas dalam pelukan saya.

Satu-satunya orang yang saya ingat lagi adalah mbak Isti dan ia sangat membantu saya. Kami langsung bergegas ke Klinik Hewan Kayu Manis yang buka 24 jam di Gambiran. Melos di perjalanan motor dalam pelukan mbak Isti terkadang mengeong lirih, namun lebih banyak diam. Ia dingin, apalagi terkena oleh angin malam. Saya menerobos beberapa lampu merah, namun tetap tenang. Saya berusaha tidak panik. Air mata saya terus saya tahan hingga saya pulang dan berada di dalam kamar sendirian. Saya menyadari bahwa hal ini terjadi karena saya tidak 100% memberikan hati saya untuk mengurus Melos. Maafkan saya, Melos.

Kau kuat seperti tokoh Melos dalam Run, Melos! Jadi, kau pasti bisa melewati masa kritis 24 jam ini.

Oh ya, penyebabnya mungkin karena perkelahian Melos dan anjing. Saya tau ia bukan kucing kecil yang nakal, dan ia juga tak pernah saya lihat keluar dari kos. Ada kemungkinan ia ditembak dengan senapan angin oleh orang-orang iseng. Oleh karena itu, esok hari Melos akan dirontgen untuk memastikan penyebabnya….

Foto Melos menunjukkan beberapa bagian lukanya. Masih ada satu luka lagi di dekat kaki depannya, namun tidak saya foto. Kulit Melos masih tipis dan sudah terluka parah. Teman, giginya Melos pun baru bertumbuh taring saja. Ah! Saya tak bisa membayangkan jika luka seperti cakaran itu merobekkan semua badannya! Terima kasih, Gohonzon! Ketika mengingat bahwa ia menunggu kepulangan saya dengan sabar, hati saya dipenuhi rasa terharu atas ketulusan Melos. Saya tak pernah sekalipun merendahkan ia meskipun ia seekor kucing kampung. Saya rasa kami pastilah memiliki jodoh yang sangat kuat.

Melos, baik-baiklah kau di sana! Sampai jumpa esok hari!

10052013900

10052013901

10052013907

Lanjutan: Membaiknya Kondisi Melos 🙂