Kucing dan Laki-lakinya

Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, telinga mendengarkan lagu yang entah apa judulnya, dan pikirannya sedang melayang. Matanya nampak hendak teteskan butiran air karena rasa rindu yang mendalam terhadap kucing-kucingnya…

Ia pernah, dan bahkan seringkali bercerita padaku kelucuan-kelucuan 2 kucingnya – si Melos dan si Kunyik – yang ia tinggalkan begitu saja di Jogja – sebuah kota seribu kenangan yang tiap ia ceritakan, aura rasa harunya terasa kuat.

Kini memang ia hidup juga bersama seekor kucing yang mempertemukan dirinya dengan laki-laki kesekian; yang padanya ingin ia berkomitmen.

Pada laki-laki itu, ia rasakan yakin. Ia masih saja percaya bahwa keyakinannya akan menggoncangkan semesta hingga dewa-dewi sepuluh penjuru berpihak padanya – memuluskan jalannya hingga ke pelaminan.

Ahhh itu terlampau cepat baginya…. atau cepat bagi orang-orang di lingkar satunya? Entah – Ia perempuan satu-satunya yang tau hasrat hidupnya sendiri – tentang laki-lakinya sendiri.

 

Advertisements

Seli ke dokter lagi…

kunyikKemarin malam (4 Feb) aku periksakan kembali si Seli ke drh. Lili. Suntikan 0bat-entah-apa ke Seli pun diberikan 2x. Pileknya tak kunjung sembuh, dan kumisnya masih sering patah. Kucing sehat kumisnya panjang 😀

Drh. Lili juga memeriksa sample kotoran Seli, dan Wah! ternyata masih ditemukan telor cacing pita. Alhasil, selain diberikan Spiradan untuk mengobati pileknya, Seli juga diberikan obat cacing Zipyran Plus 1/5 bagian karena beratnya baru 2 kg.

Sudah dua bulan Seli belum sembuh total, tapi ia selalu tampak riang gembira 🙂

Masih Membersamai Kunyik. Eits, Seli!

Tepat satu bulan sudah saya merawat Kunyik. Namanya pun sudah berganti menjadi Selinuntia. Selinuntia berasal dari nama Selinuntius – sahabat sejati Melos dalam cerita Run, Melos! …dan panggilannya adalah Seli. Nama mencerminkan karakter, katanya. Sudah pernah kuusir ia dari kamar, namun ia merengek masuk dan saya menjadi luluh lagi. Sekarang saya hanya membangun ichinen terus-menerus setiap hari agar bisa melakukan yang terbaik untuk kesembuhan total si Seli.

Ya, setiap hari ada beberapa kali ia masih keluarkan cacing pita seukuran +/- 1 cm dari duburnya. Kemarin saya baru sangat menyadari bahwa ternyata ia juga sangat sering mengeluarkan telor cacing pita. Tadi siang sudah saya berikan ia Drontal Cat 1/4. Semoga cacing-cacingnya segera mati di tubuhnya. Semoga keputusan saya benar karena baru selang 1 bulan sejak ia minum obat cacing yang pertama.

Ehm, cacing-cacing itu cukup membahayakan bagi saya dan Melos! Mengambil tanggung jawab merawat ia berarti saya juga mesti lebih menjaga kesehatan saya dengan sebaik-baiknya. Cairan detol selalu siap mencuci tangan dan badan saya, cairan pembersih lantai pun sudah diganti dengan bayclin. Saya juga membeli roller-pembersih-bulu untuk sprei dan baju-baju saya. Saya juga selalu mengonsumsi vitamin dan makanan yang lebih sehat. Saya sempat sakit juga, dan hari-hari mendatang saya akan berusaha untuk tetap prima sehingga daya tahan tubuh saya kuat. Intinya, sekarang harus ekstra bersih. Otomatis, juga ekstra capek.

Melos and Seli

Kalau dipikir-pikir saya juga tidak habis pikir bagaimana bisa saya mempertahankan Seli sejauh ini. Alasan-alasan itu sudah tidak penting lagi. Saya berjanji pada diri sendiri akan melakukan yang terbaik. Kesempatan ini pun membuat saya sadar bahwa benar saya adalah keturunannya ayah saya haha dia adalah orang yang lebih tidak jijik lagi dalam merawat hewan hingga sembuh. Tangannya sangat dingin, hewan yang sekarat pun bisa “hidup-lagi” dan sekarang saya bisa rasakan kepuasan luar biasa melihat pulihnya si Seli.

Terakhir, saya ingin berbagi apa yang menguatkan saya. Hal itu terjadi ketika saya menonton film “Kanta and The Deer”, sebuah film animasi karya Ikeda sensei tentang anak kecil yang menyelamatkan seekor rusa berekor emas 🙂 Hidup memang sudah seharusnya berjalan sesuai dengan hukum alam, yaitu welas asih. Saya akan bertahan! Nammyohorengenkyo.

Membuang atau Merawat si Kunyik?

16122013211

18122013263

Oh, sungguh terkadang aku benci kepada aku.

Ini adalah hari ke-8 si Kunyik bersamaku (sejak 11/12) dan ia belum juga sembuh. Selama itu pula aku tidak tidur nyenyak. Kemarin ia coba tak kukandangi, alhasil ia membuang kotoran beberapa kali di atas tempat tidur. Kurasa, ia sering tak sadar ketika melakukannya. Buktinya ia tetap saja tidur bergelimangan “itu”. Sore-sorenya kemarin tlah kumandikan ia, bersama dengan cairan penghilang kutu.

Pagi ini aku coba untuk membuangnya melepaskannya ke luar kamar. Ia terus minta masuk. Itu tak masalah. Kucing normal memang begitu, namun yang membuatku tak tega, justru kotorannya berceceran di lingkungan kos. Ya, kotoran yang mengandung cacing hidup. Entah kenapa cacing itu tak mati saja di dalam perutnya baru keluar. Ia ternyata memang belum sembuh benar. Sore ini rencana akan kubawa kembali ia ke dokter, dan malam ini akan kukandangi.

18122013238

Aku sungguh tak tau mengapa aku melakukan ini semua, pekerjaan yang “orang” bilang pekerjaan kurang kerjaan. Apakah pekerjaan ini bernilai, berhargakah untukku? Pengangguran macam aku ini memang terlalu banyak prokrastinasinya.

Sungguh aku benci kepada aku ketika tidak dapat membiarkan sesuatu yang menggangu hati nuraniku. Cepatlah kau sehat, Kunyik! Bagaimana pun juga, kau tentu tahu bahwa aku sayang padamu.

Si Kunyik dan Cacing-cacing

Hujan ini, hujan yang paling kubenci. Lebat, berangin, petir terdengar. Melos terpaksa kubiarkan di luar kamar kos. Terakhir kulihat ia berteduh di bawah mobil Jazz seorang teman. Tidak mungkin ia masuk dan sekamar dengan si Kunyik – kucing sekarat yang kemarin pagi ujug-ujug datang menghampiri kos kami. Ia mengidap chlamydia dan cacingan parah. Dokter bilang, ada anemia juga. Komplikasi. Setelah disuntik dan diinfus, aku sedikit tenang. Dokter bilang semoga ia bisa survive. Si Kunyik sangat bau. Sangat. Bulu-bulunya seolah menempel di kulitnya. Setelah kuperhatikan, ternyata ekornya kaku karena kotoran yang mengeras, menempel bersama bulu. Bola matanya tak terlihat, berselaput lendir-lendir hijau saja. Kubersihkan ia pakai tisiu basah, tetap saja baunya tak pergi. Tak mungkin pula ia kumandikan, karena saat itu hujan dan ia kecil. Umurnya sekitar 2 bulan. Kurus kerempeng. Tak bertenaga.

11122013172

11122013174

IMG-20131211-WA0001Tentang cacing. Semalam memang kotorannya sudah mengandung cacing, tapi sedari pagi ini, boleh kukatakan aku menjadi profesional, sudah pandai menarik cacing-cacing putih mati dari duburnya Kunyik. Cacing-cacing itu memang harus dikeluarkan supaya aliran kotorannya tak tersumbat. Menjijikkan, tapi seru juga, apalagi jika mendapatkan cacing yang panjang, seperti bermain karet. Bohong. Tak seru, aku mau muntah. Selepas siang usai minum obat cacing, ia mencret-mencret lebih parah, dan tentunya lebih banyak cacing yang keluar. Sumpah! Tak mungkin ada teman kosku yang berani masuk ke kamarku kecuali mereka-mereka yang pencinta kucing sejati seperti mbak Isti dan mbak Muti – kelompok perkucingan di kos.

Sudah kukabarkan ke teman-teman jikalau ada yang sudi mengadopsi Kunyik, pun kukirim email ke AFJ (Animal Friend Jogja) bahwa sungguh mustahil kupelihara 2 kucing sekaligus di kamar kosku yang sudah sempit ini.

Petir kembali menggelegar. Mau nangis saja rasanya jika kuingat Melos yang mungkin sedang ketakutan di luar sana. Memasuki bulan kedelapan ia tinggal bersamaku, ia selalu kumanja. Mungkin kini saatnya ia belajar hidup sendiri, menjadi kucing jantan yang tangguh. Ia marah, tapi tak apa-apa. Marah kadang baik untuk pertumbuhan karakter.

…dan aku pun mengerti betul bahwa hidup memang pilihan.