Tak seperti yang kuduga

Ditulis di ruang kebersamaan kos putri coklat mulai pukul 22:51 WIB. Kos ini bukanlah kos yang kutempati lagi. Sudah tepat satu minggu aku berpindah tempat tinggal dari kos coklat ke kos monjali. Awal ceritanya seperti yang akan kuceritakan ini. —– melanjutkan menulis di kamar Dhika pada pukul 01.28 WIB pada hari Minggu, setelah tertunda 2 […]

Helm cinta kasih

Helm cinta kasih adalah sebutan Dhika untuk helm teratasku – helm berwarna merah tanpa kaca penutup. Helm ini punya kisahnya sendiri. Dia dikirim dari Palembang tak berapa lama aku tinggal di Jogja. Ya, mungkin sekitar bulan Juni 2010. Sebelumnya, dia pun kubeli tanpa sengaja. Mamaku, setelah kubonceng dalam jarak yang lumayan jauh bahkan setelah melewati pos polisi mengatakan, “May, ternyata mama tak pakai helm”. “Ya ampun!” Aku shock!. Langsung kuputar balik motorku mencari penjual helm terdekat dan kutemukan dia yang warnanya mencolok. Bulan Septembernya, helm ini kutinggalkan bersama Meme, seorang teman karibku di masa SMP yang sekarang sudah menikah dengan lelaki Jogja. Saat itu, Meme yang baik hati mengantarkanku ke stasiun Lempuyangan untuk berangkat menuju Bumi Ayu dengan kereta api ekonomi. Helm dibawa pulang dan disimpan di rumahnya hampir dua bulan hingga lewat masa awas Gn. Merapi.

Selama masa ketiadaan helm, kupinjam helm nomor 4 pada Dara – penghuni kamar terujung yang jendelanya menghadap ke luar rumah. Dara juga adalah penghuni pertama kamar nomor 1 yang kutempati sekarang. Setelah Dara, ada Bimbi yang tinggal di kamar tersebut. Setelah Bimbi, akulah yang menempatinya sebagai penghuni ke-3 di kamar nomor 1.

Helm nomor 4 tersebut akhirnya kubeli dari Dara seharga Rp.100.000,-. Helm ini sudah memiliki kerusakan permanen pada kaitan click di bawah dagu. Kacanya sudah sedikit lecet dan banyak tempelan di sana-sini, termasuk tempelan foto Barack Obama yang disampingnya tertulis Indonesia. Tidak apa-apa toh aku membutuhkannya. Tak enak saja hati ini jika meminjam barang selama berminggu-minggu sehingga keputusan terbaikku adalah dengan membelinya. Saat itu, entah karena kemalasan atau ketiadaan waktu yang membuatku tak mengambil helm di rumah Meme.

Continue reading “Helm cinta kasih”

Embung Tambakboyo

Dua bulan menuju genapnya dua tahun aku tinggal di Kos Coklat – Condong Catur, hanya 3 kali aku mengunjungi Embung Tambakboyo, sebuah danau buatan yang memiliki luas genangan 7,8 hektar dan volume tampungan sekitar 400.000 meter kubik. Menurutku, embung ini bisa dikatakan indah untuk kategori danau di kota. Kali pertama dengan ditemani tetangga yang kupanggil […]

Hari-hari sialku #1

Lagi-lagi, hari-hari sialku masih terus berlanjut. Aku berpikir selama masih tetap bekerja di perusahaan sekarang, hidupku tak pernah bisa damai, tak pernah bisa fokus mengerjakan tesis yang sudah tertunda satu semester. Terus kumaki semua hal dan sepertinya, semuanya memang salah. Sial! Seperti biasa, karena tidur subuh saat ayam-ayam berkokok, aku pun bangun tengah hari. Sukses […]