Malam Sincia Tanpa Keluarga

makan bersama

Tidak bisa dibohongi ada rasa “gregetan” ketika malam ini, malam yang saya “stabilo” sebagai malam terpenting dalam 1 tahun tidak saya lewati bersama keluarga. Malam ini adalah malam pertama dalam 26 tahun hidup saya dimana saya merayakan Sincia tanpa makan besar bersama keluarga.

Namun, si om Lio yang baik hati bilang daripada saya galau di malam 30, lebih baik ikut makan bersama para pemuda+pak Aruji hahahaha akhirnya, pergilah saya ngumpul bersama mereka. Makan besar juga toh 😀

Pulangnya kita makan duren di Timoho. Malam ini, menyenangkan 🙂 Saya melewatinya dengan nuansa baru dan esok hari pun, saya akan mengikuti pertemuan Sincia pertama bersama keluarga besar Gakkai, sementara teman-teman kampus saya berencana mendaki Gn. Nglanggeran. Wow 🙂

Advertisements

Hari ke-3: Packing

pulang-tidak-pulang-tidak. Kuputuskan untuk pulang bertemu papa, mama, satu-satunya adik lelakiku dan handai taulan. Tradisi makan malam dan kumpul bersama di malam Imlek sangat melekat di keluarga kami. Menyenangkan sekali. Packing kulakukan seusai ujian akhir semester tiga. Riwayat tiga mata kuliah yang kuambil: satu tidak mengikuti UAS, satu terlambat hadir 1 jam saat UAS, satu lagi hanya bisa mengerjakan 50% soal UAS. Sangat memalukan mengenaskan. Tanggal 24 Mei 2010 pukul 11.01 PM kubaca sms yang sekarang kubaca dalam buku harianku: “Ok May, perkuat jiwamu sehingga kamu selalu bisa mengubah racun menjadi obat. Selamat berjuang.”