200DC-2 D9 | Momentum Jacket TNF

Jaket TNFYeay! Jaket ini diskon 70% di Indonesia Outdoor Festival, GBK. Tepatnya di Istora Senayan. Pameran ini diadakan pada tanggal 1-4 April 2015. Jaket ini saya beli hari ini dengan penuh perjuangan karena tempat pameran penuh sesak. Sangat banyak peralatan outdoor yang dijual dengan diskon gede. Beberapa barang yang saya sukai, diantaranya: 50% all item produk Deuter, 30% carrier Consina dan sepatu-sepatu Hi-tech, dsb. Selain itu, masih banyak lagi barang-barang outdoor yang menggiurkan, seperti produk Teva, Columbia, Osprey,…… Hahaha…

Saya tidak membeli apa-apa kecuali 1 jaket ini. Jaket ini seharga 1 juta. Jadi, diskon 70% yang diberikan sangat berharga buat saya πŸ˜€ πŸ˜€ Saya rasa saya tidak akan melakukan kegiatan outdoor dalam 2 tahun ini karena saya harus benar-benar sembuh total. Jadi, keputusan tidak membeli barang lain adalah keputusan yang benar untuk saat ini. Selain itu, saya jadi bisa menabung uang saya πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Perjalanan Ekspres ke Gn. Kelud

1157736_171454366373866_567701627_n1

Ket di awal: Semua foto di dalam tulisan ini adalah miliknya mbak Friska.

Erupsi Kelud yang katanya Mbah Rono sedahsyat Merapi mengingatkan saya dengan perjalanan ke sana bersama teman-teman YABI tahun lalu. Saya lupa tanggalnya, yang jelas bulan Agustus seusai Pendidikan Navigasi YABI ke-XIV.

Hari Pertama, saya dan mbak Friska dari Tulung Agung, setelah diantar Mas Tok mencari bus tujuan Kediri, naik bus tujuan Kediri. Ya iyalah, mosok yo naik yang tujuan Malang.

Setelah hampir 2 jam perjalanan, sampai juga kami di halte bus depan kampusnya mbak Dyah. IAIN ato Muhammadiyah ya, mbak? Saya lupa hehehe Perjalanan ini antara jadi dan tidak jadi karena ragu-ragu, apalagi mbak Dyah harus bekerja keesokan harinya, tapi akhirnya demi persahabatan, mbak Dyah mengantar kami berdua bersama mas Penk. Jadilah kami berempat memulai perjalanan ke Gn. Kelud πŸ˜€

Kami makan malam terlebih dahulu berupa nasi tumpang, nasi khas kota Kediri, lalu langsung tantjap gas ke Kediri dengan 2 motor. Saya dibonceng oleh mbak Dyah, dan mbak Friska bersama mas Penk. Perjalanan lebih dari 1 jam ditemani oleh udara malam yang dingin. Kami sempat mampir berfoto di Arc de Triomphe-nya Kediri πŸ˜€

1185352_171449106374392_494719150_n

Sesampainya di gerbang Kelud yang sudah ditutup, kami parkir motor di semak-semak, lalu masuk melewati sisi kanan pagar yang terbuka, yang sebenarnya bukan jalur masuk resmi, lalu kami berjalan kaki menuju aula yang jaraknya lumayan jauh. Sekitar pukul 10 atau 11 malam, kami tiba dan bermalam di aula tersebut bersama bapak penjaga Gn. Kelud.

Hari Kedua, kami bangun sekitar pukul 6 pagi dan mulai menjelajahi Kelud. Itu jam yang cukup siang ya sebenarnya πŸ˜€

1185352_171449113041058_183078789_n

1157736_171454369707199_1546741075_n

1176234_171722606347042_61684529_n

1272993_171723659680270_762412505_o

1176234_171722613013708_1881697113_nHari ini tidak menyangka anak Gn. Kelud di belakang saya itu erupsi dan abunya tersebar hingga lebih dari 500km (kota Bandung). Selanjutnya, kami menuruni tangga yang tak ada habis-habisnya menuju kolam pemandian belerang, dan dengan spontan, saya dan mbak Dyah menceburkan diri di air belerang yang hangat. Mas Penk yang baik hati memasak selagi kita bermain-main di air hahaha ya ampun… maafkanlah ya, mas Penk πŸ˜€

1272993_171723669680269_654160463_o

1239138_171724743013495_639253090_o

1157736_171454373040532_1505452692_n

1157736_171454379707198_43327243_n

Rasanya sangat menyegarkan usai mandi, namun perjuangan naik untuk kembali ke aula cukup melelahkan karena melewati jalan yang berbatu dan berpasir, tidak melewati tangga lagi. Saat itu hari sudah mulai siang, mungkin sekitar pukul 8 pagi. Kami berganti pakaian kering, lalu pulang. Biaya masuk Gn. Kelud secara resmi baru dibayarkan pada petugasnya saat itu, dan saya ditraktir oleh mereka πŸ˜€

Di area Gn. Kelud ada jalan yang memiliki medan magnet bumi sehingga motor tanpa perlu hidup mesin dapat berjalan sendiri. Kami mencobanya hahaha dan sebelum pulang, saya dan mbak Friska mengambil foto di depan Museum Kelud. Kapan-kapan kami baru mampirΒ  ke museumnya, mungkin sudah ada tambahan informasi mengenai erupsi yang sedang terjadi saat ini.

1174705_171724753013494_812565835_n

Ya begitulah kira-kira perjalanan ke Gn. Kelud yang serba ekspres dan tak terduga ini. Lepas itu saya langsung pulang ke Jogja, perjalanan pulang yang tidak terlalu menyenangkan dan saya mendapat 1 pelajaran berharga: lain waktu, saya akan memilih setia dengan bus Eka untuk transportasi darat Jatim-Jateng, tidak dengan bus lainnya. Terima kasih banyak teman-teman, dan sampai jumpa lagi πŸ˜€

Oh ya teman, jangan lupa yang tadi. Fotonya bukan punya saya, tapi hasil jepretan dari kameranya mbak Friska πŸ˜€ Thanks, mbak Friska πŸ˜€

Abu Kelud Tiba di Jogja

Pagi mendekati pukul 7, saya membaca WhatsApp dari Mulya yang mengabarkan Kelud meletus dan Surabaya hujan abu. Tak lama kemudian, mbak Isti dan teman-teman kos terdengar heboh. Saya melihat jendela dan cukup terkejut dengan pemandangannya yang serba abu-abu. Ternyata Jogja juga hujan abu, dan sebenarnya sudah sejak jam 3 subuh tadi. Sangat tebal. Saya sempat bingung apa yang harus dilakukan, dan akhirnya saya langsung browsing mencari informasi tersebut. Sekitar pukul 8, saya mengambil kamera dan mengambil gambar-gambar di bawah ini:

IMG_0041

IMG_0047

IMG_0059

IMG_0067

IMG_0069Β  IMG_0053

IMG_0065

IMG_0061

Abu dalam jumlah besar ini membuat kota Jogja lumpuh. Bandara ditutup, kantor, kampus dan sekolah diliburkan. Sultan mengatakan Jogja tanggap darurat dalam 7 hari. Saya, mbak Isti dan mbak Muti pun berinisiatif untuk membeli persediaan makanan, minimal untuk 3-4 hari ke depan. Sepanjang jalan menuju Amplas, terlihat abu sangat pekat yang menggangu para pengendara. Jarak pandang hanya 2 meter dan kudu hidupkan lampu utama. Inilah foto-foto sepanjang perjalanan yang diambil oleh mbak Isti:

IMG-20140214-WA0009

IMG-20140214-WA0007

IMG-20140214-WA0006

IMG-20140214-WA0005

IMG-20140214-WA0004

IMG-20140214-WA0002

IMG-20140214-WA0003

 

IMG-20140214-WA0008

Foto di atas diambil sekitar pukul 11 siang. Sepulang dari Amplas, saya langsung berberesan – mengepel kamar, menutupi jendela agar abu tidak masuk lagi dan menyuci motor. Ehm, saya tidak terbayang jika Jogja sedemikan parahnya seperti ini, apalagi kawasan Kelud. Be strong, warga Kelud!

Terakhir, saya lampirkan foto sebaran abu yang saya ambil di FB (share dari Vey):

1016570_10203022013848331_2032756356_n

Abu sudah tiba di Bandung. Next? Let’s see…

Sunday Morning Sports

Kemarin, pagi-pagi sekali Ko Paul sudah menjemput saya dan Mari di kos saya dan menaikkan 2 sepeda pinjaman kami ke Mobil Pick-Up Ferarri-nya hahaha sebutan untuk pick-up merahnya, lalu bersama-sama dengan Kevin B. dan Rio yang mengalah duduk di belakang bersama sepeda-sepeda, kami menuju ke rumah Pak Yanto. Sebelum bercerita, saya kudu berterima kasih dahulu dengan Tangguh dan Damai atas pinjaman sepedanya. Thanks, temans!

Sesampainya di sana, Pak Aruji sudah menunggu sendirian dan tak berapa lama, Pak Yanto, Kevin, Derry dan Lio pun datang. Semua sepeda dinaikkan ke pick-up dan kami memulai perjalanan menuju ke tempat yang tidak saya duga sebelumnya, yaitu kompleks Gn. Nglanggeran di Patuk. Kami memang tidak tau hendak bersepeda ke mana dan tidak berniat tau juga hingga hari-H karena terlalu excited dengan ide tersebut hahahaha πŸ˜€

Kali ini adalah pertama kalinya saya bersepeda di wilayah pegunungan. Perjalanan ke sana pun baru kali ini saya lalui pada pagi hari sekitar jam 6 ketika kabut memenuhi daerah Wonosari. Saya memandang Jogja yang sangat indah di jalan sekitar bukit bintang, namun tidak bisa mengambil foto pada saat itu. Gunung Merapi dan Merbabu tampak samar tertutup kabut di kejauhan dan misty-scene pun tampak sangat indah.

nglanggeran_gakkai (2)

nglanggeran_gakkai (3)

Pada pukul 6.45 menit, kami memulai perjalanan dari pos polisi Patuk ke arah desa Ngoro-oro. Desa wisata yang kami lewati tersebut sangat asri dan belum terlalu banyak kendaraan bermotor. Jelajah alam dengan track naik-turun pada awalnya sempat membuat lutut saya lemas hahaha karena tidak ada olahraga dan pemanasan sebelumnya πŸ™‚

Sesekali kami mendorong sepeda kami ketika jalan menandjak.

nglanggeran_gakkai (4) nglanggeran_gakkai (5)

nglanggeran_gakkai (6)

nglanggeran_gakkai (8)

Dalam perjalanan, pak Yanto sering mengambil potret dengan lihainya sambil bersepeda dan foto-foto yang dihasilkan olehnya pasti sangat bagus. Beberapa di antara kami tertinggal di belakang karena kecapekan dan saling mengobrol sepanjang perjalanan sambil melontarkan beberapa lelucon hahaha πŸ˜€

Continue reading “Sunday Morning Sports”

Belajar dari Gunung

Seringkali gunung tergambar dalam bentuk segitiga, artinya lebar di bawah dan mengerucut ke atas. Level Top Management pun berada di tingkat teratas. Posisi teratas sebanding dengan tuntutan kemampuan lebih yang tidak hanya pakar dalam hal teknis dan konsep, namun harus jeli menganalisis permasalahan sebagai dasar penentuan kebijakan. Piramida rantai makanan juga demikian. Posisi teratas menunjukkan siapa yang lebih kuat, seperti elang -> ular -> tikus. Hirarki kebutuhan manusia yang digambarkan oleh Maslow juga, dan masih banyak lagi contoh dalam kehidupan nyata yang terwakili oleh pola tersebut, bahkan tingkat kesadaran manusia pun diasumsikan seperti gunung es. Para pakar menyebutkan bahwa alam bawah sadar manusia adalah akar dari sebuah piramida dan akar tersebut tak kasat mata. Artinya apa?

Saya ingin mengajak pikiran saya untuk melihat persamaan gunung dan kehidupan nyata.

Alam Bawah Sadar = Persiapan pendakian di desa terakhir/kaki gunung.

Menuju apa yang disebut “Top” pada sebuah gunung seringkali mengharuskan kita melewati beberapa gunung yang lebih rendah terlebih dahulu. Di sisi lain, kita akan selalu menjumpai desa terakhir, yaitu desa tertinggi sebelum menuju titik pendakian. Kadang, desa ini bukan bagian dari sebuah gunung. Saya menganggap desa dan gunung-gunung rendah tersebut sebagai alam bawah sadar kita. Kita berbicara tentang hal mendasar, yaitu posisi akar yang sama-sama “tak terlihat”.

Di sanalah kita akan mempersiapkan diri, baik kebutuhan logistik, porter maupun persiapan fisik dalam wujud aklimatisasi. Aklimatisasi di kaki gunung sangatlah penting karena manfaatnya yang sangat besar untuk menyamakan suhu badan dengan suhu lingkungan, mengatur kadar oksigen maupun ketinggian. Waktu aklimatisasi yang dibutuhkan akan berbeda bergantung pada gunung yang dituju, bisa selama beberapa hari, minggu dan bulan.

Persiapan di kaki gunung inilah yang akan menentukan keberhasilan dari sebuah pendakian. Sama halnya dengan alam bawah sadar yang akan menggerakkan alam sadar kita. Apa yang kita yakini, apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan, dan apa yang akan kita perjuangkan sebagai idealisme kita akan menentukan keberhasilan kita. Bekal yang kita miliki akan menjadi sangat berguna seperti mesiu yang digunakan oleh prajurit perang. Ups salah contoh hahaha kenapa sampai mesiu ya? Maksudnya, kerja apapun yang penting adalah keputusan awal dan state of mind kita.

Lembah = Masalah.

Ada gunung-gunung yang mengharuskan kita berjalan naik-turun untuk sampai ke “Top”. Kondisi harus turun ke lembah untuk naik ke tempat yang lebih tinggi sama saja dengan masalah-masalah yang kita hadapi. Masalah ada untuk meningkatkan kualitas diri kita. Artinya, jika kita dapat mengatasi satu masalah, seharusnya tidak akan menjadi masalah lagi ke depannya. Kita harus selalu bisa belajar dari sebuah masalah. Siapa yang mengatakan tidak ada pemandangan bagus di lembah? Lihatlah edelweiss yang bermekaran di lembah sebelum kita melewati jalur yang hanya dipenuhi oleh batu dan pohon Cantigi.

Jangan terlalu lama di lembah hanya karena terpesona dengan sebuah keindahan dan jangan terlalu lama berkutat dengan masalah yang itu-itu saja. Keluar dari lembah dan lihatlah jalan menuju puncak! Ketika kita berada di tempat yang lebih tinggi dari masalah, kita akan melihat secara holistik dan dari sudut pandang yang berbeda. Kita melihat keseluruhan lembah πŸ™‚ Continue reading “Belajar dari Gunung”