200DC-2 D9 | Momentum Jacket TNF

Yeay! Jaket ini diskon 70% di Indonesia Outdoor Festival, GBK. Tepatnya di Istora Senayan. Pameran ini diadakan pada tanggal 1-4 April 2015. Jaket ini saya beli hari ini dengan penuh perjuangan karena tempat pameran penuh sesak. Sangat banyak peralatan outdoor yang dijual dengan diskon gede. Beberapa barang yang saya sukai, diantaranya: 50% all item produk […]

Perjalanan Ekspres ke Gn. Kelud

Ket di awal: Semua foto di dalam tulisan ini adalah miliknya mbak Friska. Erupsi Kelud yang katanya Mbah Rono sedahsyat Merapi mengingatkan saya dengan perjalanan ke sana bersama teman-teman YABI tahun lalu. Saya lupa tanggalnya, yang jelas bulan Agustus seusai Pendidikan Navigasi YABI ke-XIV. Hari Pertama, saya dan mbak Friska dari Tulung Agung, setelah diantar […]

Abu Kelud Tiba di Jogja

Pagi mendekati pukul 7, saya membaca WhatsApp dari Mulya yang mengabarkan Kelud meletus dan Surabaya hujan abu. Tak lama kemudian, mbak Isti dan teman-teman kos terdengar heboh. Saya melihat jendela dan cukup terkejut dengan pemandangannya yang serba abu-abu. Ternyata Jogja juga hujan abu, dan sebenarnya sudah sejak jam 3 subuh tadi. Sangat tebal. Saya sempat […]

Sunday Morning Sports

Kemarin, pagi-pagi sekali Ko Paul sudah menjemput saya dan Mari di kos saya dan menaikkan 2 sepeda pinjaman kami ke Mobil Pick-Up Ferarri-nya hahaha sebutan untuk pick-up merahnya, lalu bersama-sama dengan Kevin B. dan Rio yang mengalah duduk di belakang bersama sepeda-sepeda, kami menuju ke rumah Pak Yanto. Sebelum bercerita, saya kudu berterima kasih dahulu dengan Tangguh dan Damai atas pinjaman sepedanya. Thanks, temans!

Sesampainya di sana, Pak Aruji sudah menunggu sendirian dan tak berapa lama, Pak Yanto, Kevin, Derry dan Lio pun datang. Semua sepeda dinaikkan ke pick-up dan kami memulai perjalanan menuju ke tempat yang tidak saya duga sebelumnya, yaitu kompleks Gn. Nglanggeran di Patuk. Kami memang tidak tau hendak bersepeda ke mana dan tidak berniat tau juga hingga hari-H karena terlalu excited dengan ide tersebut hahahaha ๐Ÿ˜€

Kali ini adalah pertama kalinya saya bersepeda di wilayah pegunungan. Perjalanan ke sana pun baru kali ini saya lalui pada pagi hari sekitar jam 6 ketika kabut memenuhi daerah Wonosari. Saya memandang Jogja yang sangat indah di jalan sekitar bukit bintang, namun tidak bisa mengambil foto pada saat itu. Gunung Merapi dan Merbabu tampak samar tertutup kabut di kejauhan dan misty-scene pun tampak sangat indah.

nglanggeran_gakkai (2)

nglanggeran_gakkai (3)

Pada pukul 6.45 menit, kami memulai perjalanan dari pos polisi Patuk ke arah desa Ngoro-oro. Desa wisata yang kami lewati tersebut sangat asri dan belum terlalu banyak kendaraan bermotor. Jelajah alam dengan track naik-turun pada awalnya sempat membuat lutut saya lemas hahaha karena tidak ada olahraga dan pemanasan sebelumnya ๐Ÿ™‚

Sesekali kami mendorong sepeda kami ketika jalan menandjak.

nglanggeran_gakkai (4) nglanggeran_gakkai (5)

nglanggeran_gakkai (6)

nglanggeran_gakkai (8)

Dalam perjalanan, pak Yanto sering mengambil potret dengan lihainya sambil bersepeda dan foto-foto yang dihasilkan olehnya pasti sangat bagus. Beberapa di antara kami tertinggal di belakang karena kecapekan dan saling mengobrol sepanjang perjalanan sambil melontarkan beberapa lelucon hahaha ๐Ÿ˜€

Continue reading “Sunday Morning Sports”

Belajar dari Gunung

Seringkali gunung tergambar dalam bentuk segitiga, artinya lebar di bawah dan mengerucut ke atas. Level Top Management pun berada di tingkat teratas. Posisi teratas sebanding dengan tuntutan kemampuan lebih yang tidak hanya pakar dalam hal teknis dan konsep, namun harus jeli menganalisis permasalahan sebagai dasar penentuan kebijakan. Piramida rantai makanan juga demikian. Posisi teratas menunjukkan siapa yang lebih kuat, seperti elang -> ular -> tikus. Hirarki kebutuhan manusia yang digambarkan oleh Maslow juga, dan masih banyak lagi contoh dalam kehidupan nyata yang terwakili oleh pola tersebut, bahkan tingkat kesadaran manusia pun diasumsikan seperti gunung es. Para pakar menyebutkan bahwa alam bawah sadar manusia adalah akar dari sebuah piramida dan akar tersebut tak kasat mata. Artinya apa?

Saya ingin mengajak pikiran saya untuk melihat persamaan gunung dan kehidupan nyata.

Alam Bawah Sadar = Persiapan pendakian di desa terakhir/kaki gunung.

Menuju apa yang disebut “Top” pada sebuah gunung seringkali mengharuskan kita melewati beberapa gunung yang lebih rendah terlebih dahulu. Di sisi lain, kita akan selalu menjumpai desa terakhir, yaitu desa tertinggi sebelum menuju titik pendakian. Kadang, desa ini bukan bagian dari sebuah gunung. Saya menganggap desa dan gunung-gunung rendah tersebut sebagai alam bawah sadar kita. Kita berbicara tentang hal mendasar, yaitu posisi akar yang sama-sama “tak terlihat”.

Di sanalah kita akan mempersiapkan diri, baik kebutuhan logistik, porter maupun persiapan fisik dalam wujud aklimatisasi. Aklimatisasi di kaki gunung sangatlah penting karena manfaatnya yang sangat besar untuk menyamakan suhu badan dengan suhu lingkungan, mengatur kadar oksigen maupun ketinggian. Waktu aklimatisasi yang dibutuhkan akan berbeda bergantung pada gunung yang dituju, bisa selama beberapa hari, minggu dan bulan.

Persiapan di kaki gunung inilah yang akan menentukan keberhasilan dari sebuah pendakian. Sama halnya dengan alam bawah sadar yang akan menggerakkan alam sadar kita. Apa yang kita yakini, apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan, dan apa yang akan kita perjuangkan sebagai idealisme kita akan menentukan keberhasilan kita. Bekal yang kita miliki akan menjadi sangat berguna seperti mesiu yang digunakan oleh prajurit perang. Ups salah contoh hahaha kenapa sampai mesiu ya? Maksudnya, kerja apapun yang penting adalah keputusan awal dan state of mind kita.

Lembah = Masalah.

Ada gunung-gunung yang mengharuskan kita berjalan naik-turun untuk sampai ke “Top”. Kondisi harus turun ke lembah untuk naik ke tempat yang lebih tinggi sama saja dengan masalah-masalah yang kita hadapi. Masalah ada untuk meningkatkan kualitas diri kita. Artinya, jika kita dapat mengatasi satu masalah, seharusnya tidak akan menjadi masalah lagi ke depannya. Kita harus selalu bisa belajar dari sebuah masalah. Siapa yang mengatakan tidak ada pemandangan bagus di lembah? Lihatlah edelweiss yang bermekaran di lembah sebelum kita melewati jalur yang hanya dipenuhi oleh batu dan pohon Cantigi.

Jangan terlalu lama di lembah hanya karena terpesona dengan sebuah keindahan dan jangan terlalu lama berkutat dengan masalah yang itu-itu saja. Keluar dari lembah dan lihatlah jalan menuju puncak! Ketika kita berada di tempat yang lebih tinggi dari masalah, kita akan melihat secara holistik dan dari sudut pandang yang berbeda. Kita melihat keseluruhan lembah ๐Ÿ™‚ Continue reading “Belajar dari Gunung”

Pendakian “Tek-tok” Gn. Dempo

Sudah lebih dari 2 bulan lalu pendakian ini berlangsung, yaitu tanggal 8 September 2012. Satu hari saja karena pendakian ini kami langsungkan secara tek-tok, nama lain dari pendakian naik langsung turun.

Wacanaย  pendakian diutarakan oleh mbak Ayak pada tanggal 29 Agustus 2012 melalui whatsapp. Malam harinya kami langsung bertemu di Solaria. Mbak Ayak sudah bekerja sekarang, jadi dia menraktir makanku hahaha ๐Ÿ˜€ Kami juga bertemu dengan Otoy di sana. Mbak Ayak adalah seniorku di Mapala Flams-NL dan Otoy adalah saudara seangkatanku. Aku masih ragu-ragu apakah akan pergi karena tujuanku pulang ke Palembang sebenarnya karena menghadiri perabuan teman yang wafat pada tanggal 18 Agustus lalu, juga karena hendak berkumpul bersama keluarga. Baiklah, akhirnya aku mengiyakan satu hari sebelum hari-H dan kami mengemas pendakian tersebut hanya berlangsung dalam 1 hari saja ditambah 2 hari perjalanan pp yaitu tanggal 7-9 September 2012.

Aku dan mbak Ayak. Kami berdua saja. Perempuan. …dan kami akan naik melalui Jalur Rimau yang sangat jarang dilalui oleh para pendaki, sedangkan turun akan melewati Jalur Rimba.

Kamis, 6 September 2012

Malam hari tanggal 6, aku dan mamaku pergi ke JM untuk berbelanja logistik dan sepasang kaos kaki. Maklum, aku tak membawa satu peralatan gunung pun ke Palembang. Aku juga menghubungi mbak Ayak untuk meminjam semua peralatan, seperti carrier dan sepatu gunung. Mbak Ayak membantuku meminjamkannya dengan Kadafi dan Dessy, junior kami di Mapala. Tidak mungkin aku membawa tas selempang ke gunung bukan? hahaha karena pendakian ini tek-tok, kami tak perlu mempersiapkan banyak hal. Terima kasih ya, Kadafi dan Dessy ๐Ÿ™‚

Jumat, 7 September 2012

Selepas makan siang, aku dan mbak Ayak bertemu di Sekretariat Mapala di kampus Methodist. Siang itu dari rumah aku hanya menggunakan kaos oblong, celana jeans coklat muda, tas ransel laptop dan sandal jepit saja. Di Sekret, kami packing ulang, mengganti tas laptopku dengan tas gunungnya Kadafi. Barang-barang yang tidak kami bawa, kami titipkan ke Kadafi untuk disimpan di Sekret.

Usai itu, kami naik bus kota tujuan km. 12, lalu berganti angkot menuju Terminal Alang-alang Lebar. Sesampainya di Terminal, kami mengambil 2 tiket bus Telaga Biru yang sudah dipesan terlebih dahulu oleh mbak Ayak. Aku lupa berapa harga tiketnya. Mungkin sekitar 60 ribu. Di Terminal, kami juga bertemu dengan Otoy karena Otoy membawakan pempek pesanan mbak Ayak yang akan diberikan kepada mak Arief yang rumahnya akan kami tumpangi selama 2 malam itu.

Pukul 3 sore, bus beranjak. Kami duduk tepat di belakang sopir. Ahhh… hatiku senang sekali. Aku bernostalgia dengan perjalanan ini. Sudah 4 tahun aku tak mengunjungi Pagaralam. Kami sempat berhenti di rumah makan untuk santap siang. Masih saja seperti dulu, kami memesan nasi bungkus dan makan di samping Musholla, tak jauh dari rumah makan. Lesehan.

Aku banyak tidur selama perjalanan. Di dalam bus, terdapat juga satu rombongan Mapala Unsri yang aku lupa namanya. Pukul setengah 12 malam, kami tiba di rumah mak Arief. Mbak Ayak yang akrab dengan mak Arief bercengkerama panjang lebar dan aku lebih banyak menjadi pendengar yang baik ๐Ÿ™‚

Sekitar pukul 1 malam, kami tidur. Mbak Ayak sebelum tidur masih sempat makan nasi dengan sarden, sedangkan aku sibuk “menggerogoti” kue lebarannya mak Arief ๐Ÿ™‚

Sabtu, 8 September 2012

Pukul 05.45 WIB: Bangun Tidur

Kami bangun tidur. Cuci muka dan sikat gigi. Saat itu, desa-desa di bawah Gn. Dempo sedang kesulitan air karena musim kemarau yang belum usai. Kami memilih untuk ikut berhemat air. Kami sarapan seadanya dan minum segelas teh manis hangat buatan Arief. Mak Arief pagi-pagi benar sudah berangkat ke PTPN untuk bekerja.

Pukul 07.45 – 08.15 WIB: Menuju Tugu Rimau

Kami sudah menunggu sangat lama di depan rumah mak Arief hingga lewat pukul 7 pagi. Kami menunggu angkot yang akan menuju Rimau, tepatnya angkot yang memiliki rute hingga pintu masuk pendakian jalur Rimau. Sepertinya memang tidak ada angkot yang seperti itu hahaha akhirnya kami memutuskan untuk menyewa ojek, namun harga yang ditawarkan sangat tinggi, yaitu 100 ribu/ojek. Kami terus berjalan menuju Puskesmas yang katanya merupakan posko Ojek. Di perjalanan, kami bertemu satu angkot yang bisa kami sewa seharga 80 ribu saja.ย  Bapak sopirnya sangat ramah dan kami mengobrol sepanjang 30 menit perjalanan, termasuk obrolan tentang pemetikan pucuk teh yang sekarang menggunakan mesin, bukan tenaga manusia secara manual lagi. Bapak tersebut mengatakan bahwa kualitas teh Dempo menurun karena mesin tidak dapat membedakan pucuk teh terbaik dan tidak sehingga daun-daun yang baik dan jelek pun tercampur. Kupikir, pada awalnya memang begitu. Namun semakin lama, tanaman teh tersebut akan seragam tingginya sehingga memang lebih efektif dan efisien menggunakan mesin. Hal yang perlu dipikirkan adalah, para pemetik teh harus mencari pekerjaan pengganti yang selama ini menjadi mata pencarian utama mereka ๐Ÿ™‚

Menunggu Angkot yang Tak Kunjung Datang

Tugu Rimau yang dibangun menjelang Pon XVI

Titik Awal Pendakian 1820 mdpl

Pemandangan menuju Tugu Rimau ini sangat-sangat indah. Sejauh mata memandang terhampar kebun teh yang berwarna hijau keemasan diterpa mentari pagi. Para penduduk bekerja dengan pakaian khasnya. Mereka membawa keranjang dengan meletakkan pegangan di dahinya dan menggunakan sepatu boat, juga baju yang berlapis-lapis untuk menghindari panas matahari. Suasana perjalanan tersebut membawa kesejukan bagi kami. Awan-awan rendah memenuhi langit di pagi itu dan cuaca sangat mendukung. Jalanan beraspal terus saja menandjak hingga ke titik awal pendakian. Jalur kendaraan ini memang lebih bagus dibandingkan jalur menuju Kampung 4 yang merupakan pintu masuk ke Pintu Rimba. Sepengetahuanku, memang hanya terdapat 2 pintu masuk saja menuju puncak Dempo ini. Jika boleh merekomendasikan, aku memilih Jalur Rimau dibandingkan Rimba.

Jalanan ini dibangun pada tahun 2004 ketika Pagaralam menjadi tuan rumah PON XVI untuk cabang olahraga Paralayang. Lokasi yang akan kami tuju ini juga berdekatan dengan lokasi Paralayang tersebut. Ketika kami tiba, terlihat beberapa bangunan permanen di sana, namun tidak ada penjaganya sama sekali. Hanya kami berdua saja dan kami langsung naik tanpa mendaftarkan diri terlebih dahulu. Gunung Dempo ini sepertinya bukan termasuk Taman Nasional, hanya PTPN VII saja yang bertanggung jawab atasnya.

Pukul 08.20 – 09.05 WIB: Menuju Shelter 1

Baru berjalan sebentar saja aku sudah jatuh cinta dengan jalur pendakian ini ๐Ÿ™‚

Kami memilih waktu pendakian yang tepat, yaitu bukan musim penghujan. Track tanah yang masih tertata rapi, akar-akar pohon yang begitu kuat serta tidak banyak sampah. Aku benar-benar menyukai jalur rimau ini. Sangat suka ๐Ÿ™‚

Pohon Pakis Hutan ๐Ÿ™‚

Track yang sangat bagus, bukan?

Menikmati Alam ๐Ÿ˜€

Pendakian Pertama dengan Mbak Ayak

Ruang Kosong di antara Pepohonan

Demi foto berdua, kamera diletakkan di mana saja asal fokus hahaha

Mbak Ayak mengatakan bahwa track ini dibuat oleh anggota Kopasus. Pantas saja bagus hahaha

Kami tak beristirahat selama perjalanan, namun berhenti cukup lama untuk sarapan pagi ke-2 di Shelter 1. Menu pagi itu adalah mie+telur, minum susu Milo, dan makan puding hahaha sangat kenyang ๐Ÿ˜€

Kami tak berhemat logistik sama sekali karena kami membawanya cukup banyak. Kondisi pendakian sebelum dan sesudah bekerja memang berbeda hahaha

Kami tak bisa bersantai-santai terlalu lama di sana karena kami belum bisa memprediksi waktu tempuhnya secara pasti. Hanya mbak Ayak yang sudah pernah melewati jalur Rimau ini satu kali dan aku sangat senang karena cerita beliau sebelum pendakian ini sama persis dengan yang kuhadapi saat itu, yaitu tracknya yang bagus dan waktu yang lebih cepat menuju puncak, meskipun tracknya lebih sulit. Continue reading “Pendakian “Tek-tok” Gn. Dempo”