[bagian 2] 3 kawan. 2 hari. 1 mimpi.

sambungan dari bagian 1:

(lagi) Baca ini pertama-tama

Saya menuliskan nama Mina dan Julie saja, namun di dunia nyata saya menambahkan kata cici di depan nama tersebut. Catatan perjalanan ini hendaknya dibaca berurutan (sequential) agar mengerti dengan tepat detail perjalanan yang sudah terjadi.

Tulisan ini didedikasikan kepada Julie, seseorang yang di dalam kelembutannya tersimpan kekuatan tekad sekokoh gunung, dengan karakter kuat yang “tidak mau menyusahkan orang lain”, dengan tatapan yang penuh daya juang terus mengerahkan diri selangkah demi selangkah menuju Mahameru. Mahameru adalah hadiah untuk orang-orang pemberani seperti Julie.

Juga untuk Mina yang keyakinannya terhadap satu hal tak akan tergoyahkan bahkan hingga matahari terbit dari barat sekali pun, yang mampu membagi keyakinannya pada kita bahwa kita BISA, kita SANGGUP, kita datang hanya untuk ini…… untuk Mahameru. Mungkin ada rasa sakit yang tertahan, ada rasa ingin menyerah. Entahlah, kata-kata itu tak keluar dari mulutnya. Hanya ada kata-kata, “Ayo…” saja.

Terakhir, untuk Ayin, seorang adik kecil yang menunggu di Ranu Pane, yang rela menahan diri tidak mendaki demi tim, mungkin mengorbankan keinginan pribadi demi kawan-kawannya hanya karena merasa tidak siap dan takut merepotkan orang lain. Pendakian ini memang bukan tentang “aku”, tapi tentang “kita”. Karena Ayin, semua barang terjaga dan tersimpan rapi di Homestay. Karena Ayin juga, pendakian ini berhasil. Betapa saya sangat menghargai kepribadian Ayin yang sama sekali tak mementingkan ego tersebut.

Untuk ketiga kawan seperjuangan ini, saya harus melakukan pendakian. Bertiga saja dan dua porter terbaik, kami menggantungkan nyawa kami bersama, kami berbagi dan memang tidak ada cara lain selain ketergantungan dalam lingkaran tersebut.

Saya rasa, kita tidak boleh meremehkan apa pun di dunia ini. Kita harus selalu waspada dan bersiap-siap dengan kondisi terburuk sekali pun 🙂

Pendakian bukanlah sebuah pencapaian, namun kebersamaan. Puncak adalah tujuan, namun keselamatan tim adalah nomor satu. Hanya ada 2 hal saja yang menjadi penegasan dalam pendakian kali ini:

  1. Harus mencapai puncak paling lambat pukul 7 pagi. Jika tidak, maka harus turun dari batas mana pun keberadaan kita.
  2. Apabila ada salah satu di antara kita yang tidak sanggup, maka harus turun semua.

Mari kita mulai……. “Mulai berjalan di jalan yang naik”, seperti kata Mina 😀

Senin, 15 Oktober 2012

Pagi-pagi sekali pada pukul 5.30, alarm sudah membangunkan saya. Mandi dan langsung memesan taksi yang akan mengantarkan saya menuju Stasiun Tugu. Seorang teman kos saya yang juga sudah bangun di kamar lantai 2, melongo ke bawah dari teras depannya dan mengatakan, “Hati-hati ya, May” dan “Jangan lupa oleh-olehnya” hahaha hati-hatinya saya turuti, tapi oleh-olehnya tidak. Lain waktu ya, mbak Dewi 😀

Ketiga kalinya naik KA ke Surabaya dan pertama kalinya naik Sancaka.

Suasana Stasiun di Pagi Hari

Makan tidak…makan tidak… akhirnya makan juga karena kelaparan 😀

Pukul 12 siang, saya memutuskan untuk turun di St. Wonokromo, yaitu stasiun sebelum St. Gubeng. Dari sana, saya keluar mencari taksi menuju Bandara Juanda. Perjalanan ini hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja. Di bandara, pertama-tama saya bertemu dengan Mina pada pukul 1 lebih 30 menit. Senang sekali rasanya 🙂

Lalu, kami berdua menunggu Julie dan Ayin. Syukurlah, tidak ada delay sehingga kami bisa lebih cepat menuju Tumpang. Lebih cepat 15 menit sepertinya. Dalam perjalanan yang penuh canda tawa, rasanya sangat menyenangkan. Ayin yang baru saya kenal pun ternyata adalah pribadi yang lepas kendali. Ups, bercanda. Pribadi yang tanpa beban maksud saya, sehingga enak diajak bercanda 🙂

Kami melewati area yang terkena lumpur lapindo di Sidoarjo dan ada niat sesaat untuk berhenti dan berfoto, namun hanya sebatas niat saja. Ketika memasuki kota Malang yang justru menawarkan pemandangan yang cantik, Mina sudah tertidur. Beliau benar-benar capek sepertinya karena aktivitasnya yang begitu padat sebelum perjalanan ini.

Foto paling rapi dan bersih selama perjalanan ini 🙂

Sebelum pukul 6 sore, kami sudah tiba di Tumpang, tepatnya di Indomaret depan pasar Tumpang. Pak Laman dengan jeep hijaunya sudah menunggu kami. Kami berbelanja untuk makanan selama perjalanan, yaitu roti. Lumayan untuk mengganjal perut sebelum makan malam. Perjalanan ke Ranu Pane butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit. Kami pun sempat mampir ke rumah Pak Laman, dan saya sempat berbincang sejenak dengan istrinya yang pernah membuatkan saya dan teman-teman segelas teh selamat datang sewaktu menginap di rumah Pak Laman dalam pendakian sebelumnya. Ibu, saya tidak akan pernah melupakan kebaikan hati ibu dan bapak 🙂

Kami juga melakukan pendaftaran di kantor TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru). Sejujurnya saya tidak berani mengajak ketiga teman saya masuk ke dalam karena takut tidak diberi izin dan takut para petugas tidak yakin pada wajah-wajah teman saya yang imut itu untuk mendaki. Intinya, saya takut dipersulit. Ternyata tidak. Hanya sebatas pertanyaan-pertanyaan biasa saja, lalu Pak Laman ikut masuk dan mengobrol dengan para petugasnya.

Satu dokumen serius yang harus saya tanda tangani adalah: surat pernyataan akan mendaki sebatas Kalimati saja dan Taman Nasional tidak bertanggung jawab pada keselamatan kita jika “berani” muncak. Baiklah. Semua hal ada resikonya. Saya tanda tangan dan sebagai saksi, Julie ikut menandatanganinya. Biaya masuk per orang adalah Rp. 7.500,- dan satu kamera dihargai Rp. 5.000,-. Dokumen yang ditandatangani sepertinya lebih sedikit dibandingkan di Ranu Pane, dan biayanya lebih mahal Rp. 500,- hahaha 😀

Mari menuju Ranu Pane 🙂

Cahaya semakin redup pada sore menuju malam. Saya dan Ayin mulai merasa dingin di bagian belakang mobil, namun kami benar-benar menikmati perjalanan sambil berdiri dengan melihat pemandangan-pemandangan indah, juga berbagi cerita-cerita perkenalan awal seperti keluarga, shinjin, dan bahkan kami berbicara tentang bintang-bintang di angkasa. Akhirnya, kami capek sendiri dan kembali duduk. Sombongnya saya bilang ke Pak Laman, tidak perlu ditutupi mobil jeep ini. Sombong juga karena menolak pemberian syal dari Mina dan Julie hahahaha Dinginnya perjalanan, saya rasa adalah penyebab utama Ayin tidak sehat di malam harinya. Saya benar-benar sangat menyesal pada kondisi Ayin.

Sesampainya di desa Ranu Pane, yaitu desa tertinggi di bawah gunung Semeru, Pak Laman membantu kami mencari porter. Hari itu lepas hari raya Karo, yaitu hari raya suku Tengger sehingga sedikit sulit untuk mencari porter. Mereka biasanya akan berziarah ke makam pada hari-hari itu. Syukurnya kami masih bisa mendapatkan porter yang terbaik, yaitu mas Rianan dan kakak iparnya, mas Mono. Kami turun dari jeep. Saya dan Ayin sangat senang melihat kehangatan di kursi depan mobil dan Mina masih asik mengotak-atik ipad nya. Saya rasa Ayin juga setuju jika harus menjaga senior dengan baik 🙂

Kami diundang makan malam oleh mas Rianan dan keluarga, menikmati kue kering perayaan hari raya dan menghangatkan diri di tungku api tempat mereka memasak. Saya senang sekali saat itu karena bisa kembali berkumpul dengan masyarakat desa yang ramah. Selepasnya, kami langsung menuju ke Homestay Pak Tasrip/Homestay Family. Ini adalah satu-satunya homestay di Ranu Pane dan termasuk penginapan terbaik menurut saya.

Kami menyewa dua kamar. Satu orang dikenai biaya sewa sebesar Rp. 75.000,-. Usai mandi, kami melakukan packing ulang, lalu gongyo daimoku. Pukul 11 malam, kami tidur. Ayin merasa badannya dingin. Mungkin juga masuk angin. Kami berpelukan di depan tunggu api. Minum air hangat hanya boleh dilakukan selepas badan sudah normal kembali. Jika badan sangat dingin, langsung minum air hangat, sepertinya tidak terlalu baik juga. Di sini Ayin mengatakan bahwa, esok hari sepertinya ia tak akan ikut mendaki. Pukul 1 dini hari, kami kembali ke kamar masing-masing. Saya pikir ia akan sulit tidur juga pada malam itu. Continue reading

Advertisements

[bagian 1] 3 kawan. 2 hari. 1 mimpi.

Berbicara tentang foto terakhir, ini foto terbaik saya. Lihatlah betapa lebar senyum saya =)

Baca ini pertama-tama

Saya menuliskan nama Mina dan Julie saja, namun di dunia nyata saya menambahkan kata cici di depan nama tersebut. Catatan perjalanan ini hendaknya dibaca berurutan (sequential) agar mengerti dengan tepat detail perjalanan yang sudah terjadi.

Jumat, 5 Oktober 2012

Saya lumayan dikejutkan dengan email dari Mina yang mengajak naik gunung. Naik gunung? Dengan takjub tak bergeming (lebay nih), saya reply: iya, kapan pun Mina. Ternyata dua minggu lagi. Gubrakkk hahaha namun, sejak dahulu kala saya sudah pernah mengucapkan, “Your wish is my command“, maka mulai tanggal ini, doa-doa saya hingga hari-H hanyalah soal gunung…gunung..dan gunung, termasuk satu doa keramat, “Semoga kuliah hari Kamis, 18 Okt, diliburkan”. Benar loh. Kuliah diliburkan karena dosen saya harus ke Medan menghadiri rapat APTIKOM. Mina mengajak Julie dan Julie mengajak Ayin. Jadilah kami berempat berencana melakukan pendakian yang hanya ada satu kepastian, yaitu: tanggal 17 Oktober harus berada di Puncak Semeru. Iya, tanggal 17 Oktober adalah hari yang paling bagus untuk berada di puncak gunung: MAHAMERU – tanah tertinggi pulau Jawa. Tanggal itu adalah hari ulang tahun Mina dan peringatan 2 tahun penerimaan Gohonzon saya.

Betapa menakjubkannya rencana yang kami buat selama 10 hari.  Pada tanggal 5 sore, rencana pasti yang sudah kami buat yaitu:

  • Transportasi Tumpang-Ranu Pane akan menggunakan Jeep Pak Laman, seharga 450ribu. PP 900ribu.
  • Diperlukan porter.
  • Diperlukan fotokopi KTP 2 lembar dan surat keterangan sehat dari dokter.
  • Perjalanan akan dimulai pada tanggal 15 Oktober. Continue reading

Untuk Kita. Cheers ^_^

.A.K.U.

Terdiam tak bisa berkata-kata.

Aku bahkan tak mengerti apa yang bisa kutuliskan di blog ini untuk mewakili emosiku.

Sembilan tahun aku menantikan pendakian sempurna ini.

Mahameru kembali menyambutku dengan penuh kelembutan.

Namun, hari ini berbeda.

Aku mencumbui udara paginya bersama kawan-kawan terbaik yang kumiliki.

Hari ini, ritual syukur setiap kali tiba di puncak tak kulakukan seorang diri lagi.

Di kiri dan kananku, dua kawan seperjuangan ikut duduk bersama dan berdaimoku,

menyelaraskan alam semesta kecil dari dalam diri pada semesta besar.

Sesuatu yang kumimpikan tapi tak berani kuharapkan,

akhirnya terwujud.

.

Tepat dua tahun lalu,

aku memilih Budhisme sebagai jalan hidupku.

.

.

.K.A.W.A.N.

Pagi itu tak terlalu dingin, angin pun tak kencang bertiup,

 suatu pagi yang sempurna untuk sebuah pendakian.

Namun, awan gelap menutupi matahari,

tak lama hujan turun membasahi bumi Mahameru.

Dalam hati aku berdoa,

Wahai para Dewa penjaga Mahameru,

biarkan aku melunasi janjiku pada mereka,

kawan-kawan seperjuangan terbaikku dengan keindahanmu.

Seketika itu juga, hujan pun menghilang dan tercipta sebuah pelangi.

.

.

.K.A.K.A.K.

Untukmu yang berulangtahun,

untukmu yang telah menaklukkan diri sendiri dalam sebuah pencapaian menuju puncak,

seketika itu juga kau telah menaklukkan diriku.

Mulai saat ini, izinkan aku memanggilmu kakak.

Aku tak bisa memberikan hadiah apapun di hari ulang tahunmu,

kecuali sepenggal kisah petualangan yang indah ini.

Selamat ulang tahun, kakak 🙂

.

.

.

.

.

Rabu, 17 Oktober 2012.

Regards,

Maya Cendana

Hormatku pada Semeru

Datang silih berganti, apa saja. Tak usai dan berkelanjutan. Ketika kesibukan tak kuhentikan, maka tak akan pernah sebuah tulisan berhasil dituntaskan.

Preambule

SEMERU nama gunung itu, gunung tertinggi di pulau Jawa, dan MAHAMERU adalah puncaknya, tanah tertinggi persemayaman para Dewata.  Jalur dari batas vegetasi menuju puncak, yakni bentukan segitiga yang nampak dari Jambangan dililit oleh Sang Naga dan para buyut mendiami puncaknya, sedangkan para peri tetap saja berada di danau bawahnya. Ya. Itu danau yang disebut Ranu Kumbolo. Tanyalah “orang pintar” atau tetua. Semoga mereka menjawab ya dan kau percaya dengan ceritaku.

Bagaimana pun, gunung ini spesial. Aku memiliki hubungan khusus dengan gunung ini, terutama di dua tempatnya: Tanjakan Cinta dan jalur menuju puncak. Angka tiga seolah-olah melengkapi cerita tadi – Sang Naga, buyut dan para peri. Jika 2009, dua laki dan satu perempuan, maka 2012 menjadi satu laki dan dua perempuan. Aku, Rony dan Melati. Bertiga kami diundang oleh gunung ini.

Mengapa kita mendaki gunung? Tentu saja karena gunung tersebut mengundang kita. Selamat datang di Semeru 🙂

Sabtu, 4 Agustus 2012

Tanggal empat bulan Agustus usai Purnama semalaman menerangi upacara Kasada di Bromo, pukul tiga sore, aku dan Rony menyewa dua ojek yang satunya seharga 125 ribu menuju Ranu Pane dari Cemoro Lawang. Sensasi lautan pasir yang lembut beradu pada roda motor, kencang berputar maju, terkadang hingga miring, membuatku berkeringat dingin. Berdarah suku Tengger mungkin membuat dua pengendara motor tersebut pakar dan dapat kami percayai. Kami selamat.

Motor berhenti tepat di depan Loket Pendaftaran Pendaki. Berceloteh panjang lebar dengan petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tak membuat kami dibebaskan dari kewajiban menyertai surat keterangan sehat dari dokter untuk pendakian yang hanya boleh sampai batas Kalimati saja. Dalam sesuatu yang disebut masalah, selalu ada keberuntungan, dan keberuntungan tersebut bernama Pak Laman. Beliau memberikan tumpangan mobil Jeep cuma-cuma dari Ranu Pane menuju Tumpang, pengantaran ke klinik, juga akomodasi di rumahnya. Sebelum keberuntungan datang, aku dan Rony sudah memutuskan untuk menginap di Losmen Tasrip (Homestay Family). Sudah terbayang hangatnya air untuk mandi, empuknya kasur sebagai alas tidur dan kelezatan makan malam yang disajikan oleh Ibu Tasrip yang ramah, namun semuanya tiba-tiba menjadi blink. Kami mengubur angan seketika meski lebih dari 12 jam dalam tidur dan terjaga, pikiran masih dipenuhi oleh tiga fasilitas tersebut. Melati akan kami jumpai 30 menit dari pukul lima sore saat kami berangkat menuju Tumpang. Dia naik ojek dari Tumpang, sebelumnya dari Terminal Arjosari dengan angkot, dan taksi dari Bandara Malang. Dalam Jeep, bertiga bertumpukan, kami menyantap Good Time.

View dari Ranu Pane menuju pertigaan Bromo-Tumpang-Ranu Pane

Menikmati perjalanan

Pukul tujuh malam, sesampainya di Tumpang, usai memperoleh Surat Keterangan Sehat yang menyatakan: tekanan darah, berat dan tinggi badan, kami menyantap mie bakso di samping rumah Pak Laman. Pulangnya, teh manis hangat buatan Ibu Laman sudah tersedia di atas meja. Aktivitas malam sebelum bersembunyi di balik kantong tidur masing-masing adalah sikat gigi dengan air sedingin es dan membolak-balik buku tamu yang penuh coretan terima kasih dari para pendaki, terutama mapala.

Minggu, 5 Agustus 2012

Kami bangun sebelum pukul enam pagi, sikat gigi, minum teh manis hangat, lalu berangkat. Perjalanan satu setengah jam kami tempuh dari pukul 06.30. Good Time tetap menemani perjalanan menuju Ranu Pane dari rumah Pak Laman di Tumpang. Dua bungkus Good Time yang dibeli oleh Rony sudah habis dalam perjalanan, batal menjadi bekal pendakian. Kami sisihkan tiga keping biskuit tersebut untuk bapak penyopir truk sayur yang mengantar kami, juga uang rokok sebesar 50 ribu sebagai ucapan terima kasih.

Dari ki-ka: Bp. Sopir, Bp. Laman, Rony dan Melati

Good Time yang setia menemani perjalanan

Sesampainya di Losmen Tasrip, angan-angan kami terwujud. Mandi air hangat dan makan pagi yang lezat. Sebagian barang yang tak dibawa mendaki, kami titipkan ke Ibu Tasrip dan oleh Ibu Tasrip, barang-barang kami diletakkan dalam sebuah kamar berukuran kecil yang terkadang dipakai cucunya jika datang berkunjung ke Ranu Pane.

Usai mendaftarkan diri secara resmi sebagai pendaki Semeru, kami mengawali pendakian dari Pintu Rimba pada pukul 11.00 dan tiba di Ranu Kumbolo setelah melewati empat posko pada pukul 15.30. Sepi dan sunyi. Tenda kami pasang, matras dan sleeping bag kami atur senyaman mungkin. Matahari masih bersinar ketika kami naik Tanjakan Cinta menuju Oro-oro Ombo. Rony hendak mengambil beberapa foto, namun matahari enggan mengabarkan terbenamnya ia. Maka, semoga saja pemandangan savana luas cukup memuaskan Rony. Sesekali nampak asap mengepul di puncaknya, menari mengikuti arah angin. Bertiga kami menikmati sore yang tenang, sore yang tidak ada siapa-siapa lagi. Ketika langit mulai gelap, kami menuruni Tanjakan Cinta yang tak berubah menjadi Turunan Cinta. Dingin mulai merambat, namun tetap saja kami enggan mencari kayu untuk api unggun. Alhasil, api pun hidup segan mati tak mau dengan membakar ranting-ranting tipis seadanya. Tak peduli dengan hal tersebut, kami memasak saja, memasak mie dan bakso, serta membuat milo hangat.

Bintang berjuta mengukir langit bersama rembulan. Malam masih tetap senyap hingga terlihat kilauan senter dari atas Tanjakan Cinta. Lebih dari lima pendaki turun dan bermalam di Ranu Kumbolo. Kami akhirnya mempunyai teman lain dan Kumbolo tidak menjadi horor lagi, setidaknya tidak membuatku berpikir macam-macam 🙂

Pintu Rimba

Di depan pos 3 yang roboh, Melati mencoba beban para porter

Melewati pos 4, penampakan ini akan membuat kita tersenyum 🙂

Selamat datang di Ranu Kumbolo

Oro-oro Ombo, savana nan luas

Continue reading