Buku AI: Teknik dan Aplikasinya (Sri Kusumadewi)

Mind Map hasil Bacakilat 3/10 (tiga dari target membaca 10 buku). Buku ini terdiri dari 332 halaman. Waktu total yang dibutuhkan adalah juga berhari-hari… dipelajari di sela-sela waktu kosong di kampus, dan sekarang diselesaikan ketika nongkrong sendirian sehabis mahgrib hingga hampir tengah malam.

Setidaknya bulan ini bisa menyelesaikan 3 mind map sebagai ringkasan belajar, meski beberapa bagian dilewati.

IMG_1542

Screen Shot 2020-02-01 at 23.08.51

AI Teknik dan Aplikasinya (Sri Kusumadewi)1

AI Teknik dan Aplikasinya (Sri Kusumadewi)2

 

Buku Konsep AI (Anita Desiani)

Mind Map hasil Bacakilat 2/10 (dua dari target membaca 10 buku). Total bab yang dipelajari adalah 9 dari 10 bab dengan total sekitar 250 halaman. Waktu total yang dibutuhkan adalah berhari-hari -_-

IMG_1209

Konsep Kecerdasan Buatan (Anita Desiani)2

Konsep Kecerdasan Buatan (Anita Desiani)

Pagi Pertama Januari 2019

Dua minggu di akhir 2018, saya berturut-turut sampai di Kampus Trilogi sebelum jam semestinya, dan pulang juga setelah jam semestinya. Rasanya menyenangkan menjadi manusia pagi. Oleh karenanya, di tanggal pertama tahun yang sudah bertambah satu ini, saya ingin tetap mempertahankan kebiasaan tersebut.

Membangun sebuah kebiasaan adalah hal yang sulit pada awalnya, namun menjadi gampang sesudahnya. Thanks to basal ganglia atas jasa  pembentukan pola kebiasaan kita. Lebih jelasnya monggo membaca buku The Power of HABIT karya Charles Duhigg.

Ketika kita sedang berjuang membentuk kebiasaan, dibutuhkan upaya yang gigih setiap saat, terutama ketika kita sedang tidak ingin ngapa-ngapa-in. Ketika berada di titik yang tidak ingin ngapa-ngapa-in ini, carilah sesuatu yang dapat mendorong kita atau driving force. Di Gakkai, sering kami sebut sebagai genten atau starting point. Penting untuk kembali lagi ke alasan mengapa kita harus berupaya. Sebuah karya dari Angela Duckworth berjudul GRIT semoga dapat memberikan pemahaman akan pentingnya upaya yang gigih untuk mencapai tujuan level tertinggi kita. Rumusnya sederhana:

BAKAT x UPAYA = KETERAMPILAN
dan
KETERAMPILAN x UPAYA = PRESTASI

Kedua buku berjudul The Power of HABIT dan GRIT tersebut telah berjasa membangunkan saya setiap paginya, selain buku My Morning Routine – How Successful People Start Every Day Inspired karya Benjamin Spall dan Michael Xander yang juga saya baca. Buku My Morning Routine tersebut mengisahkan sekitar 60-an orang dengan kebiasaannya masing-masing.

So, di tanggal satu ini, saya bertekad untuk berupaya lebih keras lagi dan membentuk lebih banyak kebiasaan baik hingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup saya.

Mereka yang setiap pagi bangun dengan suatu tujuan yang hendak dicapai dan sebuah misi yang hendak dipenuhi, merupakan orang yang paling bahagia diantara  yang lainnya. Seperti inilah para angora SGI. Bagi kita, setiap hari merupakan hari untuk mencapai tujuan dan kepuasan tertinggi. Bagi kita, setiap hari bagaikan hari pertama di Tahun Baru. Marilah kerahkan diri Anda dengan penuh semangat dan tekad untuk menjalani hidup setiap hari dengan seoptimal mungkin, sehingga Anda bisa menorehkan tinta emas dalam catatan kehidupan. (dari Bimbingan Harian Mentari Hati)

IMG_8137Mendung di pagi pertama Januari 2019

Norwegian Wood

Sudah baca Norwegian Wood-nya Haruki Murakami? Aku sudah; dan reaksiku adalah Wow! Aku tak menyangka isinya begitu. Aku menikmatinya. Sungguh. Semua tokoh dengan karakteristiknya masing-masing masih membekas dibenakku sampai sekarang.

“Which is why I am writing this book. To think. To understand. It just happens to be the way I’m made. I have to write things down to feel I fully comprehend them.”

Ketika membacanya, kurasa aku juga ‘miring’, dan perlu memutar sekrup yang ada di otakku setiap hari. Biasa aku memutarnya dengan menulis. Sekarang setelah lama tak menulis, kurasa aku pun mulai ‘miring’, tapi tak sampai senaas Naoko.

Kenapa ya aku mulai ‘miring’? Ehm, entahlah…

Ancora Imparo!

Jejak-jejak Virtual

Buku Jejak-jejak Virtual yang Menginspirasi, karya dosen UGM, Bp. Len, telah menemani saya dalam beberapa hari terakhir ini. Inginnya adalah menuliskan pendapat saya tentang buku ini, namun saya sedang tidak ada waktu. Ehm, waktu sebenarnya ada, namun ada prioritas lain yang mesti didahulukan. Buku ini diberikan secara gratis oleh beliau, namun sayangnya terbatas. Teman-teman yang ingin membaca, terutama teman-teman mahasiswa dan dosen, bisa mengunduhnya di sini. Semoga manfaat yang kita rasakan sama bahkan lebih untukmu, teman 🙂

JUDUL: Jejak-Jejak Virtual yang Menginspirasi.

PENULIS: LUKITO EDI NUGROHO

SINOPSIS: Banyaknya catatan yang saya tulis di Facebook menginspirasi saya untuk mengumpulkannya dalam bentuk buku. Kebanyakan catatan itu muncul sebagai respon dari berbagai kejadian sehari-hari. Dengan menuliskannya dan membumbuinya dengan pesan-pesan tertentu, saya berharap buku ini dapat memotivasi pembacanya, khususnya para mahasiswa, terkait beberapa isu yang sering muncul dalam keseharian mereka. (sumber: Bp. Len)

Ngomong punya ngomong, ada banyak sekali topik blog yang ingin saya tuliskan sekarang, tapi lupakanlah… Saya sedang tidak bisa memikirkan hal lain kecuali bergulat dengan kesenangan membaca paper Prometheus, terutama penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Lin Padgham dan Michael Winikoff. Ahhhh ketika saya mengerjakan penelitian agent saat ini, ada banyak sekali ide masa depan yang ingin saya realisasikan. Sssstttt,… ada bocoran loh! Saya memutuskan akan mengambil penelitian S3 saya dibidang yang sama: agent oriented software engineering dan saya akan mengusahakan untuk melanjutkan studi saya di RMIT University. Mengapa? Jawabannya sederhana, karena apa yang ingin saya cari ada di kampus itu. Wow, ini seperti mimpi di siang bolong. Tidak apa-apa. Kata orang, bermimpi memang harus di siang hari agar apa yang kita impikan berjalan bersama tindakan kita. Kita tidak seharusnya bermimpi pada malam hari dan berkhayal bahwa mimpi kita akan dipeluk rembulan.

Ya begitulah. Saya adalah seorang pemimpi, namun saya bermimpi di siang hari 🙂

——————————

Teman saya pada hari Sabtu lalu tiba-tiba mengatakan bahwa seharusnya ia membaca majalah Soka Spirit bulan Mei, hal. 35. Artikel tanya-jawab tersebut memuat pertanyaan: Atasan saya terus-menerus membuat saya patah semangat. Saya melaksanakan Buddhisme, jadi mengapa dia membuat saya tidak bahagia?

Jawaban yang diberikan sebanyak 3 halaman hahaha panjang!

Ada 4 poin untuk mengubah sebab internal di dalam jiwa diri sendiri sehingga dapat mengubah kedinamisan hubungan itu. Salah satunya adalah:

Berhenti kerja untuk melarikan diri dari masalah akan membuat Anda kehilangan sebuah kesempatan yang sangat penting.

Tiba-tiba saya sadar bahwa dengan mengubah kalimat yang disesuaikan dengan kondisi saya, saya harus selalu menantang diri saya lebih keras lagi. Seperti ini perubahannya:

Berhenti mengadakan penelitian sulit (bagi saya) ini untuk melarikan diri dari masalah akan membuat saya kehilangan sebuah kesempatan yang sangat penting.

—————————– Continue reading “Ancora Imparo!”

The World is Yours to Change (Bagian 1 dari 2)

12042013709

Hal pertama yang menjadikan buku ini menarik adalah tiga esai yang ditulis berdasarkan pengalaman penulis sendiri, Bp. Daisaku Ikeda, ketika hidup di masa perang, menjadi korban dan bangkit membuat perubahan. Buku dan penulis buku adalah tak terpisahkan, maka dengan membaca ketiga esai “Kenangan Saya” yang terselip di antara 18 bab para tokoh dunia, kita bisa mengetahui hati dari sang penulis itu sendiri.

Guru-guru Masa Kecil Saya

Esai berjudul “Guru-guru Masa Kecil Saya” sebelumnya pernah saya baca juga di buku lain. Membacanya lebih dari 3x tidak membuat saya bosan. Membaca esai ini, saya jadi kilas balik dengan pengalaman bersekolah ketika bertemu dengan guru-guru yang sangat menginspirasi, guru-guru yang mendukung dan menjaga saya seperti “sakuramori” yang digambarkan dalam esai ini. Sakuramori adalah nama yang diberikan pada orang yang mengurus dan merawat pohon sakura (penjaga yang teliti).

Mereka mengamati pertumbuhan pohon dengan teliti, tetapi membiarkannya berkembang bebas. Sebagai contoh, jika sejak awal sekali kita menahan pohon dengan kayu penopang, pohon itu akan mengandalkan topangan kayu, dan tidak tumbuh kuat sendiri (hal. 149).

Saya membaca keagungan para guru masa kecil Ikeda dan saya pun, sama seperti Ikeda kecil, akan selalu ingat pesan dari Bp. Takeuci – guru kelas tiga dan empat Ikeda -, “Kalian boleh sepintar yang kalian inginkan, tapi kalau kalian tidak membentuk tubuh yang kuat selagi muda, kalian tidak akan berguna bagi siapa pun sesudah dewasa nanti. Kesehatan itu penting. Belajar itu penting. Pendidikan sejati menggabungkan keduanya” (hal 147).

Sekeping Cermin

Begitu saya membaca esai yang berjudul “Sekeping Cermin”, hati saya ikut menangis kehilangan kakak tertua Ikeda, Kiichi. Kiichi terbunuh di Burma dalam Perang Dunia II ketika Jepang mengirimkan banyak anak mudanya berperang sebagai Tentara Kekaisaran Jepang. Pada bagian ini, saya merasa menjadi ibu Kiichi yang bersedih atas mati muda anaknya yang penuh kesia-siaan. Saat itu, Ikeda sudah berusia 17 tahun. Kenangan akan kepedihan dan kegeraman atas perang, terwakili oleh kepingan cermin pecah milik ibunya yang ia bagi berdua dengan kakaknya sebelum perang meletus. Kalaupun saya menjadi Ikeda, saya akan melakukan hal yang sama. Meletakkan satu benda abadi tersebut untuk mengenang kakak yang wafat membela sesuatu yang ia tau salah namun tak memiliki kekuatan untuk menolaknya.

Hati Masih Tertutup terhadap Dunia?

Hal ini dijelaskan pada esai ketiga yang berjudul “Hati Masih Tertutup terhadap Dunia?”. Pengalaman masa kecil dan remaja Ikeda membentuk sebuah prinsip kuat setelah ia dewasa. Ia yang notabene seorang Jepang, mampu melihat Jepang dari sudut pandang holistik tentang negaranya sendiri yang menganut mitos keunggulan rasial.

“Kita tidak bisa melihat punggung kita sendiri, juga wajah kita sendiri. Untuk itu kita perlu cermin. Para pemimpin Jepang seharusnya mengamati diri mereka sendiri di cermin tetangga-tetangga mereka, cermin dunia, cermin Asia. Mereka seharusnya dengan rendah hati menyimak suara tetangga-tetangga mereka” (hal 237).

Ketika berbicara tentang Jepang, di masa kecil, saya pun sering mendengar cerita-cerita kejam tentara Jepang dari kakek saya yang memang hidup di zaman itu. Kakek saya dan Ikeda memiliki tahun lahir yang sama, jadi cerita tentang tentara Jepang pun serupa. Dalam hati, saya mengutuk tentara Jepang, namun ketika umur saya bertambah dan bertemu dengan Soka Gakkai, saya bisa melihat dengan mata hati yang lebih jernih. Saya selalu bertanya-tanya, jika tidak ada Soka Gakkai, akankah saya memiliki pandangan positif terhadap bangsa tersebut dan akankah saya menjadikan misi perdamaian Ikeda sebagai misi saya sendiri?

bersambung…