Gong Xi – 8,5 kg

Gong Xi, nama anjing jantan miliknya Bp. Aruji. Matanya yang kecil bukan karena sipit atau pun keturunan dari bapak ibunya. Matanya hanya tak dapat digunakan secara sempurna saja. Memasuki usianya yang ke-10 bulan, badannya semakin membesar, pun tidak seperti bapak ibunya. Minggu kemarin (18/12), Bp Aruji mengatakan berat badannya sudah mencapai 8,5 kg. Gong Xi yang lahir bertepatan di hari Imlek tahun ini, hatinya sangat baik, penurut dan tidak suka grasa-grusu seperti bapaknya, alias mondar-mandir secara serampangan.

Kecintaan dan rasa sayangku pada anjing bisa kuekspresikan pada anjing-anjingnya Bp. Aruji yang lebih dari 5 ekor. Senangnya 🙂

Rock climbing, nasib sang anjing

Satu hari ini, banyak sekali peristiwa yang terjadi.
Pagi-pagi aku mengikuti POMDA (Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah),
untuk Panjat Tebing, kelas ganda campuran di HBB Poltek Unsri.
.KALAH.
Tapi, setidaknya ada pengalaman, hehehe pengalaman malu :p
Untuk benar-benar menggeluti olahraga ini,
latihan fisiknya cukup berat.
Baru latihan beberapa kali saja, telapak tangan dan jari-jari sudah kapalan dan luka,
kaki pun begitu. Ahhh, sepertinya aku tak berminat untuk olahraga ini.
Harus butuh waktu ekstra!
Dan sekarang bukan saatnya lagi bagi diriku untuk bermain panjat-panjatan 🙂
Don’t go half way!
Ya, daripada setengah-setengah, lebih baik dari awal tak usah terlalu fokus ke sana.
Ini fotonya, baru melewati 2 papan, sudah terjatuh 😦


Lumayan…. –lumayan malu-maluin ha3–

 

Sadar wajah hancur, jadi cukup bayangan saja 🙂

Lantas, tiba-tiba ada orang Bangka yang mau membeli nomor simpatiku.
Nomor kami sama persis, namun dia pakai AS (+62852), sedangkan aku (+62813).
Sebenarnya, kalau HP-ku tidak hilang siang tadi, mungkin sudah kujual nomorku.
Orang itu mengoleksi nomor yang sama.
Jadi, aku pikir harga tidak terlalu menjadi masalah baginya.
Maklum, aku lagi butuh duit. he3 🙂
Ya,… nasi sudah menjadi bubur :p

Sepulang dari POMDA,
aku naik oplet jurusan Bukit-Ampera. Lantas berjalan kaki dari BKB (Benteng Kuto Besak) ke rumah. Setelah hampir sampai, baru kusadari bahwa HP-ku tak ada di dalam tas lagi.
Salahku juga, terlalu teledor.
Sudah tau bahwa jalanan ramai, tetapi tidak berhati-hati.
Ini adalah kehilangan ketiga yang kualami sejak SMP.
Kehilangan pertama, sewaktu pindah rumah.
Kedua, di bioskop.
Dan yang ketiga, tak jelas (antara oplet dan jalanan).

Langsung saja, setelah itu aku mem-blokir dan meminta nomor yang baru di Telkomsel Center (apalah namanya…). Syukurlah, bahwa ternyata, aku masih bisa menggunakan nomor yang lama, yang telah kupakai sejak kelas 2 SMA.

Sewaktu hendak pulang ke rumah,
ada seekor anjing yang sekarat di depan rumah.
Jahat benar orang yang telah membuangnya.
Benar-benar tak berperasaan.
Padahal, anjing juga memiliki jiwa, sama seperti manusia.
Tak tau mengapa ada orang yang tega-teganya meracuni anjing.
Jadi, anjing itu keracunan. Beritanya masih belum jelas, namun apapun itu, aku tetap merasa ‘terenyuh’ melihat dia. Benar-benar sakit hatiku kalau melihat kondisi dia.

Namun, apa daya, aku tak bisa membawanya pulang.
Tidak diizinkan oleh orang tua.
Alasannya masuk akal, dan aku bisa mengerti.
Hal yang paling menyakitkan, adalah ketika diriku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong anjing itu, kecuali memberi sedikit makan (karena dia tak nafsu makan), memindahkannya ke tempat aman dan mengirim daimoku.
Kami sekeluarga benar-benar merasa tak berdaya!
Kami sekeluarga adalah pecinta binatang, terutama anjing,
sampai-sampai papaku pernah berandai-andai membuat tempat penampungan anjing-anjing

terlantar. Ada blog yang menarik dari temanku, Rony Zakaria, tentang On Assignment : Pets, Men Best Friend ?
Aku benar-benar terharu sewaktu membacanya, mungkin Anda juga 😐
Aku berdoa, kalaupun dia harus mati, jangan dibuat menderita dahulu.
“Karmanya memang seperti itu”, ujar papaku.
Semoga kita kembali berjodoh ya, jing 🙂
Maafkan aku… hikz…hikzzzz…hikzzzzzzzzzzzz

 


Papaku tak setuju melihat foto diatas,
katanya: melihat dia yang tergeletak tak berdaya itu
hanya menambah rasa bersalah kita saja

—MOLLY—
Kau tak pernah kedinginan,
Kau tak pernah kelaparan,
Kau tak pernah ketakutan,
Kau tak pernah bersedih,

Segala yang kau mau, kami berikan,
Segala kesalahan yang kau buat, kami maafkan,

Di kala kau tak nafsu makan, kami sedih,
Di kala kau datang bulan, kami merasa bersalah,

Bersalah karena tak mengawinkanmu,
Bersalah karena tak memberi jalan menyalurkan nafsu birahimu.
Demi ego semata,
agar bulumu tak rontok,
agar kau tetap cantik, meski telah sewindu kau hidup,

Molly,
kau adalah teman hidup kami…
kau adalah satpam keluarga kami…
kau adalah bagian dari keluarg kami…

di saat rumah kosong, kau yang menjaganya,
di saat motor di depan pagar, kau yang menjaganya,
di kala pengemis gagah meminta sedekah, kau meng-gong-gong-nya,
di kala asuransi, MLM, penawaran jual-beli barang lainnya, kau meng-gong-gong-nya,
orang-orang lancang itu pun tak berani melewati pagar rumah kita 🙂

Kau bayangkan saja, Mol.
Ada saudaramu sesama Anjing,
namun nasib kalian berdua
jauh berbeda… jauh berbeda… jauh berbeda.

Maka, berbahagialah kau dan kami yang telah menjadi satu keluarga,
sampai akhir hayat hidup kita.

Buku Vaksin Molly

catatan perkenalan pertama dengan Molly, si Anjing Budukan

 


Foto terbaru Molly, diambil hari ini

PS: Molly dulunya juga menyedihkan sewaktu berumur 2 bulan, namun akhirnya terselamatkan berkat tangan ajaib papaku. Bayangkan saja, dokter hewan yang kami temui saja sudah putus asa. Papaku pecinta musik, hewan dan bunga. Pernah aku membawa bunga (sudah lupa jenisnya) dari Curup-Sindang Jati dan ternyata masih bisa hidup sesampainya aku di Palembang, berkat perawatan papaku. he3 jadi sombong akunya 😀 bokap sendiri, kalau bukan anaknya yang banggain siapa lagi dong? hahahaha

Ehmmm, masih banyak lagi yang mau ditulis di sini, namun aku harus beristirahat sekarang, menyongsong hari esok yang lebih baik. Good Night, friends!