200DC | Hari ke-68 dan 69

quote

Aku tidak dapat menyimpulkan apapun dari apapun yang terjadi. Semuanya masih tertutupi oleh kabut pekat. Aku masih tetap bertumpu pada kedua kakiku sendiri dan untungnya masih bisa terus bergerak dalam keadaan sadar. Di kiri-kananku, nampak beberapa orang terdekatku juga sibuk bergerak di jalan yang telah dipilihnya sendiri. Memang jalan kami masing-masing berbeda, tapi kami masih terus bergerak maju bersama. Tidak satu pun dari kami yang tau batas perjalanan kami apa atau seberapa lama lagi waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tempat tujuan masing-masing. Kami hanya tau bahwa kami harus mencari sendiri apa yang kami butuhkan. Perjalanan ini adalah milik pribadi.

Advertisements

200DC | Hari ke-63 s/d 67

Jadex Tutorial

CaptureSetelah bermalas-malasan belajar Jadex, akhirnya hari ini saya menuntaskan tutorialnya juga. Ohhhh kenapa saya selalu malas berlatih? Saya seperti mau “muntah” saja jika lihat komputer, apalagi kode-kode program. Rasanya sangat membosankan. Ingin rasanya untuk menghentikan hal ini, tapi tidak bisa. Pekerjaan saya memang ini, jadi suka tidak suka, tetap harus saya lakukan 😀

Tutorialnya bisa dilihat di http://www.activecomponents.org/bin/view/About/Features, sedangkan source code sudah disediakan di repo GrepCode: http://grepcode.com/snapshot/repo1.maven.org/maven2/net.sourceforge.jadex/jadex-applications-bdi/2.3/

Selamat berlatih juga, mantreman 🙂

Hubungan Manusia

Hal yang paling membahagiakan kita sebagai seorang manusia adalah bergelut di dalam hubungan antar manusia. Sebut saja: persahabatan. Paling penting untuk menumbuhkan diri sendiri dahulu dan menjadi kuat sehingga persahabatan yang dibangun pun akan sekokoh karang. Ahhh semoga saya bisa menjadi sahabat yang baik. Percayalah bahwa pada akhirnya kita akan belajar banyak dari persahabatan yang kita bina, terutama kita bisa belajar untuk mengatasi rasa ego diri sendiri 🙂

Mountain Addict

Betapa saya ingin sekali ikut mendaki bersama Mas Mbenk kemarin (5 Juli). Rasa inginnya sudah memuncak. Kemarin adalah titik klimaks ketahanan saya. Ya, saya merasa begitu. Tubuh dan pikiran saya sangat ingin menggagalkan janji pada diri saya sendiri. Entah mengapa bisa-bisanya tahun lalu saya membuat janji bahwa saya tidak akan naik gunung hingga saya lulus kuliah. Sebenarnya naik gunung tidak akan menjadi masalah jika saya bisa membagi waktu dan fokus. Sayangnya, saya tidak mampu. Saya mengerti batas ketahanan diri saya sendiri.

Akhirnya, saya berhasil mengontrol diri saya. Saya berhasil mengatasi dorongan naik gunung saya. Sebagai hadiahnya, saya memperoleh perasaan sangat puas 🙂

A Youthful Diary – Daisaku Ikeda

Akhir-akhir ini saya sering membaca buku catatan harian Ikeda Sensei. Buku ini ditulis pada tahun 1949-1960, ketika Ikeda Sensei berusia 21 tahun hingga Ia dilantik menjadi Presiden ke-3 Soka Gakkai pada usianya yang ke-32 tahun.

Kemarin, saya tidak sengaja membaca tekad yang ditulis oleh Ikeda Sensei ketika usianya sama seperti saya sekarang:

Must develop genuine ability; must study and polish my skill. No choice but to forge ahead tirelessly, more than others, more than anyone. Twenty-seven years have passed since I began this voyage of life. Must stand up in three years, when I am thirty. Will live powerfully! (Sept 23rd, 1955)

Baiklah Maya, maju pelan-pelan dan coba kerjakan tesis sedikit demi sedikit lagi!

200DC | Hari ke-42 s/d 62

Sudah dua puluh hari saya tidak menulis. Ehm, begitu cepatnya waktu berlalu! Banyaknya hal yang sudah dilakukan, semoga menjadi bernilai dan ada hikmahnya di masa mendatang 🙂

Tesis

Apa kabar tesis?

Melos

Tidak terasa beberapa hari lagi, tepat dua bulan saya tinggal bersama Melos. Minggu lalu, dia 2x muntah di atas tempat tidur saya. Satu kalinya dia pup dan pipis. Saya benar-benar butuh kesabaran. Baru kali itu saja dia bertingkah tidak sopan. Saya sangat menyayangi Melos, tetapi saya juga harus realistis bahwa memelihara seekor kucing di kamar kos adalah hal yang sulit dan tidak semua orang bisa melakukannya. Saya merasa tidak sanggup lagi. Jodoh kita hanya sampai di sini sajakah, Melos?

Nalurinya sebagai kucing yang suka berkeliaran, kotor-kotoran dan makan sembarangan sisa anak-anak kos lalu “mencret dan muntah” tidak bisa saya cegah. Lagipula, saya ini siapa yang harus memaksakan kehendak saya kepadanya? Dia adalah makhluk bebas dan sudah saatnya orang lain yang lebih baik mengadopsinya. Orang tersebut adalah teman kampus saya dan dia memiliki anak-anak kecil. Wah, Melos pasti banyak teman bermain nantinya 🙂

Terkadang, mencintai memang harus berani melepaskan…

Saya sangat-sangat sayang Melos, tapi ya sudahlah… Biar Melos tetap menjadi kenangan indah saya saja. *bercucuran air mata*

MelosMelos dan tanaman kesayangannya

Tak berapa lama saya menuliskan ini, teman saya mengabarkan bahwa ia akan adopsi Melos hanya ketika saya sudah tidak di Jogja lagi. Ehm. Baiklah. Jodoh kita masih berlanjut ya, Melos.

Ini titik klimaks saya ketika saya sedang sakit, capek, banyak kerjaan dan banyak yang dipikirkan, Melos jadi bandel. Orang kebanyakan akan memelihara binatang sebagai teman di masa pensiun mereka, lah saya yang masih usia produktif malah sibuk bermain-main dan merawat seekor kucing. Oh, berhargakah semua ini?

Stop mengeluh, Maya. Sesuatu yang dinamakan cinta hanya mengenal kata memberi saja. Tak perlulah kau berharap banyak!

Satu hal yang membuat saya benar-benar drop adalah ketika kemarin saya mendengar saudara Melos yang dipelihara oleh x meninggal. Dia meninggal begitu saja. X tidak mau berusaha mengobatinya dengan membawa dia ke dokter. Oh! X juga menyarankan saya untuk membawa Melos ke Pasar Ngasem biar orang pasar bisa menjualnya. Semakin lama saya semakin heran dengan hidup ini, jangan-jangan saya memang orang yang paling “nyeleneh” sendiri -_-

Sesungguhnya ini bukan juga soal cinta-mencinta, tapi soal tanggung jawab. Saya hanya berusaha memenuhi tanggung jawab saya sebagai seorang manusia yang tidak memandang rendah terhadap binatang. Saya hanya melakukan apa yang saya bisa saja…

Oh Melos,… Mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya pada kita…

Saya harus mendoakan Melos agar kami bisa hidup dengan harmonis dan seirama!

A Youthful Diary – Daisaku Ikeda

Tadi saya mengatakan bahwa saya sedang sangat capek dan masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Salah satu cara meningkatkan kembali motivasi saya adalah dengan membaca bimbingan Ikeda Sensei. Ketika membaca, mengetahui hati sensei dan melihat bagaimana sensei selalu mendorong dirinya hingga ke batas maksimal, saya akan malu sendiri dan menyadari bahwa apa yang saya lakukan bukanlah apa-apa. Jadi, saya tidak boleh sama sekali mengeluh, apalagi menyerah.

Bulan Juli tahun 1954, beberapa kutipan yang mendorong semangat saya, antara lain:

  • Talked quietly with my wife until late at night. Hope she will never become old. Want her to be eternally youthful. (1)
  • Must not be lazy. Whoever fails to study deeply will regret it for a lifetime. (2)
  • Each year, must use this training course as a stepping-stone to train myself to my fullest ability. (3)
  • Must visit this ‘Eagle Peak’ once each month. (4)
  • The Gakkai’s spirit and ideals should be put into practice more deeply, more powerfully, more fairly and more rapidly. (5)
  • If we forget the debt of gratitude we owe our mentor, from then on we will be lower than animals. Those who devote their entire lives to the mentor – these are true disciples. (7)
  • Returning home, thought of how sorry I will feel for the members who come to my lectures if I do not grow more. (8)
  • The staff members, all excellent individuals, will become the center of the Gakkai and of Japanese society, ten or twenty years from now. (11)
  • To campaign, they must have bodies like iron. (11)
  • I wonder what dire circumstances my life would be in by now if I did not have faith or a mentor in life. (13)
  • Must always arrange things in my mind, then put them into practice. (14)
  • I am twenty-six. I have awakened to the determination to be ready to give my life at any time for Buddhism. I have been fighting to my heart’s content. If I think about it deeply, however, haven’t all my actions been carried out under President Toda’s warm protection? (15)
  • As society grows more complex each year, clothing styles will become more practical. (16)
  • My oldest son, Hiromasa, is becoming quite a raucous child. What destiny awaits him? Can only pray he becomes a healthy, upstanding individual, a man of pure faith, a believer in the Daishonin’s Buddhism. (16)
  • Politicians! Leaders! I want to cry out – do your best! Discard your hunger for fame and wealth and donate your lives for the suffering people! (17)
  • Highly value my great teacher, excellent seniors, fine friends and good neighbors! Must care for and respect them. (19)
  • After Sensei dies, I must act in a pivotal role, taking on heavy responsibilities. (20)
  • Seniors! Lead your juniors by example, through your own growth. Juniors! Continue to follow your seniors and advance! (20)
  • Each time I lecture, I think that I must make courageous progress; must continue to study. (21)
  • Want only to purify my faith, step by step. Deeply ashamed of my lack of ability, my tendency to rely on shallow understanding. (22)
  • Keenly feel that the fundamental power behind every campaign is one’s life-force. (23)
  • Taiko Hideyoshi saying, “People are at once the greatest and the smallest thing in the world.” (24)
  • Exhausted, returned home just after 8:00. Bored. Must take care of my health. Sat quietly at my desk, scribbling notes in my notebook. (30)

Daimoku Bersama

Saya tidak bisa mendorong diri saya untuk bangun jam 05.40 pagi lagi. Saya merasa begitu lelah ketika terbangun hanya untuk mematikan alarm saja dan mendapati diri saya melanjutkan tidur. Berita baiknya, dari daimoku pagi bersama Julie, saya merasakan banyak sekali manfaat. Ce Julie, tunggu saya ya! Saya tetap berusaha bangun pagi lagi!

Itu tadi cerita daimoku pagi bersama Julie, sedangkan untuk daimoku malam, mulai dari minggu lalu, setelah Yasuko san dan Jessy memakai whatsapp juga, bersama dengan Dessy, kita membuat group pemudi Jogja yang dinamakan oleh Dessy: Putri Berejeki ^^

Dalam group tersebut, setiap malam kita berdaimoku malam bersama.

belajar gosho Abutsu-boSemua orang memiliki kesulitannya masing-masing, namun kita akan selalu berjuang bersama dan jangan pernah merasa sendiri, my lovely kayokai-sisters. Sama seperti catatan harian Ikeda Sensei, saya juga mau terus berjuang dan bertumbuh lagi. Demi diri sendiri, demi hukum, dan demi masyarakat!

———————————–

…….tesisnya piye, May? 😀

200DC | Hari ke-32 s/d 41

Tesis

Tanggal 5 Juni lalu seperti sejarah karena pertama kalinya saya menemui dosen pembimbing tesis saya selama tahun ini. Dosen saya memberikan petuah agar saya segera mencari pacar agar ada yang memaksa saya menuntaskan tesis dan yang melarang saya naik-naik ke puncak gunung hihihihihi

Saya mah tidak mengerjakan karena memang saya pusing tujuh keliling, pak 😀

Ayo semangat…semangat…. semangat lagi, Maya 😀

Saya akan kerjakan terus sampai tuntas. Orang tua saya mengatakan satu hal kepada saya bahwa mereka akan selalu mendukung saya walau apapun terjadi sampai saya bisa menuntaskan kuliah, terutama memberikan saya dorongan semangat, doa-doa dan finansial 😀

Mereka sangat percaya pada saya di kala saya sudah tidak percaya pada diri saya sendiri lagi. Love u ^^

Jika sudah seperti itu, mana mungkin saya akan tetap naik gunung meskipun saya sangat ingin. Teman-teman naik gunung dari Malaysia pada weekend kemarin (8-9 Juni) mendaki gunung Semeru hohoho tidak tergoda *proud of myself”

Tentang teman saya itu, saya begitu terharu ketika sehari sebelumnya, kak Jenny Lee menelepon saya mengabarkan rencana kedatangannya ke Indonesia dan juga bang Sam yang sms saya. Saya pasti akan naik lagi bersama kalian. Saya sangat senang bisa pergi bersama kalian dan tidak sabar menantikan pendakian bersama kita selanjutnya 😀 Thanks to mas Mbenk yang telah mengenalkan mereka. Tahun ini adalah tahun ke-2 saya kenal dengan bang Sam. Kapan-kapan saya ceritain tentang mereka ya ^^

Pada saat bersamaan, saya menghabiskan waktu dengan teman-teman Gakkai. Saat itu ada Kiki (pemuda) yang datang dari Jakarta. Terima kasih sudah berbagi banyak hal dengan Shibu Yogyakarta 🙂

Kami juga mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada Mio-san. Senang sekali melihat teman-teman pemudi yang kreatif membuat papan ucapannya. Maklum saya tidak bisa yang begituan hahaha Love u, guys :* dan sekali lagi, thanks to Kiki yang sudah fotoin kita-kita 🙂

1

2

Katharsis

Bukunya Alvin Hadiwono yang baru saya baca sampai halaman 110 dari total 361 halaman ini sepertinya ada bau-bau Buddhisme. Ya, saya menduga ia pernah mempelajari ajaran Buddhisme juga. Malahan, mirip dengan Sutra Bunga Teratai. Ehm, namun bisa jadi ini adalah murni pengalaman batinnya sendiri ketika berhadapan dengan sebuah kebenaran. Kebenaran bersifat universal. Jadi, meski ia percaya atau tidak dengan hukum Buddhisme, semua hukum tersebut tetap belaku di alam semesta. Makrokosmos dan mikrokosmos.

Ketika saya baru membaca kata pengantarnya, saya langsung setuju dengan kalimat yang ia tulis seperti ini:

Tingkat kesadaran yang berbeda-beda akan membuat pemahaman akan Tuhan yang berbeda-beda pula. Yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai keterbatasan akal budi membangkitkan imajinasi tentang Tuhan sebagai pelarian untuk menghadapi kehidupan yang penuh penderitaan dalam dunia ini.

Ia juga memberikan contoh yang ketika membacanya saya teringat dengan perumpamaan Rumah Terbakar dalam Saddharma Pundarika Sutra. Ia menceritakan tentang “keterbukaan dan kekaguman” dengan perumpamaan manusia yang berada di dalam air penuh kekotoran menggapai umpan emas dari daratan.

Apakah kita tahu? Ia sebenarnya sedang menunggu, agar kita memakan umpan emasnya yang sudah disiapkan sejak bumi ini terbentuk? Kita sebenarnya tidak perlu malu-malu untuk menggapai umpan tersebut. Gapailah! Kita akan ditarik ke atas menembus lapisan demi lapisan air dan kotoran yang selama ini mengotori kolam pikiran kita. Tapi yang aneh, selalu saja kita leibh senang hidup dalam kekotoran kolam kita sendiri. Kita sendiri mengatakan bahwa itu bersih, karena sebenarnya kekotoran itu sudah menjiwai kita sejak lahir. Kita juga kemudian menolak tali pancingan yang berusaha menarik kita ke atas, yang juga menjadikan kita takut untuk meninggalkan teman-teman kita yang disebut bersih tadi.

Sungguh sulit…! Maka, keterbukaan itu sendiri mungkin tidak terlalu berdaya untuk mendorong hal ini. Tapi, kekaguman kita yang terbuka-lah yang kemudian dapat membuat kita langsung loncat ke daratan emas tanpa perlu ditarik lagi oleh seorang pemancing sejati. Kita sendirilah yang akan tahu, ke mana arah dan ke mana aliran dari tarikan pancing itu. Sehingga ketika sampai di daratan, kita dapat melihat dengan jelas dari atas betapa keruhnya sungai yang sebelumnya kita selami dan kita anggap bersih itu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan kekaguman seperti apa yang membuat kita tiba-tiba bisa loncat ke daratan….

Pemancing itu akan menjawab bahwa ketika kita di dalam kolam, rasa peka dan keterbukaan kita-lah yang membuat kita mampu melihat umpan emas di antara air keruh itu. Dan, jejak tali pancing yang mengarah ke daratan adalah sebuah rasa kekaguman yang kita miliki. Kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti geledek pembersihan atas pikiran kita. Dan sekarang seandainya kita terjun kembali lagi di antara air keruh tersebut, kita sendirilah yang akan menjadi bagian dari umpan emas itu.

Kolam pikiran kita tidak akan dapat dikotori oleh siapa pun dan apa pun, bahkan kita sendiri dapat melihat dengan jelas keinginan yang terdalam dari kekeruhan itu sendiri. Di dalam setiap kolam kekeruhan, ada sebuah keterbukaan yang tersembunyi. Tapi, bagi para manusia itu sendiri, mereka tidak akan menyadarinya. Setiap hari mereka hanya bermain-main di antara air yang keruh itu. Maka untuk kita, sebagai bagian dari umpan emas, bila ingin menyadarkan mereka akan keterbukaan, kita harus menyamar diri menjadi sebuah kekeruhan yang paling murni di antara mereka.

Mengenai topik kesulitan yang ditulisnya dalam sub-bab Kegilaan Yang Agung pada halaman 101, juga sangat saya sukai. Begini:

Aku fahami benar, bahwa keahlian memanfaatkan tumpukan tragedi adalah jalan tercepat menuju semesta kebijaksanaan, yang kemudian menghasilkan karya-karya yang bernafaskan kearifan hidup.

Tapi, sang master tragedi ini perlu dijinakkan. Ia harus dipertemukan dengan satu tamu lagi yang dapat mengendalikan keliarannya dalam mencari kebijaksanaan. Karena, di ujung terdalam dari keahlian sang master tragedi ini memiliki kegilaan yang lain, yaitu kegilaan yang agung…

Tamu terakhir yang tiba tadi… kunamakan Roh Semesta! Sesungguh-nya roh terakhir ini, terdapat di dalam diri setiap manusia, bahkan segala sesuatunya.

Dari semua kata Roh Semesta yang ditulis, saya meyakininya sebagai Hukum Alam Semesta / Nam-myoho-renge-kyo. Ehm, ini baru hipotesis saya saja hihihi 😀

Terakhir, kutipan buku yang mau saya bagi terdapat di halaman 108:

Sebenarnya, bukan kemiskinan materi yang sangat dekat dengan Roh Semesta, tapi kesederhanaan dalam kemiskinanlah yang merupakan sahabat dekat Roh Semesta… Demikian juga: sebenarnya bukan kekayaan materi yang sangat jauh dari Roh Semesta, tapi kemewahan dalam kekayaanlah yang merupakan sahabat jauh dari Roh Semesta… untuk manusia-manusia sekarang!

Ok, begitu dulu teman-teman. Sebenarnya inti dari pembicaraannya sederhana, tapi yang membuat saya kagum adalah keindahan kata-katanya. Setelah membaca lagi, saya akan tuliskan pengalaman membaca selanjutnya ya 🙂

Revolusi Manusia Baru

Tadi pagi saya mengirimkan surat kepada Ikeda Sensei. Sebenarnya saya sering menulis surat yang tidak dikirimkan. Saya kurang keberanian. Keberanian saya bisa muncul ketika saya daimoku dan membaca bimbingan Ikeda Sensei, seperti membaca buku Revolusi Manusia Baru Bab ke-13. Saya belajar banyak sekali perjuangan masa muda Ikeda Sensei dan selalu merasa bahwa saya belum melakukan apa-apa. Justru karena itulah, Daisaku Ikeda adalah guru saya. Kosenrufu adalah misi Ikeda Sensei, jadi jika kita menjadikan kosenrufu sebagai misi kita juga, hati kita pun akan semakin dekat dengan Ikeda Sensei.

Saya begitu tersentuh dan menyadari satu hal ketika membaca bimbingan di bawah ini:

“Untuk sementara ini, bagaimana kalau Anda berdua menetapkan target untuk diri sendiri untuk mencapai jumlah anggota 100 rumah tangga di sini di Hong Kong?” saran Shin’ichi. “Saya tahu itu kedengarannya banyak, tetapi jika Anda menetapkan sasaran yang dapat dicapai tanpa jerih payah apa-apa, siapa pun tidak akan punya kesempatan untuk tumbuh.”

“Jika Anda mulai bergerak untuk mencapai sasaran yang besar dan sulit, Anda tidak punya pilihan kecuali berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Gohonzon. Dengan demikian Anda tidak hanya merasakan kurnia kebajikan tetapi ketika Anda mencapai tujuan Anda, Anda akan dipenuhi kegembiraan mendalam dan merasakan keyakinan mutlak pada kekuatan hati kepercayaan. Jadi, lebih baik menetapkan untuk diri Anda sasaran yang besar.

Saya membaca ini dengan sikap bimbingan tersebut memang diberikan pada saya. Baik, sensei. Saya akan berjuang lagi!

Melos

Sebagai penutup, saya mau menampilkan foto Melos:

Camera 360

200DC | Hari ke-31

Hari ini saya bertemu dengan sahabat baik saya yang sedang tugas kantor ke Semarang dan mampir ke Yogyakarta selama 2 hari. Tahun ini adalah peringatan 10 tahun kami dan saya merasa sangat berejeki bisa bersamanya dalam kehidupan kali ini 🙂

Tadi, selain makan di Jejamuran, kami pergi ke pameran buku di XT Square. Saya membeli 1 buku seharga tiga ribu rupiah. Judulnya: Cinta Setahun Penuh karya Trie Utami. Ia menuliskan sajak-sajak cinta selama 365 hari penuh. Di hari pertama inilah yang ia tuliskan:

Dimana engkau itu?
Lelaki yang kucintai yang telah membawaku pergi
J a u u u h  s e k a l i . . .Ketempat yang sepi
Dan meninggalkanku sendiri

020620131140

Lalu, saya mampir ke Penerbit Obor dan saya melihat buku yang pernah saya beli 5 tahun lalu. Judulnya: Katharsis karya Alvin Hadiwono. Jujur, saya tidak habis membaca buku ini karena tidak mengerti dan lama-lama saya jadi malas meneruskan membacanya hahaha

Saya sempat sharing dengan bapak yang ada di sana bagaimana cara membaca buku ini agar saya mengerti. Ia mengatakan bahwa buku-buku filsafat memang unlinier. Cara membacanya adalah baca saja sampai selesai dengan mengikuti alur penulisnya. Baiklah, saya akan coba lagi 😀

Links Katharsis karya Alvin Hadiwono yang bisa dikunjungi:

200DC | Hari ke-30

Cepatnya waktu berlalu! Tiga puluh menit lagi, kita sudah memasuki tanggal 2 Juni.

Kadang-kadang saya ingin menertawai diri sendiri. Kampanye yang sesungguhnya biasanya memiliki satu tujuan khusus dan isi tulisannya selalu berkaitan dengan progress tercapainya tujuan tersebut. Lah ini opo toh? Seperti main-main saja semua tulisan ini 😀

Teman saya pernah bilang kalau orang yang sedang melaksanakan kampanye itu seperti pengendara motor yang fokus melihat jalan dan tidak sempat lihat kiri-kanan menikmati pemandangan. Kalau saya mah jalan sedikit, berhenti dulu lihat pemandangan bagus, lalu baru lanjut lagi. Lah kalau seperti ini, kapan sampainya? 😀

Tiga puluh hari pun berlalu dengan cepat. Hari-hari saya mungkin hanya diisi dengan 20% mengerjakan tesis,… Ehm, mungkin kurang dari itu! Sisanya ya macam-macamlah….. Intinya bukan mengerjakan tesis. Semakin lama semakin ingin menyerah saja!!! Syukurlah baru sebatas keinginan saja…

Saya ini masih heran dengan pikiran kebanyakan orang, termasuk para guru yang memaknai pendidikan, terutama pandangan tentang ilmu vs nilai dan cara belajar. Ah sudahlah, setiap orang toh bebas berpendapat dan saya tetap memegang prinsip saya sendiri!

———————–

Tentang 200DC ini isinya memang lebih ke catatan harian dan saya merasa judul seperti yang saya tuliskan hingga hari ke-30 ini tidak efektif karena orang tidak mengetahui isi tulisan secara rinci. Ya, sudahlah. Saya juga tidak mungkin menuliskan semua kejadian satu hari dalam blog. Saya hanya belajar menulis saja setiap harinya dan blog ini adalah media yang tepat 😀

200DC | Hari ke-29

Pet Shop

Sore tadi saya membeli shampoo untuk Melos di La Barong. Mengenai makanan, saya biasa memberikan Melos biskuit Monello yang dibeli di Kupet (Kusumanegara Pet Shop). Saya senang sekali pergi ke pet shop karena banyak barang yang unyu-unyu hahaha

Golden Retriever

Nah kalo yang ini, semoga bisa terwujud! Jika memang ia berjodoh dengan papa mamaku, pasti ia bisa kudapatkan dan akan segera kukirimkan ke Palembang untuk menemani mereka. Setelah wafatnya anjing saya, Molly, yang berumur 13 tahun pada 2 tahun lalu, keinginan papa saya adalah hidup bersama anjing golden retriever. Ah, semoga saya bisa mewujudkan mimpi mereka! 😀

Multitasking VS Monotasking

Ah, saya tidak mau terlalu banyak bicara soal ini. Monggo nonton saja…

Keep Your Goals to Yourself