Pomda

Terima kasih Gohonzon,
karena presentasi makalahku berjalan lancar,
meskipun tak terlampau banyak yang kuketahui tentang G8.

Terima kasih karena Bp. Robinson,
dosen bahasa indonesia-ku tak datang,
sehingga bisa latihan panjat tebing di Stisipol Candradimuka.
Padahal, seharusnya rugi dong 🙂
Seirama dengan yang disampaikan oleh Bp. Ali setiap kali
kuliah Reading Comprehension,
bahwa seharusnya mahasiswa merasa dirugikan!

Rencananya, aku akan turun di POMDA untuk panjat tebing ganda campuran.
Namun, sejujurnya, fisikku, terutama kekuatan tangan tak sekuat yang
diperlukan untuk memenangkan lomba.
Ya, aku memang selalu menghindari kompetisi.
Apa ini yang namanya kalah sebelum berperang?

Terima kasih atas hari ini,
terima kasih karena seusai kuliah,
aku bisa tetap bertukar pikiran dengan Bp. Ali, selama 30 menit.
Setiap kali kami berdialog,
aku selalu mendapatkan masukan2 yang sangat berharga.
Terima kasih, Bp. Ali.

Target esok hari,
adalah harus bimbingan Bab I dengan Pak Hendra.
Harus tercapai!
Skripsiku adalah prioritas utama!

Besok pun, Yang Arya Bikhu Watanabe dan Bp. Pontoh datang ke Palembang.
Dan aku sudah berencana untuk izin kuliah jam pertama untuk bisa mengikuti pertemuannya 🙂

Mapala Flam’s-NL



Niatku terpenuhi di Flam’s-NL, 6 bulan lalu!


Para Penggila Gunung

Tanda tanya besar perihal lagu “Pecinta Alam [Filetype:mp3]” pun terjawab.
Di masa-masa penggalang, aku hanya mengetahui dua baris syairnya:

                   Pendaki gunung, sahabat alam sejati
Jaketmu penuh warna, lambang kegagahan…

Namun kini, kumampu berdendang sembari memetik gitar.
Namun aku masih belum mampu mencari nadanya di harmonika!

Ku-setel sepanjang penyelesaian Kerja Praktek di bulan Januari,
karena kuingin mengingat semangat sang pendaki dalam menggapai puncak tertinggi!
Tak tergambarkan perasaan dan kepuasan batin yang didapat ketika kau dapat mengibarkan benderamu di atas sana!

Dari pendakian, aku belajar satu hal penting.
Pentingnya misi dan tujuan!
Ketika kau telah memiliki itu, kau akan memiliki semangat dua kali lipat!
Semua halangan akan kau hadapi tanpa rasa takut, demi memenuhi misimu!

Tinggal satu langkah lagi untuk menjadi anggota!
Kesibukan tugas akhir pun menyita banyak waktuku untuk mendapatkan nomor anggota.
Tapi akhirnya, dapat kuselesaikan makalah dengan judul “Pemanasan Global” dalam waktu 5 jam.

Comot sana – comot sini, karena waktu terlampau mepet!

Salahku sendiri tak pandai mengatur waktu!

Inilah kiranya hasil pemikiran orang-orang yang telah kurangkum,
yang hari ini akan kupresentasikan di hadapan para senior dalam sidang pengambilan nomor! Terbanyak kuambil dari wikipedia.

Silahkan diunduh: Makalah: Pemanasan Global.

Sebutir Pasir di Sungai Gangga

Jika boleh kugambarkan diriku dalam satu kalimat.
Maka, “Aku adalah orang yang selalu berusaha untuk bersyukur dalam segala pencapaian dalam hidupku!”

Terima kasih Gohonzon!
Terima kasih papa-mama, engkong-(alm)nenek, wirya, molly,…
semua saudara, sahabat, teman dan kenalan…
Terima kasih semuanya!

Semua yang terjadi dalam hidupku,
dulu, sekarang dan akan datang,
kupercaya bahwa semuanya adalah myoho (baca: keajaiban/miracle)

Biarlah aku menjadi sebutir pasir di Sungai Gangga,
yang melekat pada jari kuku!


Banyak blog yang telah kubuat sejak SMA dan mati begitu saja,
karena terlampau banyak tulisan pribadi yang terpublikasikan…

Hal yang paling membuatku marah adalah: KEMUNAFIKAN!
Jadi, dalam menulis blog ini pun, aku berusaha keras untuk tidak munafik!
Terima kasih.

Kuliah, mau nilai atau pintar?

Belajar memiliki tahapan. Dari SD hingga Perguruan Tinggi. Kita harus terlebih dahulu belajar penjumlahan untuk bisa perkalian. Kita harus bisa perkalian untuk perpangkatan. Begitu juga dengan pembagian, kita harus belajar pengurangan terlebih dahulu! Baik, mari kita renungkan sesaat pernyataan tersebut…!!!

2+2+2+2=8 2×4=8 2^3=8

Sudah?
Apabila kita tak memahami pelajaran SD, maka kita akan menjadi pendengar yang baik di kelas SMP. Begitu seterusnya hingga perguruan tinggi. Makanya, tak heran apabila banyak mahasiswa yang salah jurusan kuliah dan berakhir dengan pekerjaan yang tak sesuai dengan minat dan bakatnya. Baru-baru ini, terdapat bursa tenaga kerja di GOR Palembang yang dikunjungi sekitar 1000 orang. Nah, apakah kita akan menjadi peserta yang ke-1001?

Pilihan ada di tangan kita.

Apa yang kita cari sewaktu kuliah? NILAI atau PINTAR?

Dosen tidak memberikan kita nilai. Nilai diperoleh berdasarkan hasil belajar diri sendiri. Itupun kalau, dosennya anti sogokan! Dosen yang mendidik, yang bukan hanya mengajar dan makan gaji!

Ada seorang mahasiswa cerdas (anak salah satu dosen idealis saya) yang menyelesaikan kuliah Akuntansi nya selama 6,5 tahun. Alasannya adalah karena batas Drop Out (DO) kampusnya adalah 7 tahun. Jadi, apabila batas Drop Out selama 10 tahun, saya menduga dia akan menyelesaikan kuliah selama 9,5 tahun. Semula saya pikir, alangkah bodohnya jalan pikiran dia. Tetapi, akhirnya saya dapat mengerti pola pikir dia. Usaha pembelajaran yang dia lakukan ternyata tidak sia-sia. Selulus kuliah, banyak perusahaan yang menawarkan pekerjaan dengan upah yang sangat memuaskan. Namun, karena dia bukan orang yang cepat puas, dia selalu mencari pekerjaan yang dapat memenuhi ambisinya.

Saya bukan tipe orang yang seperti itu. Semoga saya belum terlambat untuk menjadikan ‘pintar’ sebagai tujuan kuliah saya! Aset negara Indonesia yang kaya-raya akan sumber alam ini, sedikit demi sedikit menghilang. Banyak saudara kita telah dijual di luar negeri, dan pulang kampung dengan tubuh yang luluh-lantah. Lantas, yang kita miliki sekarang hanyalah OTAK. Kalau bukan mengasah otak untuk bekal penerus bangsa, apalagi yang kita punya?

Memprioritaskan Pekerjaan

Dahulukan yang penting!

Dari semua aktivitas yang kita miliki, fokuslah pada hal-hal yang terpenting. Gunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk hal yang paling membawa manfaat. Yang penting bukan seberapa sibuk Anda, namun apa kesibukan Anda? Ayo… apa kesibukan Anda?

Kesibukan saya

Sejak saya bisa mengingat sesuatu, saya ingat dalam kesadaran saya bahwa saya selalu memiliki banyak kesibukan. Dari pra-sekolah hingga sekarang. Kadang, kesibukan itu terkenang kembali tatkala melihat foto-foto masa lalu. Tetapi, saya baru benar-benar memikirkan fokus hidup saya setelah saya masuk Soka Gakkai Indonesia. Sebelum itu, semua kesibukan hanyalah pengisi kekosongan dan hura-hura saja. Memang, saya mendapat manfaat dari semua proses yang telah saya alami, namun fokus hidup adalah hal yang berbeda dari itu.

Fokus hidup

Saat ini, saya benar-benar merasa kelelahan dan saya berpikir untuk segera menata ulang semua kegiatan saya menurut prioritas dan fokus hidup saya.

Setiap hari, dari jam 07.00-14.00 WIB, saya bekerja di perpustakaan kampus saya untuk bagian fotokopi, internet dan kadang membantu di bagian sirkulasi. Terutama fotokopi jurnal dan majalah, yang sangat tebal dan membutuhkan tenaga ekstra… rasanya saya bisa jadi wanita perkasa juga nantinya 🙂

Lalu jam 17.00-21.00 WIB, saya kuliah sastra inggris. Awalnya, hanya iseng-iseng, tetapi lama-kelamaan kuliah sastra inggris menjadi prioritas saya selain menyelesaikan tugas akhir jurusan teknik informatika.

Khusus hari Kamis, saya libur bekerja karena harus mengikuti 2 mata kuliah tambahan pada pagi hari. Dan pada sore harinya, saya dapat pergi ke kaikan (baca: tempat pertemuan umat Nichiren Budhism). Bagi saya, libur kuliah pada hari Kamis, merupakan sebuah myoho (baca: mukjizat). Karena dengan begitu, saya mempunyai waktu untuk mengikuti sodaikai (baca: berdoa selama 1 jam).

Pada hari Sabtu, jam 15.00-17.00 WIB, saya melatih anak-anak pramuka penggalang di SD dan SMP almamater saya. Selain itu, saya juga sering mengikuti kegiatan outbound sebagai fasilitator di beberapa EO, juga mengikuti beberapa organisasi kemahasiswaan (ormawa), seperti tim outbound kampus, BPM dan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Terakhir, saya juga menjadi volunteer di Komisi Kepemudaan KAPal.

Dari se-abrek kegiatan, saya memprioritaskan penyelesaian tugas akhir dan kuliah sastra inggris yang baru seumur jagung itu. Saya akan mengurangi kegiatan ormawa di kedua kampus.

Dan, akhir-akhir ini, saya merasa bahwa tingkat spiritualitas saya mulai menurun akibat terlalu banyaknya kegiatan. Seiring dengan itu, kerinduan dengan lagu-lagu katolik mulai merasuki jiwaku lagi. Apa ini karena setiap harinya, saya selalu mendengarkan kesaksian mereka dan ajakan-ajakan mereka untuk membuatku kembali ke awal hati kepercayaanku?

Aihhhh,… tiap kali saya mencoba membahas topik lain dalam blog ini, ujung-ujungnya selalu membahas hati kepercayaan. Ada apa dengan saya saat ini? Anybody can help me? Please! I wanna share my mind, my feel to my friends… but i don’t know who want to listen my problem…

Puncak pikiran saya saat ini adalah saya lebih baik pergi menjauhi Palembang dan mulai dari NOL. Memulai semuanya dari awal, seolah-olah saya tak pernah mengenal teman-teman baik di katolik. Tak ada yang salah dengan mereka, tapi saya lah yang merasa terasing sendiri!

Akar permasalahan saya adalah teman. Hanya teman! Saya butuh teman! Tak mudah untuk hidup berbeda di lingkungan yang memiliki paham sendiri! Benar-benar tak mudah! Saya mengetahui bahwa Budhisme adalah tujuan hidup saya…. namun sulit rasanya berdiri seorang diri. Saya butuh kawan seperjuangan di Palembang.

Kini aku menerima tugas Sang Buddha
Berdiri seorang diri menjunjung tinggi
Cita – cita agung perkembangan Myoho
Sedikit kawanku banyak lawanku

Tenaga siapakah dapat kuharapkan
Walau jiwaku kini berkobar – kobar
Medan perjuanganku penuh badai taufan
Hanyalah jiwaku yang dapat kukorbankan

Aku takkan sesal mengorbankan jiwaku
Namun dimana pemuda penerus daku
Apakah kau tidak mengenal gunung Fuji
Datanglah, berlombalah ke tempat daku

Bertemu dengan sang proses

3 bulan telah berlalu. Semua terjadi begitu cepat. Gagal wisuda bulan April. Bekerja part-time di perpustakaan kampus, bla…bla…bla…

Sang proses berawal dari 1 minggu lalu, ketika saya iseng-iseng melamar kerja di perpus, eh… ternyata diterima. Di balik penerimaan kerja itu, ada cerita yang sangat menarik dan menguak luka batin yang telah lama terkubur. Kembali, hati kepercayaan (baca: iman) saya diuji.

5 tahun lalu, pada bulan Mei 2003, saya memutuskan untuk mengenal Budhisme Nichiren Daishonin. 1 tahun berikutnya, saya memutuskan untuk meninggalkan Katolik setelah 9 tahun bergelut dengan-Nya, setelah menerima Sakramen Permandian dan Penguatan.
Dosakah saya? Murtad-kah saya?

Pada kegiatan Retret kelas 3 SMA, saya pernah mendengarkan kesaksian seorang suster. Beliau adalah muslim dan panggilan iman-lah yang mengantar beliau menjadi seorang biarawati.
Pada kasus ini, muslim menganggap sang suster murtad, tetapi katolik menyambut gembira kedatangan saudara barunya.

Bagaimana dengan saya? Apa yang dikatakan oleh katolik dan budhisme terhadap saya? Apakah manusia berhak menghakimi manusia lainnya atas hal-hal yang mereka sendiri tak tau?

Selama 1 tahun waktu itu, saya benar-benar down. Terlalu banyak masalah, terutama yang berhubungan dengan ‘gangguan-gangguan tak kelihatan’, yang katanya halusinasi dan juga pencarian saya terhadap kebenaran hidup. Tetapi saya sembuh melalui Budhisme.

Pergulatan batin ini terus berlanjut sampai sekarang. Saya tak bisa lepas 100% dari dunia katolik. Lingkungan, teman-teman, kuliah, semua kehidupan saya dikelilingi oleh orang-orang katolik. Di mana tempat saya? Semua hal tersebut seringkali membuat keraguan dan kesedihan yang mendalam di hati saya.

Tak ada cara lain selain berdaimoku (baca: berdoa). Saya selalu memegan prinsip 4G (Gohonzon, Gongyo, Gosho, Guidance of Sensei) untuk menguatkan hati kepercayaan saya hari demi hari. Benar-benar saya belum menemukan cara lain untuk tetap berada di jalur yang telah saya pilih ini!

Sebuah Gosho, yang dikutip dari Majalah Soka Spirit, perihal Perbincangan antara Arif Bijaksana dan Orang Bodoh, telah memperbarui kembali tekad saya untuk berjuang terhadap pemahaman Budhisme yang benar!

Baik dalam dunia sekuler maupun agama, sejelas yang terlihat, orang baik adalah langka sementara orang jahat jumlahnya banyak. Jika demikian, mengapa Anda bersikeras untuk merendahkan yang sedikit dan mendukung yang banyak? Debu dan pasir sangat berlimpah, namun beras dan biji-bijian adalah jarang. Kulit kayu tersedia dalam jumlah besar, sedangkan rami dan kain sutera sulit didapatkan. Anda harus mengutamakan kebenaran ajaran di atas segalanya; tentu Anda tidak seharusnya mendasarkan penilaian Anda pada jumlah pengikut“.

Maka, saya menerima proses tersebut, yang dianggap sebagai jalan yang harus saya tempuh! Saya juga ingin melihat hasil akhir dari proses ini! Gohonzon, berilah saya kekuatan untuk sekali lagi mengatasi tantangan ini! Nam-myoho-renge-kyo 3x

Siapa yang percaya bahwa hidup kita diatur?

Siapa yang percaya bahwa hidup kita diatur?
Tuhan, siapa itu, apa itu?
Yang mengatur kehidupan kita,
diri kita atau kekuatan luar atau kombinasi dari keduanya?

Nasib, karma,… apalagi itu?

.N A S I B.
dibentuk dari: Pikiran – Perkataan – Perbuatan – Kebiasaan – Watak – NASIB

Dalam Majjhima Nikaya 135, Buddha Sakyamuni mengatakan, bahwa:

Semua makhluk adalah:

  • Pemilik karmanya sendiri
  • Pewaris karmanya sendiri
  • Lahir dari karmanya sendiri
  • Berhubungan dengan karmanya sendiri
  • Terlindung oleh karmanya sendiri

Perbuatan menentukan apakah seseorang itu hina atau mulia.

Dari pasase tersebut, saya mulai belajar bahwa kita adalah arsitek diri kita sendiri, kita adalah nahkoda kapal kita sendiri! Kita yang menentukan kebahagiaan kita sendiri! Kau adalah apa yang kau pikirkan!

Sejak dahulu, saya mencari tau apa itu agama, bagaimana menyikapinya dan agama seperti apa yang harus saya anut.

Agama itu kita yang memilih, atau malahan kita yang dipilih sebagai penganutnya?

Hal-hal semacam inilah yang mendorong saya dalam menciptakan blog pribadi!! Dahulu, saya suka sekali menulis buku diary, namun pegal2 juga tangan saking banyaknya ungkapan hati.

Akhirnya, saya memutuskan bahwa saya mampu menumpahkan seluruh isi hati saya pada blog ini!

I give my very best to help all of my friends and my visitors to have a happy life through out my blog! I appreciate with your comment and i hope we can share each other about anything that can help develop ourself. Thank you very much, friends 🙂

hehehe mungkin saat ini kita beranggapan bahwa membahagiakan diri sendiri saja sulit, lho koq ini orang bercita-cita membahagiakan orang lain? Segera hilangkan pikiran yang terlintas dalam benakmu sekarang juga!

Dari Gosho Zenshu, pg 761, tertulis: “Joy means that both oneself and others experience joy“.

Dari Gosho tersebut, Ikeda Sensei, memberi bimbingan, sbb: “When we transcend self-centeredness and pray for our friends, for all people, we will be able to build an eternal palace within our lives“.

Baiklah, teman. Kebahagiaan yang didapat dengan membantu orang lain pasti akan menjadikan diri kita lebih bahagia. Memang sulit untuk sampai ke tahap berpikir seperti itu.

So, mari kita sama-sama belajar dan berbagi pengalaman spiritual kita dalam blog ini. Mari kita memulai pertualangan pikiran ini dengan bahagia!