Nglanggeran after mid-term test

Nama tambahan dari gunung ini adalah “purba” sehingga lebih dikenal oleh banyak orang sebagai Gunung Api Purba Nglanggeran.

Konon beritanya, gunung ini telah ada sejak 60 juta tahun lampau sejak gunung Merapi pun belum terbentuk. Sejarah yang menakjubkan bukan? Cerita ini akan kumulai dari rute perjalanan. Dari Jogja, tidak ada kendaraan umum yang langsung menuju ke kaki gunung yang berada tepat di Desa Nglanggeran, Patuk, Kabupaten Gunung Kidul. Jadi, kita bisa naik kendaraan pribadi atau menyewa mobil. Sewa mobil 12 jam di Jogja untuk tipe city car, lebih kurang Rp. 250.000,- saja ditambah ongkos sopir Rp. 100.000,- sebagai pilihan atau sewa motor seharga Rp. 50.000,-.

Waktu tempuh dari titik pusat kota Jogja ke basecamp sekitar satu jam setengah. Umumnya rute awal akan melewati ringroad barat lalu berbelok ke arah Wonosari. Jalanan menanjak akan kita temui terus-menerus dimulai dari jalanan menuju ke Bukit Bintang. Boleh saja berhenti sejenak di Bukit Bintang untuk menikmati kilau lampu-lampu jalanan Jogja di keempat sisi ringroad pada malam hari yang terbentuk jelas. Beda halnya dengan panorama malam di puncak Nglanggeran yang menyajikan view Jogja secara keseluruhan. Ini fotonya:

View Jogja dari Nglanggeran

Ketika tiba di puncak bukit Patuk yang jalannya lebih luas, kita mengambil jalan ke kiri untuk masuk ke desa Ngoro-ngoro. Tanda lain belokan tersebut adalah adanya Pos Polisi dan Radio GCD FM. Kita juga akan menemukan banyaknya pemancar televisi di kiri kanan jalan, seperti Indosiar, TVRI dan SCTV. Setelah hampir tiba, kita akan disuguhi pemandangan tebing-tebing tinggi dengan persawahan yang sangat indah di sepanjang perjalanan. Itulah Nglanggeran. Posisi basecamp ada di sebelah kiri jalan dengan pahatan tulisan Selamat Datang yang cukup besar.

Pahatan berucap “Selamat Datang”

Perjalanan dimulai di titik ini. Kala itu, kami awali perjalanan dengan berfoto bersama di lima belas menit sebelum pukul 17.00 WIB. Terlambat satu jam setengah dari target awal. Perjalanan kali ini tepat di hari Kartini dan tujuh di antara kami berasal dari komunitas yang sama, yaitu komunitas belajar Ilmu Komputer di UGM.

Berdelapan di basecamp

Perjalanan menuju puncak dengan kecepatan santai sambil berhenti di beberapa lokasi yang bisa melihat pemandangan indah membutuhkan waktu satu jam setengah. Gunung api purba Nglanggeran menawarkan jalur yang bervariasi, mulai dari track tanah hingga jalur bebatuan dan tebing-tebing pendek yang bisa didaki tanpa alat. Kita tidak akan menemukan bonus jalan datar di hutan tertutup yang memperdengarkan kicauan burung di sepanjang jalan ini 🙂

Kemasan track di gunung pun sangat cocok untuk pendaki yang baru pertama kali naik gunung ataupun wisatawan non pendaki karena sulit nyasar di track yang sudah dibuat rapi dan bersih dengan beberapa alat bantu seperti tangga dan tali. Udara di sini pun tidak sedingin gunung-gunung lain, mungkin karena ketinggiannya yang hanya 700mdpl. Namun bila tiba di puncak dan angin berhembus kencang, jangan coba-coba tidak memakai jaket kecuali jika ingin melatih ketahanan tubuh.

Salah satu ciri khas yang menarik adalah jalur sempit yang diapit tebing tinggi, juga view tebing lumut di lokasi pandang pertama yang bisa kita temui. Biasanya, terdapat papan informasi untuk beberapa lokasi pandang yang bagus.

Celah sempit di antara tebing

Tebing keemasan karena diterpa sinar mentari

Lokasi perhentian kedua kami tepat di saat mentari hendak terbenam. Beruntung sekali sore itu cuaca cerah sehingga mentari terlihat bulat utuh bercahaya. Lokasi pengambilan foto di sini pun sangat strategis, yaitu di tanah datar tempatku berpijak mengabadikan moment dan tebing pendek tempat objekku mengambil foto.

Tebing didaki demi perolehan foto terbaik

Persawahan hijau diterpa mentari senja

Mentari perlahan meredupkan cahyanya

Continue reading “Nglanggeran after mid-term test”

Tawur Agung di Prambanan

Umat Hindu yang sedang beristirahat seusai upacara Tawur Agung

Terakhir kalinya sebelum tahun ini, Candi Prambanan kukunjungi pada tahun 2001, tak lama setelah pemugaran karena gempa bumi yang melanda kota Yogyakarta. Candi Prambanan terletak di kabupaten Klaten, Jawa Tengah yang dapat dicapai dengan Trans Jogja. Biaya masuk pada hari libur untuk wisatawan lokal sebesar Rp. 30.000,- dan kali ini aku berkunjung ke sana bersama tiga temanku. Kami berempat masih malu-malu, maklum ini kali pertama kami pergi bersama ^_^

Dengan sedikit tipu muslihat tips dan trik, aku bersama Tangguh masuk ke lingkungan candi tanpa dikenai biaya. Sedangkan Zain dan Chris tertangkap basah oleh bapak-bapak Satpam penjaga pintu gerbang. Naasnya mereka 😀

Kedatangan kami kali ini khusus untuk melihat secara langsung pelaksanaan upacara Tawur Agung. Rasanya senang sekali karena di sana kami menjumpai beberapa teman pemeluk Hindu sehingga bisa mendapatkan penjelasan makna dari upacara tersebut. Upacara Tawur Agung ini diadakan satu hari menjelang hari Nyepi Tahun Saka 1934, tepatnya pada tanggal 22 Maret 2012. Selengkapnya mengenai Nyepi dan upacara Tawur Agung bisa dibaca di sini.

Usai pelaksanaan upacara, hujan rintik turun perlahan. Seorang temanku berkata, “Berkah!”.

Berdoa khidmat

Tarian yang dipersembahkan oleh mahasiswa Udayana

Gamelan dan musik tradisional pengiring tarian

Continue reading “Tawur Agung di Prambanan”

Embung Tambakboyo

Image

Dua bulan menuju genapnya dua tahun aku tinggal di Kos Coklat – Condong Catur, hanya 3 kali aku mengunjungi Embung Tambakboyo, sebuah danau buatan yang memiliki luas genangan 7,8 hektar dan volume tampungan sekitar 400.000 meter kubik. Menurutku, embung ini bisa dikatakan indah untuk kategori danau di kota.

Kali pertama dengan ditemani tetangga yang kupanggil Bude, aku melihat kos yang baru dibangun di samping danau. Harga kosnya lebih murah sedikit daripada kos coklat, namun tetap kos coklat yang terbaik untukku.

Kedua, bersama seorang teman laki-laki mengabadikan foto saat sunset. Lelaki itu ada di sudut kiri pada gambar di atas 🙂

Ketiga, berjalan santai di pagi hari selepas sunrise.

Lain waktu, akan kucoba berolahraga pagi di sana. Alasannya singkat saja, yaitu karena jaraknya yang hanya 5 menit dari kos, bebas retribusi masuk, sekitar 90% lingkungannya bebas sampah, disuguhi view Merapi, Merbabu, dan Sindoro, tersedia track menanjak, langitnya berwarna keemasan – biru bersih – jingga pada saat sunrise dan sunset serta yang paling utama adalah bau tanah, pohon dan rerumputan basah yang diselimuti kabut tipis di pagi hari.

Foto-foto perubahan warna awan:

Selepas senja, aku belajar mengambil foto dengan exposure 8sec aperture f4.0:

Memang benar bahwa danau di belakang kos coklat adalah bonus tambahan yang tak terduga 🙂