Wish List Peralatan Pendakian Ultralight

Ceritanya, sejak saya tau bahwa saya scoliosis di bulan Februari 2015, saya sudah tidak pernah mendaki gunung lagi. Kini 2 tahun sudah berlalu, masa iya saya hanya pergi hiking gunung di bawah 1000m saja hihihi… Gunung-gunung yang menghibur saya ketika scoliosis adalah Gunung Bintan (Tanjung Pinang), Gunung Nglanggeran (Yogyakarta), dan Gunung Pulai (Johor Bahru). Tahun lalu semua peralatan gunung juga sudah saya hibahkan ke Mapala Kampus saya. Maunya berhenti naik gunung, tapi ternyata tidak bisa 😀

Sekarang sudah saatnya saya “nekat” menjalankan hobi saya lagi, tentunya dengan beberapa pertimbangan, terutama beban ransel. Saya harus membawa barang seringan mungkin untuk pendakian-pendakian yang akan datang. Gerilya mencari peralatan gunung baru ternyata sangat menyenangkan. Tentu belinya harus nyicil hahaha

CARRIER

Saya menggunakan Osprey Kyte 36 warna biru laut yang beratnya hanya 1,4 kg dan bisa membawa beban 11-18 kg. Belinya di Outlive (Lotte Shopping Avenue). Setelah ngukur torso dsb, saya pakai yang ukuran WX/S.  Continue reading

Advertisements

Pulau Bira

img_7823

img_7842

Your friends should motivate and inspire you. Your circle should be well rounded and supportive. Keep it tight. Quality over quantity, always. -Idil Ahmed

Kawan, terima kasih! Tanpa kalian mungkin aku masih akan trauma dengan yang namanya laut. Tanpa kalian, mungkin aku juga tak akan berani berenang bebas dan santai, menikmati keindahan bawah laut. Ternyata itulah gunanya kita berkawan. Kawan membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin, menghalau ketakutan dan memunculkan keberanian.

Tanggal 14 Agustus 2016, aku, Anabel dan Linda tiba-tiba merencanakan sebuah perjalanan. Ya sebuah perjalanan bersama yang sudah sangat lama dinanti-nantikan. Piknik! Pergi ke sebuah pulau. Hari itu juga ketika sedang makan siang bersama di Kamakura daerah PIK, Linda menawarkan sebuah ide ke Pulau Bira berikut dengan contact person guide-nya. Temannya Linda sudah pernah menggunakan jasa guide Pak Man ini, dan kami semua langsung setuju. Linda dan Anabel menelepon Pak Man yang menawarkan 2 alternatif menuju ke sana, yaitu via Ancol dan Muara Angke. Kami memilih Muara Angke. Total biaya Rp. 500.000,- include all. Kami hanya tinggal bawa diri saja.

Waktu yang kami sepakati adalah weekend pertama di bulan September, tanggal 3-4, dan setelah rayu sana rayu sini, yang tidak mau berangkat adalah Marissa. Ketakutan Marissa ternyata benar! Muara Angke memang horor! Sandal jepitku copot karena menginjak tanah yang sangat benyek dan bau. Sekarang aku mengerti, kawan-kawanku juga mengerti, mengapa Ahok ingin merelokasi wilayah pesisir laut utara Jakarta ini. Ada kesedihan ketika melewati Muara Angke. Anabel rasanya pun sangat bersedih karena melihat masyarakat yang berdesak-desakan masuk ke dalam sebuah kapal besar berkapasitas ratusan orang. Ada yang tujuannya pergi piknik seperti kami, namun juga banyak yang pulang ke rumahnya – ke Pulau Pramuka ataupun Pulau Harapan. Continue reading

200DC-2 D10 | Popow ke Ragunan

11071421_1639050739647144_466345220655624230_n

Popow mulai bercerita…..

Yeay! Hari ini adalah hariku; hariku sebagai mantan kucing gelandangan dan dunia memperingatinya sebagai World Stray Animal Day. Jadi, aku ikut meramaikannya dengan menjadi semacam kucing-ga-penting di Buperta Ragunan. Bunda bilang acara ini digagas oleh PAWSLEAGUE dengan tema “Aku dan Mereka, Berbagi Cinta“. Menuju ke sana, aku, Kanaya, panda, dan bunda naik motor vespa 30 menit di sekitaran jam 9an pagi; dan bunda bener-bener ga berperasaan. Aku dan Kanaya dibiarin bersempit-sempitan dalam 1 keranjang. Keranjangnya keranjang pinjeman pula. Dipinjem dari dokter Dudy, dan sudah dipinjem berbulan-bulan. Emang ga bener tuh bunda!

Sampai di lokasi, aku dapat pin gratis foto Pak Pres Dung-dung dari meowmy-nya hihihihi

Sebagai rakyat yang baik, aku akan mengabadikan pin-nya.

Di sana asik banget. Aku sebenarnya rada-rada stress dan kepanasan, tapi masih sempet berfoto-ria sampe ga sadar kalo ada wartawan detik yang fotoin. Eh tiba-tiba aja nongol tuh fotoku di Detik. Bunda juga kirimin fotonya ke eyang; dan eyang bilang gaya di fotoku bagus, kaya’ anak macan kumbang hohoho masa sih? *blushing*

detik
Padahal sebenarnya aku mengap-mengap kepanasan dan aku sedikit gugup karena ramai sekali di sana. Waktu mau divaksin oleh dokter, suhu badanku 40 derajat. Bunda akhirnya meneduhkanku di bawah pohon rindang bersama Kanaya; tapi karena bunda ga bisa lama-lama di sana, aku divaksin deh dengan suhu badan 39 derajat. Dokternya bilang no problemo asalkan aku langsung pulang. Karena ini vaksinasi pertamaku, jadi aku divaksin F4 dan rabies. Event ini emang lagi ada promo suntik rabies murah. Jadi, total biaya vaksinnya Rp. 185.000,-. Biasa kalo di vet seharga Rp. 175.000,- untuk F4 aja. Dokternya cantik loh kata panda 😀 😀

Continue reading

Perjalanan Ekspres ke Gn. Kelud

1157736_171454366373866_567701627_n1

Ket di awal: Semua foto di dalam tulisan ini adalah miliknya mbak Friska.

Erupsi Kelud yang katanya Mbah Rono sedahsyat Merapi mengingatkan saya dengan perjalanan ke sana bersama teman-teman YABI tahun lalu. Saya lupa tanggalnya, yang jelas bulan Agustus seusai Pendidikan Navigasi YABI ke-XIV.

Hari Pertama, saya dan mbak Friska dari Tulung Agung, setelah diantar Mas Tok mencari bus tujuan Kediri, naik bus tujuan Kediri. Ya iyalah, mosok yo naik yang tujuan Malang.

Setelah hampir 2 jam perjalanan, sampai juga kami di halte bus depan kampusnya mbak Dyah. IAIN ato Muhammadiyah ya, mbak? Saya lupa hehehe Perjalanan ini antara jadi dan tidak jadi karena ragu-ragu, apalagi mbak Dyah harus bekerja keesokan harinya, tapi akhirnya demi persahabatan, mbak Dyah mengantar kami berdua bersama mas Penk. Jadilah kami berempat memulai perjalanan ke Gn. Kelud 😀

Kami makan malam terlebih dahulu berupa nasi tumpang, nasi khas kota Kediri, lalu langsung tantjap gas ke Kediri dengan 2 motor. Saya dibonceng oleh mbak Dyah, dan mbak Friska bersama mas Penk. Perjalanan lebih dari 1 jam ditemani oleh udara malam yang dingin. Kami sempat mampir berfoto di Arc de Triomphe-nya Kediri 😀

1185352_171449106374392_494719150_n

Sesampainya di gerbang Kelud yang sudah ditutup, kami parkir motor di semak-semak, lalu masuk melewati sisi kanan pagar yang terbuka, yang sebenarnya bukan jalur masuk resmi, lalu kami berjalan kaki menuju aula yang jaraknya lumayan jauh. Sekitar pukul 10 atau 11 malam, kami tiba dan bermalam di aula tersebut bersama bapak penjaga Gn. Kelud.

Hari Kedua, kami bangun sekitar pukul 6 pagi dan mulai menjelajahi Kelud. Itu jam yang cukup siang ya sebenarnya 😀

1185352_171449113041058_183078789_n

1157736_171454369707199_1546741075_n

1176234_171722606347042_61684529_n

1272993_171723659680270_762412505_o

1176234_171722613013708_1881697113_nHari ini tidak menyangka anak Gn. Kelud di belakang saya itu erupsi dan abunya tersebar hingga lebih dari 500km (kota Bandung). Selanjutnya, kami menuruni tangga yang tak ada habis-habisnya menuju kolam pemandian belerang, dan dengan spontan, saya dan mbak Dyah menceburkan diri di air belerang yang hangat. Mas Penk yang baik hati memasak selagi kita bermain-main di air hahaha ya ampun… maafkanlah ya, mas Penk 😀

1272993_171723669680269_654160463_o

1239138_171724743013495_639253090_o

1157736_171454373040532_1505452692_n

1157736_171454379707198_43327243_n

Rasanya sangat menyegarkan usai mandi, namun perjuangan naik untuk kembali ke aula cukup melelahkan karena melewati jalan yang berbatu dan berpasir, tidak melewati tangga lagi. Saat itu hari sudah mulai siang, mungkin sekitar pukul 8 pagi. Kami berganti pakaian kering, lalu pulang. Biaya masuk Gn. Kelud secara resmi baru dibayarkan pada petugasnya saat itu, dan saya ditraktir oleh mereka 😀

Di area Gn. Kelud ada jalan yang memiliki medan magnet bumi sehingga motor tanpa perlu hidup mesin dapat berjalan sendiri. Kami mencobanya hahaha dan sebelum pulang, saya dan mbak Friska mengambil foto di depan Museum Kelud. Kapan-kapan kami baru mampir  ke museumnya, mungkin sudah ada tambahan informasi mengenai erupsi yang sedang terjadi saat ini.

1174705_171724753013494_812565835_n

Ya begitulah kira-kira perjalanan ke Gn. Kelud yang serba ekspres dan tak terduga ini. Lepas itu saya langsung pulang ke Jogja, perjalanan pulang yang tidak terlalu menyenangkan dan saya mendapat 1 pelajaran berharga: lain waktu, saya akan memilih setia dengan bus Eka untuk transportasi darat Jatim-Jateng, tidak dengan bus lainnya. Terima kasih banyak teman-teman, dan sampai jumpa lagi 😀

Oh ya teman, jangan lupa yang tadi. Fotonya bukan punya saya, tapi hasil jepretan dari kameranya mbak Friska 😀 Thanks, mbak Friska 😀

Weekend Bersama Kayokai-sisters :D

Hahaha apapun tujuannya ke Jakarta, kudu disempat-sempatin mampir ke Honbu (SGI Headquarter). Honbu adalah seperti tempat saya untuk me-recharge energi 😀

Begitu pun ketika mendengar bahwa saya harus mewakilkan orang tua saya dalam acara Tridharma untuk menerima penghargaan engkong saya, saya langsung membuat jadwal “main” ke Honbu dan hari itu bertepatan dengan ujian Buddhisme. Saya mengikuti ujian pemula ujicoba. Penting sekali meskipun kita sudah lulus ujian tetap mengulang jika ada kesempatan karena belajar Buddhisme bertujuan untuk memperkuat hati kepercayaan kita, seperti bimbingan Ikeda sensei:

BUDDHIST study is not the mere memorization of theory. Your determination to study is an important aspect of your attitude in faith. You must understand that we study to deepen our faith, to promote kosen-rufu and to progress towards our attainment of Buddhahood. (Daisaku Ikeda)

Kedatangan kali ini saya memanfaatkan kereta api Krakatau yang baru saja beroperasi selama tiga hari sejak Rabu, 24 Juli 2013. Dengan membayar tiket seharga seratus ribu, saya mendapatkan kereta api yang sangat bersih, berpendingin udara, on-time, dan yang paling saya sukai adalah jadwal keberangkatannya tengah hari.

Lalu, demi mengejar waktu, saya pulang pada hari minggu (28 Juli 2013) dengan Lion Air. Tiket pulang dengan KA Krakatau yang seharusnya hari Senin pun saya batalkan. Cara pembatalan tiket sangat mudah dan bisa kita baca di website kereta api yang keberadaannya saat ini sangat membantu kita, terutama fasilitas booking H-90 😀

270720131731Susasana dalam KA Krakatau

Saya menikmati saat-saat yang sangat menyenangkan bersama kayokai-sisters saya, apalagi hari itu adalah hari ulang tahun Yuvi. Kami mengobrol, berkumpul, makan, ketawa-ketawa dan berbagi semangat 😉

Beberapa moment sempat diabadikan dengan kameranya Ci Dessy hahaha

IMG-20130729-WA0001Ci Dessy, Saya dan Linda

IMG-20130729-WA0002Ci Dessy dan saya

IMG-20130729-WA0004Ci Dessy, Linda, Yuvi, Saya dan Novita (dari Batam)

Setelah saya merepotkan Yuvi dan mamanya yang menampung saya selama satu malam dan Ci Mina yang juga berbaik hati mengantarkan saya dari Honbu ke tempat acara Tridharma di Tangerang, saya pulang dengan senyum-senyum sendiri dengan membawa titipan Septa kepada Apri, yaitu cover kyobon (buku doa) yang akan dibagi-bagi oleh Apri kepada teman-teman pemudi Jogja 😀

280720131734Cover Kyobon dari Apri

Hal lain yang membahagiakan adalah ketika Urara san mengirimkan foto ujian teman-teman Jogja 😀

Ujian budhismeUjian Buddhisme di Jogja

Selama perjalanan ini, meskipun bukan Kayokai-sisters saya, saya juga berterima kasih banyak kepada Puput yang menjemput saya dari St. Pasar Senen dan mengantarkan saya ke rumah Yuvi di malam hari 😀

Thank you semuanya! Weekend kemarin saya lewati dengan sangat bahagia hahahaha ……dan ssttt wawancara beasiswa tesis LPDP di Senin pagi harinya pun sudah saya lewati dengan maksimal dan tanpa penyesalan. Diterima tidaknya beasiswa tersebut saya serahkan pada doa dan rejeki saja 😀

Terima kasih, kayokai-sisters. Love u 😉

Sunday Morning Sports

Kemarin, pagi-pagi sekali Ko Paul sudah menjemput saya dan Mari di kos saya dan menaikkan 2 sepeda pinjaman kami ke Mobil Pick-Up Ferarri-nya hahaha sebutan untuk pick-up merahnya, lalu bersama-sama dengan Kevin B. dan Rio yang mengalah duduk di belakang bersama sepeda-sepeda, kami menuju ke rumah Pak Yanto. Sebelum bercerita, saya kudu berterima kasih dahulu dengan Tangguh dan Damai atas pinjaman sepedanya. Thanks, temans!

Sesampainya di sana, Pak Aruji sudah menunggu sendirian dan tak berapa lama, Pak Yanto, Kevin, Derry dan Lio pun datang. Semua sepeda dinaikkan ke pick-up dan kami memulai perjalanan menuju ke tempat yang tidak saya duga sebelumnya, yaitu kompleks Gn. Nglanggeran di Patuk. Kami memang tidak tau hendak bersepeda ke mana dan tidak berniat tau juga hingga hari-H karena terlalu excited dengan ide tersebut hahahaha 😀

Kali ini adalah pertama kalinya saya bersepeda di wilayah pegunungan. Perjalanan ke sana pun baru kali ini saya lalui pada pagi hari sekitar jam 6 ketika kabut memenuhi daerah Wonosari. Saya memandang Jogja yang sangat indah di jalan sekitar bukit bintang, namun tidak bisa mengambil foto pada saat itu. Gunung Merapi dan Merbabu tampak samar tertutup kabut di kejauhan dan misty-scene pun tampak sangat indah.

nglanggeran_gakkai (2)

nglanggeran_gakkai (3)

Pada pukul 6.45 menit, kami memulai perjalanan dari pos polisi Patuk ke arah desa Ngoro-oro. Desa wisata yang kami lewati tersebut sangat asri dan belum terlalu banyak kendaraan bermotor. Jelajah alam dengan track naik-turun pada awalnya sempat membuat lutut saya lemas hahaha karena tidak ada olahraga dan pemanasan sebelumnya 🙂

Sesekali kami mendorong sepeda kami ketika jalan menandjak.

nglanggeran_gakkai (4) nglanggeran_gakkai (5)

nglanggeran_gakkai (6)

nglanggeran_gakkai (8)

Dalam perjalanan, pak Yanto sering mengambil potret dengan lihainya sambil bersepeda dan foto-foto yang dihasilkan olehnya pasti sangat bagus. Beberapa di antara kami tertinggal di belakang karena kecapekan dan saling mengobrol sepanjang perjalanan sambil melontarkan beberapa lelucon hahaha 😀

Continue reading

Kirab Manten Tebu 2013

Tengah hari di hari Sabtu (6 April 2013), saya pergi mengunjungi Pabrik Gula Madukismo miliknya Sultan Hamengkubuwono X, yaitu pabrik gula yang sudah berdiri sejak zaman Belanda di Bantul untuk melihat upacara Cembengan/Kirab Manten Tebu. Upacara ini berfungsi untuk meminta keselamatan selama proses penggilingan tebu nantinya.

Saya sempat mengobrol dengan bapak-bapak petani dari Purworejo yang berbagi informasi seputar upacara ini. Mereka percaya bahwa upacara adat ini harus diadakan karena beragam alasan, misalnya: pernah satu kali tidak diadakan dan ketel menjadi rusak sehingga rugi yang ditanggung mencapai sekian miliar rupiah (saya lupa berapa nominalnya). Rangkaian acara ini juga dilaksanakan di beberapa tempat selama 1 bulan penuh. Saya sempat mengambil beberapa foto dalam beberapa jam keberadaan saya di sana. Monggo dinikmati foto-fotonya 😀

Sekitaran Pabrik

23

pabrik    f

Para Prajurit

25

24

prajurit 5

prajurit 6

prajurit 1

prajurit 2

prajurit 3 Continue reading