Cervical Radiculopathy

Kadang-kadang dalam hidup ada kejadian mengejutkan ūüėĀ
.
Yang saya terkejut adalah diagnosis dokter bahwa hasil rontgen menunjukkan tulang leher saya lurus dan hampir bengkok ke arah berlawanan. Nama kerennya “cervical radiculapathy” atau umumnya disebut saraf kejepit di bagian leher.
.
Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah… duduk depan laptop/komputer terlalu lama dengan bagian leher membungkuk. Ehm, postur duduk sangat berpengaruh ya.
.
Jadi ceritanya bermula ketika saya ke tukang urut pas tiba-tiba tangan saya ga bisa diangkat, dan katanya masuk angin. Namun koq ga sembuh2, dan akhirnya hari ini di minggu UAS setelah memenuhi semua kewajiban ngajar di semester ganjil, pergilah saya ke dokter tulang ūüėĀ
.
Ehm, pastesan ada yang ga enak sama badan saya selama ini lol.
.
Jadi, pesannya adalah ngetik dengan monitor yang sejajar dengan mata ya. Googling aja untuk posisi duduk yang benar sehingga leher kita ga nyeri.

78829281_10219129424960964_5755576920502697984_o

Saya jadi kaya’ merasa punya hobi dan kerja yang ekstrim. Terlalu ekstrim naik gunung jadinya scoliosis, terlalu banyak duduk dan depan laptop jadinya cervical radiculopathy ūüėā Harusnya memilih jalan tengah (middle way) biar kaya’ Mahayana Buddhism hahaha
.
Sekarang lagi menikmati keduanya. Sebenarnya sih 3 karena scoliosisnya ada 2 tempat. Saya share supaya teman-teman yang punya sakit yang sama bisa tetap enjoy dan gembira, serta beraktivitas kaya’ biasa. Seperti tidak terjadi apa-apa gitu.
.
Percakapan dengan dokter tadi:
Dokter: Jadi kamu harus istirahat total (dari komputer)
Saya: Ga bisa, Dok. Saya kerjanya itu ‚úĆūüŹĽ
.
Di dalam hati, kalau disuruh pensiun naik gunung sudah saya lakukan: 2 tahun full, 2 tahun berikutnya hiking ringan, dan baru tahun ke-5 ini yang berani trekking 9 hari non-stop.
.
Balik ke yang tadi, symptom-nya simple banget: suka sakit kepala, panas dan meriang ga jelas penyebabnya dan saya pikir masuk angin karena kecapekan aja, lalu sakit di leher, bahu, bagian punggung belakang yang kaya’ berasa digebukin. Ada 1 titik di sum-sum tulang belakang yang sakit kalo ditekan. Dokter bilang itu titik pas tulang bengkoknya. Kadang juga tangannya kaya’ kebas tapi sekarang udah ga lagi.
.
Ada 1 waktu yang pas pagi bangun tidur ga bisa angkat badannya karena leher sampe kepala dan tangannya ga bisa diangkat. Kalo ga salah itu pas gladi bersih ato pembukaan pameran SBT di kaikan. Jadi bangun pake jurus guling-guling sampe dekat lantai. Saya sudah pengalaman ginian di 2015 dulu, jd udah tau triknya hahaha ūüėé Sekarang kalau udah tau nama penyakitnya dan kilas-balik inget gejala-gejalanya koq jadi kaya’ horor sendiri ya. Horor yang artinya tanda-tanda bahwa sekarang harus mulai ingat umur dan ambil treatment yang tepat. Dokter sudah minta fisioterapi dan cek lagi bulan depan.
.
Saya selama ini suka berpikir apa sakitnya itu hanya perasaan saya saja, ternyata afirmasi positif tidak selalu tepat koq! Periksa ke dokter gih bagi yang hanya suka rasa-rasanya saja; kaya’ saya yang kalau ga terpaksa banget ga pernah ke dokter, dan masih rejeki karena kondisinya masih bisa sembuh dengan fisioterapi dan berenang rutin.

Target

Ehm, kira-kira begini target saya hingga akhir tahun:

  • Menyelesaikan penelitian Simlitabmas sampai akhir Agustus
  • Kompetisi gitar klasik tingkat intermediate (D’bianco Gitar Kompetisi IV) di akhir Juli
  • Mengajukan Lektor 300 di bulan Oktober
  • Fokus pake banget¬†untuk bidang komputasi linguistik — kudu move on dari data mining ke topik penelitian yang lebih “sesuai”.
  • ….terakhir maunya persiapan kuliah Ph.D, tapi kursus gitarnya baru sebentar hehehe <– mungkin yang ini tahun 2020 atau 2021

Nah sekarang bicara persoalan komputasi linguistik.

Saya selalu mencari apa yang benar-benar saya inginkan untuk dikerjakan seumur hidup. Misalnya yang sudah ketemu adalah: Gunung dan Gitar.

Saya mencoba berbagai olahraga luar ruangan, seperti climbing, arung jeram, caving, snorkeling, dan lain-lain, tetapi pada akhirnya saya menemukan bahwa saya cinta mati sama trekking di gunung (forest-mountaineering).

Lalu, gitar. Dua puluh tahun lalu, ketika saya memulai kursus gitar ketika berumur 11 atau 12 tahun dan menyelesaikannya hingga tuntas, saya tinggalkan itu gitar. Alasannya sederhana: saya merasa tidak ada kemajuan, tidak punya teman berlatih, dan sekeliling saya asing dengan yang namanya gitar klasik. Saya jadi seperti orang aneh. Saya punya band ketika SMP, tapi tidak diteruskan lagi. Saya tidak cocok jadi anak band sepertinya. Dulu pikir bermain band untuk menghibur orang lain, tetapi sekarang sadar bahwa terpenting adalah diri sendiri bisa enjoy. Pertanyaan yang relevan buat saya untuk semua kegiatan saya adalah, “Apakah ini adalah hal yang benar-benar saya inginkan?” Sekarang, saya memulai belajar gitar klasik lagi, nyaris dari nol, tetapi saya¬†happy banget.¬†Happy¬†karena saya ternyata memang cinta mati juga dengan yang namanya gitar klasik.

Selanjutnya, komputer. Saya masih galau untuk yang satu ini. Saya kadang merasa tidak cocok menjadi dosen karena merasa bahwa saya adalah seorang pekerja, bukan guru yang baik. Saya mengenal komputer ketika di kelas 4 atau 5 SD karena pekerjaan papa saya yang berkaitan dengan Pagemaker Рmembuat rancangan buku, logo, dan lain-lain terkait dengan usaha percetakannya. Saya ingat betul betapa saya gila dengan mesin ketik listriknya, lalu beralih ke komputer dan surprise dengan Ms. Word, Excel, ketika biasanya hanya bermain dengan Wordstar dan Lotus. Ada banyak kenangan tentang sejarah saya mengenal komputer, membuka rental, usaha sampingan troubleshooting komputer, ikut proyek membangun warnet dan sebagainya. Semuanya dilakukan ketika bersekolah Рdan kadang terbersit di pikiran saya, mengapa saya bahkan hingga saat ini belum menemukan fokus saya. Semuanya dipelajari sehingga belum ada satu yang klik. Namun dari dulu saya selalu bermimpi tentang bahasa, lebih tepatnya teks (Bahasa tertulis). Ketika kuliah Sastra (yang akhirnya tidak saya selesaikan), saya sadar telah  jatuh cinta pada mata kuliah Introduction to Linguistics. Sejak itu saya berpikir bagaimana mempelajari (menggabungkan) dua rumpun ilmu yang berbeda itu: Bahasa dan Komputer (Komputasi). Sekarang ketika semua perangkat keras mampu mengerjakan tugas komputasi yang berat dan berkembangnya keilmuan di bidang text mining, maka ini menjadi semakin nyata.

Saya menantikan tenggelamnya diri saya pada bidang ini – satu hal terakhir yang mau saya kerjakan dalam hidup saya, setelah gunung dan gitar klasik.

Nampaknya saya memang tergila-gila dengan hal yang njelimet dan presisi ūüėÄ

Wish me luck! Tidak akan mudah, tapi saya berjuang.

KRL dan OjOl

Total dua kali saya menulis tema transportasi favorit saya di kota ini РJakarta. Tulisan pertama di tahun 2015, lalu tulisan kedua di tahun 2016, lalu sekarang Рhampir tiga tahun kemudian, saya akan update moda transportasi saya.

Pertama-tama saya sudah tidak punya motor lagi, dan saya merasa lebih happy, tidak begitu capek karena berkelahi dengan jalanan, tapi juga tidak praktis. Nah, tidak praktis ini yang menjadi masalah, dan saya belum menemukan solusinya. Saya kira dengan naik sepeda ke-mana-mana di kota ini, hidup bisa lebih praktis, nyatanya tidak, maka kesimpulan pertama saya adalah: sepeda bagi saya hanya cocok untuk olahraga saja.

Tadinya cita-cita saya mulia seperti kebanyakan pesepeda lainnya, yaitu naik sepeda ke stasiun dekat rumah, lalu naik KRL sampai stasiun tujuan, dan nyambung bersepeda di bawah pohon rindang di antara perumahan DPR sampai ke parkiran kampus. Nyatanya ini tidak praktis sama sekali. Alasannya beragam, mulai dari rempongnya buka-tutup sepeda lipat untuk masukkan dalam gerbong kereta, angkat-mengangkat sepedanya, baju yang dibasahi keringat, bangun yang kudu lebih pagi sampai risiko di-coel-coel orang iseng di jalanan. Atas dasar itu, sepeda dicoret.

Kini saya memilih KRL dan Ojek-online (OjOl): GrabBike[car] atau Gojek[car] sebagai prioritas transportasi saya di Jakarta.

Kombinasi OjOl dan KRL sebagai pilihan transportasi rumah-kampus selain tidak membuat kulit dan hati panas di jalanan, juga cukup efisien. Rata-rata waktu yang saya habiskan setiap harinya dengan abang OjOl Grab adalah 39 menit. Jika saya  hitung secara keseluruhan, maka waktu yang saya habiskan untuk pergi-pulang rumah-kampus dalam setahun adalah 22 hari dari 260 hari kerja efektif atau sebesar 9%. Angka itu adalah angka dari kebanyakan warga Jakarta berada di jalanan macet yang katanya juga mencapai 22 hari dalam setahun.

Ini adalah rekaman yang masuk akal buat saya, karena tiap ngampus saya memang menghabiskan waktu 1 jam pergi dan 1 jam pulang, dengan pembagian 20 menit di OjOl dan 30 menit di KRL setiap perjalanannya.

Waktu sangatlah berharga, makanya di KRL saya juga sudah punya rutinitas yang berpatokan pada stasiun perhentian. Aktivitas saya dibagi dua, yaitu membaca buku dan mendengar lagu gitar klasik dari Mangga Besar hingga Manggarai, lalu dengar lagu yang ada kata-katanya hingga sampai ruang dosen kampus, namun di stasiun Cawang saya sudah bersiap-siap memesan GrabBike atau Gojek. Kalau ini tentu saja tergantung harga yang lebih murah, dan…. Voila! GrabBike juaranya! ¬†Tahun 2018 saya naik GrabBike[car] tiga kali lipat dibandingkan Gojek[car].

Gojek: 257 kali, 1.111,3 km
Grab: 880 kali, 3.493 km, selama 225 jam atau 9 hari berturut-turut.

TOTAL: 1.137 kali, sejauh 4.604 km

Artinya, selama Tahun 2018, Jarak yang saya tempuh kira-kira 3x pulang-pergi Jakarta-Surabaya via Tol Salatiga.

 

 

Kemenangan Pertengahan Tahun Ini

Orientasiku adalah output, namun tetap setia pada proses.
Kelemahan diri sendiri sangat banyak,
namun apapun yang terjadi harus selalu melangkah maju.

Tidak apa-apa lambat, asal tak melambat.

Dalam satu tahun, aku menandai perjuanganku dengan tanggal-tanggal tertentu.
Misalnya, 100 hari pertama dalam 1 tahun,
Menuju 3 Juli – Hari Guru dan Murid,
Menuju 18 November – Hari berdirinya Soka Gakkai,
dan terakhir adalah menuju awal tahun yang baru.

2017,
Di awal tahun targetku tercapai.
Publikasi 2 hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,
di Konferensi Nasional.

Bukan Konferensi Nasional yang bagus banget,
tapi sudah cukup memenuhi targetku.
Saat itu bagiku adalah memecahkan angka NOL dulu.

Lalu aku berpikir lagi, apa yang ingin kucapai menuju 4 Juni – Hari Persaudaraan Kayo.
Yeah! Gakkai banget tanggal-tanggal yang kugunakan sebagai milestones.
Dan sebelum libur lebaran aku punya 3 doa besar, dan kemarin doa ku yang terakhir itu terjawab sudah.

Pertama,
KPR Rumah. Surprised! Dapat Rusunami (Rumah Susun Hak Milik) di Bandar Kemayoran. Hanya ada 1 kriteria ketika memilih rumah, selain dari kesanggupanku dalam membayar biaya bulanannya, yaitu: DEKAT dengan Kaikan.

Kedua,
Sertifikasi Dosen. Keren aja kalo udah serdos — seolah-olah sudah menjadi Dosen beneran.
Aku tak begitu suka dengan formalitas seperti ini, tapi segala sesuatu harus memiliki standard. Aku tak bisa lari dari kenyataan kecuali berjuang untuk lulus sertifikasi. Continue reading “Kemenangan Pertengahan Tahun Ini”

Ngikut Indonesia Android Kejar

Yeah! Diterima. Saya akan mengambil kelas Beginner. Pasti akan menyenangkan ūüėÄ

screen-shot-2016-11-07-at-1-27-51-pmGambar 1. Email dari Indonesia Android Kejar

screen-shot-2016-11-07-at-1-31-23-pm
Gambar 2. Daftar kelas yang diikuti

Saya sudah download Android Studio dan join Google+ nya juga. Sekarang tinggal mempelajari materi yang ada di Udacity sebelum mengikuti kelas tatap mukanya. Terima kasih, ¬†Indonesia Android Kejar ūüėÄ

screen-shot-2016-11-07-at-1-36-53-pm
Gambar 3. E-learning dari Udacity

screen-shot-2016-11-07-at-1-39-07-pm
Gambar 4. Google+ Indonesia Android Kejar

Kedisiplinan

screen-shot-2016-10-12-at-6-56-10-pm

Kita benar-benar tenggelam dalam informasi. Tinggal bisa tidaknya saja kita jadikan informasi ini sebagai pengetahuan yang bermanfaat bagi kita. Dan untuk mencapainya, salah satu sikap mental yang harus kita punyai adalah KEDISIPLINAN. Seperti ini contohnya Рada banyak kursus online yang tersedia. Kursus online ini menjadi bermanfaat jika kita pelajari, dan itu yang dinamakan sebagai pengetahuan. Jika tidak, kursus online ini hanyalah sekadar informasi.

Btw, sebenarnya saya tidak ingin membicarakan bedanya informasi dan pengetahuan. Saya hanya ingin memberitau berkali-kali pada diri saya sendiri bahwa saya harus disiplin. Disiplin belajar terutama.

Disiplin ini memiliki hubungan dekat dengan motivasi. Orang yang termotivasi dengan sendirinya akan menjadi disiplin. Apa saya kurang termotivasi ya? Padahal akhir-akhir ini saya menjadi pelanggan setia dari video-video motivasi online di youtube dan facebook, misalnya dari Prince Ea. Atau jangan-jangan saya terlalu termotivasi sehingga kebanyakan berpikir,gelisah dan hanya tertuju pada output tanpa setia pada proses?

Hey, setialah pada proses, anak muda! Buat target-target harian saja, atau paling tidak mingguan, jadi otakmu tak mampet penuh. Dengan begitu, mungkin disiplin akan mudah kau jalankan! ^^

Sebuah Janji yang Tertunda

phd091912s

Inilah sebuah janjiku pada dosen pembimbing skripsi S1-ku, bahwa aku ingin menjadi dosen, dan nyatanya sekarang aku sudah; namun kau tau? Aku menjadi dosen yang menghabiskan energinya di kegiatan yang bukan menjadi fokus utamanya. Bukan kegiatan meneliti. Sedih jadinya -_- semacam terlibat di sekelompok dosen yang menamakan dirinya¬†“struktural”. Ternyata aku tidak bisa senang berada di sana meski mendapatkan “tunjangan”.

Jika tidak ada Struktural, bagaimana mungkin sebuah kampus dapat dijalankan? Hanya saja aku yang semakin menyadari kebosanan berada di kegiatan manajemen kampus.

Secepatnya aku ingin kembali menjadi dosen peneliti. Ini semacam cita-cita agungku Рtenggelam di dalam tumpukan paper hihihi ^^