Buku Konsep AI (Anita Desiani)

Mind Map hasil Bacakilat 2/10 (dua dari target membaca 10 buku). Total bab yang dipelajari adalah 9 dari 10 bab dengan total sekitar 250 halaman. Waktu total yang dibutuhkan adalah berhari-hari -_-

IMG_1209

Konsep Kecerdasan Buatan (Anita Desiani)2

Konsep Kecerdasan Buatan (Anita Desiani)

Pagi Pertama Januari 2019

Dua minggu di akhir 2018, saya berturut-turut sampai di Kampus Trilogi sebelum jam semestinya, dan pulang juga setelah jam semestinya. Rasanya menyenangkan menjadi manusia pagi. Oleh karenanya, di tanggal pertama tahun yang sudah bertambah satu ini, saya ingin tetap mempertahankan kebiasaan tersebut.

Membangun sebuah kebiasaan adalah hal yang sulit pada awalnya, namun menjadi gampang sesudahnya. Thanks to basal ganglia atas jasa  pembentukan pola kebiasaan kita. Lebih jelasnya monggo membaca buku The Power of HABIT karya Charles Duhigg.

Ketika kita sedang berjuang membentuk kebiasaan, dibutuhkan upaya yang gigih setiap saat, terutama ketika kita sedang tidak ingin ngapa-ngapa-in. Ketika berada di titik yang tidak ingin ngapa-ngapa-in ini, carilah sesuatu yang dapat mendorong kita atau driving force. Di Gakkai, sering kami sebut sebagai genten atau starting point. Penting untuk kembali lagi ke alasan mengapa kita harus berupaya. Sebuah karya dari Angela Duckworth berjudul GRIT semoga dapat memberikan pemahaman akan pentingnya upaya yang gigih untuk mencapai tujuan level tertinggi kita. Rumusnya sederhana:

BAKAT x UPAYA = KETERAMPILAN
dan
KETERAMPILAN x UPAYA = PRESTASI

Kedua buku berjudul The Power of HABIT dan GRIT tersebut telah berjasa membangunkan saya setiap paginya, selain buku My Morning Routine – How Successful People Start Every Day Inspired karya Benjamin Spall dan Michael Xander yang juga saya baca. Buku My Morning Routine tersebut mengisahkan sekitar 60-an orang dengan kebiasaannya masing-masing.

So, di tanggal satu ini, saya bertekad untuk berupaya lebih keras lagi dan membentuk lebih banyak kebiasaan baik hingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup saya.

Mereka yang setiap pagi bangun dengan suatu tujuan yang hendak dicapai dan sebuah misi yang hendak dipenuhi, merupakan orang yang paling bahagia diantara  yang lainnya. Seperti inilah para angora SGI. Bagi kita, setiap hari merupakan hari untuk mencapai tujuan dan kepuasan tertinggi. Bagi kita, setiap hari bagaikan hari pertama di Tahun Baru. Marilah kerahkan diri Anda dengan penuh semangat dan tekad untuk menjalani hidup setiap hari dengan seoptimal mungkin, sehingga Anda bisa menorehkan tinta emas dalam catatan kehidupan. (dari Bimbingan Harian Mentari Hati)

IMG_8137Mendung di pagi pertama Januari 2019

The World is Yours to Change (Bagian 1 dari 2)

12042013709

Hal pertama yang menjadikan buku ini menarik adalah tiga esai yang ditulis berdasarkan pengalaman penulis sendiri, Bp. Daisaku Ikeda, ketika hidup di masa perang, menjadi korban dan bangkit membuat perubahan. Buku dan penulis buku adalah tak terpisahkan, maka dengan membaca ketiga esai “Kenangan Saya” yang terselip di antara 18 bab para tokoh dunia, kita bisa mengetahui hati dari sang penulis itu sendiri.

Guru-guru Masa Kecil Saya

Esai berjudul “Guru-guru Masa Kecil Saya” sebelumnya pernah saya baca juga di buku lain. Membacanya lebih dari 3x tidak membuat saya bosan. Membaca esai ini, saya jadi kilas balik dengan pengalaman bersekolah ketika bertemu dengan guru-guru yang sangat menginspirasi, guru-guru yang mendukung dan menjaga saya seperti “sakuramori” yang digambarkan dalam esai ini. Sakuramori adalah nama yang diberikan pada orang yang mengurus dan merawat pohon sakura (penjaga yang teliti).

Mereka mengamati pertumbuhan pohon dengan teliti, tetapi membiarkannya berkembang bebas. Sebagai contoh, jika sejak awal sekali kita menahan pohon dengan kayu penopang, pohon itu akan mengandalkan topangan kayu, dan tidak tumbuh kuat sendiri (hal. 149).

Saya membaca keagungan para guru masa kecil Ikeda dan saya pun, sama seperti Ikeda kecil, akan selalu ingat pesan dari Bp. Takeuci – guru kelas tiga dan empat Ikeda -, “Kalian boleh sepintar yang kalian inginkan, tapi kalau kalian tidak membentuk tubuh yang kuat selagi muda, kalian tidak akan berguna bagi siapa pun sesudah dewasa nanti. Kesehatan itu penting. Belajar itu penting. Pendidikan sejati menggabungkan keduanya” (hal 147).

Sekeping Cermin

Begitu saya membaca esai yang berjudul “Sekeping Cermin”, hati saya ikut menangis kehilangan kakak tertua Ikeda, Kiichi. Kiichi terbunuh di Burma dalam Perang Dunia II ketika Jepang mengirimkan banyak anak mudanya berperang sebagai Tentara Kekaisaran Jepang. Pada bagian ini, saya merasa menjadi ibu Kiichi yang bersedih atas mati muda anaknya yang penuh kesia-siaan. Saat itu, Ikeda sudah berusia 17 tahun. Kenangan akan kepedihan dan kegeraman atas perang, terwakili oleh kepingan cermin pecah milik ibunya yang ia bagi berdua dengan kakaknya sebelum perang meletus. Kalaupun saya menjadi Ikeda, saya akan melakukan hal yang sama. Meletakkan satu benda abadi tersebut untuk mengenang kakak yang wafat membela sesuatu yang ia tau salah namun tak memiliki kekuatan untuk menolaknya.

Hati Masih Tertutup terhadap Dunia?

Hal ini dijelaskan pada esai ketiga yang berjudul “Hati Masih Tertutup terhadap Dunia?”. Pengalaman masa kecil dan remaja Ikeda membentuk sebuah prinsip kuat setelah ia dewasa. Ia yang notabene seorang Jepang, mampu melihat Jepang dari sudut pandang holistik tentang negaranya sendiri yang menganut mitos keunggulan rasial.

“Kita tidak bisa melihat punggung kita sendiri, juga wajah kita sendiri. Untuk itu kita perlu cermin. Para pemimpin Jepang seharusnya mengamati diri mereka sendiri di cermin tetangga-tetangga mereka, cermin dunia, cermin Asia. Mereka seharusnya dengan rendah hati menyimak suara tetangga-tetangga mereka” (hal 237).

Ketika berbicara tentang Jepang, di masa kecil, saya pun sering mendengar cerita-cerita kejam tentara Jepang dari kakek saya yang memang hidup di zaman itu. Kakek saya dan Ikeda memiliki tahun lahir yang sama, jadi cerita tentang tentara Jepang pun serupa. Dalam hati, saya mengutuk tentara Jepang, namun ketika umur saya bertambah dan bertemu dengan Soka Gakkai, saya bisa melihat dengan mata hati yang lebih jernih. Saya selalu bertanya-tanya, jika tidak ada Soka Gakkai, akankah saya memiliki pandangan positif terhadap bangsa tersebut dan akankah saya menjadikan misi perdamaian Ikeda sebagai misi saya sendiri?

bersambung…

Encounters

21032013589

Forum diskusi buku “Encounters” karya fotografer muda, Rony Zakaria, yang diadakan pada malam hari tanggal 5 April 2013 sangat menyenangkan. Kegiatan ini diprakarsai oleh Cephas Photo Forum.

Saya adalah penikmat foto. Menurut saya, orang-orang yang mencintai kesadaran, akan mencintai setiap momen kehidupan. Pertemuan dengan selembar foto adalah kesempatan terbaik bagi kita untuk menafsirkan sebebas-bebasnya cerita yang terkandung dalam foto tersebut. Dalam diam, kita melihat ke dalam diri. Nah, momen seperti itulah yang saya sukai 🙂

Banyak hal yang saya pelajari pada malam itu dari pertanyaan-pertanyaan menarik para peserta diskusi dan jawaban fotografer yang sederhana-logis-to the point tanpa dibuat-buat.

Moderator, Budi N.D. Dharmawan pun mampu membangun suasana diskusi yang hangat. Beberapa pertanyaan yang diajukan, antara lain:

  • Mengapa memilih foto hitam-putih, bukan berwarna?
  • Biasanya foto hitam-putih mencerminkan suasana ‘kegalauan’. Apakah seperti itu?
  • Apakah bisa dibilang bahwa buku foto Encounters tersebut mencerminkan seorang Rony Zakaria?
  • Bagaimana proses behind the scene dari Encounters?

Ya, saya banyak belajar dan tambah semangat untuk belajar memotret 🙂

Btw, thanks atas bukunya, Ron! ….and congrats!

21032013587

Membeli Buku-buku di Pesta Buku Jogja 2013

bukuKadang-kadang saya tidak sepenuhnya tau mengapa saya membeli buku-buku tersebut. Saya membelinya kadang hanya karena jatuh cinta pada pandangan pertama saja. Membacanya sekilas, lalu segera memutuskan 🙂
Pada akhirnya saya mendapati bahwa buku-buku tersebut sangat berguna bagi saya meski terkadang saya baru membacanya setelah sekian tahun tersusun rapi di rak buku.

Tahun ini, Pesta Buku Jogja tidak seramai tahun lalu, tapi ada beberapa penerbit yang memberikan harga lebih murah dibandingkan tahun lalu. Buku Scarlet yang merupakan sambungan dari buku Gone with the Wind dan buku Buddha yang pengarangnya Deepak Chopra adalah dua buku yang sangat saya inginkan. Harga jualnya diskon 40%, namun saya menahan diri. Yah, lain waktu pasti akan saya baca kedua buku tersebut.

Kesempatan ini, saya membeli 3 buku dari Buku Import yang dijual murah, yaitu buku kumpulan puisi yang disusun oleh The National Library of Poetry, buku komputer tentang natural language, dan buku ekspedisi pendakian gunung (Books of Lies).

Dua buku berikutnya adalah buku I Feel Bad About My Neck yang baru saja habis saya baca dan buku Yang Terbaik karya John W. Gardner. Buku Yang Terbaik ini belum saya baca hahaha tapi sudah dihibahkan ke adik kelas kuliah saya dulu. Anda bisa baca sekilas buku itu di sini. Buku I Feel Bad About My Neck ini bagus, kocak dan isinya bisa menambah pengetahuan kita tentang persepsi Nora Ephron tentang menjadi wanita dan semua keribetannya, termasuk menghadapi masa menopouse. Ada yang mau buku ini?

Saya mau pergi makan malam dan membeli obat flu dahulu untuk menghilangkan air terjun di hidung saya 😀

Buku Catatan

buku catatan

Jangan pernah mengandalkan ingatan kita. Daya ingat kita tak selamanya baik. Andalkanlah hitam di atas putih.

Tentang menulis, apapun itu, meski hanya menulis namaku saja, atau mencorat-coret di kertas buram pada saat ujian matematika dulu, sangatlah menyenangkan. Bahkan, kegiatan tulis-menulis dan corat-mencoret sudah kita mulai sedari kecil, ketika kita mengenal apa yang dinamakan alat tulis. Semakin besar alat tulis yang digunakan, maka kita semakin senang. Semakin berwarna, semakin senang. Semakin besar medianya (baca: dinding), tentu kita lebih senang 🙂

Makanya, anak-anak kecil selalu menyukai spidol dan pensil berwarna, juga dinding. Ups.

Baru akhir-akhir ini, orang dewasa disibukkan dengan apa yang dinamakan “mind map” yang berbentuk gambar dan digambar dengan alat tulis beraneka warna. Mencontoh kegiatan masa kecil?

Saya memiliki kebiasaan menulis buku diary.

Menulis di blog tidaklah cukup. Masih ada sesuatu yang kurang. Ya, kurang SENTUHAN 🙂

Teknologi tak selalu bisa menggantikan sesuatu, misalkan: RASA. Dalam hidup ini, aku butuh RASA itu 🙂 Continue reading “Buku Catatan”