Pagi Pertama Januari 2019

Dua minggu di akhir 2018, saya berturut-turut sampai di Kampus Trilogi sebelum jam semestinya, dan pulang juga setelah jam semestinya. Rasanya menyenangkan menjadi manusia pagi. Oleh karenanya, di tanggal pertama tahun yang sudah bertambah satu ini, saya ingin tetap mempertahankan kebiasaan tersebut. Membangun sebuah kebiasaan adalah hal yang sulit pada awalnya, namun menjadi gampang sesudahnya. […]

The World is Yours to Change (Bagian 1 dari 2)

Hal pertama yang menjadikan buku ini menarik adalah tiga esai yang ditulis berdasarkan pengalaman penulis sendiri, Bp. Daisaku Ikeda, ketika hidup di masa perang, menjadi korban dan bangkit membuat perubahan. Buku dan penulis buku adalah tak terpisahkan, maka dengan membaca ketiga esai “Kenangan Saya” yang terselip di antara 18 bab para tokoh dunia, kita bisa […]

Encounters

Forum diskusi buku “Encounters” karya fotografer muda, Rony Zakaria, yang diadakan pada malam hari tanggal 5 April 2013 sangat menyenangkan. Kegiatan ini diprakarsai oleh Cephas Photo Forum. Saya adalah penikmat foto. Menurut saya, orang-orang yang mencintai kesadaran, akan mencintai setiap momen kehidupan. Pertemuan dengan selembar foto adalah kesempatan terbaik bagi kita untuk menafsirkan sebebas-bebasnya cerita […]

Membeli Buku-buku di Pesta Buku Jogja 2013

Kadang-kadang saya tidak sepenuhnya tau mengapa saya membeli buku-buku tersebut. Saya membelinya kadang hanya karena jatuh cinta pada pandangan pertama saja. Membacanya sekilas, lalu segera memutuskan 🙂 Pada akhirnya saya mendapati bahwa buku-buku tersebut sangat berguna bagi saya meski terkadang saya baru membacanya setelah sekian tahun tersusun rapi di rak buku. Tahun ini, Pesta Buku […]

Buku Catatan

buku catatan

Jangan pernah mengandalkan ingatan kita. Daya ingat kita tak selamanya baik. Andalkanlah hitam di atas putih.

Tentang menulis, apapun itu, meski hanya menulis namaku saja, atau mencorat-coret di kertas buram pada saat ujian matematika dulu, sangatlah menyenangkan. Bahkan, kegiatan tulis-menulis dan corat-mencoret sudah kita mulai sedari kecil, ketika kita mengenal apa yang dinamakan alat tulis. Semakin besar alat tulis yang digunakan, maka kita semakin senang. Semakin berwarna, semakin senang. Semakin besar medianya (baca: dinding), tentu kita lebih senang 🙂

Makanya, anak-anak kecil selalu menyukai spidol dan pensil berwarna, juga dinding. Ups.

Baru akhir-akhir ini, orang dewasa disibukkan dengan apa yang dinamakan “mind map” yang berbentuk gambar dan digambar dengan alat tulis beraneka warna. Mencontoh kegiatan masa kecil?

Saya memiliki kebiasaan menulis buku diary.

Menulis di blog tidaklah cukup. Masih ada sesuatu yang kurang. Ya, kurang SENTUHAN 🙂

Teknologi tak selalu bisa menggantikan sesuatu, misalkan: RASA. Dalam hidup ini, aku butuh RASA itu 🙂 Continue reading “Buku Catatan”

Destinasi Browsing

Menunggu bisa jadi hal yang paling membosankan, makanya saya lebih memilih untuk menikmati lagu, mendengarkan podcast dan membaca di waktu tunggu tersebut. Di bawah ini adalah beberapa destinasi browsing yang akhir-akhir ini saya kunjungi: [IT, Daily Life, Campus Activity] Hampir setiap hari saya rutin membaca blognya Bp. Budi Rahardjo. [SGI, Daily Life] Tulisannya Pooja Ruprell […]

Rutinitas

buku headfirstBuku Head First lain yang hampir selesai saya baca adalah buku Head First Java. Buku edisi Head First ini, ujar teman saya si Zain, lebih manusiawi hahaha mungkin maksudnya, user-oriented. Ya, buku ini sangat menarik dan tidak membosankan, tapi kalau sudah masuk ke materi yang berat… ya tetap saja sulit hahaha

Kalau saya bepikir tentang progress dan target penyelesaian tesis, saya akan stress sendiri. Beneran deh. Jadinya, sekarang saya membagi-bagi target besar tersebut menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, yaitu kegiatan harian. Kesannya sangat lambat, tapi saya memang harus melalui tahapan ini, yaitu belajar Java. Ah, semester 6 yang akan mulai di awal Februari ini harus menjadi semester akhir bagi kuliah saya.

Sudah tiga bulan lebih saya tidak pergi ke gunung. Otak saya sudah hampir sepenuhnya di tesis dan itulah hal yang saya tunggu-tunggu. Beberapa waktu lalu saya ingat satu hal penting sewaktu menyelesaikan Skripsi S1, yaitu: tak pernah satu hari pun saya tidak memikirkan skripsi. Maka, sekarang pun harus seperti itu. Itulah yang mungkin dinamakan sebagai FOKUS dan KONSENTRASI.

Kemarin saya juga sudah menyelesaikan satu bab lagi dari buku The Geography of Bliss. Ada satu hal yang belum saya mengerti yaitu tentang “pertumbuhan berpangkat”. Kutipan lengkapnya seperti ini:

Tanamlah bibit-bibit kebahagiaan dan pada akhirnya hukum pertumbuhan berpangkat dicapai, maka saya yakin kebahagiaan akan menyebar bagaikan kebakaran padang rumput di California.

Saya juga ingin menuliskan kelanjutan kalimatnya yang menarik meskipun tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan berpangkat:

Lantas untuk sementara waktu, apa yang harus dikerjakan? Saya kira kita terus menyemaikan benih. Toh sebenarnya yang penting itu menanamnya bukan memanennya. Seperti dikatakan banyak filsuf, kebahagiaan itu adalah hasil sampingan. Sebagaimana pengamatan Nathaniel Hawthorne, kebahagiaan adalah kupu-kupu yang bertengger di bahu kita tanpa disuruh.

Jadi , alih-alih berusaha secara aktif membuat tempat atau orang lebih bahagia, mungkin lebih baik kita menerima saran penulis Kanada Robertson Davies: “Jika Anda tidak bahagia, sebaiknya Anda berhenti mengkhawatirkan ketidakbahagiaan dan melihat perbendaharaan apa yang Anda miliki dari ketidakbahagiaan Anda.”

Saya sudah tidak pernah membaca buku sampai pagi lagi sekarang dan hanya membacanya di saat-saat luang saja, seperti moment ketika menunggu. Saya juga memberanikan diri untuk menunda semua bacaan yang bukan prioritas, maksudnya bacaan yang tidak ada hubungannya dengan topik tesis. Pada awalnya memang berat, tapi kebiasaan tersebut akan membuatnya menjadi ringan seiring dengan waktu. Continue reading “Rutinitas”