Hari Ini

Hari ini, Minggu (lagi)…
Tak ada yang istimewa, kecuali bangun siang,
dilanjutkan pertemuan pemudi dan daerah.

Semua utang nilai mahasiswa sudah dibayar,
tak ada yang tertinggal lagi.
Lega dan puas.

Masih teringat jelas dan terasa sekali,
kekesalanku ketika Dosen lama mengeluarkan nilai,
apakah mahasiswaku merasakan hal yang sama?
Minta maaf ya ^^
Aku merasa mengulang hal yang kukutuk dulu.

Hanya butuh setahun untuk melupakan rasa menjadi mahasiswa,
dunia dosen terlalu nikmat untuk sejenak memikirkan para mahasiswa.
Seorang mantan dosen yang paling sering menyadarkanku berkata bahwa,
aku kehilangan idealisme seorang mahasiswa ketika duduk di bangku dosen.
Terima kasih telah mengingatkanku!

Rasa bangga terhadap mantan dosen-dosenku yang berjiwa pendidik pun mulai merasukiku lagi.
Rasa keibuan dan kebapakan yang diberikan, bimbingan dan perhatian serta semangat yang ditularkan mereka kepada kami.
Aaahhh, mampukah aku meneladani sikap mereka?

25 – 14 = 11 (hari menuju YFM Palembang)

Ehm, SEBELAS hari lagi. Deg-degan banget sih…

Congratzzz ya buat Batam dan Medan \(^_^)/
Palembang, Youth Friendship Meetingnya tanggal 25 ini.
Ummm, rada-rada pesimis, tapi Sensei bilang,
orang yang berjuang sampai akhir adalah pemenang sejati.
Apapun hasilnya,
masih SEBELAS hari lagi.
Tak ada kata terlambat.
Tidak boleh membuat Sensei kecewa,
tidak boleh berhenti berjuang!
Hanya ada dua pilihan,
Menang atau Kalah?
 
Ehm, berjuang…berjuang…..

Huh… semangat (lagi) dunk…

Jangan pernah merintis sesuatu hanya karena uang. Dan jangan pernah mengakhiri sesuatu hanya karena uang.
Capek.
Saat ini, kepalaku pusing.
Entah kenapa, semester ini aku selalu merasa capek.
Ujung-ujungnya, pulang kerja langsung tidur,
dan mulai sering bolos kuliah.
Tetapi, malam hari pasti bangun.
Seperti kelelawar saja.
Perasaanku bercampur aduk.
Kecewa sekali karena jadwal kuliah di kampusku tidak dapat kuatur sedemikian rupa yang bisa memungkinkanku mengambil 24 sks.
Aku kecewa hanya bisa mengambil 18 sks. Artinya, 6 sks terbuang. Dan lebih kecewa lagi karena beberapa dosen mengajar dengan seenaknya saja. Jadi tambah malas.
Ehm, bagaimanapun juga, itulah keadaannya. Jadi, aku harus bisa menerimanya dengan lapang dada. Tidak boleh menyalahkan lingkungan dan mencari kambing hitam.
Kedua,
masalah pekerjaan.
Butuh perjuangan untuk mengajar mata kuliah yang dulunya tidak terlalu kita sukai. Huh, butuh kesabaran untuk belajar lagi,

setahap demi setahap.

Aku berpikir, apa yang membuatku bertahan dengan profesi ini?
Gaji? Tidaklah!
Yang membuatku bertahan adalah mahasiswa dan rekan kerja.
Jika mengandalkan yang lain, semuanya bisa membuatku stress.
Sekarang saja sudah stress.
Aku bertanya sampai kapan aku mampu bertahan?
Aku juga menyadari satu hal, bahwa tidak semua orang mampu bertahan di profesi ini. Sudah hampir satu tahun kujalani, tapi hatiku masih belum mantap juga.
Aku harus berpikir 9 kali sebelum memutuskan.
Ketiga,
Soka Gakkai Indonesia.
Ehm, ada kaikan di sebelah rumah tidak mungkin kebetulan.
Semua pasti ada maknanya, namun aku belum tau apa maknanya.
Aku tau bahwa aku harus berjuang.
Sebulan terakhir ini, banyaklah ompongnya daimokuku.
Tidak tau mengapa, tapi susah sekali mengalahkan rasa malas di dalam diri sendiri.
Sebenarnya, banyak hal yang harus diselesaikan dengan berdoa.
Tapi, sekali lagi, memulai untuk berdaimoku itu sulit.
Kadang-kadang seperti api, hanya bersemangat sesaat,
lalu tidak lagi.
Hal yang kutau saat ini adalah,
aku harus bisa membagi waktu dengan baik, antara jalan-jalan, gakkai, kerja, kuliah dan keluarga, lalu mengatur pengeluaran agar tidak lebih besar daripada pemasukan, dan berdaimoku dengan sepenuh hati untuk kemajuan susunan di Palembang.

Penggalangan Dana untuk Padang

Malam hari ini,
ditemani hujan lebat yang mengguyur kota palembang,
aku memikirkan sesuatu.
Terlalu banyak bencana yang terjadi,
baru-baru ini di ranah minang,
seorang saudaraku pun tak luput ditelan gempa 7.6 SR bersama ribuan korban lainnya.
Bagi kita yang jauh dari malapetaka,
masalah yang dihadapi pun berbeda.
Bukan lagi persoalan dengan alam,
namun kita ribut dengan masalah-masalah pribadi,
keluarga, pekerjaan, hobi, dll…
Aku bersyukur bahwa teman-teman di STBA Methodist,
senin ini akan melakukan donor darah massal,
dan tentu saja penggalangan dana.
Ruang gerak tidak hanya di simpang lampu merah,
namun sudah merambah ke mall-mall, sekolah-sekolah dan tempat umum lainnya.
Teman-teman di STT dan STIE Musi?
Ya, ada juga penggalangan dana.
Di surat kabar,
tak terdengar lagi ada partai-partai yang berpartisipasi mendirikan posko siaga bencana.
Semuanya hilang tak berbekas…
Atau, telingaku yang tak menangkap suara-suara itu?

Blogshop Palembang – Pesta Blogger 2009

Ayo, ikut kegiatan workshop blog sebagai rangkaian dari PB 09 Palembang, yang akan diadakan pada:
Tanggal : 8 oktober 2009
Pukul : 10.00 s/d 14.00 wib
Tempat : speedy learning center Telkom

Persyaratan:

  • masyarakat umum (boleh pelajar, mahasiswa, pegawai, ibu rumah tangga, dsb)
  • melek internet (minimal memiliki akun email)
  • tertarik dengan blogging
  • bukan blogger (tetapi baru ingin menjadi blogger)

 

Tempat terbatas, hanya untuk 40 orang saja.

Mau daftar? Atau mau ikutan ber-Pesta Blogger Palembang bersama-sama? Kunjungi blog mereka dan cari tahu cara mendaftarnya, ya! Coba klik di sini untuk informasi selanjutnya!

Sebuah Tanya – Soe Hok Gie

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi.
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,
lebih dekat.

(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.

Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969