KRL dan OjOl

Total dua kali saya menulis tema transportasi favorit saya di kota ini – Jakarta. Tulisan pertama di tahun 2015, lalu tulisan kedua di tahun 2016, lalu sekarang – hampir tiga tahun kemudian, saya akan update moda transportasi saya.

Pertama-tama saya sudah tidak punya motor lagi, dan saya merasa lebih happy, tidak begitu capek karena berkelahi dengan jalanan, tapi juga tidak praktis. Nah, tidak praktis ini yang menjadi masalah, dan saya belum menemukan solusinya. Saya kira dengan naik sepeda ke-mana-mana di kota ini, hidup bisa lebih praktis, nyatanya tidak, maka kesimpulan pertama saya adalah: sepeda bagi saya hanya cocok untuk olahraga saja.

Tadinya cita-cita saya mulia seperti kebanyakan pesepeda lainnya, yaitu naik sepeda ke stasiun dekat rumah, lalu naik KRL sampai stasiun tujuan, dan nyambung bersepeda di bawah pohon rindang di antara perumahan DPR sampai ke parkiran kampus. Nyatanya ini tidak praktis sama sekali. Alasannya beragam, mulai dari rempongnya buka-tutup sepeda lipat untuk masukkan dalam gerbong kereta, angkat-mengangkat sepedanya, baju yang dibasahi keringat, bangun yang kudu lebih pagi sampai risiko di-coel-coel orang iseng di jalanan. Atas dasar itu, sepeda dicoret.

Kini saya memilih KRL dan Ojek-online (OjOl): GrabBike[car] atau Gojek[car] sebagai prioritas transportasi saya di Jakarta.

Kombinasi OjOl dan KRL sebagai pilihan transportasi rumah-kampus selain tidak membuat kulit dan hati panas di jalanan, juga cukup efisien. Rata-rata waktu yang saya habiskan setiap harinya dengan abang OjOl Grab adalah 39 menit. Jika saya  hitung secara keseluruhan, maka waktu yang saya habiskan untuk pergi-pulang rumah-kampus dalam setahun adalah 22 hari dari 260 hari kerja efektif atau sebesar 9%. Angka itu adalah angka dari kebanyakan warga Jakarta berada di jalanan macet yang katanya juga mencapai 22 hari dalam setahun.

Ini adalah rekaman yang masuk akal buat saya, karena tiap ngampus saya memang menghabiskan waktu 1 jam pergi dan 1 jam pulang, dengan pembagian 20 menit di OjOl dan 30 menit di KRL setiap perjalanannya.

Waktu sangatlah berharga, makanya di KRL saya juga sudah punya rutinitas yang berpatokan pada stasiun perhentian. Aktivitas saya dibagi dua, yaitu membaca buku dan mendengar lagu gitar klasik dari Mangga Besar hingga Manggarai, lalu dengar lagu yang ada kata-katanya hingga sampai ruang dosen kampus, namun di stasiun Cawang saya sudah bersiap-siap memesan GrabBike atau Gojek. Kalau ini tentu saja tergantung harga yang lebih murah, dan…. Voila! GrabBike juaranya!  Tahun 2018 saya naik GrabBike[car] tiga kali lipat dibandingkan Gojek[car].

Gojek: 257 kali, 1.111,3 km
Grab: 880 kali, 3.493 km, selama 225 jam atau 9 hari berturut-turut.

TOTAL: 1.137 kali, sejauh 4.604 km

Artinya, selama Tahun 2018, Jarak yang saya tempuh kira-kira 3x pulang-pergi Jakarta-Surabaya via Tol Salatiga.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.