Kosong

Saya merasa kosong sejak awal tahun ini. Seperti kehilangan arah. Jika dilihat dari pekerjaan, keluarga, pertemanan, spiritualitas, kehidupan sehari-hari, semuanya bisa dikatakan baik-baik saja. Tidak ada masalah, tapi saya tetap merasa kosong. Tiga hari terakhir ini saya puasa dari media sosial. Saya matikan FB, IG, Line dan WA. Saya hanya tidur-tiduran saja. Kebetulan sedang haid dan merasa sakit. Jadi lengkap alasan saya untuk berleha-leha. Empat hari lagi saya akan pulang kampung ke Palembang. Tidak semangat juga.

Ehm… dalam kesendirian saya mencari tau apa yang saya inginkan dan menguraikan apa saja yang mau saya kerjakan. Seorang teman saya sore tadi hingga sepuluh hari ke depan akan mengikuti meditasi Vipassana di Bogor. Sempat terpikir juga meditasi seperti ini untuk saya ikuti di bulan-bulan mendatang.

Jadi, saya sudah menemukan kegelisahan saya. Kegelisahan terhadap pekerjaan di kampus, kegelisahan tidak melakukan yang maksimal di Honbu 1, mungkin juga kegelisahan tidak menjadi diri sendiri?

Apalagi pendaftaran WANADRI 2018 sudah dibuka – sebuah organisasi penempuh rimba yang sangat ingin saya ikuti (dulu). Masihkan sekarang? Saya merenung dan tercengang bahwa impian ini bisa berubah menjadi obsesi. Saya membaca persyaratannya dan di umur saya yang berkepala tiga seperti sekarang, semua persyaratannya terlihat sangat berat. Mungkinkah juga kampus tempat saya bekerja akan mengizinkan saya? Rasanya seumur hidup tetap tidak tenang jika saya tidak menuntaskan “ganjelan” satu ini.

Saya akan mendaftarkan diri mengikuti seleksi WANADRI yang ketat itu.

Supaya bisa lulus seleksi dan supaya saya bisa berlatih dengan tenang selama sisa bulan yang ada di tahun ini, maka selama libur Idul Fitri ini saya akan menuntaskan 1 penelitian dan mengurus kepangkatan Lektor.

Advertisements