Pulau Bira

img_7823

img_7842

Your friends should motivate and inspire you. Your circle should be well rounded and supportive. Keep it tight. Quality over quantity, always. -Idil Ahmed

Kawan, terima kasih! Tanpa kalian mungkin aku masih akan trauma dengan yang namanya laut. Tanpa kalian, mungkin aku juga tak akan berani berenang bebas dan santai, menikmati keindahan bawah laut. Ternyata itulah gunanya kita berkawan. Kawan membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin, menghalau ketakutan dan memunculkan keberanian.

Tanggal 14 Agustus 2016, aku, Anabel dan Linda tiba-tiba merencanakan sebuah perjalanan. Ya sebuah perjalanan bersama yang sudah sangat lama dinanti-nantikan. Piknik! Pergi ke sebuah pulau. Hari itu juga ketika sedang makan siang bersama di Kamakura daerah PIK, Linda menawarkan sebuah ide ke Pulau Bira berikut dengan contact person guide-nya. Temannya Linda sudah pernah menggunakan jasa guide Pak Man ini, dan kami semua langsung setuju. Linda dan Anabel menelepon Pak Man yang menawarkan 2 alternatif menuju ke sana, yaitu via Ancol dan Muara Angke. Kami memilih Muara Angke. Total biaya Rp. 500.000,- include all. Kami hanya tinggal bawa diri saja.

Waktu yang kami sepakati adalah weekend pertama di bulan September, tanggal 3-4, dan setelah rayu sana rayu sini, yang tidak mau berangkat adalah Marissa. Ketakutan Marissa ternyata benar! Muara Angke memang horor! Sandal jepitku copot karena menginjak tanah yang sangat benyek dan bau. Sekarang aku mengerti, kawan-kawanku juga mengerti, mengapa Ahok ingin merelokasi wilayah pesisir laut utara Jakarta ini. Ada kesedihan ketika melewati Muara Angke. Anabel rasanya pun sangat bersedih karena melihat masyarakat yang berdesak-desakan masuk ke dalam sebuah kapal besar berkapasitas ratusan orang. Ada yang tujuannya pergi piknik seperti kami, namun juga banyak yang pulang ke rumahnya – ke Pulau Pramuka ataupun Pulau Harapan. Continue reading “Pulau Bira”

Kedisiplinan

screen-shot-2016-10-12-at-6-56-10-pm

Kita benar-benar tenggelam dalam informasi. Tinggal bisa tidaknya saja kita jadikan informasi ini sebagai pengetahuan yang bermanfaat bagi kita. Dan untuk mencapainya, salah satu sikap mental yang harus kita punyai adalah KEDISIPLINAN. Seperti ini contohnya – ada banyak kursus online yang tersedia. Kursus online ini menjadi bermanfaat jika kita pelajari, dan itu yang dinamakan sebagai pengetahuan. Jika tidak, kursus online ini hanyalah sekadar informasi.

Btw, sebenarnya saya tidak ingin membicarakan bedanya informasi dan pengetahuan. Saya hanya ingin memberitau berkali-kali pada diri saya sendiri bahwa saya harus disiplin. Disiplin belajar terutama.

Disiplin ini memiliki hubungan dekat dengan motivasi. Orang yang termotivasi dengan sendirinya akan menjadi disiplin. Apa saya kurang termotivasi ya? Padahal akhir-akhir ini saya menjadi pelanggan setia dari video-video motivasi online di youtube dan facebook, misalnya dari Prince Ea. Atau jangan-jangan saya terlalu termotivasi sehingga kebanyakan berpikir,gelisah dan hanya tertuju pada output tanpa setia pada proses?

Hey, setialah pada proses, anak muda! Buat target-target harian saja, atau paling tidak mingguan, jadi otakmu tak mampet penuh. Dengan begitu, mungkin disiplin akan mudah kau jalankan! ^^

Sebuah Janji yang Tertunda

phd091912s

Inilah sebuah janjiku pada dosen pembimbing skripsi S1-ku, bahwa aku ingin menjadi dosen, dan nyatanya sekarang aku sudah; namun kau tau? Aku menjadi dosen yang menghabiskan energinya di kegiatan yang bukan menjadi fokus utamanya. Bukan kegiatan meneliti. Sedih jadinya -_- semacam terlibat di sekelompok dosen yang menamakan dirinya “struktural”. Ternyata aku tidak bisa senang berada di sana meski mendapatkan “tunjangan”.

Jika tidak ada Struktural, bagaimana mungkin sebuah kampus dapat dijalankan? Hanya saja aku yang semakin menyadari kebosanan berada di kegiatan manajemen kampus.

Secepatnya aku ingin kembali menjadi dosen peneliti. Ini semacam cita-cita agungku – tenggelam di dalam tumpukan paper hihihi ^^

Belajar dengan Menulis

Nampaknya aku sekarang memulai kembali ke fitrahku, sebagai dosen yang benar-benar berjuang mempersiapkan materi ajarnya dengan baik; dan di dalam prosesnya tersebut, ternyata aku masih sangat menyukai tulisan corat-coretku, baik untuk memahami materi ajar, maupun simulasi menulis di papan tulis nantinya.

Tak bisa kupungkiri bahwa power point belum tentu menggantikan semua media konvensional. Ada materi yang memang tidak dapat diajarkan hanya melalui ocehan lisan sambil klak dan klik, seperti kuliah ini: Strategi Algoritmik.

Jika kita menyenangi sesuatu, belajar sampai subuh juga tidak masalah bukan?

This slideshow requires JavaScript.