Naik Bentor dari Sayangan ke Airport

Melewati jalan layang km 5

Ini bakalan menjadi tulisan yang singkat saja. Hanya berisi Q n A seputar pengalaman saya tadi, naik becak dari rumah ke bandara Sultan Mahmud Badaruddin 2.

Map dari rumah ke airport

  • Berapa km jaraknya? Sekitar 15km.
  • Rute? Dari sayangan – taman siswa – percetakan rambang – sekip – rumah sakit umum – Methodist – terus aja sampe bandara.
  • Biaya? Sy kurang tau harga normal, tapi saya berikan saja 100ribu plus 10ribu buat parkir. Mamang ini canggih benar. Becaknya bisa muat masuk di tempat ambil karcis motor. Saya sampe senyum2 sendiri lihatnya.
  • Waktu tempuh? Sy ga sangka bisa 40menit saja. Hampir sama dengan taksi.
  • Pengalaman? Expert nih mamang. Dia sudah sannat berpengalaman. Jam terbangnya tinggi.
  • Melanggar lalu lintas kah? Entah… Rasanya belum ada peraturan tentang itu atau saya yang tidak tau.
  • Jenis becak yang digunakan apa ya? Becak motor yang memang pakai body motor di belakangnya. Jadi di Palembang ini ada 2 jenis becak motor. Satu hanya mesin yang pakai aki saja, satu lagi memang motor yang dirakit dengan becaknya.
  • Kekurangannya apa? Rambut acak2an, tapi untung rambut saya pendek. Mata bisa merah, tapi untung juga saya pakai kacamata.
  • Latar belakang naik ini? Tidak sengaja sebenarnya, karena taksi ga ada 1 pun yang bisa dan mobil rental yang ditelpon juga lags bawa penumpang lain. Mamang becak saya ini semangat banget mau antar saya ke bandara, padahal sudah saya bilang antar ke tempat yang banyak taksi saja hahahaha terima kasih, mamang becak 😀

Saya benar-benar menikmati perjalanan kali ini 🙂

Menikmati angin sepoi-sepoi

Mode transportasi saya di Jakarta

Tuisan kali ini adalah lanjutan tulisan saya yang sebelumnya tentang transportasi yang saya gunakan di Jakarta. Di tulisan itu saya memang belum memasukkan transportasi publik yang bisa diakses oleh Android saya, seperti GoJek dan GrabBike. Nah, sekarang saya ingin berbagi pengalaman saya tentang 2 aplikasi yang selalu saya gunakan tersebut…

Lokasi terjauh rutin yang biasa saya capai dari tempat kos, yaitu dari Kos ke Gedung Soka Gakkai Indonesia adalah 14,x km. Artinya biaya GoJek masih Rp. 15.000,-. Itu adalah harga normal. Maka saya pasti akan memilih GoJek.

Sebelumnya saya adalah pelanggan setia GrabBike, tapi saya pernah dibuat nyaris mati olehnya. Satu driver GrabBike di satu malam membawa saya menerobos lampu merah, naik ke jembatan layang kuningan-kokas yang harusnya haram dimasuki oleh motor, dan menyalip di antara 2 motor dengan kecepatan tinggi.

Jadi, pilihan pertama saya untuk ojek motor adalah GoJek; kedua barulah GrabBike.

Lalu tentang taksi. Pilihan pertama saya berganti dari Taksi Bluebird ke GrabCar. Mau gimana lagi coba? GrabCar terbukti lebih murah. Dari contoh lokasi tempuh saya tadi, jika naik Bluebird bisa sampai 70ribu-an, namun GrabCar biasanya berkisar di angka 48ribu saja. Namun jika hujan atau lalu lintas padat, harga GrabCar bisa sampai 2x lipat.

Saya biasanya memilih Taksi Bluebird jika tujuan saya lebih dari 1, karena GrabCar hanya bisa 1 tujuan saja. Saya tidak pernah berpikir selain Taksi Bluebird dan GrabCar karena alasan keamanan dan kenyamanan saja. Paling-paling pun saya memilih Taksi Ekspress.

Oh ya, saya agak jarang memakai motor saya sendiri untuk tujuan yang  jauh-jauh, kecuali untuk kunjungan anggota saja. Masalahnya kemarin saya sempat ke tukang urut. Naikin rahim sedikit. Tukang urut saya bilang jika naik motor menerabas lobang bisa timbulkan guncangan yang kuat. Nah, hal itulah yang bahaya bagi rahim kita. Bisa turun. Syukurlah kemarin hanya turun sedikit 😀

Begitu saja. Transportasi lain favorit saya masih tetap sama: KRL. Murah meriah, cepat dan merasa lebih aman.

—-

nb: Beberapa hari lalu, nama GrabBike sudah berubah menjadi GRAB saja, sob.

Bergerak Secepat 4G

Tahun ini usiaku 30 tahun; sekitar 2 bulan lagi lah tepatnya…. Ehm! Sedikit cemas, bercampur perasaan yang ga jelas di dalam diriku. Jika aku hidup hanya sampai 60 tahun, itu artinya aku sudah menjalani setengah dari hidupku. Aku ngapain saja ya selama 30 tahun ini? 😀

Terkadang nasib kuliah S2 4 tahun masih menghantui diriku. Disisi lain aku malah mensyukurinya. Hari-hari selama 4 tahun di Jogja yang tak mungkin akan kuulangi lagi. Pertemuan dan berguru dengan orang-orang yang sangat menginspirasiku. Lagipula aku selalu yakin kehidupanku di Jogja yang seperti itulah yang mendorongku dan membuatku bertahan hidup di Jakarta sejak pertengahan tahun 2014.

Bila kuumpamakan kehidupan di Jogja seperti handphone lemot dengan jaringan 3G nya, kehidupan awal-awal di Jakarta sebagai 3.5G, maka sekarang di tahun ini aku harus bergerak lebih cepat secepat jaringan 4G LTE. Lima kali lipat dibandingkan kecepatan 3G.

3g-vs-4g-internet-speed-comparison

5g-speedometer-logo

Aku tak bermaksud membuat ulasan perbedaan 3G dan 4G di sini, hanya mengambil perumpamaan sederhana saja. Salah satu cara mencapai kecepatan 4G ini adalah dengan tetap menulis. Tidak tau apa hubungannya, namun dengan menulis seperti saat ini aku merasa lepas. Bebanku berkurang. Mungkin ada baiknya jika tiap hari aku melepaskan beban dengan menulis, menulis, dan menulis. Harusnya jika beban harian dilepaskan setiap hari, esok pagi hari berikutnya kita bisa berlari dengan lebih kencang.

AndroMax M25

Tulisanku ini sama ga jelasnya dengan diriku yang sekarang. Ehm! Tahun ini harus menjadi tahun menulis buatku! Menulis jurnal apalagi! Ngomong-ngomong tentang 4G ini, aku berniat mengganti kartu simpatiku ke 4G juga, selain tadi baru kubeli MiFi Andromax M25 dari sepupuku yang membuka toko handphone di PTC Palembang. Ini modem yang harganya pas dikantongku. Bold kemahalan, lagian di Palembang Bold belum masuk.

Aku akan bekerja lebih giat lagi jika sudah ditunjang oleh bentukan fisik MiFi 4G LTE seperti ini. Ngomong-ngomong, di awal bulan ini aku baru menerima project pertama setelah sekian tahun ga ngapa-ngapain: sebuah website company profile. Ganbatte, Maya!

NGOBRAL di Universitas Trilogi

NGOBRAL atau Ngobrol Bareng Selular ini adalah programnya selular.id yang mendatangi kampus-kampus untuk berbagi ilmu seputar teknologi informasi. Topik kali ini yang diambil adalah Video Blogging.

Sebenarnya kegiatan ini sudah terjadi di bulan lalu. Selain video, beritanya bisa dibaca di link ini juga; atau cari tag NGOBRAL seperti ini.

Tentang kegiatan ini, saya salut dengan para panitia mahasiswa di Jurusan Telematika. Bravo untuk Anda semua 🙂

Maunya tadi saya ikut menulis apa såja yang disampaikan oleh para nara sumber, namun apa daya saya males hihihi intinya di era digital ini, semua media konvensional sudah beralih ke digital producing, salah satunya ya ini: video blogging.

Mulai buat videonya dari mana? Dari topik yang kita suka. Upload ke mana? Ke yang gratisan dulu, misalnya Youtube. Bisa hasilkan uang? Iya bisa. Caranya? Googling aja :p

Oh ya, acara kali ini saya ikut nimbrung sebagai moderator. Tugas pertama sebagai moderator di Trilogi 😀

MacBook Pro Retina 13″, beli di mana enaknya?

Mac

Aku tak bisa tidur malam ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 subuh di jam tetangga sebelah rumahku. Aku tau itu karena jamnya berdentang tiga kali. Terdengar dari sini begitu nyaring. Sedangkan di rumahku ini jam 4 baru 4 menit lagi.

Ketika tak bisa tidur itulah aku teringat bahwa aku minum secangkir kopi hitam panas dengan Bung Adi di pukul 9 malam, di kafe adiknya, di daerah Kenten kampungku Palembang.

Tepatnya kemarin di Jakarta sesorean, aku lelah. Aku ditemani Handy berburu Laptop baru: MacBook Pro Retina 13” tipe MF839. Dua toko yang kutuju terletak di Lt. 5 atau lantai teratas dari Mangga Dua Mall, yaitu Quantum Komputer dan Enter Komputer.

Di Quantum Komputer, harga yang diberikan adalah 16,9 juta; sedangkan di Enter Komputer, harganya hanya 16,55 juta. Tentu aku memilih Enter Komputer. Barang yang sama, harga lebih murah, apalagi dibandingkan dengan eStore, eMax, iBox, dsb. Ini hanya pendapat pribadiku berdasarkan observasi singkat beberapa bulan terakhir ini saja. Pelayan toko Enter Komputer mengatakan penyebabnya adalah untung yang mereka ambil hanya sedikit.

spec

Tentang Enter Komputer ini aku punya cerita janggal. Begini, dalam waktu yang hanya berselang 10 menit saja, 2 pelayan punya jawaban yang berbeda.

Aku punya 2 pertanyaan. Pertama: Apakah tipe MF839 tersedia, dan kedua, berapa lama harus kutunggu sampai barang yang kupesan sampai.

Pelayan 1 mengatakan: Tipe MF839 tidak tersedia, dan aku harus menunggu 30 menit s/d 1 jam. Lalu Pelayan 2 mengatakan: Tipe MF839 tersedia, dan aku hanya butuh menunggu 15-20 menit.

Pelayan 2 inilah yang terbukti benar. Dia adalah seorang perempuan yang terlihat ceria, berkacamata dan duduk di posisi tengah toko.

Overall, Enter Komputer terbaik deh soal harga saat ini. Di lain saat? Entahlah. Kualitas? Semoga saja, dan nampaknya ini adalah 2 hal yang berbeda. Harga dan kualitas terkadang tak berbanding lurus juga toh… Lagipula dimana-mana yang namanya produk apple sama saja selagi segel belum ternodai. Alah!

Kira-kira begini pengalaman pribadiku. Nah ini bonus foto alien mode-ku:

Photo on 2-5-16 at 12.47 AM