200DC-2 D11 | Siapa yang Ngebuang, Siapa yang Ngebersihin.

20150405_080801Hari ini, karya bakti Kodam Jaya kembali melibatkan unsur Perguruan Tinggi dan masyarakat sekitar untuk pembersihan Kali Ciliwung. Kegiatan yang semula diadakan hanya pada hari Selasa (Selasa Bersih), sekarang ditambahkan dengan hari Minggu juga. Waktu pelaksanaan dimulai dari pukul 7 pagi hingga 11 siang. Kali ini, Universitas Trilogi hanya mengirimkan 3 orang saja, yang terdiri dari 1 mahasiswa pencinta alam Harsha Pratala, dan 2 dosen pendamping dari LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat).

img1428221889660

Di lapangan tadi, seorang Babinsa berceloteh tentang sampah-sampah Kali Ciliwung yang mungkin sudah 20 tahun terakhir ini tidak dibersihkan sehingga sampah sudah menyatu dengan tanah. Pertanyaannya sederhana saja, “Mengapa bukan masyarakat sendiri yang membersihkan halaman rumahnya sendiri? …yang mana halaman rumahnya adalah Kali Ciliwung.” Pertanyaan ini berlanjut ke sebuah pernyataan klasik, “Siapa yang ngebuang, siapa yang ngebersihin“.

Memang kegiatan seperti ini secara sekilas terlihat seperti charity. Charity tenaga dan waktu. Jika saya disuruh memilih antara melakukan kegiatan charity dan pemberdayaan, saya akan memilih pemberdayaan, namun 2 pilihan tersebut tidaklah hitam-putih.

Gerakan ini diinisiasi oleh Kodam Jaya dan Pemda DKI dengan harapan untuk membuat masyarakat sekitar Kali Ciliwung sendiri memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan kali. Masyarakat seharusnya bangkit dengan kekuatannya sendiri. Nah, untuk sampai pada kesadaran tersebut, kadang kala masih dibutuhkan charity. Charity keteladanan dari orang-orang yang terlebih dulu sadar.

Kegiatan ini boleh jadi hanyalah kegiatan sepele, tapi saya tetap yakin bahwa justru kegiatan sepele inilah yang akan menuntun kita ke perubahan besar dalam masyarakat. Lebih baik kita menyalakan api daripada mengutuk kegelapan.

Btw, sepatu saya sepertinya sudah benar-benar tidak layak pakai lagi sejak hari ini. Selamat tinggal, sepatuku!

20150405_101432Di mata DIKTI, sebuah kegiatan pengabdian masyarakat, yang dalam hal ini dikemas dalam bentuk KKN adalah konsep pengabdian yang “working with community”. Bukan lagi “working for the community”; dan untuk menjaga citra dan mutu kegiatan KKN tersebut, sudah selayaknya kegiatan KKN tersebut lebih kontekstual dengan mengubah paradigma pembangunan (development) menjadi paradigma pemberdayaan (empowerment). Sumber: Simlitabmas.

So, mari sama-sama kita charity keteladanan untuk selanjutnya maju ke tahap pemberdayaan. Salam pengabdian!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s