200DC-2 D1 | Hidup Sehat di Jakarta

Menuju hari ke-200 dari hari ini, maka saya harus mulai hidup sehat (lagi). Beberapa target yang akan dicapai adalah yang berkaitan dengan pekerjaan, keluarga, kerohanian dan kehidupan pribadi.

Pertama. Tidur tepat waktu. Jam 12 malam harus tidur dan harus bangun pagi. Belajar dan berdaimoku di pagi hari lebih bagus dibandingkan memaksakan diri di malam hari ketika seharusnya tubuh beristirahat optimal.

Tidur Tepat Waktu

Kedua. Perbanyak makan sayur, buah dan ikan. Buah dengan kualitas baik bisa terpenuhi di kampus saya karena adanya Fakultas Bio-industri yang selalu produksi makanan-makanan sehat; salah satunya juga karena ada rekan kerja yang babenya (Pak Gun) pemilik Sabila Farm-kebun buah naga di kawasan Kaliurang-Yogyakarta; terkadang saya juga membeli buah pepaya hasil tanaman rekan-rekan di bio-industri.

buah naga dari Sabila Farm

Ketiga. Olahraga. Akhir-akhir ini ketika tulang belakang saya mulai bermasalah, saya dianjurkan oleh dokter di RS Siaga Raya, yaitu Dr. Muki Partono, Sp.OT. untuk rutin berenang. Saya bertekad bahwa tulang saya akan lurus kembali maksimal dalam waktu 2 tahun.

Olahraga

Keempat. Work hard – play harder. Kerja tak perlu keras-keras; imbangi dengan kerja cerdas; untuk itulah harus punya hobi yang juga bisa membuat kita lupa dengan waktu – seperti main gitar. Gitar kayu saya yang hampir berumur 20 tahun masih saya titipkan ke Tangguh di Jogja.

Belajar dan Bermain

Kelima. Menulis. Daya ingat manusia terbatas, lagian saya adalah tipe pembelajar yang bisa lebih paham kalau dibarengi dengan menulis. Jadi buat saya, menulis adalah kebutuhan pokok setiap hari.

Menulis

Nah, urutan angka ini tidak mencerminkan prioritas buat saya. Saya akan tuliskan beberapa lagi yang saya ingat, tapi tidak disertai gambar karena saya capek cari gambarnya di hp saya.

Keenam. Berdoa. Doa di pagi hari sangat penting; seperti memanaskan kendaraan sebelum digunakan. Kita persiapkan jiwa kita agar mampu mengatasi semua rintangan yang akan menerjang kita di satu hari itu, dan dapat melakukan hal-hal yang bermakna. Lalu doa di malam hari tak kalah pentingnya, karena moment tersebut kita gunakan untuk berterima kasih pada semesta atas semua yang telah terjadi dalam satu hari.

Ketujuh. Menelepon anggota keluarga. Sejak saya hidup sendiri, saya tidak pernah lupakan hal ini, tapi yang saya telepon dan yang menelepon saya secara rutin baru orangtua saja. Selanjutnya, saya harus menantang diri untuk menelepon anggota keluarga saya yang lain.

Kedelapan. Bersabar di jalan. Jarak kantor dan kos hanya 5 menit saja, namun beberapa hari dalam seminggu saya pasti akan berpergian dengan mengendarai motor saya. Jarak tempuh pulang-pergi minimal 20 km. Pernah dalam kondisi macet total di Jumat sore, dari kos saya di Pancoran menuju Tanah Abang, saya membutuhkan waktu 2 jam. Hal demikian harusnya membuat saya kapok. Saya memang kapok, tapi hanya sebentar karena saya memang suka mengendarai motor, jadi saya menikmati kemacetan tersebut dan terus bergerak maju. Saya selalu mengulangi hal yang sama tersebut. Kapok sebentar, tapi tetap maju๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Jika kita tidak bisa mengubah sesuatu, terima saja. Bahagia hanya sesederhana itu.

……….masih banyak lagi. Kira-kira begitulah.

Hari sudah hampir pukul 11 malam; dan tidak terdengar suara jangkrik seperti di Jogja dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s