200DC-2 D6 | Penutupan Dies Natalis ke-2 Universitas Trilogi

IMG_20150331_092402

Hari ini usai sudah rangkaian acara Dies Natalis ke-2 selama 3 bulan berturut-turut, dari Januari hingga akhir Maret 2015. Tiga bulan ini sangat menyenangkan karena penuh dengan kegiatan seru. Puluhan kegiatan yang sudah terlaksana tersebut dibagi menjadi 4 kategori, yaitu:

  1. Academic and scientific
  2. Art and culture
  3. Sport, Health, and Environment, dan
  4. Community Empowerement.

Continue reading

Advertisements

200DC-2 D5 | Berdoa Hingga Tuntas

Hari ini bimbingan harian Ikeda Sensei yang dibundel dalam “Mentari Hati” berbunyi:

Ada banyak elemen yang terlibat hingga sebuah doa bisa terkabul, namun yang penting adalah teruslah berdoa sampai doa Anda terkabul. Dengan terus berdoa, Anda akan memancarkan kejujuran yang gigih dari diri sendiri, dan mulai menggerakkan hidup ke arah yang positif dengan usaha yang sungguh-sungguh dan terus-menerus. Bahkan jika doa Anda tidak segera menghasilkan hasil yang konkrit sekalipun, pada suatu saat doa Anda yang terus-menerus akan terwujud dalam bentuk yang lebih hebat daripada yang pernah Anda harapkan.

Kutipan tersebut hari ini saya baca di group BBM Shibu Jogja, dan tadi malam ketika pertemuan daimoku GM Shibu Kebun Jeruk kembali saya bacakan. Seorang pemudi berbagi pengalamannya tentang hal ini, dan satu per satu generasi muda pasti pernah merasakan hal yang sama.

Saya juga memiliki satu doa tentang pekerjaan saya. Saya ingin setiap mahasiswa angkatan pertama di Universitas Trilogi bangga pada kampusnya, karena tadi siang saya baru saja mendengar cerita dari seorang mahasiswa.

Mahasiswa jurusan X ini sedang galau karena label angkatan pertama yang ada pada dirinya. Saya juga pernah berada di posisi yang sama dengannya. Sekarang saya bisa tersenyum bangga pada almamater saya yang sudah menjadi Universitas. Dulunya masih bernama Sekolah Tinggi Teknik Musi; sekarang menjadi Universitas Katolik Musi Charitas. Saya juga tersenyum bangga karena sekarang jurusan saya akan segera menerima mahasiswa angkatan ke-11.

Semuanya selalu dimulai dari SATU. Tidak boleh NOL, karena apapun yang dikalikan dengan NOL hasilnya akan tetap NOL. Harus ada yang pertama, baru yang kedua, ketiga, dst akan mengikuti. SATU adalah ibu dari sepuluh ribu.

TrilogiGedung Rektorat Universitas Trilogi

Dua-duanya – almamater dan kampus tempat saya bekerja adalah hasil dari doa saya. Doa-doa saya yang mempertemukan saya dengan kedua kampus tersebut. Maka, sekarang adalah saatnya menuntaskan doa saya, yaitu dengan berjuang total di tempat saya bekerja – memikirkan bagaimana kampus ini menjadi layak dibanggakan oleh para mahasiswa angkatan pertama. Bravo!

200DC-2 D4 | Lagu yang Kutulis

Ikeda Sensei QuotesQuotes Ikeda Sensei yang berbunyi “With love and patience, nothing is impossible” dalam sekuntum bunga kertas ini adalah kenang-kenangan dari Pertemuan Generasi Muda SGI Indonesia yang dilaksanakan pagi ini. Tema pertemuan tersebut adalah “Hopeless is Hope“. Beragam acara yang disajikan sangat menarik. Terima kasih banyak dan salut dari saya untuk semua panitia yang terlibat langsung, maupun yang berada di balik tirai πŸ˜€ Hayooo, tirai sama layar bedanya apa?

Pertemuan kali ini saya berpartisipasi dalam SGI Choir. Saya selalu suka menyanyi dan bermain alat musik, terutama harmonica dan gitar. Jangan ditanya hancurnya seperti apa πŸ˜€

….tapi saya suka. Kata si Rene Suhardono, “Passion is (not) what you’re good at. It is what you enjoy the most!”

Maka, bernyanyilah saya hari ini. Sebesar apapun usaha saya untuk menyanyi, sekecil itu pula kemajuan saya…. Namun, kembali lagi ke quotes dari Ikeda Sensei dan Abang Rene, bahwa yang mesti saya lakukan adalah memberikan yang terbaik dari apa yang saya bisa, dan tentu saja – dari apa yang paling saya sukai.

Nah inilah wajah-wajah partner-in-crime saya dalam SGI Choir:

Trilogi Choir……….agar isi postingan kali ini sesuai dengan judul yang tadi sudah saya tetapkan terlebih dulu, maka saya akan mulai dongengkan lagu yang baru-baru ini saya tulis. Lagu ini adalah lagu ke-2 saya untuk Guru Kehidupan saya – Ikeda Sensei. Lagu pertama ditulis ketika saya di Jogja. Kapan-kapan saya dongengkan juga…

Lagu kedua ini belum ada judul pasti; ditulis di akhir tahun 2014; di daerah perbatasan Malang-Blitar yang bernama Sumber Pucung. Ketika itu saya baru bangun dari tidur pagi yang sangat nyenyak di rumah orangtua Erik. Erik itu siapa – akan saya bahas kemudian di postingan berbeda. Foto wajahnya ada di gambar atas – berkaos putih dengan tangan yang disilangkan di depan dadanya sendiri. Continue reading

200DC-2 D3 | Transportasi Pilihan Saya

Di Komuter

Ada 3 jenis alat transportasi yang selalu kugunakan di Jakarta sesuai dengan sikon-nya.

Pertama, MOTOR. Motor selalu nyaman digunakan ketika badanku dalam kondisi prima, ketika cuaca mendung tapi tak hujan, serta ketika jalanan Jakarta sedang tidak musim macet.

Kedua, TAKSI. Taksi paling cocok digunakan ketika saya harus pergi jauh di pagi hari. Ketika baru bangun tidur dan sedang mengumpulkan nyawa – disitulah saya akan sangat nyaman menelepon si tukang taksi. Lalu saya gunakan taksi ketika hujan, atau ketika badan saya sedang lelah —- atau juga ketika ini: Saya harus buru-buru sampai di pagi hari sedangkan saya belum mempersiapkan diri untuk bicara di hari itu. Di taksi saya bisa menyusun konsep yang akan saya bicarakan πŸ˜€

Ketiga, barulah KOMUTER. Jika saya punya banyak waktu, saya akan memilih jenis transportasi ini. Komuter hampir selalu penuh sesak. Oleh karena itu, gerbong khusus perempuan akan sangat membantu; setidaknya saya tidak perlu mencium beraneka aroma lelaki di gerbong campuran. Saya juga tidak pernah lupa membawa buku ketika berada di komuter.

Dulu-dulunya saya juga membawa buku di komuter, tapi tidak pernah sanggup saya baca karena hampir selalu ketiduran di sana. Mungkin ketika itu saya masih beradaptasi dengan lingkungan Jakarta. Perputaran tenang Jogja yang tiba-tiba harus saya tinggalkan; beralih ke sebuah lingkungan yang serba buru-buru; sampai-sampai banyak orang yang lupa caranya mengantri. Hal ini cukup menguras energi, tapi saya ingin tetap bergerak dengan kecepatan saya sendiri — meningkatkan kecepatan secara bertahap πŸ˜€

Pilihan transportasi lainnya, yaitu city-bus, angkot, metro-mini, dll….. Saya tidak pernah suka dengan transportasi selain 3 jenis yang sudah saya sebutkan tadi. Bukan apa-apa, hanya karena saya malas berpindah-pindah dari 1 halte ke halte lainnya. Perjalanan ini adalah milih pribadi, maka pilihlah alat transportasi yang sesuai dengan kenyamanan diri sendiri πŸ™‚

200DC-2 D2 | Pertama Kali Lakukan Ini

Nah, inilah hal yang pertama kali kulakukan dalam hidup: membonceng teman yang belum pernah dibonceng motor sekalipun selama 30 tahun hidupnya. Dia seorang teman baikku yang baru πŸ™‚

Orangnya sangat menyenangkan, dan tambah riang gembiralah dia meski hanya dibonceng dalam jarak sekitar 100 meter. Hatiku pun sama. Riang gembira πŸ™‚

Hari-hari selanjutnya kudu melakukan hal-hal baru lagi. Misalnya: mengikat tali sepatu di tengah jalan raya Jakarta yang padat. Itu hal yang sangat mungkin loh πŸ˜€

200DC-2 D1 | Hidup Sehat di Jakarta

Menuju hari ke-200 dari hari ini, maka saya harus mulai hidup sehat (lagi). Beberapa target yang akan dicapai adalah yang berkaitan dengan pekerjaan, keluarga, kerohanian dan kehidupan pribadi.

Pertama. Tidur tepat waktu. Jam 12 malam harus tidur dan harus bangun pagi. Belajar dan berdaimoku di pagi hari lebih bagus dibandingkan memaksakan diri di malam hari ketika seharusnya tubuh beristirahat optimal.

Tidur Tepat Waktu

Kedua. Perbanyak makan sayur, buah dan ikan. Buah dengan kualitas baik bisa terpenuhi di kampus saya karena adanya Fakultas Bio-industri yang selalu produksi makanan-makanan sehat; salah satunya juga karena ada rekan kerja yang babenya (Pak Gun) pemilik Sabila Farm-kebun buah naga di kawasan Kaliurang-Yogyakarta; terkadang saya juga membeli buah pepaya hasil tanaman rekan-rekan di bio-industri.

buah naga dari Sabila Farm
Continue reading

Kepantasan Judul Blog

Aku merasa enggan untuk menulis kehidupan Jakartaku di blog bernama bla-bla-bla-JOGJA ini. Bagaimana aku bisa berdamai pada judul blog ini? Nama blog yang sudah tak pantas lagi; karena senyatanya nafas kuhirup di kota yang berbeda. Namanya kota JAKARTA. Delapan bulan aku sudah bernafas di sini.

Ini kota yang membuatku punya 1001 alasan untuk mengkerdilkan diriku sendiri. Semua hal terjadi begitu cepat. Aku tak tau apakah aku sudah tenggelam dalam waktu yang berputar di kota ini. Aku tau 1 hal – bahwa aku harus mulai menulis lagi. Apapun itu. Meng-capture moment yang begitu penting; tentang rasa, tentang benda-benda, tentang orang-orang, tentang potret diri dan tentang apa-apa yang melintasi waktu.

Pembuktian bahwa judul tak selalu sesuai dengan isi akan kumulai dari tulisan ini. Biarkan saja kutulis apapun atas nama JOGJA – kota yang masih tetap hidup meski ragaku di sini.

Hari ini – di tulisan keduaku nanti; aku akan memulai 200DC Tahap 2. Tahun 2013 tanggal 3 Mei aku pernah memulai 200 Days Campaign dengan beberapa target – yang sebagian tercapai tepat waktu dan sisanya di waktu-waktu sesudahnya dengan hasil yang melampaui ekspektasi. Tulisan 200DC tersebut hanya kutulis hingga hari ke-69. Maka, saat ini akan kumulai kembali. Aku ingin menuntaskan apa yang dulu pernah kumulai – bukan dengan meneruskannya, tapi dengan mengulangnya dari awal.

Mbah Google yang bijak pernah membawaku pada sebuah halaman yang tertulis “Repetition is often referred to asΒ the Mother of Learning or Skill.”.

Mari mulai menulis lagi.