Seratus Delapan Puluh Derajat

Hidup bagaikan roda. Uh, kiasan lama!
Sampai aku berada di bawah dan melihat ke atas, kiasan itu baru menjadi baru.

…dan dulu sekali ketika kata-kata motivasi hanya sekadar hitam di atas putih,
tak sempat menyentuh jiwa, kata-kata itu tak pernah berarti. Teori saja.

Aku seperti melemparkan diriku dengan sengaja ke bagian bawah roda dan mengangkat kepala tinggi-tinggi melihat kehidupan atas yang dulu pernah kucicipi. Bukan kehidupan, lebih tepatnya kondisi jiwa. Aku bisa saja keluar sekarang, tapi aku masih bermain dengan pikiranku, dan entah mengapa pikiranku pun enggan tinggalkan tubuhku. Aku terjebak atau aku menyengajai diriku berada di sana? Aku tak tau. Ini seperti mimpi dan tiba-tiba aku sudah berada di sana. Ini seperti ilusi, tapi juga terasa nyata. Ilusi yang nyata, mungkin.

Aku seperti bertualang bebas, memahami kehendak terdalamku. Aku diam dalam tubuh yang terus bergerak acak. Aku tak ingin memahami semua ini, karena aku tau itu belum waktunya. Mangga ranum konon jatuh sendiri dari pohonnya. Aku hanya meleburkan diriku di titik ini, melihat, mengamati, belajar sebanyak-banyaknya. Mungkin ketika di atas nanti, aku akan paham apa rasanya berada di bawah. Jadi, posisi di atas ini bukan soal status, martabat, jabatan, keuangan, tapi kondisi jiwa.

Konon, bagi Herder yang sepertinya telah mempengaruhi Goethe, karya sastra merupakan curahan hati pengarangnya, bukan hasil penalaran. Tentu ini bukan karya sastra, tapi ini petualangan batin yang patut dituliskan. Curahan hati tak butuh penalaran karena kita tidak sedang bicara logika. Ini semacam catatan pengingat, bahwa aku sedang menikmati kehidupan di roda bawah.

Pernah kau tonton film yang bercerita manusia menjadi kurcaci sebesar serangga yang judulnya lebih dari satu itu? Aku tiba-tiba mengerti makna film itu. Ketika aku tak berada di “dunia kekuasaanku”, tubuhku, otakku, jantungku bisa bekerja maksimal. Lebih waspada. Peka terhadap lingkungan sekitar. Kurasa itu yang membuatku bersyukur, bahwa aku sadar. Suatu saat potongan cerita ini bisa lebih berarti.

.

.

.

.

Pikiran manusia memang selalu berubah-ubah, dan sebenarnya di detik sekarang pun, pikiranku berubah. Kondisi jiwa meningkat. Dalam sekejap aku bisa berada di atas roda. Jadi apalah arti tulisanku di atas? Tak ada. Lupakan saja, karena sekali lagi, itu hanya rekam jejak sesaat🙂

Manusia memang tak bisa mencegah pikiran yang selalu berubah-ubah itu, tapi kita selalu bisa mengontrolnya dan sadar dengan apa yang kita pikirkan. Cara yang kupakai jika memiliki waktu luang seperti sekarang adalah dengan menuliskannya. Pikiran-pikiran di otakku kukeluarkan dalam bentuk tulisan, lalu kubaca kembali seperti itu. Setelah itu aku sadar bahwa aku tak boleh izinkan pikirkan A B C….X memenuhi otakku lagi. Dengan begitu, aku menjaga pikiranku tetap positif. Let’s strive to the max!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s