Perkuliahan di Semester 8 S2

Saya mungkin terlihat “gila” karena dengan sukarela telah mengambil 3 mata kuliah selain tesis 6 sks di semester akhir batas drop out kuliah saya. Ini adalah sebuah keputusan besar yang telah saya buat, tidak lain hanya karena saya ingin belajar. Saya percaya saya tidak ada waktu untuk belajar secara otodidak. Saya mengambil kuliah Supply Chain Management, Sistem Terdistribusi dan Penalaran Komputer. Saya masih tidak menyerah dengan diri saya, dan saya riang gembira menantikan 6 bulan ke depan, ketika saya pasti akan berada di salah satu kondisi ini: lulus S2 atau drop out 🙂

krs maya

Foto Lukanya Melos (15 Feb)

1601430_10202547605825849_2009339527_n

Luka Melos agak memburuk ketika abu kelud melanda Jogja. Bukan karena abunya, tapi kebetulan saja waktunya bertepatan sehingga sedikit banyak berpengaruh pada lambatnya penanganan luka Melos. Melos tidak bisa diperiksa oleh dokter. Itulah masalahnya. Ketika  saya dan mbak Isti membawanya ke Rsh. Soeparwi, rumah sakit yang biasanya buka 24 jam tersebut ikut-ikutan tutup. Drh. Lili juga tutup praktek. Akhirnya, drh. Lili memberikan resep campuran bioplacenton dan garamycin. Selamat tinggal rivanol dan betadine 😀

Dokter mengatakan semoga dengan salep tersebut luka Melos segera menutup, karena jika tidak, terpaksa dijahit segera setelah rumah sakit buka.

Di bawah ini adalah foto-foto luka Melos kemarin (15 Feb):

15 feb 5.21pm

15 feb 5.30pm

15 feb 8.15pm

15 feb 8.56pm  15 feb 11.21pm

15 feb 10.40pm

Collar yang saya pinjam dari mbak Muti tertinggal di taksi. Pet shop juga masih tutup hingga hari ini. Maka, kerja ekstra berupa pengawasan 24 jam terhadap Melos terpaksa saya lakukan, karena jika tidak, Melos akan menggaruk lukanya. Hal itu dapat memperparah dan menjadikan pengobatan selama ini sia-sia. Kemarin malam saya juga sudah mencoba membuat collar sendiri atas saran dari Urara san. Saya sudah coba membuatnya beberapa kali, mulai dari bekas wadah pop-mie, ice-cream, sampai mengikuti saran dari situs ini, namun kurangnya bahan baku dan kesalahan perhitungan membuat saya gagal. Next time saya akan coba lagi!

IMG_0081

Dampak Abu Kelud Terhadap Si Sakit Melos

Tanggal 10 pagi, kudapatkan Melos bengkak di leher kanan tepat bawah mulutnya. Kupikir itu kelenjar tiroid, maka ketika tanggal 11 subuh ia ribut minta keluar kamar, kubiarkan saja. Pagi hari, bulu di sekitar kelenjar perlahan rontok dan siang, kelenjar itu mulai memperlihatkan perubahan warna seperti luka lebam dengan mengeluarkan sedikit darah. Saat itu langsung kupenjarakan Melos di dalam kamar dan ketika malam tiba, kuperiksakan ia ke dokter Lili. Kami pikir, lukanya mungkin disebabkan oleh jamur atau cakaran kucing lain. Penyebabnya tak begitu jelas sampai kemarin malam (12 Feb), kelenjar itu mulai menimbulkan bau dan akhirnya pecah. Jadi kupikir itu  mungkin disebabkan oleh cakaran kucing lain, atau malah bisul. Entahlah…

12022014550

IMG-20140213-WA0001

IMG-20140213-WA0002

13022014565

Tak usah dikatakan lagi betapa baunya nanah yang keluar dari kelenjar itu. Nanah yang kental bercampur darah keluar sebanyak volume kelenjar. Saat-saat seperti itu adalah saat yang berat bagiku. Untungnya, aku selalu dibantu oleh mbak Isti dan mbak Muti, baik dukungan moral maupun pinjaman kandang, keranjang dan colar. Luka Melos kuberikan rivanol yang sebenarnya sudah kadaluarsa tanggal 4 Jan kemarin dan betadine. Rivanol berlaku 3 tahun dan lagi-lagi mengingatkanku bahwa sudah 3 tahun lebih aku berada di Jogja 😀

Luka itu sampai tadi pagi belum juga mengering. Terlihat bonyok. Dokter Lili yang sangat baik mau membalas smsku  dan memberikan arahan bagaimana merawat Melos karena Melos tak mungkin dibawa ke dokter. Taksi banyak yang tidak beroperasi karena hujan abu mengguyur Jogja. Dengan tetap berada di dalam kamar, hari ini Melos banyak menghabiskan waktunya dengan tidur. Kurasa mungkin ini ada hubungannya juga dengan daya tahan tubuh dan kondisi fisik Melos yang masih lemah setelah disteril tanggal 6 kemarin. Cepatlah sembuh, Melos sayang 🙂

Perjalanan Ekspres ke Gn. Kelud

1157736_171454366373866_567701627_n1

Ket di awal: Semua foto di dalam tulisan ini adalah miliknya mbak Friska.

Erupsi Kelud yang katanya Mbah Rono sedahsyat Merapi mengingatkan saya dengan perjalanan ke sana bersama teman-teman YABI tahun lalu. Saya lupa tanggalnya, yang jelas bulan Agustus seusai Pendidikan Navigasi YABI ke-XIV.

Hari Pertama, saya dan mbak Friska dari Tulung Agung, setelah diantar Mas Tok mencari bus tujuan Kediri, naik bus tujuan Kediri. Ya iyalah, mosok yo naik yang tujuan Malang.

Setelah hampir 2 jam perjalanan, sampai juga kami di halte bus depan kampusnya mbak Dyah. IAIN ato Muhammadiyah ya, mbak? Saya lupa hehehe Perjalanan ini antara jadi dan tidak jadi karena ragu-ragu, apalagi mbak Dyah harus bekerja keesokan harinya, tapi akhirnya demi persahabatan, mbak Dyah mengantar kami berdua bersama mas Penk. Jadilah kami berempat memulai perjalanan ke Gn. Kelud 😀

Kami makan malam terlebih dahulu berupa nasi tumpang, nasi khas kota Kediri, lalu langsung tantjap gas ke Kediri dengan 2 motor. Saya dibonceng oleh mbak Dyah, dan mbak Friska bersama mas Penk. Perjalanan lebih dari 1 jam ditemani oleh udara malam yang dingin. Kami sempat mampir berfoto di Arc de Triomphe-nya Kediri 😀

1185352_171449106374392_494719150_n

Sesampainya di gerbang Kelud yang sudah ditutup, kami parkir motor di semak-semak, lalu masuk melewati sisi kanan pagar yang terbuka, yang sebenarnya bukan jalur masuk resmi, lalu kami berjalan kaki menuju aula yang jaraknya lumayan jauh. Sekitar pukul 10 atau 11 malam, kami tiba dan bermalam di aula tersebut bersama bapak penjaga Gn. Kelud.

Hari Kedua, kami bangun sekitar pukul 6 pagi dan mulai menjelajahi Kelud. Itu jam yang cukup siang ya sebenarnya 😀

1185352_171449113041058_183078789_n

1157736_171454369707199_1546741075_n

1176234_171722606347042_61684529_n

1272993_171723659680270_762412505_o

1176234_171722613013708_1881697113_nHari ini tidak menyangka anak Gn. Kelud di belakang saya itu erupsi dan abunya tersebar hingga lebih dari 500km (kota Bandung). Selanjutnya, kami menuruni tangga yang tak ada habis-habisnya menuju kolam pemandian belerang, dan dengan spontan, saya dan mbak Dyah menceburkan diri di air belerang yang hangat. Mas Penk yang baik hati memasak selagi kita bermain-main di air hahaha ya ampun… maafkanlah ya, mas Penk 😀

1272993_171723669680269_654160463_o

1239138_171724743013495_639253090_o

1157736_171454373040532_1505452692_n

1157736_171454379707198_43327243_n

Rasanya sangat menyegarkan usai mandi, namun perjuangan naik untuk kembali ke aula cukup melelahkan karena melewati jalan yang berbatu dan berpasir, tidak melewati tangga lagi. Saat itu hari sudah mulai siang, mungkin sekitar pukul 8 pagi. Kami berganti pakaian kering, lalu pulang. Biaya masuk Gn. Kelud secara resmi baru dibayarkan pada petugasnya saat itu, dan saya ditraktir oleh mereka 😀

Di area Gn. Kelud ada jalan yang memiliki medan magnet bumi sehingga motor tanpa perlu hidup mesin dapat berjalan sendiri. Kami mencobanya hahaha dan sebelum pulang, saya dan mbak Friska mengambil foto di depan Museum Kelud. Kapan-kapan kami baru mampir  ke museumnya, mungkin sudah ada tambahan informasi mengenai erupsi yang sedang terjadi saat ini.

1174705_171724753013494_812565835_n

Ya begitulah kira-kira perjalanan ke Gn. Kelud yang serba ekspres dan tak terduga ini. Lepas itu saya langsung pulang ke Jogja, perjalanan pulang yang tidak terlalu menyenangkan dan saya mendapat 1 pelajaran berharga: lain waktu, saya akan memilih setia dengan bus Eka untuk transportasi darat Jatim-Jateng, tidak dengan bus lainnya. Terima kasih banyak teman-teman, dan sampai jumpa lagi 😀

Oh ya teman, jangan lupa yang tadi. Fotonya bukan punya saya, tapi hasil jepretan dari kameranya mbak Friska 😀 Thanks, mbak Friska 😀

Abu Kelud Tiba di Jogja

Pagi mendekati pukul 7, saya membaca WhatsApp dari Mulya yang mengabarkan Kelud meletus dan Surabaya hujan abu. Tak lama kemudian, mbak Isti dan teman-teman kos terdengar heboh. Saya melihat jendela dan cukup terkejut dengan pemandangannya yang serba abu-abu. Ternyata Jogja juga hujan abu, dan sebenarnya sudah sejak jam 3 subuh tadi. Sangat tebal. Saya sempat bingung apa yang harus dilakukan, dan akhirnya saya langsung browsing mencari informasi tersebut. Sekitar pukul 8, saya mengambil kamera dan mengambil gambar-gambar di bawah ini:

IMG_0041

IMG_0047

IMG_0059

IMG_0067

IMG_0069  IMG_0053

IMG_0065

IMG_0061

Abu dalam jumlah besar ini membuat kota Jogja lumpuh. Bandara ditutup, kantor, kampus dan sekolah diliburkan. Sultan mengatakan Jogja tanggap darurat dalam 7 hari. Saya, mbak Isti dan mbak Muti pun berinisiatif untuk membeli persediaan makanan, minimal untuk 3-4 hari ke depan. Sepanjang jalan menuju Amplas, terlihat abu sangat pekat yang menggangu para pengendara. Jarak pandang hanya 2 meter dan kudu hidupkan lampu utama. Inilah foto-foto sepanjang perjalanan yang diambil oleh mbak Isti:

IMG-20140214-WA0009

IMG-20140214-WA0007

IMG-20140214-WA0006

IMG-20140214-WA0005

IMG-20140214-WA0004

IMG-20140214-WA0002

IMG-20140214-WA0003

 

IMG-20140214-WA0008

Foto di atas diambil sekitar pukul 11 siang. Sepulang dari Amplas, saya langsung berberesan – mengepel kamar, menutupi jendela agar abu tidak masuk lagi dan menyuci motor. Ehm, saya tidak terbayang jika Jogja sedemikan parahnya seperti ini, apalagi kawasan Kelud. Be strong, warga Kelud!

Terakhir, saya lampirkan foto sebaran abu yang saya ambil di FB (share dari Vey):

1016570_10203022013848331_2032756356_n

Abu sudah tiba di Bandung. Next? Let’s see…

Resources untuk JADE

Dalam mempelajari agen, saya mulai dari JADE – middleware yang memfasilitasi pengembangan sistem multiagen dengan bahasanya yang murni java 😀

…ini seperti bekal utama sebelum mengenal konsep BDI, karena saya pernah mempelajari JADEX, dan berakhir dalam kebingungan hehehehehe

Mulai dari mana?

Mulailah dari kunjungan ke website resminya. Download JADE versi terakhir 4.3.1 (6 Des 2013), lalu download juga buku pegangan utamanya: Developing Multi-agent Systems with JADE. Selanjutnya silahkan obrak-abrik website resmi JADE. Anda akan temukan banyak sekali paper, slides presentasi, ataupun tutorial online seperti ini: http://jade.tilab.com/doc/index.html. Pilih yang dibutuhkan saja.

Jika bingung karena terlalu banyak, monggo dimulai dari sini: Tutorial 1: JADE Architecture Overview. Ikuti langkah-langkahnya, niscaya Anda akan mengerti sedikit demi sedikit 😀

Selamat berjuang!

Saya sendiri sedang iseng terjemahin tutorial yang sudah ada ke dalam bahasa Indonesia 😀

tutorial

WANADRI

Dua tahun belakangan sejak mengetahui informasi PDW (Pendidikan Dasar Wanadri) 2012, pikiran tentang WANADRI ini tak bisa lepas dari otakku. Sangat mengesalkan memang. Tahun 2012 lalu aku ingin ikut, tapi aku benar-benar tak tau harus mulai dari mana. Aku tak tau apa-apa soal WANADRI, dan sekarang, berkat kang Non** yang rajin posting di grup facebook WANADRI sejak tahun lalu, juga foto-fotonya kang Ke**, ditambah lagi aku pernah mengikuti pendidikan YABI yang ternyata isinya banyak orang WANADRI juga, pikiranku semakin menggila. Menggila karena aku mendapatkan apa yang kucari. Eureka!

200px-WanadriWANADRI

Apakah ini yang dinamakan passion? Apakah passionku terhadap gunung dan pendidikan alam bebas begitu besar? Apakah aku punya harapan besar terhadap WANADRI? Aku tak tau, aku hanya tau bahwa pikiran tentang WANADRI sedikit banyak telah membuatku kurang fokus terhadap tesis. Aku hanya berpikir WANADRI sejalan dengan prinsip dan gaya hidupku. WANADRI sesuai dengan semangat Gakkai. Itu hanya sejauh yang kuketahui. Bisa saja aku salah. WANADRI bukan kambing hitamku. Aku hanya mengekspresikan ketertarikanku yang sangat besar terhadap WANADRI, dan aku tak bisa menghilangkan rasa itu hingga sekarang.
WANADRI…OH…WANADRI!!!