Si Kunyik dan Cacing-cacing

Hujan ini, hujan yang paling kubenci. Lebat, berangin, petir terdengar. Melos terpaksa kubiarkan di luar kamar kos. Terakhir kulihat ia berteduh di bawah mobil Jazz seorang teman. Tidak mungkin ia masuk dan sekamar dengan si Kunyik – kucing sekarat yang kemarin pagi ujug-ujug datang menghampiri kos kami. Ia mengidap chlamydia dan cacingan parah. Dokter bilang, ada anemia juga. Komplikasi. Setelah disuntik dan diinfus, aku sedikit tenang. Dokter bilang semoga ia bisa survive. Si Kunyik sangat bau. Sangat. Bulu-bulunya seolah menempel di kulitnya. Setelah kuperhatikan, ternyata ekornya kaku karena kotoran yang mengeras, menempel bersama bulu. Bola matanya tak terlihat, berselaput lendir-lendir hijau saja. Kubersihkan ia pakai tisiu basah, tetap saja baunya tak pergi. Tak mungkin pula ia kumandikan, karena saat itu hujan dan ia kecil. Umurnya sekitar 2 bulan. Kurus kerempeng. Tak bertenaga.

11122013172

11122013174

IMG-20131211-WA0001Tentang cacing. Semalam memang kotorannya sudah mengandung cacing, tapi sedari pagi ini, boleh kukatakan aku menjadi profesional, sudah pandai menarik cacing-cacing putih mati dari duburnya Kunyik. Cacing-cacing itu memang harus dikeluarkan supaya aliran kotorannya tak tersumbat. Menjijikkan, tapi seru juga, apalagi jika mendapatkan cacing yang panjang, seperti bermain karet. Bohong. Tak seru, aku mau muntah. Selepas siang usai minum obat cacing, ia mencret-mencret lebih parah, dan tentunya lebih banyak cacing yang keluar. Sumpah! Tak mungkin ada teman kosku yang berani masuk ke kamarku kecuali mereka-mereka yang pencinta kucing sejati seperti mbak Isti dan mbak Muti – kelompok perkucingan di kos.

Sudah kukabarkan ke teman-teman jikalau ada yang sudi mengadopsi Kunyik, pun kukirim email ke AFJ (Animal Friend Jogja) bahwa sungguh mustahil kupelihara 2 kucing sekaligus di kamar kosku yang sudah sempit ini.

Petir kembali menggelegar. Mau nangis saja rasanya jika kuingat Melos yang mungkin sedang ketakutan di luar sana. Memasuki bulan kedelapan ia tinggal bersamaku, ia selalu kumanja. Mungkin kini saatnya ia belajar hidup sendiri, menjadi kucing jantan yang tangguh. Ia marah, tapi tak apa-apa. Marah kadang baik untuk pertumbuhan karakter.

…dan aku pun mengerti betul bahwa hidup memang pilihan.

2 thoughts on “Si Kunyik dan Cacing-cacing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s