Tak Sedepresi yang Kubayangkan

Di sisi lain, aku tak sedepresi yang kubayangkan. Aku hanya sedang bertarung terhadap kelemahan diriku sendiri, membuat prioritas-prioritas, mengabaikan atau mengeksekusinya. Tesis tentu tak dapat kukejar hingga akhir bulan ini. 2013 sepertinya banyak kuhabiskan dengan melamun. Aku menghasilkan apa? Tidak ada. Null. Bahkan mendaki 1 gunung tinggi pun tidak, hanya hiking ringan di “bukit belakang rumah” Nglanggeran saja beberapa kali. Oh, apakah aku menganggap mendaki gunung sebuah pencapaian? Sesatlah sudah aku ini! Memalukan.

Tesis. Tahun ini aku bisa rasakan rasa yang temanku rasakan, kekesalan yang ia hadapi. Handphone-handphone hancur sudah dibantingnya karena kesal terhadap diri sendiri. Oh, andai aku bisa melakukannya. Memberontak. Mengamuk. Meneriaki. Menangis tersedu-sedu? Tenang, itu sudah pernah kulakukan. Aku kangen pada kesibukan kerja. Kangen itu mencekam. Bisa saja sekarang aku melamar kerja, tapi apa itu yang benar-benar kuinginkan?

Pernah kah kusampaikan teman, jika usia 27 tahun adalah usia rentan bunuh diri? Oh tidak. Aku tak akan melakukannya, karena aku tak sedepresi yang kubayangkan.

Tahun ini sering kukatakan bahwa jika tanpa tesis, hidupku sempurna 😀

Aku menghabiskan banyak waktu untuk belajar hal-hal baru, mengajar dan sharing sesuatu dengan teman-teman, menghadiri seminar-seminar ilmiah, bersaing mendapatkan kursi sebagai peserta acara GDG Yogyakarta, mengikuti acara FemaleDev #5 pertama kali, meningkatkan seeking spirit hubungan guru dan murid dalam Soka Gakkai, mendalami Gosho melalui pertemuan-pertemuan Ikeda Kayokai, bertemu si Melos dan si Kunyik – 2 kucing yang menghibur, membaca buku-buku bagus, menjalin persahabatan dengan teman-teman baru, mencoba bermain candy crush saga di facebook, dsb. Iya benar, bermain games online. Sudah sangat-sangat lama aku tak pernah bermain. Satu bulan terakhir ini kucoba bermain kembali, dan aku menyukainya. Ternyata aku bisa mengontrol diriku dalam bermain games, tak tergila-gila.

Benar bukan? Sudah kuduga bahwa aku tak sedepresi seperti yang kubayangkan 🙂

Aku sedang mengejar ujian pra-tesis bulan Februari 2014. Semoga aku tak banyak melamun menjelang hari penantian itu, dan semoga aku bisa mempertahankan semangatku, seperti yang dikatakan oleh Agustinus Wibowo bahwa, “Semangat yang meredup itu memang lebih membunuh daripada fisik yang remuk redam.”

Advertisements

Membuang atau Merawat si Kunyik?

16122013211

18122013263

Oh, sungguh terkadang aku benci kepada aku.

Ini adalah hari ke-8 si Kunyik bersamaku (sejak 11/12) dan ia belum juga sembuh. Selama itu pula aku tidak tidur nyenyak. Kemarin ia coba tak kukandangi, alhasil ia membuang kotoran beberapa kali di atas tempat tidur. Kurasa, ia sering tak sadar ketika melakukannya. Buktinya ia tetap saja tidur bergelimangan “itu”. Sore-sorenya kemarin tlah kumandikan ia, bersama dengan cairan penghilang kutu.

Pagi ini aku coba untuk membuangnya melepaskannya ke luar kamar. Ia terus minta masuk. Itu tak masalah. Kucing normal memang begitu, namun yang membuatku tak tega, justru kotorannya berceceran di lingkungan kos. Ya, kotoran yang mengandung cacing hidup. Entah kenapa cacing itu tak mati saja di dalam perutnya baru keluar. Ia ternyata memang belum sembuh benar. Sore ini rencana akan kubawa kembali ia ke dokter, dan malam ini akan kukandangi.

18122013238

Aku sungguh tak tau mengapa aku melakukan ini semua, pekerjaan yang “orang” bilang pekerjaan kurang kerjaan. Apakah pekerjaan ini bernilai, berhargakah untukku? Pengangguran macam aku ini memang terlalu banyak prokrastinasinya.

Sungguh aku benci kepada aku ketika tidak dapat membiarkan sesuatu yang menggangu hati nuraniku. Cepatlah kau sehat, Kunyik! Bagaimana pun juga, kau tentu tahu bahwa aku sayang padamu.

Si Kunyik dan Cacing-cacing

Hujan ini, hujan yang paling kubenci. Lebat, berangin, petir terdengar. Melos terpaksa kubiarkan di luar kamar kos. Terakhir kulihat ia berteduh di bawah mobil Jazz seorang teman. Tidak mungkin ia masuk dan sekamar dengan si Kunyik – kucing sekarat yang kemarin pagi ujug-ujug datang menghampiri kos kami. Ia mengidap chlamydia dan cacingan parah. Dokter bilang, ada anemia juga. Komplikasi. Setelah disuntik dan diinfus, aku sedikit tenang. Dokter bilang semoga ia bisa survive. Si Kunyik sangat bau. Sangat. Bulu-bulunya seolah menempel di kulitnya. Setelah kuperhatikan, ternyata ekornya kaku karena kotoran yang mengeras, menempel bersama bulu. Bola matanya tak terlihat, berselaput lendir-lendir hijau saja. Kubersihkan ia pakai tisiu basah, tetap saja baunya tak pergi. Tak mungkin pula ia kumandikan, karena saat itu hujan dan ia kecil. Umurnya sekitar 2 bulan. Kurus kerempeng. Tak bertenaga.

11122013172

11122013174

IMG-20131211-WA0001Tentang cacing. Semalam memang kotorannya sudah mengandung cacing, tapi sedari pagi ini, boleh kukatakan aku menjadi profesional, sudah pandai menarik cacing-cacing putih mati dari duburnya Kunyik. Cacing-cacing itu memang harus dikeluarkan supaya aliran kotorannya tak tersumbat. Menjijikkan, tapi seru juga, apalagi jika mendapatkan cacing yang panjang, seperti bermain karet. Bohong. Tak seru, aku mau muntah. Selepas siang usai minum obat cacing, ia mencret-mencret lebih parah, dan tentunya lebih banyak cacing yang keluar. Sumpah! Tak mungkin ada teman kosku yang berani masuk ke kamarku kecuali mereka-mereka yang pencinta kucing sejati seperti mbak Isti dan mbak Muti – kelompok perkucingan di kos.

Sudah kukabarkan ke teman-teman jikalau ada yang sudi mengadopsi Kunyik, pun kukirim email ke AFJ (Animal Friend Jogja) bahwa sungguh mustahil kupelihara 2 kucing sekaligus di kamar kosku yang sudah sempit ini.

Petir kembali menggelegar. Mau nangis saja rasanya jika kuingat Melos yang mungkin sedang ketakutan di luar sana. Memasuki bulan kedelapan ia tinggal bersamaku, ia selalu kumanja. Mungkin kini saatnya ia belajar hidup sendiri, menjadi kucing jantan yang tangguh. Ia marah, tapi tak apa-apa. Marah kadang baik untuk pertumbuhan karakter.

…dan aku pun mengerti betul bahwa hidup memang pilihan.