200DC | Hari ke-42 s/d 62

Sudah dua puluh hari saya tidak menulis. Ehm, begitu cepatnya waktu berlalu! Banyaknya hal yang sudah dilakukan, semoga menjadi bernilai dan ada hikmahnya di masa mendatang🙂

Tesis

Apa kabar tesis?

Melos

Tidak terasa beberapa hari lagi, tepat dua bulan saya tinggal bersama Melos. Minggu lalu, dia 2x muntah di atas tempat tidur saya. Satu kalinya dia pup dan pipis. Saya benar-benar butuh kesabaran. Baru kali itu saja dia bertingkah tidak sopan. Saya sangat menyayangi Melos, tetapi saya juga harus realistis bahwa memelihara seekor kucing di kamar kos adalah hal yang sulit dan tidak semua orang bisa melakukannya. Saya merasa tidak sanggup lagi. Jodoh kita hanya sampai di sini sajakah, Melos?

Nalurinya sebagai kucing yang suka berkeliaran, kotor-kotoran dan makan sembarangan sisa anak-anak kos lalu “mencret dan muntah” tidak bisa saya cegah. Lagipula, saya ini siapa yang harus memaksakan kehendak saya kepadanya? Dia adalah makhluk bebas dan sudah saatnya orang lain yang lebih baik mengadopsinya. Orang tersebut adalah teman kampus saya dan dia memiliki anak-anak kecil. Wah, Melos pasti banyak teman bermain nantinya🙂

Terkadang, mencintai memang harus berani melepaskan…

Saya sangat-sangat sayang Melos, tapi ya sudahlah… Biar Melos tetap menjadi kenangan indah saya saja. *bercucuran air mata*

MelosMelos dan tanaman kesayangannya

Tak berapa lama saya menuliskan ini, teman saya mengabarkan bahwa ia akan adopsi Melos hanya ketika saya sudah tidak di Jogja lagi. Ehm. Baiklah. Jodoh kita masih berlanjut ya, Melos.

Ini titik klimaks saya ketika saya sedang sakit, capek, banyak kerjaan dan banyak yang dipikirkan, Melos jadi bandel. Orang kebanyakan akan memelihara binatang sebagai teman di masa pensiun mereka, lah saya yang masih usia produktif malah sibuk bermain-main dan merawat seekor kucing. Oh, berhargakah semua ini?

Stop mengeluh, Maya. Sesuatu yang dinamakan cinta hanya mengenal kata memberi saja. Tak perlulah kau berharap banyak!

Satu hal yang membuat saya benar-benar drop adalah ketika kemarin saya mendengar saudara Melos yang dipelihara oleh x meninggal. Dia meninggal begitu saja. X tidak mau berusaha mengobatinya dengan membawa dia ke dokter. Oh! X juga menyarankan saya untuk membawa Melos ke Pasar Ngasem biar orang pasar bisa menjualnya. Semakin lama saya semakin heran dengan hidup ini, jangan-jangan saya memang orang yang paling “nyeleneh” sendiri -_-

Sesungguhnya ini bukan juga soal cinta-mencinta, tapi soal tanggung jawab. Saya hanya berusaha memenuhi tanggung jawab saya sebagai seorang manusia yang tidak memandang rendah terhadap binatang. Saya hanya melakukan apa yang saya bisa saja…

Oh Melos,… Mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya pada kita…

Saya harus mendoakan Melos agar kami bisa hidup dengan harmonis dan seirama!

A Youthful Diary – Daisaku Ikeda

Tadi saya mengatakan bahwa saya sedang sangat capek dan masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Salah satu cara meningkatkan kembali motivasi saya adalah dengan membaca bimbingan Ikeda Sensei. Ketika membaca, mengetahui hati sensei dan melihat bagaimana sensei selalu mendorong dirinya hingga ke batas maksimal, saya akan malu sendiri dan menyadari bahwa apa yang saya lakukan bukanlah apa-apa. Jadi, saya tidak boleh sama sekali mengeluh, apalagi menyerah.

Bulan Juli tahun 1954, beberapa kutipan yang mendorong semangat saya, antara lain:

  • Talked quietly with my wife until late at night. Hope she will never become old. Want her to be eternally youthful. (1)
  • Must not be lazy. Whoever fails to study deeply will regret it for a lifetime. (2)
  • Each year, must use this training course as a stepping-stone to train myself to my fullest ability. (3)
  • Must visit this ‘Eagle Peak’ once each month. (4)
  • The Gakkai’s spirit and ideals should be put into practice more deeply, more powerfully, more fairly and more rapidly. (5)
  • If we forget the debt of gratitude we owe our mentor, from then on we will be lower than animals. Those who devote their entire lives to the mentor – these are true disciples. (7)
  • Returning home, thought of how sorry I will feel for the members who come to my lectures if I do not grow more. (8)
  • The staff members, all excellent individuals, will become the center of the Gakkai and of Japanese society, ten or twenty years from now. (11)
  • To campaign, they must have bodies like iron. (11)
  • I wonder what dire circumstances my life would be in by now if I did not have faith or a mentor in life. (13)
  • Must always arrange things in my mind, then put them into practice. (14)
  • I am twenty-six. I have awakened to the determination to be ready to give my life at any time for Buddhism. I have been fighting to my heart’s content. If I think about it deeply, however, haven’t all my actions been carried out under President Toda’s warm protection? (15)
  • As society grows more complex each year, clothing styles will become more practical. (16)
  • My oldest son, Hiromasa, is becoming quite a raucous child. What destiny awaits him? Can only pray he becomes a healthy, upstanding individual, a man of pure faith, a believer in the Daishonin’s Buddhism. (16)
  • Politicians! Leaders! I want to cry out – do your best! Discard your hunger for fame and wealth and donate your lives for the suffering people! (17)
  • Highly value my great teacher, excellent seniors, fine friends and good neighbors! Must care for and respect them. (19)
  • After Sensei dies, I must act in a pivotal role, taking on heavy responsibilities. (20)
  • Seniors! Lead your juniors by example, through your own growth. Juniors! Continue to follow your seniors and advance! (20)
  • Each time I lecture, I think that I must make courageous progress; must continue to study. (21)
  • Want only to purify my faith, step by step. Deeply ashamed of my lack of ability, my tendency to rely on shallow understanding. (22)
  • Keenly feel that the fundamental power behind every campaign is one’s life-force. (23)
  • Taiko Hideyoshi saying, “People are at once the greatest and the smallest thing in the world.” (24)
  • Exhausted, returned home just after 8:00. Bored. Must take care of my health. Sat quietly at my desk, scribbling notes in my notebook. (30)

Daimoku Bersama

Saya tidak bisa mendorong diri saya untuk bangun jam 05.40 pagi lagi. Saya merasa begitu lelah ketika terbangun hanya untuk mematikan alarm saja dan mendapati diri saya melanjutkan tidur. Berita baiknya, dari daimoku pagi bersama Julie, saya merasakan banyak sekali manfaat. Ce Julie, tunggu saya ya! Saya tetap berusaha bangun pagi lagi!

Itu tadi cerita daimoku pagi bersama Julie, sedangkan untuk daimoku malam, mulai dari minggu lalu, setelah Yasuko san dan Jessy memakai whatsapp juga, bersama dengan Dessy, kita membuat group pemudi Jogja yang dinamakan oleh Dessy: Putri Berejeki ^^

Dalam group tersebut, setiap malam kita berdaimoku malam bersama.

belajar gosho Abutsu-boSemua orang memiliki kesulitannya masing-masing, namun kita akan selalu berjuang bersama dan jangan pernah merasa sendiri, my lovely kayokai-sisters. Sama seperti catatan harian Ikeda Sensei, saya juga mau terus berjuang dan bertumbuh lagi. Demi diri sendiri, demi hukum, dan demi masyarakat!

———————————–

…….tesisnya piye, May?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s