200DC | Hari ke-32 s/d 41

Tesis

Tanggal 5 Juni lalu seperti sejarah karena pertama kalinya saya menemui dosen pembimbing tesis saya selama tahun ini. Dosen saya memberikan petuah agar saya segera mencari pacar agar ada yang memaksa saya menuntaskan tesis dan yang melarang saya naik-naik ke puncak gunung hihihihihi

Saya mah tidak mengerjakan karena memang saya pusing tujuh keliling, pak 😀

Ayo semangat…semangat…. semangat lagi, Maya 😀

Saya akan kerjakan terus sampai tuntas. Orang tua saya mengatakan satu hal kepada saya bahwa mereka akan selalu mendukung saya walau apapun terjadi sampai saya bisa menuntaskan kuliah, terutama memberikan saya dorongan semangat, doa-doa dan finansial 😀

Mereka sangat percaya pada saya di kala saya sudah tidak percaya pada diri saya sendiri lagi. Love u ^^

Jika sudah seperti itu, mana mungkin saya akan tetap naik gunung meskipun saya sangat ingin. Teman-teman naik gunung dari Malaysia pada weekend kemarin (8-9 Juni) mendaki gunung Semeru hohoho tidak tergoda *proud of myself”

Tentang teman saya itu, saya begitu terharu ketika sehari sebelumnya, kak Jenny Lee menelepon saya mengabarkan rencana kedatangannya ke Indonesia dan juga bang Sam yang sms saya. Saya pasti akan naik lagi bersama kalian. Saya sangat senang bisa pergi bersama kalian dan tidak sabar menantikan pendakian bersama kita selanjutnya 😀 Thanks to mas Mbenk yang telah mengenalkan mereka. Tahun ini adalah tahun ke-2 saya kenal dengan bang Sam. Kapan-kapan saya ceritain tentang mereka ya ^^

Pada saat bersamaan, saya menghabiskan waktu dengan teman-teman Gakkai. Saat itu ada Kiki (pemuda) yang datang dari Jakarta. Terima kasih sudah berbagi banyak hal dengan Shibu Yogyakarta 🙂

Kami juga mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada Mio-san. Senang sekali melihat teman-teman pemudi yang kreatif membuat papan ucapannya. Maklum saya tidak bisa yang begituan hahaha Love u, guys :* dan sekali lagi, thanks to Kiki yang sudah fotoin kita-kita 🙂

1

2

Katharsis

Bukunya Alvin Hadiwono yang baru saya baca sampai halaman 110 dari total 361 halaman ini sepertinya ada bau-bau Buddhisme. Ya, saya menduga ia pernah mempelajari ajaran Buddhisme juga. Malahan, mirip dengan Sutra Bunga Teratai. Ehm, namun bisa jadi ini adalah murni pengalaman batinnya sendiri ketika berhadapan dengan sebuah kebenaran. Kebenaran bersifat universal. Jadi, meski ia percaya atau tidak dengan hukum Buddhisme, semua hukum tersebut tetap belaku di alam semesta. Makrokosmos dan mikrokosmos.

Ketika saya baru membaca kata pengantarnya, saya langsung setuju dengan kalimat yang ia tulis seperti ini:

Tingkat kesadaran yang berbeda-beda akan membuat pemahaman akan Tuhan yang berbeda-beda pula. Yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai keterbatasan akal budi membangkitkan imajinasi tentang Tuhan sebagai pelarian untuk menghadapi kehidupan yang penuh penderitaan dalam dunia ini.

Ia juga memberikan contoh yang ketika membacanya saya teringat dengan perumpamaan Rumah Terbakar dalam Saddharma Pundarika Sutra. Ia menceritakan tentang “keterbukaan dan kekaguman” dengan perumpamaan manusia yang berada di dalam air penuh kekotoran menggapai umpan emas dari daratan.

Apakah kita tahu? Ia sebenarnya sedang menunggu, agar kita memakan umpan emasnya yang sudah disiapkan sejak bumi ini terbentuk? Kita sebenarnya tidak perlu malu-malu untuk menggapai umpan tersebut. Gapailah! Kita akan ditarik ke atas menembus lapisan demi lapisan air dan kotoran yang selama ini mengotori kolam pikiran kita. Tapi yang aneh, selalu saja kita leibh senang hidup dalam kekotoran kolam kita sendiri. Kita sendiri mengatakan bahwa itu bersih, karena sebenarnya kekotoran itu sudah menjiwai kita sejak lahir. Kita juga kemudian menolak tali pancingan yang berusaha menarik kita ke atas, yang juga menjadikan kita takut untuk meninggalkan teman-teman kita yang disebut bersih tadi.

Sungguh sulit…! Maka, keterbukaan itu sendiri mungkin tidak terlalu berdaya untuk mendorong hal ini. Tapi, kekaguman kita yang terbuka-lah yang kemudian dapat membuat kita langsung loncat ke daratan emas tanpa perlu ditarik lagi oleh seorang pemancing sejati. Kita sendirilah yang akan tahu, ke mana arah dan ke mana aliran dari tarikan pancing itu. Sehingga ketika sampai di daratan, kita dapat melihat dengan jelas dari atas betapa keruhnya sungai yang sebelumnya kita selami dan kita anggap bersih itu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan kekaguman seperti apa yang membuat kita tiba-tiba bisa loncat ke daratan….

Pemancing itu akan menjawab bahwa ketika kita di dalam kolam, rasa peka dan keterbukaan kita-lah yang membuat kita mampu melihat umpan emas di antara air keruh itu. Dan, jejak tali pancing yang mengarah ke daratan adalah sebuah rasa kekaguman yang kita miliki. Kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti geledek pembersihan atas pikiran kita. Dan sekarang seandainya kita terjun kembali lagi di antara air keruh tersebut, kita sendirilah yang akan menjadi bagian dari umpan emas itu.

Kolam pikiran kita tidak akan dapat dikotori oleh siapa pun dan apa pun, bahkan kita sendiri dapat melihat dengan jelas keinginan yang terdalam dari kekeruhan itu sendiri. Di dalam setiap kolam kekeruhan, ada sebuah keterbukaan yang tersembunyi. Tapi, bagi para manusia itu sendiri, mereka tidak akan menyadarinya. Setiap hari mereka hanya bermain-main di antara air yang keruh itu. Maka untuk kita, sebagai bagian dari umpan emas, bila ingin menyadarkan mereka akan keterbukaan, kita harus menyamar diri menjadi sebuah kekeruhan yang paling murni di antara mereka.

Mengenai topik kesulitan yang ditulisnya dalam sub-bab Kegilaan Yang Agung pada halaman 101, juga sangat saya sukai. Begini:

Aku fahami benar, bahwa keahlian memanfaatkan tumpukan tragedi adalah jalan tercepat menuju semesta kebijaksanaan, yang kemudian menghasilkan karya-karya yang bernafaskan kearifan hidup.

Tapi, sang master tragedi ini perlu dijinakkan. Ia harus dipertemukan dengan satu tamu lagi yang dapat mengendalikan keliarannya dalam mencari kebijaksanaan. Karena, di ujung terdalam dari keahlian sang master tragedi ini memiliki kegilaan yang lain, yaitu kegilaan yang agung…

Tamu terakhir yang tiba tadi… kunamakan Roh Semesta! Sesungguh-nya roh terakhir ini, terdapat di dalam diri setiap manusia, bahkan segala sesuatunya.

Dari semua kata Roh Semesta yang ditulis, saya meyakininya sebagai Hukum Alam Semesta / Nam-myoho-renge-kyo. Ehm, ini baru hipotesis saya saja hihihi 😀

Terakhir, kutipan buku yang mau saya bagi terdapat di halaman 108:

Sebenarnya, bukan kemiskinan materi yang sangat dekat dengan Roh Semesta, tapi kesederhanaan dalam kemiskinanlah yang merupakan sahabat dekat Roh Semesta… Demikian juga: sebenarnya bukan kekayaan materi yang sangat jauh dari Roh Semesta, tapi kemewahan dalam kekayaanlah yang merupakan sahabat jauh dari Roh Semesta… untuk manusia-manusia sekarang!

Ok, begitu dulu teman-teman. Sebenarnya inti dari pembicaraannya sederhana, tapi yang membuat saya kagum adalah keindahan kata-katanya. Setelah membaca lagi, saya akan tuliskan pengalaman membaca selanjutnya ya 🙂

Revolusi Manusia Baru

Tadi pagi saya mengirimkan surat kepada Ikeda Sensei. Sebenarnya saya sering menulis surat yang tidak dikirimkan. Saya kurang keberanian. Keberanian saya bisa muncul ketika saya daimoku dan membaca bimbingan Ikeda Sensei, seperti membaca buku Revolusi Manusia Baru Bab ke-13. Saya belajar banyak sekali perjuangan masa muda Ikeda Sensei dan selalu merasa bahwa saya belum melakukan apa-apa. Justru karena itulah, Daisaku Ikeda adalah guru saya. Kosenrufu adalah misi Ikeda Sensei, jadi jika kita menjadikan kosenrufu sebagai misi kita juga, hati kita pun akan semakin dekat dengan Ikeda Sensei.

Saya begitu tersentuh dan menyadari satu hal ketika membaca bimbingan di bawah ini:

“Untuk sementara ini, bagaimana kalau Anda berdua menetapkan target untuk diri sendiri untuk mencapai jumlah anggota 100 rumah tangga di sini di Hong Kong?” saran Shin’ichi. “Saya tahu itu kedengarannya banyak, tetapi jika Anda menetapkan sasaran yang dapat dicapai tanpa jerih payah apa-apa, siapa pun tidak akan punya kesempatan untuk tumbuh.”

“Jika Anda mulai bergerak untuk mencapai sasaran yang besar dan sulit, Anda tidak punya pilihan kecuali berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Gohonzon. Dengan demikian Anda tidak hanya merasakan kurnia kebajikan tetapi ketika Anda mencapai tujuan Anda, Anda akan dipenuhi kegembiraan mendalam dan merasakan keyakinan mutlak pada kekuatan hati kepercayaan. Jadi, lebih baik menetapkan untuk diri Anda sasaran yang besar.

Saya membaca ini dengan sikap bimbingan tersebut memang diberikan pada saya. Baik, sensei. Saya akan berjuang lagi!

Melos

Sebagai penutup, saya mau menampilkan foto Melos:

Camera 360

Advertisements

200DC | Hari ke-31

Hari ini saya bertemu dengan sahabat baik saya yang sedang tugas kantor ke Semarang dan mampir ke Yogyakarta selama 2 hari. Tahun ini adalah peringatan 10 tahun kami dan saya merasa sangat berejeki bisa bersamanya dalam kehidupan kali ini 🙂

Tadi, selain makan di Jejamuran, kami pergi ke pameran buku di XT Square. Saya membeli 1 buku seharga tiga ribu rupiah. Judulnya: Cinta Setahun Penuh karya Trie Utami. Ia menuliskan sajak-sajak cinta selama 365 hari penuh. Di hari pertama inilah yang ia tuliskan:

Dimana engkau itu?
Lelaki yang kucintai yang telah membawaku pergi
J a u u u h  s e k a l i . . .Ketempat yang sepi
Dan meninggalkanku sendiri

020620131140

Lalu, saya mampir ke Penerbit Obor dan saya melihat buku yang pernah saya beli 5 tahun lalu. Judulnya: Katharsis karya Alvin Hadiwono. Jujur, saya tidak habis membaca buku ini karena tidak mengerti dan lama-lama saya jadi malas meneruskan membacanya hahaha

Saya sempat sharing dengan bapak yang ada di sana bagaimana cara membaca buku ini agar saya mengerti. Ia mengatakan bahwa buku-buku filsafat memang unlinier. Cara membacanya adalah baca saja sampai selesai dengan mengikuti alur penulisnya. Baiklah, saya akan coba lagi 😀

Links Katharsis karya Alvin Hadiwono yang bisa dikunjungi:

200DC | Hari ke-30

Cepatnya waktu berlalu! Tiga puluh menit lagi, kita sudah memasuki tanggal 2 Juni.

Kadang-kadang saya ingin menertawai diri sendiri. Kampanye yang sesungguhnya biasanya memiliki satu tujuan khusus dan isi tulisannya selalu berkaitan dengan progress tercapainya tujuan tersebut. Lah ini opo toh? Seperti main-main saja semua tulisan ini 😀

Teman saya pernah bilang kalau orang yang sedang melaksanakan kampanye itu seperti pengendara motor yang fokus melihat jalan dan tidak sempat lihat kiri-kanan menikmati pemandangan. Kalau saya mah jalan sedikit, berhenti dulu lihat pemandangan bagus, lalu baru lanjut lagi. Lah kalau seperti ini, kapan sampainya? 😀

Tiga puluh hari pun berlalu dengan cepat. Hari-hari saya mungkin hanya diisi dengan 20% mengerjakan tesis,… Ehm, mungkin kurang dari itu! Sisanya ya macam-macamlah….. Intinya bukan mengerjakan tesis. Semakin lama semakin ingin menyerah saja!!! Syukurlah baru sebatas keinginan saja…

Saya ini masih heran dengan pikiran kebanyakan orang, termasuk para guru yang memaknai pendidikan, terutama pandangan tentang ilmu vs nilai dan cara belajar. Ah sudahlah, setiap orang toh bebas berpendapat dan saya tetap memegang prinsip saya sendiri!

———————–

Tentang 200DC ini isinya memang lebih ke catatan harian dan saya merasa judul seperti yang saya tuliskan hingga hari ke-30 ini tidak efektif karena orang tidak mengetahui isi tulisan secara rinci. Ya, sudahlah. Saya juga tidak mungkin menuliskan semua kejadian satu hari dalam blog. Saya hanya belajar menulis saja setiap harinya dan blog ini adalah media yang tepat 😀