Pantai Keabadian

01052013841

Saya lupa kapan saya membeli buku ini. Mungkin beberapa tahun lalu. Beberapa hari ini saya iseng ingin membaca puisi-puisi Tagore, jadi saya membukanya kembali. Saya suka sekali kumpulan puisi “Pantai Keabadian” yang menceritakan tentang kematian ini. Saya ingin berbagi apa yang ditulis oleh Deepak Chopra dalam kata pengantar yaitu, “Tagore memberikan kesempatan kepada kita untuk mendekati kematian bukan dengan kata-kata berdebu, melainkan dengan keheningan yang membasuh jiwa.”

Di bawah ini beberapa puisi pendek saya tuliskan ulang agar kita bersama-sama menikmati kematian dalam keindahan…

.

.

Keindahan

Biarlah hidup menjadi indah

seperti bunga-bunga musim panas

Dan maut menjadi indah

seperti dedaunan musim gugur.

.

.

Kebangkitan

Jika engkau meneteskan airmata

karena matahari telah tenggelam

Maka airmatamu itu akan membutakan

matamu dari bintang-bintang.

.

.

Heran

Hidup adalah sebuah rasa heran tanpa henti

bahwa ternyata aku ini memang ada.

.

.

Ilusi

Mengapa aku mati dan mati lagi?

Untuk membuktikan bahwa hidup

memang tiada habisnya.

.

.

Keabadian

Bintang-bintang pun tidak takut

untuk berkedip dan padam seperti ngengat.

Bagaimana dengan dirimu?

.

.

Memberi

Kehidupan diberikan kepada kita

Dan kita pantas mendapatkannya

dengan memberikannya kembali.

.

.

Tak Ternilai Harganya

Mata uang kehidupan ini dicetak dengan maut

Supaya segala yang kita beli

menjadi benar-benar berharga.

.

.

Kesempurnaan

Kematian adalah kehabisan daya

Tapi sampai pada akhirnya merupakan kesempurnaan.

.

.

Tahu

Apa yang kau rindukan?

Dia yang dapat kurasakan di malam hari

Namun tidak dapat kulihat di siang hari.

.

.

Tak Terlihat

Matikan lampu jika kau mau

Aku akan tetap mengenali kegelapanmu

dan mencintainya.

.

.

Jiwa

Suatu hari nanti kita akan tahu

bahwa maut tidak dapat mengambil

Semua yang telah diraih oleh jiwa.

.

.

Berkembang

Janganlah engkau malu ketika meneteskan airmata.

Airmata bumilah yang membuat bunga-bunganya

tetap tumbuh.

.

.

Keheningan

Kata-kata menempel seperti debu

pada orang-orang mati

Namun keheningan membilas jiwa-jiwa mereka.

.

.

Syukur

Siang hari mendapatkan terima kasih

dari bunga-bunga

Yang mekar pada malam hari.

.

.

Sebuah Kecupan

Malam mengecup siang yang mulai pudar

Dengan sebuah bisikan.

“Akulah maut, aku ibumu,

Dari aku akan kaudapatkan kelahiran baru.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s