Ancora Imparo!

Jejak-jejak Virtual

Buku Jejak-jejak Virtual yang Menginspirasi, karya dosen UGM, Bp. Len, telah menemani saya dalam beberapa hari terakhir ini. Inginnya adalah menuliskan pendapat saya tentang buku ini, namun saya sedang tidak ada waktu. Ehm, waktu sebenarnya ada, namun ada prioritas lain yang mesti didahulukan. Buku ini diberikan secara gratis oleh beliau, namun sayangnya terbatas. Teman-teman yang ingin membaca, terutama teman-teman mahasiswa dan dosen, bisa mengunduhnya di sini. Semoga manfaat yang kita rasakan sama bahkan lebih untukmu, teman🙂

JUDUL: Jejak-Jejak Virtual yang Menginspirasi.

PENULIS: LUKITO EDI NUGROHO

SINOPSIS: Banyaknya catatan yang saya tulis di Facebook menginspirasi saya untuk mengumpulkannya dalam bentuk buku. Kebanyakan catatan itu muncul sebagai respon dari berbagai kejadian sehari-hari. Dengan menuliskannya dan membumbuinya dengan pesan-pesan tertentu, saya berharap buku ini dapat memotivasi pembacanya, khususnya para mahasiswa, terkait beberapa isu yang sering muncul dalam keseharian mereka. (sumber: Bp. Len)

Ngomong punya ngomong, ada banyak sekali topik blog yang ingin saya tuliskan sekarang, tapi lupakanlah… Saya sedang tidak bisa memikirkan hal lain kecuali bergulat dengan kesenangan membaca paper Prometheus, terutama penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Lin Padgham dan Michael Winikoff. Ahhhh ketika saya mengerjakan penelitian agent saat ini, ada banyak sekali ide masa depan yang ingin saya realisasikan. Sssstttt,… ada bocoran loh! Saya memutuskan akan mengambil penelitian S3 saya dibidang yang sama: agent oriented software engineering dan saya akan mengusahakan untuk melanjutkan studi saya di RMIT University. Mengapa? Jawabannya sederhana, karena apa yang ingin saya cari ada di kampus itu. Wow, ini seperti mimpi di siang bolong. Tidak apa-apa. Kata orang, bermimpi memang harus di siang hari agar apa yang kita impikan berjalan bersama tindakan kita. Kita tidak seharusnya bermimpi pada malam hari dan berkhayal bahwa mimpi kita akan dipeluk rembulan.

Ya begitulah. Saya adalah seorang pemimpi, namun saya bermimpi di siang hari🙂

——————————

Teman saya pada hari Sabtu lalu tiba-tiba mengatakan bahwa seharusnya ia membaca majalah Soka Spirit bulan Mei, hal. 35. Artikel tanya-jawab tersebut memuat pertanyaan: Atasan saya terus-menerus membuat saya patah semangat. Saya melaksanakan Buddhisme, jadi mengapa dia membuat saya tidak bahagia?

Jawaban yang diberikan sebanyak 3 halaman hahaha panjang!

Ada 4 poin untuk mengubah sebab internal di dalam jiwa diri sendiri sehingga dapat mengubah kedinamisan hubungan itu. Salah satunya adalah:

Berhenti kerja untuk melarikan diri dari masalah akan membuat Anda kehilangan sebuah kesempatan yang sangat penting.

Tiba-tiba saya sadar bahwa dengan mengubah kalimat yang disesuaikan dengan kondisi saya, saya harus selalu menantang diri saya lebih keras lagi. Seperti ini perubahannya:

Berhenti mengadakan penelitian sulit (bagi saya) ini untuk melarikan diri dari masalah akan membuat saya kehilangan sebuah kesempatan yang sangat penting.

—————————–

Ketika saya sedang hot-hot-nya membaca paper, saya semakin mudah memahami isi dari paper tersebut. Saya merasa bahwa inilah saatnya saya menuntaskan apa yang sudah saya mulai. Selama ini saya sulit sekali mendorong diri untuk fokus pada penelitian saya. Sekarang, saya merasa mulai bisa menyeimbangkan sekian aspek dalam hidup saya, seperti kegiatan Gakkai, hobi mendaki gunung dan “nongkrong ilmiah” bersama teman, membaca buku-buku lain selain komputer dan FOKUS pada penelitian itu sendiri. Saya harus bisa menyeimbangkan aspek ini sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja karena aspek-aspek dalam hidup ini akan selalu bertambah. Jika berkurang, artinya saya mengalami kemunduran.

Ya, begitulah yang saya sadari. Saya bukan orang tekun dan pintar, maka saya tidak memiliki cara lain mengerti satu hal kecuali terus-menerus mengulang kegiatan belajar. Saya benar-benar harus berusaha 2x lipat daripada orang biasa. Saya harus membaca paper dalam bahasa inggris lebih dari 1x untuk memahaminya dan memang tidak ada referensi dalam bahasa indonesia satu pun. Saya harus memperbarui tekad saya setiap saat. Jika tidak melakukannya, maka saya tidak akan mengalami kemajuan dalam studi.

Dosen saya di Palembang, Bp. Hanafi, pernah mengatakan satu hal: Untuk mempertahankan kemampuan saja, orang harus senantiasa belajar, apalagi jika ingin meningkatkannya.

—————————–

Satu kutipan akhir yang saya ambil dari buku Bp. Len sebagai penutup tulisan ini adalah kata yang terdapat pada logo Monash University, yaitu: Ancora Imparo. Kata tersebut muncul dalam inskripsi Michelangelo dalam sebuah karyanya. Artinya adalah: Still I am learning.

Ya, Still I am Learning!

—————————–

Okay, saatnya pergi ke kampus, menuntaskan membantu teman yang telah membuat saya emosi jiwa pada minggu lalu. Tidak apa-apa jika ia tau bahwa saya menuliskan kekesalan saya pada tulisan itu karena saya juga memperlihatkan kekesalan saya secara terang-terangan padanya. Hahahaha ya itulah teman! Ada saat-saat kita sangat kesal, namun tidak mengubah pertemanan yang telah terjalin lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s