The World is Yours to Change (Bagian 1 dari 2)

12042013709

Hal pertama yang menjadikan buku ini menarik adalah tiga esai yang ditulis berdasarkan pengalaman penulis sendiri, Bp. Daisaku Ikeda, ketika hidup di masa perang, menjadi korban dan bangkit membuat perubahan. Buku dan penulis buku adalah tak terpisahkan, maka dengan membaca ketiga esai “Kenangan Saya” yang terselip di antara 18 bab para tokoh dunia, kita bisa mengetahui hati dari sang penulis itu sendiri.

Guru-guru Masa Kecil Saya

Esai berjudul “Guru-guru Masa Kecil Saya” sebelumnya pernah saya baca juga di buku lain. Membacanya lebih dari 3x tidak membuat saya bosan. Membaca esai ini, saya jadi kilas balik dengan pengalaman bersekolah ketika bertemu dengan guru-guru yang sangat menginspirasi, guru-guru yang mendukung dan menjaga saya seperti “sakuramori” yang digambarkan dalam esai ini. Sakuramori adalah nama yang diberikan pada orang yang mengurus dan merawat pohon sakura (penjaga yang teliti).

Mereka mengamati pertumbuhan pohon dengan teliti, tetapi membiarkannya berkembang bebas. Sebagai contoh, jika sejak awal sekali kita menahan pohon dengan kayu penopang, pohon itu akan mengandalkan topangan kayu, dan tidak tumbuh kuat sendiri (hal. 149).

Saya membaca keagungan para guru masa kecil Ikeda dan saya pun, sama seperti Ikeda kecil, akan selalu ingat pesan dari Bp. Takeuci – guru kelas tiga dan empat Ikeda -, “Kalian boleh sepintar yang kalian inginkan, tapi kalau kalian tidak membentuk tubuh yang kuat selagi muda, kalian tidak akan berguna bagi siapa pun sesudah dewasa nanti. Kesehatan itu penting. Belajar itu penting. Pendidikan sejati menggabungkan keduanya” (hal 147).

Sekeping Cermin

Begitu saya membaca esai yang berjudul “Sekeping Cermin”, hati saya ikut menangis kehilangan kakak tertua Ikeda, Kiichi. Kiichi terbunuh di Burma dalam Perang Dunia II ketika Jepang mengirimkan banyak anak mudanya berperang sebagai Tentara Kekaisaran Jepang. Pada bagian ini, saya merasa menjadi ibu Kiichi yang bersedih atas mati muda anaknya yang penuh kesia-siaan. Saat itu, Ikeda sudah berusia 17 tahun. Kenangan akan kepedihan dan kegeraman atas perang, terwakili oleh kepingan cermin pecah milik ibunya yang ia bagi berdua dengan kakaknya sebelum perang meletus. Kalaupun saya menjadi Ikeda, saya akan melakukan hal yang sama. Meletakkan satu benda abadi tersebut untuk mengenang kakak yang wafat membela sesuatu yang ia tau salah namun tak memiliki kekuatan untuk menolaknya.

Hati Masih Tertutup terhadap Dunia?

Hal ini dijelaskan pada esai ketiga yang berjudul “Hati Masih Tertutup terhadap Dunia?”. Pengalaman masa kecil dan remaja Ikeda membentuk sebuah prinsip kuat setelah ia dewasa. Ia yang notabene seorang Jepang, mampu melihat Jepang dari sudut pandang holistik tentang negaranya sendiri yang menganut mitos keunggulan rasial.

“Kita tidak bisa melihat punggung kita sendiri, juga wajah kita sendiri. Untuk itu kita perlu cermin. Para pemimpin Jepang seharusnya mengamati diri mereka sendiri di cermin tetangga-tetangga mereka, cermin dunia, cermin Asia. Mereka seharusnya dengan rendah hati menyimak suara tetangga-tetangga mereka” (hal 237).

Ketika berbicara tentang Jepang, di masa kecil, saya pun sering mendengar cerita-cerita kejam tentara Jepang dari kakek saya yang memang hidup di zaman itu. Kakek saya dan Ikeda memiliki tahun lahir yang sama, jadi cerita tentang tentara Jepang pun serupa. Dalam hati, saya mengutuk tentara Jepang, namun ketika umur saya bertambah dan bertemu dengan Soka Gakkai, saya bisa melihat dengan mata hati yang lebih jernih. Saya selalu bertanya-tanya, jika tidak ada Soka Gakkai, akankah saya memiliki pandangan positif terhadap bangsa tersebut dan akankah saya menjadikan misi perdamaian Ikeda sebagai misi saya sendiri?

bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s