Stuck

Ketika menulis seolah-olah menjadi ritual wajib di saat keadaan sedang stuck, maka seperti inilah jadinya dongengan saya pagi ini…

Saya coba memahami apa yang sebenarnya menjadi penghalang utama dalam diri saya dan saya mendapatkan sebuah jawaban, yaitu ketakutan. Saya tidak memiliki keberanian untuk memulai karena takut gagal, padahal seharusnya mulai saja. Jika gagal, coba lagi, gagal, coba lagi, dan seterusnya. Saya harus membuang jauh-jauh rasa ketakutan itu, apalagi penggunaan kata “seharusnya”. Kata tersebut dapat menghancurkan kita karena “seharusnya” berindikasi pada rasa penyesalan, sama seperti kata “seandainya/if-only“. Saya hanya perlu bergerak saja dan siapa yang tau kita akan membuat perubahan sejauh apa?

Sehari menjelang tanggal 20 Maret dan saya merasa belum melakukan apapun yang berarti terhadap tesis saya. Hal ini seperti “momok” yang menghantui saya setiap saat. Kemarin saya berbincang soal “mental block” dengan sahabat saya, Beth. Sudah sangat lama tidak mendengar kata-kata itu yang dulunya terkesan tidak mengerikan, tapi sekarang seolah-olah saya justru terjebak oleh dinding-dinding (blocks) yang menjadi penghalang untuk maju.

Baiklah, Maya. Selesai menulisnya dan mari mulai bekerja dengan semangat baru!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s