Kemakmuran Dunia Maya di UGM

Saya sebagai warga UGM selalu merasa dikenyangkan oleh beragam fasilitas yang diberikan oleh kampus, terutama kemakmuran penggunaan “rumah kedua” / rumah dalam dunia maya. Baru-baru ini, kuota email UGM naik menjadi 25GB karena hasil kerjasamanya dengan google.com. Alhasil, saya pun melakukan migrasi terhadap kedua email aktif saya ke email UGM ini dan untuk selanjutnya, saya hanya akan menggunakan email UGM saja. Email ini juga merupakan passport masuk kita untuk mengakses semua jurnal berlangganan UGM di lib.ugm.ac.id.

Selain itu, setiap mahasiswa dulu diberikan domainnya sendiri, seperti domain saya: maya.cendana.web.ugm.ac.id. Memiliki domain sendiri artinya kita diberikan lahan kosong yang siap dibangun rumah idaman di atasnya.

Hal lain yang baru saja saya buat yaitu: sebuah blog lagi di maya-cendana.blog.ugm.ac.id. Sungguh saya merasa sangat kaya hahaha

Nah, ketiga fasilitas tersebut sifatnya adalah seumur hidup.

Sekitar 10 tahun lalu, saya mulai memanfaatkan internet untuk menyimpan tulisan-tulisan saya (baca: nge-blog) dan semakin hari saya semakin bisa menentukan sikap. Artinya, saya mengetahui apa yang benar-benar saya inginkan/apa yang saya harapkan dari internet. Ya, jangan sampai kita terjebak dalam dunia ini. Dunia ini seperti hutan belantara yang masih perawan, termasuk satu hal yang harus kita cam-kan, yaitu bahwa data-data yang tersimpan di sini sebenarnya tidak hanya dimiliki oleh diri kita seorang saja.

“If you’re not paying for something, you’re not the customer; you’re the product being sold.” โ€”blue_beetle, Metafilter discussion.

Semakin besar kebebasan yang ada, maka semakin besar tanggung jawab yang diemban. Tanggung jawab yang saya maksudkan adalah tanggung jawab untuk berbagi dan memberi.

Masih banyak hal yang masih ingin saya lakukan terhadap “rumah kedua” saya yang sedikit terbengkalai, tidak terkoordinasi dengan baik dan seperti terlantarkan ini. Dalam tahun ini, semoga saya bisa mulai bersih-bersih semua “rumah kedua” saya dan mulai memilih perabotan (baca: tulisan) apa saja yang akan saya letakkan di sana. Untuk membeli perabotan bermutu, tentunya harus lebih bekerja keras agar menghasilkan uang (baca: pengetahuan) ๐Ÿ˜€

Terima kasih, UGM dan Jogja ๐Ÿ™‚

Saya bersyukur bisa berada di kampus yang mendukung dan lingkungan yang tepat untuk mengembangkan diri. Saya pasti akan membalas kebaikan ini ๐Ÿ™‚

Stuck

Ketika menulis seolah-olah menjadi ritual wajib di saat keadaan sedang stuck, maka seperti inilah jadinya dongengan saya pagi ini…

Saya coba memahami apa yang sebenarnya menjadi penghalang utama dalam diri saya dan saya mendapatkan sebuah jawaban, yaitu ketakutan. Saya tidak memiliki keberanian untuk memulai karena takut gagal, padahal seharusnya mulai saja. Jika gagal, coba lagi, gagal, coba lagi, dan seterusnya. Saya harus membuang jauh-jauh rasa ketakutan itu, apalagi penggunaan kata “seharusnya”. Kata tersebut dapat menghancurkan kita karena “seharusnya” berindikasi pada rasa penyesalan, sama seperti kata “seandainya/if-only“. Saya hanya perlu bergerak saja dan siapa yang tau kita akan membuat perubahan sejauh apa?

Sehari menjelang tanggal 20 Maret dan saya merasa belum melakukan apapun yang berarti terhadap tesis saya. Hal ini seperti “momok” yang menghantui saya setiap saat. Kemarin saya berbincang soal “mental block” dengan sahabat saya, Beth. Sudah sangat lama tidak mendengar kata-kata itu yang dulunya terkesan tidak mengerikan, tapi sekarang seolah-olah saya justru terjebak oleh dinding-dinding (blocks) yang menjadi penghalang untuk maju.

Baiklah, Maya. Selesai menulisnya dan mari mulai bekerja dengan semangat baru! ๐Ÿ˜€

Thanks, Comrade!

Saya ingin membicarakan seseorang, bukan tentang sahabat kos yang selalu ada untuk saya, yang hampir selalu menghabiskan waktu liburan dan jam pulang kantornya ber-haha-hihi bersama saya, juga bukan sahabat saya di Palembang, sahabat-sahabat naik gunung, dsb. Singkat cerita, ini tentang sahabat baru saya. Tiga bulan terakhir ini, di saat zat melankolis saya sedang tinggi-tingginya… lebih tepatnya adalah zat mengasihani-diri saya sedang merajalela, saya bertemu dengan Julie. Thanks! Saya tidak pernah tau bagaimana mengungkapkan rasa terima kasih saya selain menuliskan perasaan saya yang pasti sekali akan dan mungkin sedang dibaca oleh orangnya ini ๐Ÿ™‚

Saya menulis ini sambil berpikir, “Ya ampun, Maya! Mengapa kau tuliskan dalam blog persoalan ini? Dibaca oleh semua orang toh jadinya?”. Memang rada lebay. Tak perlu dberitahu pun, saya sudah menyadarinya. Namun, siapa yang bisa menghentikan jari-jari ini untuk menuliskan kalimat yang mengalir begitu saja sekarang? Saya sendirian dan hanya sedang sms-an dengan ex-bf saya yang sangat baik, tapi itu pun bukan membicarakan persoalan mengungkapkan-rasa-terima-kasih-pada-sahabat. Cukup dan saya masih ingin melanjutkannya……

Seseorang yang menemani saya berdaimoku 1 jam setiap pagi sangatlah berarti bagi saya. Bangun pagi adalah hal yang mudah dilakukan dulunya, tapi sekarang menjadi hal yang sangat-sangat sulit, padahal saya “tau” dengan jelas bahwa kemenangan satu hari dimulai dari kemenangan pagi hari! Saya sedang berjalan menuju ke arah itu meskipun jatuh-bangun juga dalam prosesnya. Lebih tepatnya antara bangun dan menekan tombol snooze berkali-kali…

Tingkat mengasihani-diri saya ini bisa semakin parah jika tidak diimbangi dengan doa, dan memulai doa meskipun kita tau bahwa doa adalah satu-satunya strategi yang harus didahulukan sebelum lainnya, tetap saja sulit. Maka, keberadaan seorang teman seperjuangan sangatlah penting. Saya merasa menjadi seekor hewan-apapun yang terperangkap dalam lobang sangat dalam dan seorang-manusia sedang melemparkan tanah ke dalamnya untuk digunakan sebagai pijakan agar saya bisa keluar dari lobang secepatnya. Jika sudah begini, saya selalu merasa menjadi orang yang paling beruntung sedunia ๐Ÿ˜€

Kata “saling” sangatlah hebat. Jika sekarang saya menerima kebaikan dari seorang sahabat, maka tekad saya untuk selalu ada bagi orang lain pun semakin kuat. Patutlah hidup dengan seimbang, antara menerima dan memberi, memaafkan dan dimaafkan!

Thank you so much, comrade! Thank you! Love and hug – Maya.

Membeli Buku-buku di Pesta Buku Jogja 2013

bukuKadang-kadang saya tidak sepenuhnya tau mengapa saya membeli buku-buku tersebut. Saya membelinya kadang hanya karena jatuh cinta pada pandangan pertama saja. Membacanya sekilas, lalu segera memutuskan ๐Ÿ™‚
Pada akhirnya saya mendapati bahwa buku-buku tersebut sangat berguna bagi saya meski terkadang saya baru membacanya setelah sekian tahun tersusun rapi di rak buku.

Tahun ini, Pesta Buku Jogja tidak seramai tahun lalu, tapi ada beberapa penerbit yang memberikan harga lebih murah dibandingkan tahun lalu. Buku Scarlet yang merupakan sambungan dari buku Gone with the Wind dan buku Buddha yang pengarangnya Deepak Chopra adalah dua buku yang sangat saya inginkan. Harga jualnya diskon 40%, namun saya menahan diri. Yah, lain waktu pasti akan saya baca kedua buku tersebut.

Kesempatan ini, saya membeli 3 buku dari Buku Import yang dijual murah, yaitu buku kumpulan puisi yang disusun oleh The National Library of Poetry, buku komputer tentang natural language, dan buku ekspedisi pendakian gunung (Books of Lies).

Dua buku berikutnya adalah buku I Feel Bad About My Neck yang baru saja habis saya baca dan buku Yang Terbaik karya John W. Gardner. Buku Yang Terbaik ini belum saya baca hahaha tapi sudah dihibahkan ke adik kelas kuliah saya dulu. Anda bisa baca sekilas buku itu di sini. Buku I Feel Bad About My Neck ini bagus, kocak dan isinya bisa menambah pengetahuan kita tentang persepsi Nora Ephron tentang menjadi wanita dan semua keribetannya, termasuk menghadapi masa menopouse. Ada yang mau buku ini?

Saya mau pergi makan malam dan membeli obat flu dahulu untuk menghilangkan air terjun di hidung saya ๐Ÿ˜€

Kekosongan. Malam. Sakit.

Tentu saja aku hendak berhenti menarikan jariku di atas tuts keyboard ini,

berhenti memutar kata di otakku,

atau juga asinnya air yang sudah muncul di ujung mataku.

Kadang-kadang bahkan hampir selalu, aku membenci diriku ketika sakit,

karena aku tau bahwa sakit bersinergi dengan perenungan,

yang ujung-ujungnya membawaku pada sebuah kesadaran baru.

.

.

Ah, sebenarnya ini bukan berawal dari sakit.

Ini berawal dari tidur menjelang subuh.

Malam, sama seperti sakit.

Kuberpikir bahwa malam dan sakit adalah pasangan serasi,

pasangan yang, sekali lagi, bersinergi dengan perenungan,

yang ujung-ujungnya membawaku pada sebuah kesadaran baru.

.

.

Ah tidak juga.

Bukan hanya malam dan sakit.

Mungkin kekosongan.

Kosonglah yang membuatku berpikir macam-macam,

yang membuatku tidak bisa tidur,

dan akhirnya membuatku sakit.

Sakit seperti ini adalah sakit yang dibuat-buat.

Sakit yang seharusnya tidak perlu dialami.

Sakit yang sebenarnya bisa dicegah.

.

.

Masalah di hilir sebaiknya diselesaikan dari hulu.

Kekosongan, malam dan sakit.

Mengobati kekosongan adalah dengan tindakan,

dan tindakan baru terwujud jika ada pemicu.

Pemicunya apa?

.

.

Oh ya, aku pernah dengar orang mengatakan bahwa,

dengan tindakan, semuanya akan menjadi hidup.

Orang yang bertekad tau bahwa tekad semakin lama akan memudar,

makanya perlu diperbarui selalu.

Kekosongan ini adalah tanda penyegaran,

bahwa sudah saatnya aku mengisinya dengan sesuatu yang baru.

Entahlah, kadang-kadang aku tidak bisa berpikir.

Aku juga tidak tau apa lagi yang hendak kutuliskan setelah kata ke-240 ini.

.

.

Sssstttt. Kau diam saja.

Aku tau bahwa aku bisa menyelesaikan permasalahan ini.

Tak perlu mengkhawatirkan aku.

Aku tau pemicu apa yang bisa mengarahkanku pada tindakan,

dan setelah bertindak,

tanpa perlu kukirim merpati putih,

kabar pasti sudah tersiar di tempatmu.

Berhenti.

Berbincang dengan sosok imajiner,

mengaburkan fakta dan fiktif,

jangan-jangan ini semua hanyalah praduga saja?

Kau percaya tidak, bahwa aku bisa melukiskanmu dalam jutaan kata,

merangkaikannya dengan semua yang melekat pada sosok lelaki,

karena memang begitulah kau dalam anganku,

dalam pribadimu yang tidak umum.

Perempuan susah ditebak, apa lelaki sepertimu lebih mudah?

Seperti bawang bombay, ujar temanku.

Mengupasmu sulit dan penuh dengan kepedihan.

Hingga selesai, kusadari, ternyata tidak kudapati apa-apa setelahnya.

Jika aku berhenti di titik ini, tidak akan menjadi masalah bukan?

Syair Cinta

Aku membaca syair-syair indah tentang cinta,

Trying Not To Love You – Mindi Waite,

Love – Sara Brouwer,

Waiting – Stephanie Hashway.

Aku menikmati untaian kata sebagai sebuah keindahan,

membawaku pada ketenangan semu,

yang sebenarnya justru membuatku semakin bergejolak.

Namun, tenang saja,

aku pandai bersandiwara menjadi orang yang tenang dan sabar,

aku percaya bahwa hati adalah urusan pribadi,

yang tak perlu diketahui bahkan oleh dinding di sampingku.